LOGINFlora sama sekali tidak berminat kembali ke gazebo untuk menikmati jagung bakar yang tadi ia tinggalkan. Birru, yang menyadari perubahan suasana hati Flora, memilih diam. Tanpa banyak kata, ia masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan mereka menuju resort.
Setibanya di penginapan, Flora langsung meminta kamar dengan dua tempat tidur. Sebenarnya, semangat liburannya sudah meredup. Bukannya menikmati waktu luang, perjalanan ini justru terasa menambah beban pikirannya. Dengan wajah yang masih menyiratkan kekesalan, ia berjalan masuk ke kamar sambil menyeret koper kecilnya. Setelah menaruh barang-barangnya, langkahnya terhenti di balkon. Di depannya terbentang pemandangan pantai yang memukau—pasir putih bersih berpadu dengan ombak tenang yang mengalun lembut di kejauhan. Sejenak, perasaan kesalnya memudar. Hatinya bergejolak, rindu akan kebebasan. Keinginan untuk berlari di atas pasir, berteriak sepuasnya, lalu membiarkan dirinya larut dalam pelukan air laut yang asin membuatnya tak sabar. Seolah pantai itu memanggilnya, menawarkan ketenangan yang selama ini ia cari. Dengan cepat, Flora mengganti pakaian lebih santai, bersiap menikmati pantai yang terhampar indah di depan kamarnya. Tas kecil berisi dompet, kacamata hitam, dan barang-barang penting lainnya sudah ia genggam. Dalam hati, ia berjanji, liburan kali ini hanya untuk dirinya sendiri. Tidak ada Lia, ibu mertuanya, dengan segala drama yang harus ia hadapi. Dan tentu saja, tidak ada alasan untuk berpura-pura sebagai istri yang mencintai Birru. Ketika Flora hendak melangkah keluar kamar, suara Birru memecah keheningan. “Mau ke mana?” tanyanya curiga sambil menurunkan buku yang sedang dibacanya. Tatapannya tajam, seolah ingin menahan langkah Flora. Flora mendesah keras. Ia tahu, konfrontasi ini tak akan menghasilkan apa-apa, hanya menambah daftar panjang ketidaksukaan mereka satu sama lain. Tanpa berkata apa-apa, ia melengos dan berjalan menuju balkon. “Flo!” panggil Birru dengan nada lebih tegas. Kini ia sudah berdiri, menatap Flora yang berhenti melangkah. Dengan malas, Flora berbalik dan menatapnya, ekspresi wajahnya jelas menunjukkan ketidaksabaran. “Penting? Lu masih mau ngatur-ngatur langkah gue?” tanya Flora sinis. Birru menarik napas panjang sebelum menjawab. “Gue perlu tahu lu mau ke mana. Kalau—” “Kalau Bunda nanyain gue, lu bisa jawab, kan?” potong Flora cepat, suaranya setajam pisau. “Nggak usah ribet. Gue jamin nama lu di depan Bunda tetap sempurna. Lu bakal selalu terlihat bagai suami idaman yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Jadi, jangan ganggu gue!” Tanpa menunggu jawaban, Flora berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Birru yang hanya diam terpaku. Ia menatap kepergian Flora, menyadari bahwa hubungan mereka semakin rumit untuk dijalani, namun memilih tidak berbuat apa-apa. Liburan ini benar-benar jauh dari kata menyenangkan bagi Flora. Percakapan singkat dengan Birru tadi sukses merusak mood-nya. Rasanya, kehadiran Birru hanya membawa awan mendung dalam hidupnya. Flora akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu di sebuah kafe di tepi pantai. Ia memilih duduk di sudut yang sepi, memesan kelapa muda dan makanan ringan sambil memandang pantai yang ramai. Suasana weekend ditambah libur panjang membuat tempat itu dipenuhi pengunjung. “Flora?” Suara lembut yang menyapanya membuat Flora menoleh. Ia mendongak dan langsung terpaku. “Tante?” ucapnya kaget. Ia segera berdiri untuk menyalami Tania—ibunya Riki. Di sebelah Tania, Riki berdiri canggung, jelas tidak nyaman. Pandangannya tertunduk, menghindari mata Flora. “Kamu di sini sama siapa?” tanya Tania ramah. “Sendirian aja, Tante,” jawab Flora sopan, mencoba tersenyum. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Riki, yang tetap bungkam di tempatnya. “Oh, kebetulan Tante sama Om lagi adain anniversary pernikahan di sini. Sederhana aja, cuma sama teman-teman dan keluarga dekat. Kamu harus datang ya, bareng Riki,” ucap Tania antusias sambil menepuk lembut bahu anaknya. Flora tersenyum kaku, bingung harus merespons bagaimana. Ia melirik Riki, yang akhirnya memberanikan diri untuk menatapnya—tatapan itu penuh kebingungan sekaligus keraguan. “Kamu udah lama banget nggak main ke rumah, nggak lagi berantem, kan?” tanya Tania tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana. Tapi pertanyaan itu justru membuat situasi semakin canggung, terutama bagi Flora dan Riki. “Nggak, Ma,” jawab Riki cepat, nyaris gugup. Ia tahu betapa ibunya menyukai Flora, bahkan berharap keduanya bisa bersama. Sama seperti harapannya sendiri. Namun, ucapan Birru tempo hari tentang status Flora membuatnya tak punya keberanian untuk melangkah lebih jauh. Flora hanya diam, senyumnya semakin kaku. Di dalam hatinya, berbagai emosi berputar—antara kebahagiaan kecil bertemu Riki dan kenyataan pahit yang selalu menghantuinya. Tania sengaja meninggalkan Riki dengan alasan agar laki-laki itu menemani Flora yang sedang sendirian. Riki, tentu saja, tidak menolak permintaan itu. Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti mereka. Flora tampak canggung, bahkan tidak berani menatap Riki. Sementara itu, Riki justru menatap Flora dalam diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Flora berusaha keras menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Apakah Birru mengatakan sesuatu yang buruk tentang dirinya kepada Riki? Ataukah justru Birru berkata jujur tentang statusnya? Keraguan itu terus menghantui Flora hingga suara seorang pramusaji tiba-tiba memecah keheningan. "Permisi..." Pramusaji itu tersenyum ramah sambil meletakkan pesanan Flora di atas meja. Flora segera menoleh, membalas senyuman, dan mengucapkan terima kasih dengan sopan. "Kamu mau pesan sesuatu, Ki?" Flora akhirnya memberanikan diri bertanya, mengalihkan perhatian Riki yang sedari tadi menatapnya. Pramusaji itu pun masih menunggu di dekat mereka. Riki terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Boleh," jawabnya singkat, terlihat sedikit canggung. "Jeruk panas atau dingin?" Flora melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih lembut. Dia tahu betul apa minuman favorit laki-laki yang sudah lama ia sukai ini. "Panas aja," jawab Riki, suaranya terdengar datar, tapi tatapannya tetap menghangatkan suasana. Flora tersenyum kecil. Dia langsung memesan pada pramusaji itu dengan detail yang biasa disukai Riki. "Mbak, jeruk panas satu. Gulanya sedikit aja, ya. Airnya panas semua, jangan dicampur." Pramusaji itu mengangguk, mencatat pesanannya, lalu pergi meninggalkan mereka. Ketika Flora kembali menoleh ke arah Riki, dia mendapati laki-laki itu tersenyum hangat, senyuman yang tampak penuh arti. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Flora bingung. Dia merasa ada yang berbeda dari cara Riki memandangnya. "Kamu masih ingat..." jawab Riki pelan, nadanya datar, tapi senyum di wajahnya tidak memudar. "Hampir tiga tahun aku kenal kamu, Ki. Baru dua hari kita nggak ketemu, mana mungkin aku lupa." Jawaban Flora itu terdengar tulus dan serius, membuat Riki sedikit terdiam. Kata-kata Flora membangkitkan kenangan di kepala Riki. Dia kembali teringat pada masalah yang selama ini membayangi hubungan mereka. Hatinya terasa berat, tapi ada juga kehangatan yang tak bisa ia abaikan. Di balik semua itu, Riki sadar, Flora tetaplah Flora—perempuan yang selalu ia rindukan. **Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.
Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia
Keputusan itu tidak diambil dalam satu malam. Aluna memikirkannya selama beberapa hari, menimbang bukan hanya perasaannya sendiri, tetapi juga masa depan yang akan ia jalani jika ia memilih tetap melangkah. Ia tidak takut pada masa lalu Riki. Ia hanya takut pada masa lalu yang belum selesai. Mereka bertemu di sebuah kafe sore itu. Bukan tempat romantis, bukan juga tempat asing. Tempat netral, seperti keputusan yang akan ia sampaikan. “Aku tidak ingin membatalkan apa pun,” kata Aluna tenang setelah percakapan pembuka yang singkat. “Aku hanya ingin menundanya.” Riki menatapnya lama. “Menunda?” “Aku ingin kamu benar-benar berpikir dulu sebelum menikah denganku.” Nada suaranya stabil. Tidak ada tuduhan. “Aku tidak mau kita menikah lalu suatu hari kamu sadar ada sesuatu yang belum pernah kamu tutup dengan benar. Aku tidak mau rumah tangga kita nanti jadi tempat kamu mencari jawaban dari masa lalu.” Riki terdiam. Kata-kata itu tidak menyakitkan, tetapi menoho
Restoran itu tidak terlalu ramai malam itu. Setelah menonton film, mereka memilih duduk di sudut yang biasa mereka tempati—tempat yang sudah terlalu sering menjadi saksi percakapan ringan tentang pekerjaan, keluarga, dan rencana pernikahan. Hujan turun tipis di luar kaca, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Aluna tidak terlihat gelisah. Ia tidak memainkan ponsel, tidak juga menatap kosong terlalu lama. Ia hanya makan perlahan, sesekali menanggapi komentar Riki tentang film tadi. Namun di sela percakapan yang terdengar normal itu, ia mulai menyisipkan pertanyaan-pertanyaan kecil, seperti seseorang yang menyusun potongan puzzle tanpa terburu-buru. “Kamu pindah ke luar negeri setelah tahun pertama kuliah, kan?” tanyanya ringan, seolah hanya memastikan kronologi. Riki mengangguk. “Iya. Akhir semester dua.” “Berarti waktu ospek dan awal-awal kuliah kamu masih di sini.” “Iya.” Aluna tersenyum tipis. “Aku sempat lihat foto-foto lama kamu. Ramai
Malamnya, Aluna membuka kembali ponselnya. Bukan untuk menghubungi Riki, tapi untuk mencari sesuatu yang sudah lama tidak ia sentuh. Nama itu masih ada di daftar pencarian lama. Flora. Akun media sosialnya tidak terlalu aktif. Foto-foto sederhana. Beberapa unggahan lama bersama teman-teman kuliah. Tidak ada Riki di sana. Tidak pernah ada. Namun sesuatu menarik perhatian Aluna. Tab tagged photos. Ia menekannya, dan di sanalah potongan-potongan masa lalu itu masih tersimpan. Foto-foto lama. Masa SMA. Awal kuliah. Masa ospek. Flora berdiri berdampingan dengan Riki. Terlalu dekat untuk sekadar teman. Bahu bersentuhan. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tatapan yang terlalu akrab. Foto kelompok, memang. Tapi selalu berdampingan. Selalu. Aluna memperbesar satu foto. Tahun pertama kuliah. Ia mengingat cerita Riki—bahwa setelah tahun pertama itu ia pindah ke luar negeri. Bahwa hubungan mereka selesai di sana. Selesai sebelum aku datang. Begitu yang ia pahami selama ini.
Siang itu restoran tidak terlalu ramai. Cahaya matahari menembus jendela kaca besar, memantul lembut di lantai marmer. Suasananya tenang, cukup privat untuk percakapan panjang. Aluna duduk berhadapan dengan kakaknya, Alya. Tangannya memegang sendok, tapi ia tidak benar-benar makan. “Kamu yang ngajak ketemu,” kata Alya lembut. “Tapi dari tadi malah diam.” Aluna menghela napas. “Aku cuma… bingung mulai dari mana.” Alya menunggu, tidak mendesak. Aluna memang datang untuk bercerita tentang Riki. Tentang perubahan kecil yang terasa besar. Tentang jarak yang tidak kasatmata tapi makin nyata. Namun sebelum ia sempat membuka suara—pintu restoran terbuka. Aluna refleks menoleh dan dunia seakan berhenti sebentar. Flora. Ia mengenali wajah itu, bukan karena pernah diperkenalkan. Tapi karena malam di restoran bersama Riki, dan karena pencarian singkat yang ia lakukan beberapa hari lalu. Perempuan itu masuk dengan langkah ringan.







