LOGIN## BAB 44: Benih di Atas Puing**Lima Tahun Kemudian...** Suasana di halaman *Bramanto House* riuh dengan tawa anak-anak. Gedung yang dulunya adalah bangunan tua tak terawat itu kini telah berubah menjadi pusat rehabilitasi dan pendidikan yang asri. Dinding-dindingnya dicat dengan warna pastel yang menenangkan, dipenuhi dengan lukisan-lukisan tangan karya anak-anak penghuninya. Tina berdiri di balkon lantai dua, memperhatikan Arka dan Aruna yang kini sudah berusia enam tahun. Mereka tampak sedang asyik mengajari anak-anak lain cara menanam bibit bunga matahari di taman depan. "Mereka tumbuh sangat mirip dengan kakeknya," sebuah suara lembut mengejutkan Tina. Tina menoleh dan tersenyum melihat kakaknya, Rina, berdiri di sana membawa dua cangkir teh hangat. Rino kini mengelola aspek operasional yayasan, sementara Tina fokus pada pendampingan psikologis para korban. "Iya, Kak Rina. Terutama semangatnya. Terkadang aku takut melihat ada kemiripan fisik d
## BAB 43: Sisa-Sisa Hujan Enam bulan telah berlalu sejak ketukan palu hakim mengakhiri kekuasaan Nathan Adijaya. Dunia luar mungkin mulai melupakan skandal besar itu, tertutup oleh berita-berita baru, namun bagi Tina, setiap detik adalah perjuangan untuk merajut kembali jiwanya yang sempat koyak. Tina kini menetap di sebuah kota kecil di pesisir Jawa. Rumahnya tidak besar, hanya sebuah bangunan bergaya kolonial sederhana dengan halaman luas yang dipenuhi pohon kamboja dan melati. Tidak ada marmer dingin atau kamera pengawas yang mengintainya setiap sudut. Di sini, satu-satunya suara yang membangunkannya di pagi hari adalah deburan ombak dan celoteh kedua anaknya, Arka dan Aruna. Warisan yang Terbuang Suatu sore, sebuah mobil pengacara mendatangi kediamannya. Itu adalah perwakilan dari kurator yang mengurus aset Nathan yang disita. "Nyonya Tina, ada beberapa barang pribadi yang menurut hukum tidak bisa disita karena merupakan hak milik Anda sebel
## BAB 42: Pengadilan Akhir Dinding ruang sidang utama Pengadilan Negeri tampak lebih dingin dari biasanya. Aroma kayu tua dan wangi pembersih lantai yang tajam menusuk hidung siapa pun yang masuk ke dalamnya. Di luar gedung, ratusan orang berkumpul membawa poster-poster berisi foto para korban. Teriakan "Hukum Mati!" dan "Keadilan untuk Korban!" menggema hingga ke dalam ruangan, menciptakan tekanan psikologis yang nyata bagi siapa pun yang duduk di kursi pesakitan. Nathan duduk di sana. Wajahnya yang dulu angkuh kini tampak tirus. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa tidur adalah kemewahan yang tak lagi bisa ia nikmati. Di sampingnya, seorang pengacara publik yang ditunjuk negara duduk dengan wajah enggan, semua pengacara mahal yang dulu disewa keluarganya telah membatalkan kontrak mereka setelah aset Nathan dibekukan oleh negara. Di barisan kursi penonton, Marissa duduk terisak, sesekali
BAB 41: Runtuhnya Dinasti DarahSuasana di ruang tamu kediaman megah itu mendadak berubah menjadi mencekam. Udara terasa tipis, seolah oksigen dihisap keluar oleh pengakuan jujur yang baru saja dilontarkan Tina. Marissa, wanita yang biasanya tampil elegan dengan perhiasan mahal yang berkilauan, kini tampak seperti raga kosong yang kehilangan nyawa. Ia merosot di atas lantai marmer yang dingin, menatap foto pria tua yang dipegang Tina dengan tatapan yang sulit diartikan—antara ketakutan, rasa bersalah, dan penolakan."Putri... Bramanto?" suara Marissa bergetar hebat. Bibirnya yang dipoles lipstik merah mahal tampak pucat. "Bagaimana mungkin dunia sekejam ini, Tina? Kamu... anak dari laki-laki yang menjadi bayang-bayang kegelapan Nathan?"Tina berdiri tegak, tidak ada lagi sorot mata lemah lembut yang biasanya ia tunjukkan sebagai menantu yang berbakti. Dagunya terangkat, matanya menyala oleh api kemarahan yang telah ia pendam selama berbulan-bulan. "Kejam? Tidak, Ma. Kejam adalah keti
Chapter 40. Satu bulan kemudian, polisi menemukan lagi lebih banyak korban ulah Nathan. Polisi kali ini tidak bisa lagi membantunya. Nathan segera di giring ke kantor polisi. Masih saja, setiap pertanyaan bisa dia jawab dengan mudah. "Bagaimana bisa kamu melakukan semua itu, Nathan? Sayangnya kali ini kami tidak bisa lagi membantumu." Ucap ketua polisi. "Tapi aku tidak melakukan semua itu. Dari awal aku tidak terlibat di sini. Bagaimana mungkin?" Bahkan Nathan pun bingung tentang apa yang melibatkan dirinya. 'Apakah Tina yang melakukan nya? Ahh tidak mungkin. Dia mana tau semua ini. Mana mungkin dia. Apakah ada seseorang yang sengaja menjatuhkan ku? Kurang ajar!' batinnya. "Bagaimana kalian bisa membawa putraku ke sini? Kalian akan membayar mahal. Dasar biadab." Terdengar begitu nikmat suara Marissa yang datang memaki polisi. Tina sengaja datang dan menikmati semuanya. Polisi pun menjelaskan dengan detail semua yang terjadi. Kejahatan yang dilakukan Nathan buka
Chapter 39. "Kenapa kamu menjauhi ku, Tina?" Tanya Nathan dengan mata memerah. "Karma berlaku untuk mu, Nathan. Lihat saja karma pasti datang dan melilitmu." Jawab Tina dengan tegas. "Karma apa yang datang untukku? Tidak ada karma apapun. Kamu mengerti! Kamu milikku. Dan pria tua bangka itu sama sekali tidak berguna." "Cuih! Kau menyebutnya tua bangka? Bagus. Jadi apa yang kau lakukan pada tua bangka itu?" Dengan kesel Tina meludahi Nathan. Namun, pria itu hanya tersenyum menikmati kemarahan istrinya. Baginya ini adalah permainan nya. Semakin Tina marah maka semakin membuat Nathan bergairah. Tina sempat kebingungan. Namun, dirinya berhasil membuat Nathan marah. Nathan mendekat dengannya, dengan nafsu yang tinggi. Seolah Nathan ingin pelepasan segera. Namun, Tina menolak untuk di sentuh. "Kenapa kamu menghindar? Selama kamu jadi milikku kamu tidak bisa menghindar." "Aku tidak sudi." Jawab Tina datar. "Tidak sudi katamu? Dulu kamu paling bersemangat d
Chapter 38. "Sekarang aku sudah di sini, kembali ke rumah mu. Sekarang kamu lepaskan ayahku. Kan kamu berjanji akan melepaskan ayahku." Ucap Tina dengan penuh harap. Namun, pria itu hanya tersenyum penuh kemenangan yang membuat Tina kebingungan. "Aku hanya mengatakan nya bukan berjanji." J
Chapter 37.Jauh dari kota, Riko menyewa rumah kecil untuk mereka tinggal sementara. Rumah kecil itu juga agak dekat dengan markas itu. Markas tempat ayahnya di tahan dan di sembunyikan mereka. Padahal Tina kan udah tau tempat itu, tapi kenapa dia tidak tegur kakaknya ya? Karena malam suda
Chapter 36.Tina merasa tertekan sekaligus bingung. Ia harus bagaimana? Apakah ia harus melawannya? Di sisi kiri dan kanannya selalu ada dua kakaknya yang menyemangatinya. Tina mulai merasa lega, ternyata dia tidak sendiri. Kakaknya yang dulu pernah membencinya, yang pernah memperebutkan Nathan den
Chapter 35.Seolah tidak terjadi apapun. "Hmm.. Aku bahkan sampai lupa menawarkan kamu minum. Padahal kamu baru saja pulang. Ini minumlah. Aku membuatkan jus ini tadi untukmu." Terpaksa Tina bicara lembut dan seolah tidak terjadi apapun. Namun, sayangnya tanpa pikir panjang Nathan langs







