LOGIN“Pak Ditya!” ucap Elena berangsur tenang, keringat dingin membanjiri keningnya.
Lelaki berkemeja putih itu mengangguk, lalu memberikan instruksi pada perawat di sana untuk meninggalkan mereka sejenak. “Pakai ini!” titahnya membenarkan posisi selang oksigen di depan hidung Elena. “Kondisimu baru saja membaik, jangan banyak gerak dulu!” Alih-alih bisa tenang, walaupun ia tak memberontak seperti tadi, kepalanya berisik sekali. Seingatnya, lelaki itu tidak mengetahui ke mana dirinya pergi dan kapan, tetapi sekarang ada di dekatnya sekaligus menjadi penanggung jawab. Elena menatap awas atasan sekaligus ayah dari calon bayinya itu, ia khawatir Aditya kembali memintanya untuk menggugurkan kandungannya, apalagi mereka sedang ada di rumah sakit dan dirinya tengah tidak berdaya. “Saya mohon bunuh saya sekalian!” kata Elena memohon, matanya merah merebak. “Saya tidak bisa membunuh dia, lebih baik kami pergi bersama jika anda menolaknya, Pak!” Sakit, dadanya terasa sesak karena seluruh dunianya sudah runtuh tanpa sisa, ia tak mempunyai harapan lagi. Aditya mendecakkan lidah kemudian membalas tatapan melas Elena. “Saya berubah pikiran, sekalipun kamu memilih mati, tetap saja itu merugikan saya karena korban laka pasti ada penyelidikan. Ditambah lagi, cek yang ada di sakumu, sudah cukup membuktikan pada siapa kesalahan itu akan dijatuhkan,” katanya melangkah lebih dekat ke brankar Elena. “Saya akan menikahi kamu, tapi kita bersepakat itu hanya sementara dan dirahasiakan,” tambahnya. Kening Elena mengernyit. “Dirahasiakan?” Sungguh, Elena tidak peduli meskipun hanya sementara yang terpenting nama orang tuanya terjaga, soal perpisahan ia bisa mencari alasan. Akan tetapi, ia tidak cukup mengerti dengan status pernikahan yang harus dirahasiakan. “Hanya keluarga saya dan kamu yang tau, entah acara kecil apa, saya mau identitas saya sebagai suamimu harus disembunyikan, tidak ada yang boleh tau, terutama di kantor! Kamu bisa mengatakan menikah dengan abdi negara atau apa, terserah! Tapi, bukan saya, paham?” Aditya membungkuk, mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga dekat dengan wajah Elena. “Kamu setuju?” Elena tercekat, itu bukan keputusan yang mudah, tetapi hanya itu solusinya untuk sekarang. Maka, ia pun mengangguk. “Bagus!” kata Aditya kembali menegakkan punggungnya, lalu menunjuk ke meja perawat. Yang tadi, Fiska, sepupuku. Dia akan menjaga rahasia dan membungkam semua,” ungkapnya. Elena kembali mengangguk kemudian bertanya, “Dari siapa anda tau soal kejadian kemarin?” “Ah, itu … Ardi yang melihat dan ada di sana,” jawabnya kemudian pergi ke meja perawat. Elena menipiskan bibirnya, lagipula tidak mungkin lelaki sempat panik dan mencarinya yang pergi begitu saja dari kantor, dirinya saja yang terlalu berekspektasi tinggi. “Aku tidur saja,” kata Elena lirih, tubuhnya lemas sekali dan sebagian masih nyeri. Sementara itu, di meja perawat Aditya menoleh sekilas pada Elena yang sudah tenang dan memejamkan mata. Jika saja kemarin ia mengabaikan kecurigaan sekretarisnya, mungkin wanita itu sudah mati dan nama baiknya terancam. Beruntung ia datang tepat waktu dan orang-orang di sana kompak membantu hingga Elena hanya luka ringan dan selamat, termasuk kandungan wanita itu. *** Sebuah tamparan keras mendarat panas di pipi kanan Aditya malam itu, Elena baru saja dipindahkan ke ruang inap, bersamaan dengan itu orang tua Aditya datang dan alangkah terkejutnya mendengar kabar kehamilan Elena. “Itu jebakan, Ma!” kata Aditya sembari meraba pipinya yang panas. “Jebakan-jebakan! Tapi, bukan berarti kamu seenaknya pada Elena!” balas Vera geram. Elena terdiam, ia malu sekaligus takut, sebab semarah itu Vera saat mengetahui kehamilan dan sikap acuh Aditya padanya, ia tidak bisa membayangkan jika wanita itu mengetahui yang lain lagi, yakni pernikahan kontrak antara dirinya dan Aditya, entah akan semarah apa wanita itu. Namun, Elena harus menerima kenyataan bahwa memang hubungan mereka harus dirahasiakan, terlebih lagi itu akan sangat berpengaruh pada kelayakan Aditya menjadi CEO kelak. “Aku begitu karena ini beresiko, kan?” Aditya menghembuskan nafasnya kasar, ia menoleh pada papanya. Hanung lantas maju menghampiri istrinya, menekan ringan kedua bahu wanita itu dan memberikan tepukan pelan, memintanya untuk tenang. Setelah perceraian Aditya dulu membuat lelaki itu kesulitan untuk mendapatkan promosi, Aditya kehilangan banyak kepercayaan sehingga keputusan pendek kemarin sempat diambil. “Terus, sekarang?” Vera menekan pelipisnya, masalah itu benar-benar berat. “Aku akan menikahi Elena, tapi kami merahasiakannya. Elena juga perlu memikirkan nasib orang tuanya,” jawab Aditya sama sekali tak menyinggung soal perjanjian kontrak. Vera mengangguk, lagipula ia juga tidak setuju jika harus menggugurkan kandungan itu, bagaimanapun juga janin itu darah daging Aditya meskipun rawan sekali. Ia memutar tubuhnya menghadap Elena yang lemas dan pucat, hamil muda dengan banyak tekanan tidaklah mudah. Wajahnya berubah mendung, seharusnya kehamilan menjadi momen terbaik, tetapi mereka tak berdaya dan mengorbankan perasaan Elena. “Sudah berapa usianya?” tanya Vera sembari meletakkan tangannya ke atas perut Elena. “En-enam minggu, Tante,” jawab Elena mengingat hasil pemeriksaan di bidan beberapa hari lalu. Vera melipat bibirnya, berusaha untuk menenangkan diri, sebab itu sangat menyakitkan. “Maaf kamu jadi harus merasakan hal ini, tapi tolong kuat ya!” kata Vera penuh rasa bersalah karena tak bisa mendukung lebih posisi Elena untuk tidak merahasiakan pernikahan itu, sebagai ibu ia juga ingin Aditya mencapai puncak karirnya. Elena mengangguk, ia anggap kejadian malam itu sebagai musibah meskipun traumanya masih cukup berat dan kerap menghantuinya, terutama bila berpapasan dengan laki-laki, Elena sampai menggigil dan ingin segera menghindar. “Saya juga minta maaf, Tante, Om,” kata Elena kemudian menutup mulutnya, sesuatu terasa merangkak naik dari perut sampai kerongkongan, ia mual. “Eh!” pekik Vera bergegas memanggil Aditya. “Ditya, ambilkan baskom cepat!” “Buat?” “Buruan!” bentaknya, mau tak mau Aditya mengambil baskom stainless di toilet, lalu memberikan pada mamanya. “Kok Mama, kamu lah!” Vera mendorong punggung Aditya supaya lebih dekat ke depan wajah Elena, detik itu juga Elena memuntahkan semua isi perutnya sambil menahan perih dan panas di tenggorokan. Elena merintih, matanya pun memerah, semuanya sakit dan membuatnya lemas. Melihat betapa pucatnya Elena, Aditya tercenung, ia tak menyangka akan separah itu wanita yang sedang hamil. “Lebih baik kalian buruan nikah, dia butuh kamu!” cetus Vera sambil memijat pelipisnya, sakitnya Elena mengingatkan wanita itu pada kehamilannya dulu saat mengandung Aditya, sekujur tubuhnya lantas gemetaran. “Tapi—” ucapan Aditya berhenti begitu muntah susulan datang lagi. “Sudah, jangan banyak tapi-tapi! Segera temui orang tuanya dan menikah!” sergah Vera. Aditya meraup wajahnya dengan satu tangan yang bebas. Masalah itu tidak sederhana dan harus hati-hati karena bisa saja memancing jebakan baru dari pelaku yang belum diketahui sekaligus menjaga perasaan orang tua Elena. “Tunggu Elena membaik dulu, mereka belum tau soal kehamilan ini!” katanya menahan geram, pun serba salah.Adegan dewasa ya ... *** Basah dan hangat. Aditya bisa merasakan meskipun dari lapisan luar yang menutupi kewanitaan istrinya, usapan lembutnya yang tak berhenti di paha dalam juga ciuman yang intens berhasil mengundang gairah keduanya. Dibalik celana kain berwarna gelapnya itu, sesuatu telah mengeras di sana, menunjukkan seberapa besar gairah yang sedang ditahan mati-matian sejak beberapa tahun lalu. Pagutan bibir mereka tak berhenti, hanya sebentar untuk mengisi rongga dada yang sedikit, lalu berlanjut lagi dan lagi. Elena terbuai dengan segala penawaran kelembutan itu, dingin dan garangnya Aditya seakan bertolak belakang dengan kenyamanan yang diterimanya saat ini hingga tanpa sadar kedua kakinya berjarak guna memudahkan jemari pria itu bergerak leluasa. "Boleh saya ...?" bisiknya tak tuntas, tetapi satu jarinya telah lolos ke dalam bilik basah itu, terasa kuat cengkeraman tangan Elena di kedua lengannya dengan nafas terengah-engah, mata berair wanita itu menatap Adit
Hangat, lembab nan lembut. Bukan lagi rasa takut yang menyergapnya, melainkan ketenangan dan kenyamanan. Tengkuknya meremang, bibir bawahnya tergigit memerah, pun binar matanya lantas teduh. Aditya tidak tahu alasannya, ia terdorong begitu saja bagai hanyut pada peran mereka dan rasanya ingin memberikan semua dengan layak. Ia angkat bibirnya menjauh dari perut itu, tetapi tidak dengan tangannya yang mulai merambat naik menyusuri lembut nan halus perut itu sampai pada batas sensitif yang mengundang helaan berat keduanya. "Boleh saya menyentuhnya?" tanya Aditya mengantarkan izin, dapat ia rasakan tubuh Elena gemetaran saat ujung jemarinya menyentuh karet pembatas antara perut dan bawah dada. Elena mencari-cari kepalsuan dari sorot mata itu, tetapi yang ia temukan justru kepercayaan maka ia pun mengangguk. Hanya, — "Jangan di sini!" katanya mencekal tangan Aditya yang sudah sedikit mengangkat karet itu. "Hem?" "Di rumah saja, nanti ada orang ke sini," kata Elena mema
Pak Aditya: Syukurlah, terima kasih atas perhatiannya. Template sekali, khas bapak-bapak yang kaku dan baku. Elena menyunggingkan senyumnya, selain semalam pertama kali mereka tidur berpelukan di ranjang yang sama tanpa ada paksaan dan dengan kesadaran penuh, pagi ini mereka berbalas pesan yang berisikan kepedulian. Apa tanda-tandanya? "Nggak mungkin!" celetuk Elena. Tak sengaja mendengar itu, Deva pun menoleh keheranan, apalagi melihat Elena senyum-senyum sendiri sambil melihat ke benda pipih di tangannya itu. "Len," panggilnya. Elena terperanjat, ia langsung meletakkan ponselnya tampak gelagapan. "Iy-iya?" balasnya gugup. Deva tertawa melihat ekspresi wajah temannya itu. "Kamu ngapain, Len, hah? Kok sampe kaget gitu! Lagi chat-an sama abangnya ya?" Pipi Elena bersemu merah, abang katanya, padahal itu atasan mereka. Elena mengangguk malu. "Ah, senengnya! Pantesan ngedumel sendiri, ternyata!" Deva tertawa. "Kamu kecintaan banget kayaknya, udah suruh di
"Bagus!" suara Vera menggelegar begitu pasangan suami istri yang baru saja menikmati momen ngidam pertama pulang dan melangkah masuk. Elena langsung menahan nafasnya, ia mundur kemudian berdiri di belakang punggung Aditya. Mengetahui hal itu, Aditya mengulurkan tangannya ke belakang, menyentuh tangan Elena yang kemudian ia genggam supaya tenang. "Udah dibilang ngidam itu cuman hawa nafsu orang tuanya, kalau nggak bisa dikendaliin jadinya bakal seenaknya, nggak bisa hargain makanan yang ada di rumah, nggak tau syukur. Capek juga orang tua masak, tinggal makan nggak pake repot aja, masih nggak mau terima!" omel Vera hampir mirip seperti yang tadi Elena hadapi sendiri. "Ma, orang hamil ngidam itu wajar. Lagian, aku masih bisa makan masakan rumah dan nggak tiap hari ngidam itu ada. Nggak perlu dibesar-besarin!" kata Aditya kali ini menunjukkan pembelaannya. "Oo, kamu udah bela orang lain daripada Mama, Dit?" Vera mendengus. "Elena istriku, Ma. Dia lagi hamil anakku, jadi wa
"Kamu suka milkshake buah naga?" Elena yang saat itu sedang duduk menghadap ke luar jendela kamar pun terperanjat kaget, sepertinya ia melamun sampai tidak tahu suaminya pulang. "Pak Ditya, maaf—" "Tidak apa, duduk saja!" Aditya ingin menciptakan situasi yang kondusif dan nyaman untuk mereka, mengesampingkan keletihan pribadinya demi nyawa kecil yang tak berdosa. "Jawab pertanyaan saya tadi!" Elena mengangguk, artinya yang dikatakan Ardi tadi benar. Bisa-bisanya, dirinya yang sudah pernah menikah dan itu pernikahan keduanya kalah dengan bujangan yang tak jelas kapan menikahnya. Jadi, itu ngidam. "Kamu sedang ingin tadi?" tanyanya lagi. "Tidak, Pak. Anda menginginkannya?" balas Elena tak mau mengecewakan Aditya yang mau membuka komunikasi dengannya. "Ya, mendadak saya menginginkan sesuatu yang bahkan tidak ada di kebiasaan saya tadi. Bahkan, liat!" Aditya menunjukkan noda di pakaiannya. "Ini karena saya tidak sabaran, saya minum botol kecil sebelum membayar sepert
Pikirnya, bisa langsung kembali. Ternyata, diminta duduk di ruangannya dulu. "Tunggu Ardi bawa teh hangat ke sini!" katanya. Elena mendongak, lalu menggelengkan kepalanya. "Saya sudah lebih baik, Pak. Jangan merepotkan!" balasnya segan, ia suka Aditya berbaik hati, tetapi ia harus tetap waspada dan menjaga hati. "Kamu mau saya yang buatkan?" "Eh, bukan itu! Maksud saya, ini jadi merepotkan pak Ardi. Nanti, kalau ada yang curiga, bisa—" "Ardi membuat di sebelah ruangan ini, tidak perlu cemas!" potongnya melirik Elena yang tampak panik. "Kenapa kamu selalu panik begitu?" Kening Elena mengerut, tak menduga saja Aditya akan banyak bertanya dan berbicara padanya, apalagi sampai kepikiran untuk perhatian. Tetapi, memang tadi pagi ada perubahan pada laki-laki itu. "Kamu panik, cemas dan ketakutan. Apa saya menyeramkan?" tanya Aditya menatap lekat wanita yang telah ia nikahi itu, Ardi yang baru saja masuk hampir tertawa, pasalnya bos mereka memang menakutkan dan ketus.







