Share

Mengandung Benih Rahasia Atasanku
Mengandung Benih Rahasia Atasanku
Author: Rien rini

Meminta Tanggung Jawab

Author: Rien rini
last update Last Updated: 2025-11-04 13:42:15

“Pak, saya hamil,” ungkap Elena sembari menunduk, menatap perutnya yang masih rata. 

 Aditya spontan mengalihkan perhatiannya dari benda pipih yang sejak tadi menjadi titik fokusnya, dari sekian banyak balasan email yang didapatkannya, pengakuan dari salah satu stafnya itu menjadi satu hal yang paling tidak diharapkan. 

 Sebelah alisnya terangkat, matanya menatap tajam Elena yang tak memiliki kekuatan. 

 “Kamu tau kepada siapa keluhan ini kamu sampaikan?” balasnya alih-alih iba. 

 Elena mengangguk, ia juga tahu jika yang dilakukannya itu sangat berisiko, tetapi janin di perutnya itu membutuhkan tanggung jawab dan perlindungan. Dan tak pernah Elena melakukan hal bodoh itu sebelum menikah, kecuali karena terjebak bersama bosnya itu. 

 “Minta berapa?” tanya Aditya kemudian membuka lacinya dan mengeluarkan selembar cek. “Atau saya beri kosongan saja supaya kamu bisa menulis sesukamu, hem? Berapa pun tidak masalah karena saya tidak akan melakukan yang lebih, ini!”

 Selembar cek itu digeser ke depan Elena, tanda tangan Aditya ada di sana, kapanpun Elena mau mengambilnya, tidak akan menjadi masalah. Tetapi, bukan itu maksud Elena mengadukan soal kehamilannya. 

 “Pak, saya mau anda bertanggung jawab,” katanya, ia memberanikan diri membalas tatapan Aditya yang acuh. 

 “Cek itu tanggung jawab saya,” balas lelaki itu. 

 Elena menggelengkan kepalanya. “Tidak, Pak. Bukan tanggung jawab itu dan bukan soal uang. Saya tidak pernah melakukan ini sebelumnya, Pak, hanya bersama anda. Tolong saya!”

 “Apa maumu?” Aditya mengetukkan jarinya di meja. 

 “Anda menikahi saya, Pak. Saya—”

 “Tidak mungkin!” Aditya langsung menolaknya, walaupun memang dirinya yang menyebabkan Elena hamil dan berstatus duda, pernikahan mendadak itu dan dengan staf biasa seperti Elena tentu menurunkan nilainya sebagai presdir yang belum mau memikirkan soal pernikahan lagi. 

 Mata Elena mengembun, dadanya sesak mendengar penolakan Aditya. 

 “Pak, tolong! Saya punya orang tua yang sudah renta dan sakit, kalau mereka tau kondisi saya, kondisi mereka pasti menurun, belum lagi tekanan dari orang-orang, Pak. Saya meminta tanggung jawab anda, Pak Ditya, sebagai seorang pria!” kata Elena dengan suara bergetar, ia menahan kuat tangisnya. 

 Aditya menunjuk cek di depan Elena. “Gunakan cek itu, kamu bisa menggugurkannya!”

 “Apa?” Elena tercengang, hatinya sakit sekali. “Anda mau saya membunuh dia? Darah daging anda?”

 Aditya sudah lima tahun menduda tanpa anak, mantan istrinya memilih meninggalkannya karena tidak kuat dengan tekanan dari keluarga besarnya dan lebih bahagia bersama lelaki lain. Namun, hal itu tidak membuat hatinya tersentuh, padahal jelas diusianya itu sudah pantas mempunyai anak dan menantikannya sejak dulu. 

 Kejadian di malam puncak acara Employee gathering itu masih akan terus Aditya selidiki, ia pastikan pelakunya akan mendekam di penjara karena sudah menjebak dan merugikannya. 

 “Pak—”

 “Ya, dengan begitu orang tuamu aman dan kau bisa melanjutkan hidupmu lagi, bukan?” balas Aditya acuh, tak ada empati sama sekali. 

 Air mata Elena jatuh tak tertahan, ia tak meminta untuk dicintai lelaki itu, hanya sebatas tanggung jawab yang tak membuat mereka berdosa untuk kedua kalinya juga statusnya sebagai gadis yang nanti akan dipertanyakan. 

 “Pergi dan gugurkan!” kata Aditya sembari mengibaskan tangannya, menunjuk ke pintu supaya Elena segera menyingkir dari hadapannya. 

 Elena tak membalas, bibirnya terkatup rapat, tetapi air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Dengan berat hati ia melangkah keluar sembari membawa selembar cek yang Aditya berikan, meninggalkan seluruh harapan pada lelaki itu. 

 ***

 Ia tersenyum getir menatap selembar cek yang mulai kusut di tangannya, Elena tidak kembali ke meja kerjanya, langkah kakinya membawa wanita itu pergi menjauh sejenak untuk menenangkan diri. 

 Namun, siapa sangka tempat yang katanya tenang tadi, nyatanya berbahaya. Elena duduk di dekat palang pintu kereta api, tak ada yang mencurigakan dari gerak-geriknya, tetapi sebenarnya di pikiran Elena hanya satu, yakni saat kereta melintas akan lebih baik jika dirinya berada di tengah rel. 

 “Maafin Ele, Buk, Yah!” katanya lirih, hanya dirinya saja yang mendengar itu. 

 Ia tidak akan pernah sanggup melihat orang tuanya jatuh sakit dan dipermalukan juga tidak mungkin baginya membiarkan janin itu pergi, sedangkan dirinya masih bebas hidup dengan membawa beban besar. 

 “Aku terpaksa, maafin aku!” Elena menyimpan cek itu ke saku celananya, lalu berdiri. “Aku benci dan jijik pada diriku sendiri, maaf!”

 Suara palang pintu kereta api mulai terdengar, sebentar lagi kereta akan melintas. Kejadian malam itu kembali berputar, bagaimana sentuhan kasar dan dirinya yang tak berdaya terperangkap di sana, menjerit tanpa ada ampunan.

 Elena mengepalkan tangannya, disaat lampu sorot sudah semakin jelas dan dekat. Elena melangkahkan kakinya tanpa peduli seruan-seruan yang terus berusaha menyadarkannya. 

 Semuanya gelap, Elena berharap saat matanya terbuka, ia sudah mati. Akan tetapi, aroma obat-obatan dan suara monitor yang merekam irama jantung menepis harapnya. 

 “Nona, anda sudah sadar?” tanya salah seorang perawat sambil melambaikan tangan tepat di depan mata Elena. 

 Elena membuka mulutnya pelan-pelan, rasanya kering dan kaku. 

 “Ha-us,” katanya, ia seperti sudah lama sekali. 

 Perawat itu mengangguk. “Tunggu sebentar ya!” katanya, lalu memanggil temannya. “Nona Elena sudah sadar, tolong kabari dokter ya!”

 Perawat itu kembali dengan segelas air mineral yang diberi sedotan putih panjang. 

 “Pelan-pelan ya!” katanya membantu. 

 Elena menyedot dan meneguknya beberapa kali sampai dahaganya hilang. 

 “Saya akan segera memberi tau wali anda, Nona. Beliau pasti senang sekali karena sudah seharian anda tidak sadarkan diri, saya tinggal sebentar ya!” jelasnya. 

 Seharian? 

 Mata Elena mengerjap, jadi dirinya tidak sadarkan diri cukup lama, bukan berhasil mati dan meninggalkan semua. 

 “Suster!” panggilnya sebisa mungkin, rasanya sakit semua. 

 Perawat lain datang menggantikan. “Ada yang bisa saya bantu?”

 “Em, saya tidak tau kenapa bisa ada di sini. Tapi, siapa yang membawa saya ke sini?” tanya Elena. 

 Perawat itu tersenyum. “Beberapa orang yang membawa anda ke sini karena hampir saja tertabrak kereta api, Nona. Tapi, kalau anda bertanya yang bertanggung jawab … namanya, tuan Aditya Yudistira,” jawabnya. 

 “Tuan Aditya?” ulang Elena dengan rasa tak percaya. 

 “Benar, nanti dijam kunjungan, beliau bisa masuk. Tetapi, sepertinya masih ada urusan, tadi sudah menitipkan kabar anda. Ada yang lain?” Perawat itu tersenyum. 

 Elena menggelengkan kepalanya, ia masih tidak percaya kalau Aditya yang menjadi penanggung jawabnya, padahal lelaki itu tidak mungkin mencari atau sampai repot-repot mengurusnya. 

 “Apa maksudnya menolongku?” batin Elena bingung. 

 Ia melirik ke jam dinding yang ada di seberang biliknya, di sana tertulis jelas jam kunjungan khusus ruangan ICU. Sebentar lagi lelaki itu akan datang, Elena mulai ketakutan, ia panik sampai tak sadar tangan dan kakinya memberontak. 

 “Nona Elena!”

 “Nona!” 

 Elena menolak saat selang oksigennya dipasangkan lagi, ia ingin pergi sejauh mungkin daripada diminta menggugurkan calon bayinya. 

 “Saya tidak mau, tolong bantu saya pergi!” pintanya memberontak. 

 “Nona, saya mohon tenang demi janin anda!” bisik salah seorang perawat yang berada di dekat kepala Elena. 

 Elena menoleh padanya, perawat itu mengangguk memberikan kepastian kalau kondisinya baik-baik saja. 

 “Tolong tinggalkan kami!” kata seorang pria yang tiba-tiba sudah ada di tengah-tengah mereka. 

 Elena terbelalak. “P-pak Ditya!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengandung Benih Rahasia Atasanku   Memberi Hak Suami

    Adegan dewasa ya ... *** Basah dan hangat. Aditya bisa merasakan meskipun dari lapisan luar yang menutupi kewanitaan istrinya, usapan lembutnya yang tak berhenti di paha dalam juga ciuman yang intens berhasil mengundang gairah keduanya. Dibalik celana kain berwarna gelapnya itu, sesuatu telah mengeras di sana, menunjukkan seberapa besar gairah yang sedang ditahan mati-matian sejak beberapa tahun lalu. Pagutan bibir mereka tak berhenti, hanya sebentar untuk mengisi rongga dada yang sedikit, lalu berlanjut lagi dan lagi. Elena terbuai dengan segala penawaran kelembutan itu, dingin dan garangnya Aditya seakan bertolak belakang dengan kenyamanan yang diterimanya saat ini hingga tanpa sadar kedua kakinya berjarak guna memudahkan jemari pria itu bergerak leluasa. "Boleh saya ...?" bisiknya tak tuntas, tetapi satu jarinya telah lolos ke dalam bilik basah itu, terasa kuat cengkeraman tangan Elena di kedua lengannya dengan nafas terengah-engah, mata berair wanita itu menatap Adit

  • Mengandung Benih Rahasia Atasanku   Sebuah Janji

    Hangat, lembab nan lembut. Bukan lagi rasa takut yang menyergapnya, melainkan ketenangan dan kenyamanan. Tengkuknya meremang, bibir bawahnya tergigit memerah, pun binar matanya lantas teduh. Aditya tidak tahu alasannya, ia terdorong begitu saja bagai hanyut pada peran mereka dan rasanya ingin memberikan semua dengan layak. Ia angkat bibirnya menjauh dari perut itu, tetapi tidak dengan tangannya yang mulai merambat naik menyusuri lembut nan halus perut itu sampai pada batas sensitif yang mengundang helaan berat keduanya. "Boleh saya menyentuhnya?" tanya Aditya mengantarkan izin, dapat ia rasakan tubuh Elena gemetaran saat ujung jemarinya menyentuh karet pembatas antara perut dan bawah dada. Elena mencari-cari kepalsuan dari sorot mata itu, tetapi yang ia temukan justru kepercayaan maka ia pun mengangguk. Hanya, — "Jangan di sini!" katanya mencekal tangan Aditya yang sudah sedikit mengangkat karet itu. "Hem?" "Di rumah saja, nanti ada orang ke sini," kata Elena mema

  • Mengandung Benih Rahasia Atasanku   Sentuhan Pertama

    Pak Aditya: Syukurlah, terima kasih atas perhatiannya. Template sekali, khas bapak-bapak yang kaku dan baku. Elena menyunggingkan senyumnya, selain semalam pertama kali mereka tidur berpelukan di ranjang yang sama tanpa ada paksaan dan dengan kesadaran penuh, pagi ini mereka berbalas pesan yang berisikan kepedulian. Apa tanda-tandanya? "Nggak mungkin!" celetuk Elena. Tak sengaja mendengar itu, Deva pun menoleh keheranan, apalagi melihat Elena senyum-senyum sendiri sambil melihat ke benda pipih di tangannya itu. "Len," panggilnya. Elena terperanjat, ia langsung meletakkan ponselnya tampak gelagapan. "Iy-iya?" balasnya gugup. Deva tertawa melihat ekspresi wajah temannya itu. "Kamu ngapain, Len, hah? Kok sampe kaget gitu! Lagi chat-an sama abangnya ya?" Pipi Elena bersemu merah, abang katanya, padahal itu atasan mereka. Elena mengangguk malu. "Ah, senengnya! Pantesan ngedumel sendiri, ternyata!" Deva tertawa. "Kamu kecintaan banget kayaknya, udah suruh di

  • Mengandung Benih Rahasia Atasanku   Menenangkan Aku

    "Bagus!" suara Vera menggelegar begitu pasangan suami istri yang baru saja menikmati momen ngidam pertama pulang dan melangkah masuk. Elena langsung menahan nafasnya, ia mundur kemudian berdiri di belakang punggung Aditya. Mengetahui hal itu, Aditya mengulurkan tangannya ke belakang, menyentuh tangan Elena yang kemudian ia genggam supaya tenang. "Udah dibilang ngidam itu cuman hawa nafsu orang tuanya, kalau nggak bisa dikendaliin jadinya bakal seenaknya, nggak bisa hargain makanan yang ada di rumah, nggak tau syukur. Capek juga orang tua masak, tinggal makan nggak pake repot aja, masih nggak mau terima!" omel Vera hampir mirip seperti yang tadi Elena hadapi sendiri. "Ma, orang hamil ngidam itu wajar. Lagian, aku masih bisa makan masakan rumah dan nggak tiap hari ngidam itu ada. Nggak perlu dibesar-besarin!" kata Aditya kali ini menunjukkan pembelaannya. "Oo, kamu udah bela orang lain daripada Mama, Dit?" Vera mendengus. "Elena istriku, Ma. Dia lagi hamil anakku, jadi wa

  • Mengandung Benih Rahasia Atasanku   Ngidam Sebenarnya

    "Kamu suka milkshake buah naga?" Elena yang saat itu sedang duduk menghadap ke luar jendela kamar pun terperanjat kaget, sepertinya ia melamun sampai tidak tahu suaminya pulang. "Pak Ditya, maaf—" "Tidak apa, duduk saja!" Aditya ingin menciptakan situasi yang kondusif dan nyaman untuk mereka, mengesampingkan keletihan pribadinya demi nyawa kecil yang tak berdosa. "Jawab pertanyaan saya tadi!" Elena mengangguk, artinya yang dikatakan Ardi tadi benar. Bisa-bisanya, dirinya yang sudah pernah menikah dan itu pernikahan keduanya kalah dengan bujangan yang tak jelas kapan menikahnya. Jadi, itu ngidam. "Kamu sedang ingin tadi?" tanyanya lagi. "Tidak, Pak. Anda menginginkannya?" balas Elena tak mau mengecewakan Aditya yang mau membuka komunikasi dengannya. "Ya, mendadak saya menginginkan sesuatu yang bahkan tidak ada di kebiasaan saya tadi. Bahkan, liat!" Aditya menunjukkan noda di pakaiannya. "Ini karena saya tidak sabaran, saya minum botol kecil sebelum membayar sepert

  • Mengandung Benih Rahasia Atasanku   Mendadak Ngidam

    Pikirnya, bisa langsung kembali. Ternyata, diminta duduk di ruangannya dulu. "Tunggu Ardi bawa teh hangat ke sini!" katanya. Elena mendongak, lalu menggelengkan kepalanya. "Saya sudah lebih baik, Pak. Jangan merepotkan!" balasnya segan, ia suka Aditya berbaik hati, tetapi ia harus tetap waspada dan menjaga hati. "Kamu mau saya yang buatkan?" "Eh, bukan itu! Maksud saya, ini jadi merepotkan pak Ardi. Nanti, kalau ada yang curiga, bisa—" "Ardi membuat di sebelah ruangan ini, tidak perlu cemas!" potongnya melirik Elena yang tampak panik. "Kenapa kamu selalu panik begitu?" Kening Elena mengerut, tak menduga saja Aditya akan banyak bertanya dan berbicara padanya, apalagi sampai kepikiran untuk perhatian. Tetapi, memang tadi pagi ada perubahan pada laki-laki itu. "Kamu panik, cemas dan ketakutan. Apa saya menyeramkan?" tanya Aditya menatap lekat wanita yang telah ia nikahi itu, Ardi yang baru saja masuk hampir tertawa, pasalnya bos mereka memang menakutkan dan ketus.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status