Masuk“Len, mereka siapa?” Dewi melihat satu per satu wajah tamunya yang datang bersama Elena.
“Em, mereka—” “Saya kekasihnya Elena, Bu Dewi. Kedatangan saya beserta keluarga ke sini untuk bersilaturahmi sekaligus meminang Elena,” potong Aditya sembari maju ke depan, tepat di samping Elena. Dewi tampak terkejut mendengar pengakuan Aditya, sebab sejak Elena pergi ke ibu kota dengan niat bekerja, ia belum pernah mendengar putrinya itu mempunyai kekasih. Bahkan, terakhir kali Elena mengatakan belum memikirkan soal pernikahan. Tetapi, sekarang semuanya berbalik. “Buk, maaf kalau Lena nggak pernah cerita, aku malu. Tapi, Pa-Mas Ditya punya niat serius ke aku dan nggak mau nunda. Keluarganya juga udah kenal Lena, Buk,” jelas Elena gugup. “Oo, ya sudah! Ayo, masuk dulu!” ajak Dewi kemudian membuka lebar pintu rumahnya. Aditya bersama orang tuanya pun masuk, bangunan rumah Elena masih terbilang lama, tetapi justru itu lebih kuat strukturnya, di dalamnya pun terlihat cukup lega dan berkesan, apalagi masih ada lemari rak berisi hiasan piring lama. Elena langsung membantu ibunya di dapur mengambilkan minuman dan cemilan seadanya, tak lupa membangunkan bapaknya yang sudah tidak bekerja. “Meminang?” Haryo juga terkejut sama seperti Dewi tadi, ia pun menoleh pada Elena seolah meminta kepastian. Elena mengangguk. “Mas Ditya punya niat serius ke Lena, Pak. Keluarganya juga sudah menerima Lena,” katanya. “Benar, Pak Haryo dan Bu Dewi. Perkenalkan, saya Vera dan ini suami saya Hanung, kami orang tua dari Ditya. Kedatangan kami ke sini selain untuk menjalin silaturahmi, kami juga ingin meminang Elena untuk menjadi istri Ditya. Mereka sudah sama-sama dewasa, rasanya menunda untuk menyatukan mereka kuranglah tepat, jadi kami pun setuju dan menunggu izin dari orang tua Elena,” jelas Vera kemudian menambahkan. “Maaf, anak kami sudah pernah menikah, tetapi bercerai beberapa tahun lalu. Lalu, Elena kembali membangkitkan keinginannya untuk menikah, Pak, Bu,” tambahnya. Haryo manggut-manggut, sebenarnya status tak ada masalah selama sudah tidak saling mengganggu dan mampu memperbaiki diri juga saling mencintai. Jodoh tidak bisa ditebak, mau bertemu disaat masih bujang atau setelah gagal. “Kamu sudah yakin?” tanya Haryo pada Elena. “Sudah, Pak,” jawab Elena menahan gemuruh di dadanya, sebab harus membohongi orang tuanya. “Ya, kalau sudah sama-sama suka, kami orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan. Kami juga sudah terlalu tua, khawatir mati duluan sebelum Lena bisa menikah. Maklum, kami pun menikah diusia yang tua juga, heheh,” kata Haryo. “Jadi, niat kami diterima, Pak?” tanya Hanung. Haryo dan Dewi kompak mengangguk, sama sekali tak ada kesulitan di sana, bahkan tidak ada pertanyaan Aditya bekerja di mana atau yang lain, semudah itu bertemu orang tua Elena dan mendapatkan restunya. *** Pernikahan akan dilaksanakan di kediaman orang tua Elena, hanya dihadiri saksi dan keluarga saja, semuanya serba mendadak dan harus cepat untuk mengejar usia kandungan Elena yang semakin hari semakin bertambah, apalagi wanita itu tak bisa menahan mual dan menutupi muntahnya terlalu lama. Elena pun mengajukan cuti mendadak, sedangkan Aditya masih bekerja seperti biasa supaya rahasia mereka aman kemudian mengambil cuti sehari sebelum acara pernikahan. “Mual banget?” tanya Vera menghampiri Elena yang baru saja selesai make up. “Sedikit, Tan-Ma, maaf!” Elena masih segan mengubah panggilannya pada Vera. Vera mengangguk. “Sabar ya, tahan sebentar lagi!” “Iya, Ma, terima kasih!” Elena tersenyum begitu tangan Vera mengusap perutnya, setidaknya masih ada yang perhatian, sebab Aditya seakan tak peduli. Elena digandeng keluar untuk duduk di samping Aditya, semua orang sudah siap dan akad nikah pun dilaksanakan. Dalam sekejap status mereka berubah, Elena telah sah menjadi istri Aditya dan anak di kandungannya itu mendapatkan jaminan. Acaranya jauh dari kata mewah untuk sekelas presdir, walaupun begitu yang terpenting adalah sahnya dan rasa aman. “Kalian bermalam di sini dulu ya!” kata Vera pada keduanya, sebelum Elena dibawa kembali ke ibu kota, setidaknya pengantin baru itu menginap di rumah orang tua Elena. “Ma, nggak bisa gitu dong!” tolak Aditya, pernikahan itu hanya formalitas, tidak mungkin dirinya bermalam dan sekamar dengan Elena. “Bisa, Ditya!” sanggah Vera, matanya menatap tajam Aditya, sisa kecewanya masih ada. “Sudah cukup kamu membantah Mama dari dulu, sekarang Mama nggak akan biarin kamu seenaknya!” Elena hanya diam, walaupun sejujurnya ia juga belum siap berada di satu kamar yang sama bersama Aditya, malam itu benar-benar menyisakan trauma hebat. Aditya mendecakkan lidah, mengadu pada papanya juga tidak mungkin, selain patuh tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya atau semua yang telah ia upayakan akan hancur berantakan. “Nak Ditya, di sini kamarnya seadanya ya!” kata Dewi menghampiri menantunya usai semua tamu pulang. “Ah, iya, Bu Dewi. Maaf kalau kami hanya bisa semalam saja!” balasnya segan, tetapi juga keras hati ingin menolak. Dewi tersenyum, lalu menatap putrinya dan berkata, “Kamu kecapekan banget pasti, Len. Tapi, sekarang tinggal lega dan istirahatnya, biar nggak pucet banget gitu!” Elena mengangguk kemudian melirik Aditya yang juga menatap datar ke arahnya. “Iya, nikah secapek itu ya, Buk, hehehe,” balas Elena mencoba mencairkan suasana. “Nggak apa, Len, ini belum kalau udah ada anak, jangan ditanya!” canda Dewi kemudian memeluk putrinya. “Ibuk seneng karena kamu nggak ngikutin jejak kami menikah diusia tua, Len. Doa kami selalu buat kalian!” Elena mengeratkan pelukannya, jika saja bisa dirinya pasti menangis sesenggukan di sana, tetapi semua harus dirahasiakan dan nyatanya ia telah mengecewakan orang tuanya. Sementara itu, Aditya hanya diam tak merespon apa pun. Setelah acara selesai dan dekorasi dibongkar, para orang tua pergi beristirahat karena sangat lelah. Tinggallah pengantin baru itu yang masih bertahan untuk tidak memasuki kamar, Elena duduk di ruang tengah, sedangkan Aditya ada di teras depan menyulut rokoknya. “Ibuk bilang nggak boleh ninggal suami, tapi pak Ditya nggak ada tanda-tanda mau tidur. Aku harus gimana?” gumam Elena bingung, ia termasuk anak yang patuh pada orang tua sehingga tak berani membantah pesan ibunya tadi. “Apa aku ke depan aja? Tapi, terus aku ngomong apa?” Dadanya berdebar-debar, kakinya maju mundur berulang kali seolah tak menemukan keberanian sama sekali. Tiba-tiba, perutnya bergejolak hebat dan ingin sekali muntah. Elena langsung memutar tubuhnya hendak bergegas ke kamar mandi, tetapi ia justru menabrak lemari rak sehingga jatuh terjerembab. “Tolong!” pekiknya menahan sakit, bokongnya membentur lantai cukup keras. Mendengar itu, Aditya spontan membuang rokoknya dan berlari masuk. “Ele!” panggilnya syok, apalagi tangan Elena seperti meremas perut bawah wanita itu. “Pegangan!” titahnya kemudian menggendong Elena. Kening Elena mengernyit, sakit itu semakin menjalar dan menyerang perutnya. “Sa-sakit perutnya!” keluh wanita itu, berganti Aditya yang pucat sekarang.Adegan dewasa ya ... *** Basah dan hangat. Aditya bisa merasakan meskipun dari lapisan luar yang menutupi kewanitaan istrinya, usapan lembutnya yang tak berhenti di paha dalam juga ciuman yang intens berhasil mengundang gairah keduanya. Dibalik celana kain berwarna gelapnya itu, sesuatu telah mengeras di sana, menunjukkan seberapa besar gairah yang sedang ditahan mati-matian sejak beberapa tahun lalu. Pagutan bibir mereka tak berhenti, hanya sebentar untuk mengisi rongga dada yang sedikit, lalu berlanjut lagi dan lagi. Elena terbuai dengan segala penawaran kelembutan itu, dingin dan garangnya Aditya seakan bertolak belakang dengan kenyamanan yang diterimanya saat ini hingga tanpa sadar kedua kakinya berjarak guna memudahkan jemari pria itu bergerak leluasa. "Boleh saya ...?" bisiknya tak tuntas, tetapi satu jarinya telah lolos ke dalam bilik basah itu, terasa kuat cengkeraman tangan Elena di kedua lengannya dengan nafas terengah-engah, mata berair wanita itu menatap Adit
Hangat, lembab nan lembut. Bukan lagi rasa takut yang menyergapnya, melainkan ketenangan dan kenyamanan. Tengkuknya meremang, bibir bawahnya tergigit memerah, pun binar matanya lantas teduh. Aditya tidak tahu alasannya, ia terdorong begitu saja bagai hanyut pada peran mereka dan rasanya ingin memberikan semua dengan layak. Ia angkat bibirnya menjauh dari perut itu, tetapi tidak dengan tangannya yang mulai merambat naik menyusuri lembut nan halus perut itu sampai pada batas sensitif yang mengundang helaan berat keduanya. "Boleh saya menyentuhnya?" tanya Aditya mengantarkan izin, dapat ia rasakan tubuh Elena gemetaran saat ujung jemarinya menyentuh karet pembatas antara perut dan bawah dada. Elena mencari-cari kepalsuan dari sorot mata itu, tetapi yang ia temukan justru kepercayaan maka ia pun mengangguk. Hanya, — "Jangan di sini!" katanya mencekal tangan Aditya yang sudah sedikit mengangkat karet itu. "Hem?" "Di rumah saja, nanti ada orang ke sini," kata Elena mema
Pak Aditya: Syukurlah, terima kasih atas perhatiannya. Template sekali, khas bapak-bapak yang kaku dan baku. Elena menyunggingkan senyumnya, selain semalam pertama kali mereka tidur berpelukan di ranjang yang sama tanpa ada paksaan dan dengan kesadaran penuh, pagi ini mereka berbalas pesan yang berisikan kepedulian. Apa tanda-tandanya? "Nggak mungkin!" celetuk Elena. Tak sengaja mendengar itu, Deva pun menoleh keheranan, apalagi melihat Elena senyum-senyum sendiri sambil melihat ke benda pipih di tangannya itu. "Len," panggilnya. Elena terperanjat, ia langsung meletakkan ponselnya tampak gelagapan. "Iy-iya?" balasnya gugup. Deva tertawa melihat ekspresi wajah temannya itu. "Kamu ngapain, Len, hah? Kok sampe kaget gitu! Lagi chat-an sama abangnya ya?" Pipi Elena bersemu merah, abang katanya, padahal itu atasan mereka. Elena mengangguk malu. "Ah, senengnya! Pantesan ngedumel sendiri, ternyata!" Deva tertawa. "Kamu kecintaan banget kayaknya, udah suruh di
"Bagus!" suara Vera menggelegar begitu pasangan suami istri yang baru saja menikmati momen ngidam pertama pulang dan melangkah masuk. Elena langsung menahan nafasnya, ia mundur kemudian berdiri di belakang punggung Aditya. Mengetahui hal itu, Aditya mengulurkan tangannya ke belakang, menyentuh tangan Elena yang kemudian ia genggam supaya tenang. "Udah dibilang ngidam itu cuman hawa nafsu orang tuanya, kalau nggak bisa dikendaliin jadinya bakal seenaknya, nggak bisa hargain makanan yang ada di rumah, nggak tau syukur. Capek juga orang tua masak, tinggal makan nggak pake repot aja, masih nggak mau terima!" omel Vera hampir mirip seperti yang tadi Elena hadapi sendiri. "Ma, orang hamil ngidam itu wajar. Lagian, aku masih bisa makan masakan rumah dan nggak tiap hari ngidam itu ada. Nggak perlu dibesar-besarin!" kata Aditya kali ini menunjukkan pembelaannya. "Oo, kamu udah bela orang lain daripada Mama, Dit?" Vera mendengus. "Elena istriku, Ma. Dia lagi hamil anakku, jadi wa
"Kamu suka milkshake buah naga?" Elena yang saat itu sedang duduk menghadap ke luar jendela kamar pun terperanjat kaget, sepertinya ia melamun sampai tidak tahu suaminya pulang. "Pak Ditya, maaf—" "Tidak apa, duduk saja!" Aditya ingin menciptakan situasi yang kondusif dan nyaman untuk mereka, mengesampingkan keletihan pribadinya demi nyawa kecil yang tak berdosa. "Jawab pertanyaan saya tadi!" Elena mengangguk, artinya yang dikatakan Ardi tadi benar. Bisa-bisanya, dirinya yang sudah pernah menikah dan itu pernikahan keduanya kalah dengan bujangan yang tak jelas kapan menikahnya. Jadi, itu ngidam. "Kamu sedang ingin tadi?" tanyanya lagi. "Tidak, Pak. Anda menginginkannya?" balas Elena tak mau mengecewakan Aditya yang mau membuka komunikasi dengannya. "Ya, mendadak saya menginginkan sesuatu yang bahkan tidak ada di kebiasaan saya tadi. Bahkan, liat!" Aditya menunjukkan noda di pakaiannya. "Ini karena saya tidak sabaran, saya minum botol kecil sebelum membayar sepert
Pikirnya, bisa langsung kembali. Ternyata, diminta duduk di ruangannya dulu. "Tunggu Ardi bawa teh hangat ke sini!" katanya. Elena mendongak, lalu menggelengkan kepalanya. "Saya sudah lebih baik, Pak. Jangan merepotkan!" balasnya segan, ia suka Aditya berbaik hati, tetapi ia harus tetap waspada dan menjaga hati. "Kamu mau saya yang buatkan?" "Eh, bukan itu! Maksud saya, ini jadi merepotkan pak Ardi. Nanti, kalau ada yang curiga, bisa—" "Ardi membuat di sebelah ruangan ini, tidak perlu cemas!" potongnya melirik Elena yang tampak panik. "Kenapa kamu selalu panik begitu?" Kening Elena mengerut, tak menduga saja Aditya akan banyak bertanya dan berbicara padanya, apalagi sampai kepikiran untuk perhatian. Tetapi, memang tadi pagi ada perubahan pada laki-laki itu. "Kamu panik, cemas dan ketakutan. Apa saya menyeramkan?" tanya Aditya menatap lekat wanita yang telah ia nikahi itu, Ardi yang baru saja masuk hampir tertawa, pasalnya bos mereka memang menakutkan dan ketus.







