Share

Bab 32

Auteur: Ratu As
last update Date de publication: 2026-03-18 15:54:51

Thalia menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menetralkan debar jantung yang kian tak beraturan. "Aku tidak sedang mengerjai. Memang benar, agak mual dan pusing."

​Amar tidak menyahut lagi, namun ia justru mempererat dekapannya pada kaki Thalia, seolah ingin memastikan bahwa Thalia benar-benar aman dalam lindungannya. Langkah tegapnya kini membawa mereka memasuki halaman rumah kayu yang asri.

​Di teras, Citra sudah berdiri dengan cemas. Wajahnya yang tadi pucat kini menunjukkan raut lega seka
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 34

    Suara Amar membuat Thalia mendongak, dia menatap Amar dengan mata membulat, lalu berdeham menjauhkan kepalanya dan mengusap wajah. "Maaf, aku tidak sadar karena terlalu ngantuk," jawabnya menahan ekspresi datar agar tidak terlihat terlalu memalukan. Amar tersenyum miring, "ayo keluar." Dia lebih dulu membuka pintu, ketika Thalia melihat mobil tidak terparkir di garasi rumah, Thalia menoleh kebingungan. "Ini di mana?" "Kita makan malam dulu," "Aku tidak lapar," tolak Thalia yang kembali menegakkan duduknya. "Mau naik ke kursi roda atau aku bopong masuk?" Amar tidak memberi pilihan Thalia untuk menolak, dia sudah siap dengan kursi roda di sebelah mobilnya. Mau tidak mau Thalia mengikuti perintah Amar untuk duduk di kursi roda lalu didorongnya ketimbang harus dibopong masuk, Thalia pasti akan sangat malu. Thalia menunduk, dia pikir perjalanan ke dalam akan mulus namun di pintu utama ada seseorang

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 33

    Amar berdehem, lalu melangkah maju dengan suara yang sengaja dikeraskan.​"Thalia, kamu tersenyum-senyum sendiri. Apa ada sesuatu yang sangat asyik?"​Pertanyaan itu meluncur dengan nada menyelidik. Amar ingin tahu, atau lebih tepatnya, ia merasa terusik karena bukan dialah yang menjadi alasan di balik senyuman itu.Thalia mendongak dengan raut yang berubah pias. Rasa gugup seketika menyergapnya, membuat jemarinya bergerak cepat menutup aplikasi dan menonaktifkan data seluler. Ia sangat takut jika tiba-tiba notifikasi pesan baru muncul di layar saat Amar sedang mengawasinya.​"Tidak, aku... aku hanya melihat video lucu," jawab Thalia terbata. Ia segera memalingkan wajah, menyadari sepenuhnya bahwa ia adalah pembohong yang sangat buruk di depan mata tajam suaminya.​Tiba-tiba, Amar mengulurkan tangannya.Gerakan itu terlihat begitu lugas di mata Thalia yang sedang panik. Berpikir bahwa pria itu ingin menyita ponselnya, Thalia dengan refleks secepat kilat menyembunyikan benda pipih itu

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 32

    Thalia menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menetralkan debar jantung yang kian tak beraturan. "Aku tidak sedang mengerjai. Memang benar, agak mual dan pusing."​Amar tidak menyahut lagi, namun ia justru mempererat dekapannya pada kaki Thalia, seolah ingin memastikan bahwa Thalia benar-benar aman dalam lindungannya. Langkah tegapnya kini membawa mereka memasuki halaman rumah kayu yang asri.​Di teras, Citra sudah berdiri dengan cemas. Wajahnya yang tadi pucat kini menunjukkan raut lega sekaligus haru melihat pemandangan di depannya, anak lelakinya yang keras kepala itu tengah menggendong istrinya dengan penuh penjagaan.​"Syukurlah, kalian sudah sampai," ucap Citra lirih, suaranya masih menyimpan sisa-sisa rasa bersalah. Tadi Citra tidak pulang bersama Amar, ia membonceng sepeda motor tetangga yang kebetulan lewat. ​Amar menghentikan langkahnya tepat di depan tangga teras. Ia menatap ibunya datar, namun sorot matanya tak lagi setajam di ladang tadi. "Ibu, tolong siapkan air hanga

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 31

    ​"Tidak!" sahut Thalia cepat, hampir refleks.​Digendong di punggung seperti ini saja sudah sukses membuat jantungnya berdebar tidak karuan dan rasa grogi menjalar ke seluruh tubuh. Apalagi jika harus dibopong di depan, Thalia yakin ia tidak akan berhenti merutuk karena wajah mereka yang akan terpaut terlalu dekat.​"Begini saja sudah cukup," imbuh Thalia pelan.​Ia kemudian memberanikan diri melingkarkan kedua tangannya lebih erat di leher Amar, lalu menyandarkan pelipisnya di bahu kokoh sang suami. Selain karena rasa lelah yang mulai menghinggap setelah kejadian traumatis tadi, Thalia sengaja menunjukkan bahwa ia merasa aman dalam posisi itu. Ia hanya ingin memastikan Amar tidak lagi memaksanya untuk berganti posisi yang lebih intim.​Di balik punggung lebar itu, Thalia memejamkan mata sejenak. Menghirup aroma maskulin Amar yang bercampur dengan udara gunung yang segar, sebuah perpaduan yang anehnya mulai terasa nyaman. Amar berjalan dengan langkah tegap, seolah berat badan Thalia

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 30

    Braaak!​Suara benturan terdengar keras, bergema di antara pepohonan. Thalia memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram erat sandaran tangannya, menunggu rasa sakit yang akan menghantam tubuhnya. ​Namun, rasa sakit itu tak pernah datang.​Ia hanya merasakan sentakan hebat yang hampir membuatnya terpelanting ke depan saat kursi rodanya dipaksa berhenti secara mendadak. Jantungnya serasa merosot hingga ke perut, meninggalkan rasa hampa yang mencekam di dada.​Dengan napas yang tersengal dan dada yang naik-turun tak beraturan, Thalia memberanikan diri membuka mata. Di hadapannya, sebuah sepeda motor sudah tergeletak di aspal. Pengendaranya jatuh terduduk, tampak syok dan mengalami luka lecet, namun untungnya tidak terlihat luka yang sangat parah. Motor itu rupanya membanting setir demi menghindari kursi rodanya.​"Kamu tidak apa-apa, Thalia?"​Sebuah suara bariton yang berat dan penuh penekanan terdengar tepat di belakang telinganya. Bersamaan dengan itu, Thalia merasakan sepasang tangan

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 29

    *** "Ibu, apa aku boleh ikut?" pinta Thalia, matanya menatap penuh harap pada Citra yang sedang bersiap-siap menuju ladang. ​Citra menghentikan gerakannya sejenak, menatap menantunya dengan lembut. "Boleh saja, Thalia. Tapi di sana mungkin terik, Ibu khawatir kamu tidak nyaman." ​"Tidak apa-apa, Bu, aku sudah pakai topi!" sahut Thalia cepat, jemarinya menyentuh pinggiran topi lebar yang melingkari kepalanya. Pagi tadi, ia menemukan setelan baju santai berbahan sejuk di kamarnya, mungkin Amar yang menyiapkannya diam-diam. ​"Apa aku boleh ajak Pak Jamal? Dia mungkin bisa bantu mendorong kursi rodaku," lanjut Thalia ragu. ​Citra tersenyum teduh sembari menggeleng pelan. "Tidak perlu, Sayang. Biar Ibu saja. Kita akan lewat jalan aspal yang halus, tidak akan melelahkan." Dengan gerakan telaten, Citra mulai mendorong kursi roda itu keluar rumah. ​Tujuan mereka adalah ladang milik Hamdan, hamparan tanah subur yang didominasi tanaman kentang dan petak-petak sayuran hijau. Meski matahari

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 12 Dibawa Ke Rumah Sakit

    Suaranya yang biasa merdu kini bergetar karena cemburu buta. Pikirannya tidak lagi jernih, obsesinya pada Amar dan harga dirinya sebagai seorang diva legendaris melunturkan sisa-sisa kewarasannya. Ia lupa pada kondisi kehamilan yang harus dijaga, lupa bahwa Thalia adalah "wadah" bagi ambisinya.​"D

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 10 Aku Aset Pribadimu

    Siang itu, Thalia duduk terdiam di sudut ruang tengah. Jemarinya perlahan mengusap layar ponsel, menampilkan cuplikan berita hiburan yang sedang memanas. Di sana, di bawah sorotan lampu flash dan kerumunan pers, Anna dan Amar berdiri berdampingan sebagai pasangan paling ikonik tahun ini. ​Anna, de

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-18
  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 16 Tokoh Antagonis

    Amar berdiri dengan tenang, merapikan kemejanya tanpa menatap Anna. "Bukankah itu yang ingin kamu dengar untuk konsumsi publik, Anna? Bahwa adikmu dan anakmu dijaga dengan baik? Aku hanya melakukan peranku sebagai suami yang sempurna di depan kamera." ​Amar kemudian berbalik pada Thalia, membungku

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 13 Bagaimana Cara Melawan Anna?

    ​"Janinnya selamat," ucap Dokter Haikal lirih namun tegas. "Ini benar-benar sebuah keajaiban. Benturannya cukup keras dan sempat terjadi pendarahan hebat, tapi posisinya sangat kuat. Kami sudah menyuntikkan penguat rahim dosis tinggi."​Anna langsung terduduk di kursi tunggu, bahunya yang tegang se

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status