Masuk"Is-tri?" Dunia Liona seakan berhenti, otaknya tak mampu berpikir lagi.
Aditya menipiskan bibirnya. "Aku jelaskan nanti, sekarang aku harus pergi. Hati-hati!" Lelaki itu langsung duduk ke bangku kemudi, memundurkan mobilnya kemudian pergi dari pandangan sang mantan. Rasa bersalah dan semua penyesalan, hadir tanpa sisa, sakitnya kian merasuk lebih dalam. Mereka masih mempunyai harapan yang sama, bahkan cinta itu masih sangat ada, tetapi waktu untuk berjuang harus mundur kembali karena jebakan sialan malam itu. Rahasiakan! Liona menggigit bibir bawahnya, ia harus menjaga rahasia itu, pernikahan yang janggal dan masih membutuhkan penjelasan. "Apa ini permainan ibumu lagi?" gumamnya geram. *** Terlepas dari satu masalah, nyatanya tidak membuat Elena benar-benar tenang. Sesampainya di rumah milik mertuanya, Aditya yang ingin tinggal mandiri lantas ditentang. "Kondisi istrimu begitu, Ditya! Dia nggak bisa ditinggal sendiri, belum lagi hubungan kalian yang nggak ada landasan cinta. Lebih baik kalian tinggal di sini, kalau ada apa-apa sama Elena, kami bisa bantu. Lagian, kamu juga sering ke luar kota, kasihan dia!" kata Vera mendominasi. Elena hanya diam, ia sudah tak mempunyai tenaga untuk ikut berbicara, lagipula rasanya keputusan Vera juga benar. Aditya yang tak mencintainya mana mungkin tanggap jika di rumah itu hanya ada mereka berdua, sedangkan di rumah ini setidaknya Elena ada teman. "Tapi, aku nggak mau Mama ikut campur ya!" kata Aditya tegas, memberikan batas tak seperti pernikahan pertamanya. "Ya, Mama nggak akan ikut campur kalau kamu bener. Tugas orang tua itu juga ingetin anaknya," balas wanita itu. Dengan berat hati Aditya menerima keputusan itu, kalau dipikir-dipikir memang tidak mungkin dirinya selalu bersama Elena atau membiarkan wanita itu sendirian. Akan tetapi, dengan tinggal serumah dengan orang tuanya, ia tidak akan bisa bebas, terlebih untuk bertemu dengan Liona. Aditya melirik Elena yang sejak tadi diam saja di sampingnya. "Ikut saya ke atas!" titahnya mengajak. Elena mengangguk, ia lantas berjalan pelan-pelan menaiki anak tangga menuju kamar suaminya itu. Semua sudah terjadi, suka tidak suka harus ia lalui sambil menunggu waktu mereka habis dan kembali berjalan sendiri-sendiri. Pintu kamar itu pun terbuka, tampak satu ranjang berukuran king size di tengah, tak terlalu banyak barang selayaknya kelegaan para pria. Mata Elena memeta setiap sudut di sana, rapi dan bersih, benar-benar menggambarkan pemiliknya meskipun jarang Aditya pulang dan menempati kamar itu. "Kamu bisa tidur di sini," katanya. Elena menoleh, sejenak ia tertegun pada kamar itu. "Anda?" balasnya. Lelaki itu tampak menghela nafasnya. "Kamu pikir saya bisa tinggal di rumah lain, sedangkan kamu di sini?" "Maaf," ucap Elena menunduk segan. "Huh! Saya tidak bisa membayangkan selanjutnya bagaimana, tapi jalani saja sesuai rencana. Soal statusmu di kantor, saya yang akan mengurusnya. Kamu hanya perlu tetap seperti biasa dan tidak mengungkap siapa suamimu!" tuturnya. "Iya, Pak. Terima kasih sudah menikahi saya," balas Elena sembari meremat jemarinya, alih-alih mencapai pernikahan impian, takdir memberikannya pernikahan rahasia. Aditya hanya mengangguk samar, sejujurnya ia belum begitu menerima pernikahan mereka dan entah bisa atau tidak, sejauh ini ia belum mampu mengganti Liona dengan siapapun, bahkan kehamilan Elena tidak bisa menggesernya. Sepi menemani Elena seorang diri di kamar itu, setelah perjalanan panjang tadi, kedua mertuanya memutuskan untuk istirahat, sedangkan suaminya entah ke mana, hanya tersisa dirinya seorang diri di kamar. "Aku pengen bakpao," gumamnya mendadak, matanya memeta kemudian duduk pelan. "Tapi, beli di mana kalau di sini ya? Online bisa nggak?" Jemarinya pun lincah menggeser ikon di layar pipih itu, mulutnya mencecap beberapa kali, tak sabar rasanya ingin segera menikmati jajan itu. Namun, tiba-tiba telinganya mendengar suara penjual bakpao di luar rumah, Elena pun melongok ke jendela, ternyata benar. Maka, wanita itu segera memanggil seraya berteriak kemudian berjalan cepat untuk turun. Vera terperanjat, nyaris menyemburkan tehnya melihat sang menantu berlari usai menuruni anak tangga menuju ke luar. "Mau ke mana dia?" gumamnya kemudian menyusul. Mata wanita itu melebar begitu menemukan Elena keluar rumah untuk membeli bakpao yang kebetulan juga tetangga depan membelinya. "Dia ini!" geramnya ikut ke depan. "Elena!" panggilnya. "Eh, Ma!" sahutnya kaget. Vera setengah melotot, tetapi terpaksa tersenyum pada tetangga yang jarang sekali ketemu itu. "Baru pembantunya, Bu Vera?" tanya tetangga itu. Elena spontan melipat bibirnya, melihat penampilannya sendiri yang langsung dituduh pembantu. "Bukan, ini keponakan saya," jawab Vera mengejutkan Elena, ia dikenalkan sebagai keponakan. Hampir saja ia protes, tetapi Elena ingat kalau pernikahannya dengan Aditya itu dirahasiakan, bahkan perangkat yang terlibat dalam kepengurusan dibayar untuk tutup mulut. "Ayo, kalau udah langsung masuk aja!" kata Vera mengajak Elena kembali masuk usai mendapatkan bakpao kesukaannya. Elena menatap kantong bakpao di tangannya, seketika tak berselera lagi. "Kamu masih baru di sini, El. Tidak ada yang tau soal kalian, ini semua demi kebaikan. Jangan asal keluar!" kata Vera mengingatkan. "Tapi, Ma ... Ele juga kerja yang pastinya sering keluar masuk, kan?" balasnya. "Iya, tapi nggak mendadak kayak tadi. Mama sampe jantungan kamu keluar gitu aja, untung tadi Mama liat dan bisa bantu jawab. Lain kali, hati-hati!" jelas Vera. Elena menipiskan bibirnya, walaupun sudah tahu soal pernikahan rahasia itu, entah kenapa ia masih saja sakit hati atas pengekangan itu. Elena membawa bakpaonya ke kamar, ia letakkan di nakas, rasa ingin yang menggebu tadi entah ke mana, hanya tersisa kepedihan yang lagi dan lagi membuat air matanya turun. Ia menunduk sembari mengusap perutnya. "Maaf ya, Ibuk nggak bisa kontrol diri, jadinya kamu ikutan sedih dan nggak makan bakpao," katanya. Sampai larut malam, Elena belum juga melihat suaminya pulang. Ia turun ikut bergabung di meja makan begitu Vera memanggilnya mengajak makan bersama. Alih-alih merasa terhibur, ia semakin kesepian. "Hei, tidak enak ya?" tanya Hanung, mertua laki-lakinya itu lebih lembut. "Lagi selera makan apa, hm? Biar Papa yang carikan, katakan!" "Heh, jangan manja!" timpal Vera dari arah dapur, ia datang membawa kuah sop ayam. "Nggak apa lah, Ma. Lagian, lidah orang hamil itu beda-beda!" sahut Hanung. "Enggak! Nggak boleh dibiasain gitu, bikin susah! Dari kecil harus dididik tegas, paksa makan yang ada!" kata Vera menggambilkan sop untuk Elena. "Ini bagus buat kalian, makan dan paksa! Nggak ada ngidam repot-repot gitu, nyusahin!" Elena menatap Hanung yang hanya menggelengkan kepala pelan padanya, meminta sabar. Ia tersenyum tipis, lalu mencoba menikmati sop ayam itu meskipun pada akhirnya mual datang dan muntah. "Muntah, makan lagi, muntah lagi dan makan! Ayo, jangan manja, El!" kata Vera. Sungguh, di luar dugaan Elena karena sejak awal bertemu menurutnya Vera itu wajah-wajah ibu peri, nyatanya tegasnya luar biasa. Dan kalau tidak sedang hamil, mungkin Elena mau, tetapi mualnya tidak bisa diprediksi. "Gini kok mau tinggal pisah dari orang tua, bisa pingsan nggak ada yang tau, terus kelaparan!" omel wanita itu. Elena menyeka kedua sudut bibirnya, ia tahu maksud Vera itu baik sekali, tetapi ia masih kesulitan mengontrol diri sehingga kata-kata itu cukup menyakitkan. Tak elak air matanya turun lagi, ia sesenggukan di kamar sampai lelaki yang telah menikahinya itu pulang. Aditya termangu melihat wajah basah Elena, kilasan masa lalu seakan berputar kembali bagaimana ia juga sering disambut air mata saat pulang bekerja oleh Liona. "Ada apa?" tanyanya merendahkan suaranya, lelaki itu berdiri menyandarkan lengannya pada tembok. Bibir Elena berkedut. "Tadi, mama marah, Pak," jawabnya. "Ak-aku cuman keluar beli bakpao, tapi kata mama itu nggak bener, tetangga bisa tau dan belum siap jawaban. Terus, aku jadi nggak selera. Malam ini, aku nggak bisa makan sop ayam, nggak enak di lidah, jadinya aku muntah. Aku pengen sesuatu, papa mau belikan, tapi mama larang biar nggak manja. Dipaksa makan sop, mama marah lagi waktu aku muntah. Aku serba salah, Pak!" ungkapnya seraya terisak. Aditya mendekat, menatap iba. Lalu, ia duduk di depan lutut Elena, memijat kaki wanita itu pelan-pelan. "Sabar ya, saya akan bicara dengan mama nanti!" katanya. Elena mengangguk, ia pun menyerahkan dirinya saat Aditya merengkuh dan memeluknya, pelukan yang begitu menenangkan. Namun, semua itu hanya khayalan Elena semata. Kedua sudut bibirnya kembali turun dan saat matanya terbuka, alih-alih menemukan kepedulian, ia justru melihat wajah acuh suaminya. "An-anda sudah makan?" tanyanya gugup. "Saya bisa mengurus diri saya sendiri, tidak perlu khawatir!" jawab Aditya tampak lelah dan jengah. "Semua data di perusahaan aman, kamu bisa bekerja kembali dan buat alasan yang masuk akal! Ada sopir yang akan mengantarmu, itu lebih aman dan itu saran papa," jelasnya. Elena mengangguk, matanya hanya mampu meratap tanpa bisa mengungkap segala perasaannya. Kedua tangannya terangkat mendekap kedua lengannya sendiri, tadi hanya lamunannya, ia sendiri tidak tahu kenapa bisa melamun seperti itu, tetapi rasanya sangat nyata dan hangat. "Humpt!" Elena spontan menutup mulutnya, mual itu datang lagi, ia berdiri dan berlari ke kamar mandi, tetapi Aditya baru saja masuk. "Pak! Pak! Humpt!" Aditya bergegas membuka pintu dari dalam hanya memakai dalaman saja, wanita itu pun masuk dan langsung membungkuk di depan kloset, mengeluarkan semua isi perutnya. "Sa-kiiit!" keluh Elena merintih. Melihat itu, dada Aditya berdesir, apalagi saat suara Elena semakin keras, sekujur badannya ikut sakit. "Ditya! Ditya! Suara apa itu? Ele kenapa?" Keduanya sama-sama kaget, tak menyangka sampai terdengar ke kamar orang tua. Aditya lantas menarik kimononya, membuka pintu kamar lebih dulu sebelum didobrak ibunya, kebetulan memang kamar mereka berdekatan. "Kenapa istrimu?" tanya Vera panik. "Biasa, muntah—" "Terus, kamu diam aja, hah?! Bantu!" titahnya, Vera memang se tegas itu, ia juga mendorong Aditya supaya kembali menghampiri Elena. "Gendong dia, jangan dibiarin jalan! Habis itu, kasih minum sama pijetin pelan tengkuknya!" "Hem?" "Udah buruan!" titah Vera sembari melototi Aditya. "Yang perhatian sama istri!" Terpaksa, Aditya pun menggendong Elena yang canggung sesuai perintah ibunya. "Temenin, Ele, dipijit! Dipeluk juga!" titahnya lagi semakin membuat Aditya sebal, sedangkan Elena kebingungan dengan sikap mertuanya itu. "Peluk, Ditya, biar tenang istrinya!" "Iy-iya, Iya!" sahut Aditya memeluk kaku.Adegan dewasa ya ... *** Basah dan hangat. Aditya bisa merasakan meskipun dari lapisan luar yang menutupi kewanitaan istrinya, usapan lembutnya yang tak berhenti di paha dalam juga ciuman yang intens berhasil mengundang gairah keduanya. Dibalik celana kain berwarna gelapnya itu, sesuatu telah mengeras di sana, menunjukkan seberapa besar gairah yang sedang ditahan mati-matian sejak beberapa tahun lalu. Pagutan bibir mereka tak berhenti, hanya sebentar untuk mengisi rongga dada yang sedikit, lalu berlanjut lagi dan lagi. Elena terbuai dengan segala penawaran kelembutan itu, dingin dan garangnya Aditya seakan bertolak belakang dengan kenyamanan yang diterimanya saat ini hingga tanpa sadar kedua kakinya berjarak guna memudahkan jemari pria itu bergerak leluasa. "Boleh saya ...?" bisiknya tak tuntas, tetapi satu jarinya telah lolos ke dalam bilik basah itu, terasa kuat cengkeraman tangan Elena di kedua lengannya dengan nafas terengah-engah, mata berair wanita itu menatap Adit
Hangat, lembab nan lembut. Bukan lagi rasa takut yang menyergapnya, melainkan ketenangan dan kenyamanan. Tengkuknya meremang, bibir bawahnya tergigit memerah, pun binar matanya lantas teduh. Aditya tidak tahu alasannya, ia terdorong begitu saja bagai hanyut pada peran mereka dan rasanya ingin memberikan semua dengan layak. Ia angkat bibirnya menjauh dari perut itu, tetapi tidak dengan tangannya yang mulai merambat naik menyusuri lembut nan halus perut itu sampai pada batas sensitif yang mengundang helaan berat keduanya. "Boleh saya menyentuhnya?" tanya Aditya mengantarkan izin, dapat ia rasakan tubuh Elena gemetaran saat ujung jemarinya menyentuh karet pembatas antara perut dan bawah dada. Elena mencari-cari kepalsuan dari sorot mata itu, tetapi yang ia temukan justru kepercayaan maka ia pun mengangguk. Hanya, — "Jangan di sini!" katanya mencekal tangan Aditya yang sudah sedikit mengangkat karet itu. "Hem?" "Di rumah saja, nanti ada orang ke sini," kata Elena mema
Pak Aditya: Syukurlah, terima kasih atas perhatiannya. Template sekali, khas bapak-bapak yang kaku dan baku. Elena menyunggingkan senyumnya, selain semalam pertama kali mereka tidur berpelukan di ranjang yang sama tanpa ada paksaan dan dengan kesadaran penuh, pagi ini mereka berbalas pesan yang berisikan kepedulian. Apa tanda-tandanya? "Nggak mungkin!" celetuk Elena. Tak sengaja mendengar itu, Deva pun menoleh keheranan, apalagi melihat Elena senyum-senyum sendiri sambil melihat ke benda pipih di tangannya itu. "Len," panggilnya. Elena terperanjat, ia langsung meletakkan ponselnya tampak gelagapan. "Iy-iya?" balasnya gugup. Deva tertawa melihat ekspresi wajah temannya itu. "Kamu ngapain, Len, hah? Kok sampe kaget gitu! Lagi chat-an sama abangnya ya?" Pipi Elena bersemu merah, abang katanya, padahal itu atasan mereka. Elena mengangguk malu. "Ah, senengnya! Pantesan ngedumel sendiri, ternyata!" Deva tertawa. "Kamu kecintaan banget kayaknya, udah suruh di
"Bagus!" suara Vera menggelegar begitu pasangan suami istri yang baru saja menikmati momen ngidam pertama pulang dan melangkah masuk. Elena langsung menahan nafasnya, ia mundur kemudian berdiri di belakang punggung Aditya. Mengetahui hal itu, Aditya mengulurkan tangannya ke belakang, menyentuh tangan Elena yang kemudian ia genggam supaya tenang. "Udah dibilang ngidam itu cuman hawa nafsu orang tuanya, kalau nggak bisa dikendaliin jadinya bakal seenaknya, nggak bisa hargain makanan yang ada di rumah, nggak tau syukur. Capek juga orang tua masak, tinggal makan nggak pake repot aja, masih nggak mau terima!" omel Vera hampir mirip seperti yang tadi Elena hadapi sendiri. "Ma, orang hamil ngidam itu wajar. Lagian, aku masih bisa makan masakan rumah dan nggak tiap hari ngidam itu ada. Nggak perlu dibesar-besarin!" kata Aditya kali ini menunjukkan pembelaannya. "Oo, kamu udah bela orang lain daripada Mama, Dit?" Vera mendengus. "Elena istriku, Ma. Dia lagi hamil anakku, jadi wa
"Kamu suka milkshake buah naga?" Elena yang saat itu sedang duduk menghadap ke luar jendela kamar pun terperanjat kaget, sepertinya ia melamun sampai tidak tahu suaminya pulang. "Pak Ditya, maaf—" "Tidak apa, duduk saja!" Aditya ingin menciptakan situasi yang kondusif dan nyaman untuk mereka, mengesampingkan keletihan pribadinya demi nyawa kecil yang tak berdosa. "Jawab pertanyaan saya tadi!" Elena mengangguk, artinya yang dikatakan Ardi tadi benar. Bisa-bisanya, dirinya yang sudah pernah menikah dan itu pernikahan keduanya kalah dengan bujangan yang tak jelas kapan menikahnya. Jadi, itu ngidam. "Kamu sedang ingin tadi?" tanyanya lagi. "Tidak, Pak. Anda menginginkannya?" balas Elena tak mau mengecewakan Aditya yang mau membuka komunikasi dengannya. "Ya, mendadak saya menginginkan sesuatu yang bahkan tidak ada di kebiasaan saya tadi. Bahkan, liat!" Aditya menunjukkan noda di pakaiannya. "Ini karena saya tidak sabaran, saya minum botol kecil sebelum membayar sepert
Pikirnya, bisa langsung kembali. Ternyata, diminta duduk di ruangannya dulu. "Tunggu Ardi bawa teh hangat ke sini!" katanya. Elena mendongak, lalu menggelengkan kepalanya. "Saya sudah lebih baik, Pak. Jangan merepotkan!" balasnya segan, ia suka Aditya berbaik hati, tetapi ia harus tetap waspada dan menjaga hati. "Kamu mau saya yang buatkan?" "Eh, bukan itu! Maksud saya, ini jadi merepotkan pak Ardi. Nanti, kalau ada yang curiga, bisa—" "Ardi membuat di sebelah ruangan ini, tidak perlu cemas!" potongnya melirik Elena yang tampak panik. "Kenapa kamu selalu panik begitu?" Kening Elena mengerut, tak menduga saja Aditya akan banyak bertanya dan berbicara padanya, apalagi sampai kepikiran untuk perhatian. Tetapi, memang tadi pagi ada perubahan pada laki-laki itu. "Kamu panik, cemas dan ketakutan. Apa saya menyeramkan?" tanya Aditya menatap lekat wanita yang telah ia nikahi itu, Ardi yang baru saja masuk hampir tertawa, pasalnya bos mereka memang menakutkan dan ketus.







