ログインMereka kembali terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mata mereka menyiratkan keinginan yang sama—untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini terpendam dalam hati.
"Kamu nanti datang ke acara Mama?" tanya Riki akhirnya, memecah keheningan. Flora terkejut dengan pertanyaan itu. "Boleh?" tanyanya ragu. Ia sadar bahwa dua hari terakhir ini Riki tampak menjauhinya. Flora tidak ingin kehadirannya justru membuat Riki semakin tidak nyaman. "Kenapa harus tanya aku?" balas Riki dengan nada yang sulit ditebak. "Aku cuma khawatir kamu nggak nyaman kalau aku ada di sana," ujar Flora pelan, menundukkan kepala. Ada nada sedih dalam suaranya. Ia tidak bisa mengabaikan bagaimana Riki perlahan menjauh darinya. Riki terdiam, kebingungan. Masalahnya bukan pada Flora atau kehadirannya. Yang membuatnya gelisah adalah ucapan Birru yang masih terus mengusik pikirannya. "Aku..." Riki menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur hatinya yang gundah. Ia tahu, ia tidak bisa lagi membiarkan ini menggantung tanpa kejelasan. "Apa, Ki?" Flora bertanya pelan, matanya penuh rasa ingin tahu. Ia menatap Riki, menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Riki mengangkat wajahnya, menatap Flora dalam-dalam. "Flo," ucapnya serius, suaranya sedikit bergetar. "Kamu... kamu beneran sudah nikah?" Pertanyaan itu seperti petir yang menyambar Flora. Tubuhnya membeku di tempat, dan kata-kata itu seolah menggemakan sesuatu yang paling ia takuti. Jadi, Birru benar-benar mengatakan hal itu pada Riki. Flora meremas tangannya, mencoba menahan tangis yang mulai memenuhi matanya. Ia merasa hatinya runtuh. Bagaimana mungkin Birru bisa tega melakukan ini? Bukankah dia tahu seberapa besar Flora menyukai Riki? Namun di sisi lain, Birru sendiri hidup dengan kebebasan yang Flora hanya bisa impikan—berpacaran, berpelukan, bahkan tanpa memikirkan perasaan atau posisi Flora. Kenapa hanya dirinya yang harus selalu berkorban? "Jadi, dia bilang gitu sama kamu?" tanya Flora dengan suara pelan, seraknya tak mampu menyembunyikan tangis yang ia tahan. Riki mengangguk kecil, menatap Flora penuh kebimbangan. "Dia bahkan menunjukkan kartu nikah kalian, Flo. Tapi aku nggak mau percaya begitu saja. Aku cuma butuh jawaban langsung dari kamu, supaya aku tahu harus melangkah ke mana setelah ini." Flora cepat-cepat mengusap air matanya, berusaha terlihat tegar. Tapi usaha itu sia-sia—Riki jelas melihat betapa rapuhnya dia saat ini. Ketika Riki hendak meraih tangannya, seorang pramusaji tiba-tiba datang membawa pesanan Riki, menghentikan momen itu sejenak. Flora memalingkan wajahnya, tak ingin orang lain melihat luka yang coba ia sembunyikan. Setelah pramusaji pergi, Riki kembali mencoba mendekat. "Flo," suaranya lebih lembut sekarang, penuh kesabaran. Kali ini, ia memberanikan diri menggenggam tangan Flora dengan erat. "Kamu percaya sama aku, kan? Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita. Aku di sini buat kamu." Kata-kata itu, ditambah dengan genggaman hangat dari Riki, seperti membuka bendungan yang selama ini coba Flora tahan. Air mata pun akhirnya tumpah. Flora menangis tersedu, merasa tak berdaya sekaligus dipenuhi rasa bersalah. Tanpa berpikir panjang, Riki bergeser ke sampingnya dan memeluknya erat, seolah ingin melindungi gadis itu dari seluruh kesedihannya. "Maaf..." suara Flora terdengar lirih, hampir seperti bisikan. Riki perlahan melepaskan pelukannya. Tatapannya tajam menembus Flora, penuh intensitas. "Jadi, semua itu benar?" tanyanya, nyaris tak percaya. Flora mengangguk pelan, tanpa berani menatap wajahnya. Kening Riki berkerut, ekspresinya berubah dari kaget menjadi penuh rasa ingin tahu. "Tapi bagaimana bisa, Flo? Kamu sama dia nggak..." Riki menggantungkan kalimatnya, bingung mencari kata yang tepat untuk mengungkapkan pertanyaannya. Flora, memahami maksudnya, segera menjawab. "Nggak, Ki," ucapnya pelan. Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan semuanya. "Aku dijodohkan. Aku dinikahkan saat aku bahkan nggak ada di sana. Tiba-tiba, statusku sudah berubah jadi istrinya." Riki terdiam, membiarkan Flora melanjutkan tanpa menyela. "Tante Lia—mertua aku, sahabatnya Mama—sakit, Ki," kata Flora, suaranya terdengar berat. "Beliau yang meminta pernikahan ini. Kata mama, demi kesehatannya, pernikahan harus segera dilakukan. Semua terjadi begitu cepat." Riki mengerutkan kening, kebingungannya semakin dalam. "Pak Birru juga... terpaksa?" tanyanya dengan nada penuh ketidakpercayaan. Dalam pikirannya, Birru selama ini terlihat seperti benar-benar menginginkan Flora. Bahkan, ia sampai berani menunjukkan kartu nikah mereka. Flora mengangguk pelan. "Iya, Ki. Kami berdua sama-sama terpaksa. Semuanya demi Tante Lia. Ini bukan keputusan yang di ambil dengan hati, tapi demi menghormati permintaan Tante Lia." Riki menatap Flora dalam-dalam, matanya penuh emosi yang tak bisa ia sembunyikan. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Flora, seolah takut kehilangan momen ini. "Aku nggak tahu harus gimana menghadapi semua ini, Flo," suaranya terdengar berat, penuh keraguan dan penyesalan yang lama terpendam. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Harusnya dari dulu aku bilang sama kamu. Aku suka kamu... lebih dari itu, aku sayang kamu, Flo. Sangat sayang," ucapnya dengan suara yang tegas namun lembut, seperti memaknai setiap kata yang keluar dari bibirnya. Tatapan Riki penuh harap, menunggu reaksi dari Flora, sementara waktu seakan berhenti di antara mereka. Flora terdiam, kata-kata terasa sulit keluar dari bibirnya. Dalam hati, ia ingin membalas dengan rasa yang sama, dengan kejujuran yang selama ini tertahan. Mereka berdua tahu, perasaan itu ada—mengakar di antara mereka—namun tidak ada yang cukup berani untuk mengungkapkannya lebih awal. "Riki..." suara Flora lirih, penuh keraguan, "Aku juga punya perasaan yang sama. Tapi..." ia berhenti sejenak, menundukkan pandangannya. "Aku nggak tahu harus bagaimana... dengan statusku sekarang." Riki menatapnya dalam, mencoba menangkap isi hati Flora melalui tatapannya yang gelisah. "Kamu bahagia menjalaninya?" tanyanya pelan, namun penuh arti. Flora menggeleng lemah, matanya berusaha menyampaikan kebenaran yang tak mampu ia ucapkan. Meski begitu, ada sesuatu dalam sorot matanya—keyakinan, harapan, atau mungkin keinginan untuk percaya pada Riki. Melihat itu, Riki menguatkan genggaman tangannya, seolah memberi jaminan bahwa ia akan tetap ada di sana. "Izinkan aku untuk membahagiakan kamu, Flo," ucapnya dengan penuh keyakinan, suaranya tegas namun lembut, seperti janji yang tak akan pernah ia ingkari. Flora menatap Riki dalam diam, matanya menyiratkan kebingungan dan kepedihan yang tak terucap. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di hatinya yang terasa semakin sesak. Namun, rasa sakit itu terlalu nyata, seolah mencengkeram setiap bagian dirinya. Ia tahu, takdir yang harus ia jalani bukanlah hal yang mudah diterima. Hatinya bimbang antara keinginan untuk mengikuti perasaannya dan kenyataan pahit yang membatasinya. Dan di depan Riki, yang menatapnya penuh harap, Flora hanya bisa merasa semakin terhimpit oleh pilihan yang tak pernah ia harapkan. "Flo, aku nggak akan kemana-mana. Apa pun itu, aku akan tetap di sini," bisiknya lembut, mencoba meredakan gemuruh dalam hati Flora yang sedang hancur berkeping-keping. ***Flora melangkah masuk setelah mendapat izin dari Riki. Ruangan itu cukup luas dan tenang. Dinding kaca di sisi kanan membiarkan cahaya siang masuk, sementara meja kerja Riki berada di sudut ruangan dengan beberapa dokumen tertata rapi di atasnya. “Silakan duduk, Flo." Riki menunjuk sofa panjang di sisi ruangan. Flora mengangguk singkat. Ia berjalan ke sofa dan duduk dengan posisi tegak. Tangannya secara refleks bertumpu di atas perutnya yang kini mulai terlihat jelas. Riki masih berdiri di dekat meja kerjanya. Beberapa detik kemudian, ia justru meninggalkan kursinya dan memilih duduk di single sofa yang letaknya tidak jauh dari Flora. Tatapannya sempat jatuh ke perut Flora. Hanya sesaat. Namun cukup untuk membuat Flora menyadarinya. Hari itu Flora mengenakan dress kerja yang sederhana dan elegan. Potongannya menyesuaikan tubuhnya yang sedang hamil, membuat perubahan pada bentuk tubuhnya semakin terlihat. Riki mengalihkan pandangan. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Flo
Begitu sampai di ruangannya, Flora menutup pintu perlahan. Ia meletakkan laptop dan beberapa dokumen di atas meja, lalu duduk di kursinya. Tubuhnya terasa begitu lelah. Bukan hanya karena rapat yang berlangsung hampir dua jam, tetapi juga karena semalaman ia nyaris tidak tidur. Pikirannya terlalu penuh. Tentang Birru. Tentang kondisi Lia. Tentang Riki dan tentang percakapan yang belum sempat ia selesaikan dengan suaminya. Flora mengambil ponselnya. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menekan nama Birru dan melakukan panggilan video.Tidak lama kemudian, panggilan tersambung. Wajah Birru muncul di layar. Flora langsung terdiam. Wajah suaminya terlihat jauh lebih lelah daripada terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sayu, dan ada bayangan kelelahan yang jelas terlihat di bawah matanya. “Mas...” panggil Flora lirih. Birru tersenyum tipis. “Sudah sampai kantor?” Flora mengangguk. “Iya.” “Kamu sudah sarapan?” Flora t
Malam itu Flora hampir tidak tidur. Setelah pulang bersama kedua orang tuanya, tubuhnya memang berada di rumah, tetapi pikirannya masih tertinggal di rumah sakit. Setiap kali mencoba memejamkan mata, wajah Birru kembali muncul di benaknya. Tatapan datar suaminya ketika mendengar nama Riki. Percakapan yang terputus dan kalimat Birru sebelum ia kembali masuk ke ruang perawatan. Kita bahas nanti, ya. Entah mengapa, dua kata terakhir itu justru membuat Flora semakin gelisah. Pagi harinya, ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai kamar, Flora sudah terbangun. Matanya terasa berat dan kepalanya sedikit pusing. Ponselnya yang berada di samping bantal bergetar. Satu pesan masuk dari Birru. Mas Birru: Mas sudah sarapan. Flora menatap pesan itu cukup lama. Hanya kalimat sederhana, namun entah mengapa, justru semakin membuat pikirannya ke mana-mana. Tidak ada panggilan sayang seperti biasanya. Tidak ada pertanyaan apakah ia sudah sarapan. Tidak ada pesan panjang yang biasan
Malam itu, ruang keluarga terasa begitu sunyi. Cahaya lembut dari layar televisi menjadi satu-satunya penerangan, membias di wajah Flora dan Birru yang duduk berdampingan di sofa.Flora bersandar nyaman di pangkuan Birru. Kepalanya terbaring di paha sang suami, sementara satu tangan Birru masih berada di perutnya, mengusapnya perlahan dengan gerakan yang nyaris tak disadari.Televisi menyala, tetapi perhatian Birru sebenarnya tidak sepenuhnya tertuju ke sana. Ada ketenangan yang selalu ia rasakan setiap kali Flora berada di dekatnya. Malam yang sederhana seperti ini seharusnya cukup untuk membuatnya merasa bahagia.Namun, ketenangan itu perlahan terusik.“Mas...” panggil Flora pelan.Birru menunduk, menatap istrinya. “Hm?”“Aku mau kasih tau sesuatu.”Nada suara Flora membuat Birru sedikit mengernyit. Ia masih menatap layar televisi, tetapi telinganya kini sepenuhnya tertuju kepada istrinya.“Iya. Apa?”Flora menghela napas panjang. “Sebenarnya nggak penting, sih...”Birru terkekeh ke
Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.
Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia







