Compartir

Bab 4

Autor: Sasha
Saat Norlan mengeluarkan kotak hadiah dari dalam tas, dokter IGD keluar dan bertanya, "Apa ada keluarga Bu Chastine di sini? Silakan ikut sebentar. Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan."

Elric melirik kotak hadiah itu dan menyadari sekarang bukan waktu yang tepat untuk membukanya.

"Urus dulu administrasi kepulangan istriku."

Norlan menyimpan kembali kotak hadiah itu dan mengangguk, lalu masuk ke ruang dokter.

Saat Chastine bersiap pergi, tatapannya bertemu dengan sorot mata Elric yang dingin. Pria itu berdiri tegak di depan pintu bangsal dengan aura yang serius.

"Ayo pulang."

Jelas sekali, meninggalkan Karina dan datang ke rumah sakit membuatnya tidak senang.

Chastine tiba-tiba teringat kecelakaan mobil dua tahun lalu. Saat tersadar, orang pertama yang dilihatnya adalah Elric. Dari polisi dan tenaga medis, dia mengetahui bahwa Elric-lah yang menelepon polisi dan menggendongnya masuk ke ambulans.

Elric yang telah menyelamatkan nyawanya.

Saat baru sadar setelah kecelakaan, Chastine mengalami gegar otak akibat benturan keras. Bahkan, dia sempat kehilangan penglihatan untuk beberapa waktu.

Sejak kecil, Chastine hanya hidup berdua dengan ibunya. Kesehatan ibunya tidak terlalu baik sehingga tidak mampu merawatnya, dan Chastine juga tidak ingin membuat ibunya khawatir.

Saat itu, Jona baru saja pindah jurusan dan sangat sibuk. Chastine juga tidak ingin merepotkannya.

Selama masa itulah, Elric terus menemaninya.

Kehadiran pria itu memberinya ketenangan, membuatnya perlahan keluar dari trauma akibat kecelakaan dan memulihkan kesehatannya. Seiring berjalannya waktu dan kebersamaan mereka dari hari ke hari, rasa terima kasih Chastine tanpa disadari berubah menjadi cinta.

Meski Elric memiliki sifat yang dingin, dia juga membalas perasaan Chastine.

Chastine pun mengira Elric mencintainya.

Kemudian, dia mengetahui bahwa Keluarga Wibisono dan Keluarga Wicaksana memiliki perjanjian pernikahan. Mereka pun menikah seolah semuanya memang sudah semestinya terjadi.

Mereka pernah menjalani hari-hari yang manis. Hanya saja, entah sejak kapan Elric menjadi semakin sibuk dan semakin dingin terhadapnya. Mungkin sejak saat itulah, hatinya mulai beralih kepada wanita lain.

Memikirkan hal ini justru membuat hati Chastine sedikit lebih lega. Setidaknya, cinta sejati antara Elric dan Karina tidak dimulai sebelum hubungannya dengan Elric.

Bukan karena cinta lama yang tak terlupakan. Bukan pula karena mereka ingin kembali merajut hubungan yang pernah kandas.

Chastine bukan sekadar bidak dalam permainan mereka. Elric hanya jatuh cinta kepada wanita lain. Dia sudah tidak mencintai Chastine lagi.

Namun, mengingat Elric sudah mencintai Karina tetapi masih tidak mau bercerai dan membebaskannya .... Sorot mata Chastine yang biasanya lembut perlahan berubah sedingin es.

Dia tidak ingin kembali ke rumah itu. Dia juga tidak ingin tinggal satu atap lagi dengan Elric. Namun, saat teringat barang-barangnya masih berada di sana, Chastine akhirnya mengangguk.

Elric berjalan mendekat. Chastine mencium aroma parfum bunga gardenia dari tubuhnya. Itu adalah aroma favorit Karina. Rasa jijik seketika menyeruak di hatinya. Dia langsung berjalan lebih dulu, sengaja menjaga jarak dari pria itu.

Di dalam mobil, tangannya yang ditempeli plester luka tiba-tiba digenggam oleh Elric.

Chastine menoleh dengan terkejut.

Sebuah gelang zamrud yang dingin dan berkilau melewati plester di tangannya, lalu melingkar di pergelangan tangannya. Ekspresi Elric tetap dingin. Setelah memasangkan gelang itu, dia langsung menarik tangannya kembali.

Malah Norlan yang duduk di kursi pengemudi yang menjelaskan, "Nyonya, selamat ulang tahun pernikahan yang kedua."

Chastine tersenyum tipis kepada Norlan. Jemarinya perlahan mengusap rasa nyeri samar di punggung tangannya.

Bagaimana dulu dia bisa sebodoh itu?

Zaman sekarang, siapa lagi yang membalas budi karena diselamatkan dengan menikahi penyelamatnya?

Elric memang terlihat sangat bertanggung jawab. Setiap hari penting dan hari peringatan, Chastine selalu menerima hadiah darinya. Namun, dia tidak pernah benar-benar memberikan perhatian kepada Chastine.

Kalau saja Elric sedikit lebih memperhatikannya, dia pasti akan menyadari bahwa di balik plester itu ada bekas tusukan jarum infus dari rumah sakit. Yang lebih ironis lagi, gelang ini ternyata satu set dengan kalung zamrud yang dikenakan Karina.

Elric memang sama sekali tidak peduli kepadanya. Bahkan hadiah untuknya pun disiapkan oleh Norlan.

Setibanya di Vila Gandaria, Chastine turun dari mobil dan membuka pintu vila.

Namun, dia langsung tertegun saat melihat Karina berbaring di sofa hitam.

Karina memakai masker wajah milik Chastine dan mengenakan jubah tidur putih miliknya. Kerah jubah itu dibiarkan longgar, sementara belahan kain yang seharusnya tertutup hingga pergelangan kaki tersingkap sampai ke pangkal paha, memperlihatkan lekuk tubuh dan kaki panjangnya dengan begitu menggoda.

"Kak Elric, Kak Chastine, kalian sudah pulang."

"Aku menunggu sampai hampir ketiduran."

Karina berjalan menghampiri mereka di bawah tatapan marah Chastine. Tangannya mengusap renda di bagian kerah. Sikapnya terlihat lembut dan patuh, tetapi sebenarnya penuh provokasi.

"Kak, aku nggak bawa piama. Bentuk tubuh kita hampir sama. Kamu nggak keberatan aku pakai punyamu, 'kan?"

Sebelum Chastine sempat menjawab, Elric yang berdiri di belakangnya sudah lebih dulu berkata dengan lembut, "Kakakmu nggak akan keberatan. Pergilah tidur."

Karina mengiakan dengan patuh, lalu kembali ke kamar untuk tamu di lantai satu.

Setelah pintu kamar tertutup, Elric berkata dengan datar, "Di bawah apartemennya penuh wartawan. Dia akan tinggal dua hari di rumah kita sampai pemberitaannya mereda."

Itu bukan permintaan atau ajakan untuk berdiskusi. Dia hanya memberi tahu Chastine tentang keputusan yang sudah dibuatnya.

Elric melangkahkan kaki panjangnya menaiki tangga dan langsung masuk ke ruang kerja tanpa menunggu tanggapan Chastine.

Rumah kita?

Chastine sudah tidak sanggup tinggal di rumah ini bahkan satu menit pun.

Dia masuk ke kamar utama di lantai dua dan mulai mengemasi barang-barangnya, laptop, berbagai materi penelitian, serta bekal pernikahan pemberian ibunya.

Tiba-tiba, dia teringat foto dirinya bersama sang ibu masih berada di ruang kerja lantai satu.

Baru saja menuruni tangga, dia mendengar suara pecahan kaca dari arah ruang kerja. Chastine buru-buru masuk dan melihat pecahan kaca berserakan di lantai.

"Maaf, Kak. Tanganku tadi terpeleset."

Nada bicara Karina sama sekali tidak terdengar menyesal. Sebaliknya, justru penuh provokasi. Mata Chastine memerah. Dia berjalan menghampiri Karina, lalu mengangkat tangan dan menamparnya.

Karina langsung mengangkat tangan untuk membalas.

Namun, sebelum telapak tangannya menyentuh wajah Chastine, gerakannya tiba-tiba terhenti. Dia malah memegangi pipinya sendiri yang memerah.

Seketika, kedua matanya tampak berkaca-kaca dan dia berkata dengan nada teraniaya, "Kak, aku sudah minta maaf. Kenapa kamu masih menamparku? Kamu keterlaluan."

Chastine mengernyit. Dia mendengar suara langkah kaki yang ringan tetapi mantap, suara langkah khas Elric yang semakin mendekat.

Sesaat kemudian, teguran pria itu terdengar di telinganya. Dia bahkan tidak berniat mencari tahu siapa yang benar dan salah. "Dia adikmu. Apa pun masalahnya, apa nggak bisa dibicarakan baik-baik? Kenapa harus menamparnya sampai begini?"

Karina benar-benar pintar berpura-pura menjadi wanita polos dan tak bersalah.

Tidak heran sih. Dia memang mendapat didikan langsung dari ibunya.

Chastine menundukkan pandangan dan terkejut saat melihat apa yang berada di bawah pecahan kaca. Ternyata itu foto pernikahannya dengan Elric.

Kenangan saat mereka baru menikah melintas dalam benaknya. Dulu mereka pernah begitu mesra dan dekat. Namun sekarang, semua kenangan itu hanya terasa semakin ironis.

Hati Chastine terasa sakit, tetapi dia tidak ingin memedulikannya lagi.

Saat melihat foto dirinya bersama sang ibu masih utuh di atas meja, dia langsung mengambilnya dan mendekapnya di dada sebelum berbalik pergi.

Elric melihat Karina berjongkok untuk membereskan foto pernikahannya yang pecah. Mendengar Karina terus bergumam menyalahkan dirinya sendiri dengan penuh rasa bersalah, pandangannya tertuju pada punggung Chastine yang menjauh.

Tadi Chastine jelas-jelas begitu marah sampai menampar Karina. Namun, setelah melihat yang pecah adalah foto pernikahan mereka, dia malah sama sekali tidak peduli.

Sehabis menenangkan Karina, Elric naik ke lantai atas dan melihat Chastine sedang mengemasi barang-barangnya.

'Dia mau pergi?' pikir Elric.

Bayangan Chastine yang sudah dua kali meminta cerai kembali terlintas dalam benak Elric.

'Apa dia benar-benar ingin menceraikanku? Mana mungkin?'

Dulu, demi menikah dengannya, Chastine bahkan bersedia mengakui dirinya sebagai putri Keluarga Wibisono meski dia sangat tidak menyukai ayahnya sendiri. Lagi pula, bukankah alasan Chastine menikah dengannya adalah untuk membalas dendam kepada ibu dan anak Keluarga Wibisono?

Mana mungkin Chastine meninggalkannya?

Elric menatap sosok Chastine yang sibuk mengemasi barang seolah tanpa beban. Sorot matanya menjadi dalam saat dia berjalan menghampirinya.

Chastine memasukkan foto bersama ibunya dan berbagai materi penelitian ke dalam koper, lalu berjalan masuk ke ruang ganti.

Ruang ganti itu sangat luas dan dipenuhi berbagai perhiasan, tas bermerek, serta pakaian yang diberikan Elric kepadanya. Namun, semua itu sebenarnya dibelikan oleh Norlan atas perintah Elric. Chastine tidak ingin membawa satu pun dari barang-barang itu.

Dia membuka sebuah laci. Di dalamnya tersimpan perhiasan yang diberikan ibunya sebagai bekal pernikahan.

Dulu ketika Chastine bersikeras menikahi Elric, ibunya tidak menyetujuinya. Ibunya sangat membenci pelakor dalam rumah tangga, sementara Elric kebetulan adalah anak di luar nikah. Ibunya yakin sifat buruk bisa diwariskan dan mengatakan bahwa pernikahan Chastine tidak akan bertahan lama.

Setelah Chastine menikah, sikap ibunya semakin dingin kepadanya. Sudah sangat lama mereka berdua tidak pernah bertemu. Entah apakah ibunya akan memaafkan keputusan keras kepala yang dibuat Chastine waktu itu ....

Saat Chastine sedang melamun, tiba-tiba hawa panas menempel dari belakang. Tangan besar Elric mencengkeram pinggang rampingnya, sementara wajah hangat pria itu membenam di tengkuknya.

Hati Chastine menegang. Dia segera menahan tangan Elric.

"Lepaskan aku."

"Kamu sudah ngambek selama dua hari. Bukannya ini yang kamu inginkan?"

Tidak ada kelembutan sedikit pun yang terdengar dari suara Elric. Napasnya yang panas menerpa belakang telinga Chastine, sarat dengan hasrat yang begitu jelas.

Dulu, Elric memang sangat memikat. Bahkan ketika hubungan mereka memburuk selama beberapa tahun terakhir dan komunikasi di antara mereka hanya tersisa di atas ranjang, hubungan intim mereka tetap begitu bergairah.

Namun, setelah mendengar nada seolah sedang memberi sedekah itu, barulah Chastine menyadari bahwa Elric hanya menganggapnya sebagai pelampiasan hasrat.

Padahal pria ini baru saja turun dari ranjang Karina semalam, malam ini malah ingin naik ke ranjang Chastine?

Chastine menatap plester luka di punggung tangannya.

Dia bahkan belum pulih dari sakitnya.

Dulu, Elric jelas-jelas begitu menyayanginya.

Namun sekarang ....

Mata Chastine mulai berkaca-kaca. Dia berbalik dan mendorong Elric, tetapi pria itu justru menekannya ke lemari. Pergelangan tangannya menghantam lemari perhiasan dengan suara keras.

Brak!

Gelang zamrud di pergelangan tangannya pecah. Serpihannya menggores kulit hingga terluka.

Chastine mengernyit kesakitan, lalu menatap Elric dengan dingin.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 50

    Malam semakin larut, tetapi Chastine tidak bisa tidur.Mengingat kembali adegan dalam mimpinya, ternyata saat itu ada begitu banyak orang yang membantu mereka.Memikirkan Farhan, dia jadi teringat celana Zevan. Dia mengeluarkan celana itu dari mesin pengering, menyetrikanya hingga rapi, lalu memasukkannya ke tas.Setelah itu, dia membersihkan seluruh bagian rumah dari dalam hingga ke luar. Sampai tubuhnya terasa lelah dan mati rasa, dia pun tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkannya.Setelah hari mulai terang, dia mandi untuk menghilangkan rasa lelah di tubuhnya.Saat hendak keluar, dia menerima telepon dari psikolognya. Sudah waktunya kontrol bulanan.Sebentar lagi Chastine akan pergi ke luar negeri. Akhir-akhir ini, dia makin sering bermimpi buruk. Dia pun ingin berbicara dengan psikolognya. Dia berencana pergi sore nanti.Saat hendak keluar, pintu unit di seberang terbuka. Zevan mengenakan setelan jas yang dibelikannya kemarin. Potongannya pas di

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 49

    "Mencari masalah dengannya sama saja dengan mencari masalah denganku. Aku harap Bu Solana memahami hal ini.""Barang-barang ini akan kusimpan dulu untukmu."Ancaman yang begitu jelas membuat Solana langsung ketakutan dan tidak berani bersuara.Elric menutup telepon, lalu menatap Karina yang berlutut di lantai sambil menangis tersedu-sedu. Tatapan dinginnya perlahan berubah lembut."Kak Elric, maaf .... Apa Kakak pergi dari rumah ...?" Karina gemetar ketakutan setelah mendengar percakapan telepon Elric dengan ibunya.Namun, karena Elric tidak menyalahkannya, dia kembali menenangkan dirinya sendiri.Pergi dari rumah? Wanita itu bersusah payah mendekatinya, bukankah demi membalas dendam? Dendamnya bahkan belum terbalaskan, bagaimana mungkin Chastine tega meninggalkannya?Namun, ketika teringat tatapan Chastine yang begitu kecewa saat pergi, jantungnya seolah diremas kuat-kuat oleh sesuatu.Rasa sesak itu segera ditepisnya. Mana mungkin dia peduli pada seseorang yang telah memanfaatkannya?

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 48

    Chastine berhadapan dengan sepasang mata hitam Elric yang mengerikan.Amarah membara di mata pria itu saat dia menatap Mawar. Setelah mengetahui bahwa Chastine diberi obat, dia sangat marah.Mawar menjelaskan dengan panik, "Tuan, Nyonya, saya nggak memasukkan obat itu. Sarang burung walet ini saya masak selama dua jam ...." Nada bicaranya menyiratkan rasa menyesal."Kamu mengada-ada!" Suara Karina terdengar tajam.Elric menunduk menatap Karina. Mata Karina berkaca-kaca saat mengadu dengan wajah penuh kesedihan, "Dia memfitnahku. Mana mungkin aku mencelakai Kakak? Ibuku juga nggak mungkin melakukannya."Suara Elric melunak. "Tenang saja. Asalkan kamu nggak melakukannya, nggak ada yang bisa memfitnahmu ....""Tuan, saya punya buktinya." Mawar mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menjelaskan dengan tenang, "Saat bertemu Nyonya Solana sore tadi, saya merekam percakapan kami."Karina langsung pucat dan menerjang Mawar. Namun, Mawar sudah menekan tombol putar dan mengangkat ponselnya tinggi-

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 47

    "Bu, bukankah menjebaknya seperti itu kurang pantas?""Kurang pantas gimana? Lebih bagus lagi kalau si anak durhaka itu melihatnya sendiri dan cemburu sampai mati."Chastine pergi tanpa ekspresi. Setelah mengambil tas di ruang VIP, dia berkendara menuju rumah sakit untuk kembali menangani urusan setelah insiden di peresmian itu. Dia menemui ibu dan anak itu lagi.Larut malam, dia duduk di balkon Moon Bay, menatap pemandangan di kejauhan dengan tatapan muram.Karina akan memberi Elric obat agar bisa tidur dengannya ....Ucapan Jona kembali terngiang di benaknya. Bagaimana kalau sebenarnya Elric dan Karina tidak pernah berhubungan, dan Elric hanya mendekati Karina karena sudah berjanji akan memberinya seorang anak?Waktu itu, meski terhalang hujan dan jarak, melihat mereka saling tarik hingga jatuh ke sofa bukan berarti mereka benar-benar melakukan apa-apa. Jangan-jangan Elric memang tidak pernah menyentuh Karina?Chastine menoleh dan melihat sosok pria yang elegan dan berwibawa di balko

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 46

    Chastine mendengar panggilan itu dan menoleh. Pandangannya melewati koki yang sedang memasak di dalam ruang VIP, lalu dia melihat Jona. Dia pun tersenyum senang."Ada temanku yang datang mengantarkan sesuatu. Pak Zevan, Kak Aires, aku keluar sebentar."Aires yang duduk di sampingnya menjawab singkat, "Hati-hati."Sementara itu, Zevan justru tampak tidak senang.Ternyata hari ini Aires yang mengundang Zevan datang. Zevan tidak puas dengan perkembangan penelitian mereka. Aires berharap Chastine bisa memberikan beberapa masukan.Dia berjalan menuju pintu dan melihat Jona mengalihkan pandangan dari belakangnya. Menghadapi tatapan Jona yang dipenuhi rasa heran, dia menjelaskan, "Aku sudah bergabung dengan tim penelitian Kak Aires."Jona langsung merangkul bahunya dengan gembira. "Akhirnya kamu sadar juga.""Mana ada ibu rumah tangga yang lebih menarik daripada wanita karier? Dulu kamu benar-benar seperti kehilangan akal."Setelah mengatakan itu, Jona spontan menghentikan ucapannya. Melihat

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 45

    Tanpa menunggu jawaban Zevan, Chastine sudah berdiri dan berjalan ke luar.Melihat sosoknya yang tampak kehilangan semangat, ujung jari Zevan mengusap bekas air mata yang jatuh di jasnya.....Setelah membasuh wajah dengan air, barulah dia berhasil menenangkan diri."Kak, gimana kalau aku pakai gaun ini untuk menghadiri pemilihan ketua yayasan amal?" Karina masuk dengan angkuh. Melihat wajah Chastine yang sudah merah padam, dia pura-pura baru menyadarinya. "Kak, nggak ada yang memberitahumu ya?"Chastine tidak menggubrisnya. Setelah mengeringkan wajah, dia berjalan ke luar.Karina mengejar menarik tangan Chastine. "Dewan direksi yayasan sangat nggak puas dengan tindakanmu. Besok mereka akan mengadakan rapat untuk mencopot jabatanmu dan memilih ketua baru. Aku kandidat yang paling kuat.""Kamu nggak akan terpilih!" Chastine melepaskan tangannya.Karina sengaja membiarkan tubuhnya jatuh ke belakang. Sepasang tangan yang panjang dan ramping segera merangkul pinggangnya dan membantunya ber

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status