MasukHangat, lembab nan lembut. Bukan lagi rasa takut yang menyergapnya, melainkan ketenangan dan kenyamanan. Tengkuknya meremang, bibir bawahnya tergigit memerah, pun binar matanya lantas teduh. Aditya tidak tahu alasannya, ia terdorong begitu saja bagai hanyut pada peran mereka dan rasanya ingin memberikan semua dengan layak. Ia angkat bibirnya menjauh dari perut itu, tetapi tidak dengan tangannya yang mulai merambat naik menyusuri lembut nan halus perut itu sampai pada batas sensitif yang mengundang helaan berat keduanya. "Boleh saya menyentuhnya?" tanya Aditya mengantarkan izin, dapat ia rasakan tubuh Elena gemetaran saat ujung jemarinya menyentuh karet pembatas antara perut dan bawah dada. Elena mencari-cari kepalsuan dari sorot mata itu, tetapi yang ia temukan justru kepercayaan maka ia pun mengangguk. Hanya, — "Jangan di sini!" katanya mencekal tangan Aditya yang sudah sedikit mengangkat karet itu. "Hem?" "Di rumah saja, nanti ada orang ke sini," kata Elena mema
Pak Aditya: Syukurlah, terima kasih atas perhatiannya. Template sekali, khas bapak-bapak yang kaku dan baku. Elena menyunggingkan senyumnya, selain semalam pertama kali mereka tidur berpelukan di ranjang yang sama tanpa ada paksaan dan dengan kesadaran penuh, pagi ini mereka berbalas pesan yang berisikan kepedulian. Apa tanda-tandanya? "Nggak mungkin!" celetuk Elena. Tak sengaja mendengar itu, Deva pun menoleh keheranan, apalagi melihat Elena senyum-senyum sendiri sambil melihat ke benda pipih di tangannya itu. "Len," panggilnya. Elena terperanjat, ia langsung meletakkan ponselnya tampak gelagapan. "Iy-iya?" balasnya gugup. Deva tertawa melihat ekspresi wajah temannya itu. "Kamu ngapain, Len, hah? Kok sampe kaget gitu! Lagi chat-an sama abangnya ya?" Pipi Elena bersemu merah, abang katanya, padahal itu atasan mereka. Elena mengangguk malu. "Ah, senengnya! Pantesan ngedumel sendiri, ternyata!" Deva tertawa. "Kamu kecintaan banget kayaknya, udah suruh di
"Bagus!" suara Vera menggelegar begitu pasangan suami istri yang baru saja menikmati momen ngidam pertama pulang dan melangkah masuk. Elena langsung menahan nafasnya, ia mundur kemudian berdiri di belakang punggung Aditya. Mengetahui hal itu, Aditya mengulurkan tangannya ke belakang, menyentuh tangan Elena yang kemudian ia genggam supaya tenang. "Udah dibilang ngidam itu cuman hawa nafsu orang tuanya, kalau nggak bisa dikendaliin jadinya bakal seenaknya, nggak bisa hargain makanan yang ada di rumah, nggak tau syukur. Capek juga orang tua masak, tinggal makan nggak pake repot aja, masih nggak mau terima!" omel Vera hampir mirip seperti yang tadi Elena hadapi sendiri. "Ma, orang hamil ngidam itu wajar. Lagian, aku masih bisa makan masakan rumah dan nggak tiap hari ngidam itu ada. Nggak perlu dibesar-besarin!" kata Aditya kali ini menunjukkan pembelaannya. "Oo, kamu udah bela orang lain daripada Mama, Dit?" Vera mendengus. "Elena istriku, Ma. Dia lagi hamil anakku, jadi wa
"Kamu suka milkshake buah naga?" Elena yang saat itu sedang duduk menghadap ke luar jendela kamar pun terperanjat kaget, sepertinya ia melamun sampai tidak tahu suaminya pulang. "Pak Ditya, maaf—" "Tidak apa, duduk saja!" Aditya ingin menciptakan situasi yang kondusif dan nyaman untuk mereka, mengesampingkan keletihan pribadinya demi nyawa kecil yang tak berdosa. "Jawab pertanyaan saya tadi!" Elena mengangguk, artinya yang dikatakan Ardi tadi benar. Bisa-bisanya, dirinya yang sudah pernah menikah dan itu pernikahan keduanya kalah dengan bujangan yang tak jelas kapan menikahnya. Jadi, itu ngidam. "Kamu sedang ingin tadi?" tanyanya lagi. "Tidak, Pak. Anda menginginkannya?" balas Elena tak mau mengecewakan Aditya yang mau membuka komunikasi dengannya. "Ya, mendadak saya menginginkan sesuatu yang bahkan tidak ada di kebiasaan saya tadi. Bahkan, liat!" Aditya menunjukkan noda di pakaiannya. "Ini karena saya tidak sabaran, saya minum botol kecil sebelum membayar sepert
Pikirnya, bisa langsung kembali. Ternyata, diminta duduk di ruangannya dulu. "Tunggu Ardi bawa teh hangat ke sini!" katanya. Elena mendongak, lalu menggelengkan kepalanya. "Saya sudah lebih baik, Pak. Jangan merepotkan!" balasnya segan, ia suka Aditya berbaik hati, tetapi ia harus tetap waspada dan menjaga hati. "Kamu mau saya yang buatkan?" "Eh, bukan itu! Maksud saya, ini jadi merepotkan pak Ardi. Nanti, kalau ada yang curiga, bisa—" "Ardi membuat di sebelah ruangan ini, tidak perlu cemas!" potongnya melirik Elena yang tampak panik. "Kenapa kamu selalu panik begitu?" Kening Elena mengerut, tak menduga saja Aditya akan banyak bertanya dan berbicara padanya, apalagi sampai kepikiran untuk perhatian. Tetapi, memang tadi pagi ada perubahan pada laki-laki itu. "Kamu panik, cemas dan ketakutan. Apa saya menyeramkan?" tanya Aditya menatap lekat wanita yang telah ia nikahi itu, Ardi yang baru saja masuk hampir tertawa, pasalnya bos mereka memang menakutkan dan ketus.
Elena melirik tangan Aditya yang melingkar di sepanjang bahunya, dagu lelaki itu pun berada tepat di keningnya. Perlahan ia mendongak, mencari sorot mata lelaki itu. "Ada apa?" tanya Aditya memelankan suaranya, jarak wajah mereka hanya selebar alis. "Apa saya aman?" balas Elena alih-alih menjawab, wanita itu justru tampak ketakutan. Aditya mengerutkan keningnya, mencari alasan dari mata bening nan mendung Elena, kilatan trauma atas kejadian malam itu terlihat jelas. Ia tak menyangka Elena mengalami trauma. "Ya, ini saya, Aditya!" katanya. "Pak Aditya, suami saya?" tanya Elena abu-abu, jari-jarinya tampak meremat ujung kaosnya. "Ya, kamu bersama saya, Ele. Ada apa?" Bukan kata-kata sebagai jawabannya, tetapi air mata Elena yang mewakili, ia menangis tanpa suara dan begitu menyesakkan. Melihat itu, hati kecil Aditya berubah tak tega. Walaupun pernikahan itu terpaksa dan ia tak menyukainya, tetapi harus disadari kalau Elena tidak bersalah, wanita itu hanya korban







