LOGINBegitu percakapan soal taruhan tadi selesai, aku masih merasa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Hera dan Dania terus saja membahas hal itu sambil sesekali melirikku dengan tatapan menggoda. Aku pura-pura sibuk dengan makanan di depanku, mencoba mengalihkan perasaan tidak nyaman yang sejak tadi menggantung di kepalaku.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Roy dan kawan-kawannya tiba-tiba muncul dari arah belakang, menghampiri meja kami seperti sudah merencanakan semuanya. Di kampus, mereka memang terkenal sebagai kelompok mahasiswa idaman: ganteng, kaya, dan penuh percaya diri. Sayangnya, untukku itu sama sekali bukan nilai plus. Roy, yang mengambil posisi satu langkah lebih maju, menatapku sambil tersenyum percaya diri. Dia beda prodi denganku, tapi entah kenapa selalu saja menemukan cara untuk muncul di hadapanku. Sudah beberapa kali dia menyatakan perasaan, tetapi aku tak pernah menanggapinya. Bukan karena dia buruk dia hanya terlalu… bukan tipeku. “Hai, Mara. Boleh gabung?” suara Roy terdengar sok santai, seperti yakin aku akan menyambutnya dengan senyum manis. Aku hanya melanjutkan makanku. Tidak ada niat sedikit pun untuk mengangkat kepala. Dania sampai menahan napas, mungkin menunggu bagaimana aku akan menanggapi. Di sampingku, Hera mendesah kecil lalu berkata, “Ngapain kamu duduk di sini? Duduk di sana.” Ia menunjuk sebuah bangku kosong di pojok kantin. “Di sini penuh dan sesak,” tambahnya. Roy menggerakkan dagunya sedikit, seakan kesal. “Aku bukan tanya sama kamu, tapi sama Amara.” Aku masih diam, menusukkan garpu ke ayam geprekku. Aku rasa dia tidak akan pergi kalau aku tidak bicara. Dania langsung ikut campur. “Heh, aku kasih tahu ya. Kamu itu di sini nggak diharapkan sama Amara.” Aku menutup kotak makanku, menarik napas panjang. Sebenarnya aku ingin mengabaikan semuanya, tapi Roy memang tidak tahu kapan harus berhenti. “Sudah-sudah,” kataku akhirnya sambil mendongak. “Roy, kamu pindah aja. Jangan buat mood-ku rusak.” Roy menatapku, jelas tidak terima. “Mara, tapi aku cuma ingin makan bareng kamu.” Aku tidak ingin mendengar lebih banyak. Aku langsung berdiri, mengangkat tas kecilku, dan melangkah pergi tanpa menoleh. Aku bisa merasakan tatapan banyak orang mengikuti gerakanku, tapi aku tidak peduli. Yang penting, aku perlu keluar dari situ sebelum benar-benar kehilangan kesabaran. Hera dan Dania panik, langsung berlari kecil mengejarku. Aku tidak menunggu mereka. Langkahku cepat, penuh emosi yang kutahan sejak Roy mulai bicara. Dari belakang samar-samar kudengar suara kursi digeser keras. Suara itu pasti suara Roy. Bayangan wajahnya yang kesal pun muncul di pikiranku. Roy memang seperti itu. Egonya besar. Tidak tahan kalau ditolak, apalagi di depan orang banyak. Dan aku tahu betul, ini bukan pertama kalinya dia merasa tersinggung karena aku menjaga jarak. “Lihat saja, Mara,” suara Roy menggema samar, tetapi cukup jelas untuk kudengar. “Setelah ini aku bakal bisa dapatkan kamu.” Aku berhenti sejenak di dekat pintu kantin, menoleh sedikit dengan rasa tak percaya. Dia benar-benar mengucapkan itu? Tekadnya untuk mengejarku malah membuatku merinding, bukan terkesan. Hera dan Dania akhirnya mencapai posisiku. Hera meraih lenganku, terengah. “Mara, kamu nggak apa-apa? Tadi itu..” “Aku baik-baik saja.” Aku menghela napas, mencoba menenangkan diriku. “Aku cuma malas dengar ocehannya. Hari ini capek. Aku nggak mau tambah pusing.” Dania ikut mengangguk, meski wajahnya terlihat masih kesal. “Roy memang nyebelin. Tapi sumpah tadi dia marah banget. Kamu dengar nggak?” “Dengar,” jawabku dingin. “Biarkan saja. Itu masalah dia. Bukan urusanku.” Kami bertiga berjalan keluar dari kantin dengan langkah lebih santai. Matahari sore menyengat, tetapi lebih baik daripada atmosfer panas akibat Roy barusan. Meski aku berusaha tenang, hatiku masih terasa tidak nyaman. Ucapan Roy barusan caranya mengatakan akan ‘mendapatkan’ aku terasa seperti ancaman yang dibungkus manis. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku gelisah. Namun aku tidak ingin menunjukkan itu pada Hera dan Dania. Setelah beberapa menit berjalan, kami akhirnya sampai di area parkiran dan langsung menuju basecamp, tempat kami biasa nongkrong dan nugas setelah kuliah selesai. “Hari ini kuliah sudah selesai, kan?” tanyaku memastikan. “Iya,” jawab Hera. “Dosennya tadi cuma masuk sebentar buat kasih pengumuman.” Dania menambahkan, “Makanya ayo ke basecamp. Kita istirahat dulu. Kamu butuh duduk dan tarik napas dalam.” Aku tersenyum kecil mendengar perhatian mereka, meski rasa risih tentang Roy masih menempel di pikiranku. “Iya, iya. Kita ke sana.” Segera setelah kami sampai di basecamp, aku menjatuhkan diri ke kursi beanbag ungu kesukaanku. Rasanya begitu nyaman, seakan beanbag itu tahu betapa beratnya kepalaku hari ini. Hera duduk di sofa panjang, sementara Dania membuka laptopnya, entah untuk apa. “Jadi,” Hera membuka percakapan sambil melirikku, “besok kamu siap untuk taruhan itu?” Aku mendesah panjang. “Jangan bahas itu dulu, Her. Kepalaku sudah penuh.” Dania tertawa pelan. “Ya iyalah kepalamu penuh. Setengah isinya adalah Roy yang ngejar kamu terus.” Aku melempar bantal kecil ke arahnya, membuatnya tertawa makin keras. Meski berusaha bercanda, aku tahu mereka mengerti. Taruhan tadi, ditambah gangguan Roy, benar-benar membuat hariku berantakan. Namun aku tidak mungkin mundur. Taruhan itu sudah disepakati. Dan bagaimanapun, aku tidak boleh terlihat lemah. Hera mendekat, duduk di sampingku. “Mara, apa pun yang terjadi, kami di sini. Jadi jangan overthinking, oke?” Aku mengangguk kecil, menatap langit-langit ruangan. Aku mencoba menenangkan diriku, namun satu hal pasti: hariku belum berakhir. Dan entah kenapa, aku merasa semuanya baru saja dimulai.**** Balasan revisi itu masuk keesokan paginya. Pukul 08.17. Aku sedang duduk di bangku taman depan fakultas ketika notifikasi itu muncul. Hera dan Dania belum datang. Suasana masih setengah sepi. Kubuka emailnya. File revisi terlampir. Komentarnya rapi. Objektif. Detail. Profesional. Aku membaca setiap catatan dengan pelan. Tidak ada kalimat personal. Tidak ada tambahan di luar konteks akademik. Bahkan tanda baca terasa lebih tegas. Di salah satu paragraf ia menulis: Argumentasi sudah kuat. Pertahankan struktur ini. Sederhana. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang ditahan. Aku menghembuskan napas panjang. Baik. Kalau ini format barunya, aku bisa menyesuaikan. Hera datang lima menit kemudian, langsung duduk di sampingku. “Update?” Aku menyerahkan ponsel tanpa bicara. Ia membaca cepat, lalu mengangkat alis. “Formal banget.” “Yup.” “Lo kecewa?” Aku berpikir sebentar sebelum menjawab. “Aku nggak tahu.” Dania datang sambil membawa dua roti. “Apa la
**** Aku tidak menyangka malam itu aku benar-benar mengirim revisi lewat email. Biasanya aku akan menunda, mencari alasan untuk datang langsung. Mengatakan ada bagian yang lebih mudah dijelaskan tatap muka. Tapi kali ini, aku menahan diri. Kalau aku yang menawarkan jarak, maka aku juga harus konsisten. Subjek email itu terasa lebih kaku dari biasanya. Revisi Bab 3 – Final Draft Tidak ada emotikon kecil. Tidak ada tambahan, “Mohon di priksa ulang, Pak.” Hanya kalimat seperlunya. Aku menatap tombol send beberapa detik. Lalu kuklik. Selesai. Beberapa menit pertama terasa biasa saja. Aku bahkan sempat membuka catatan lain. Tapi ketika lima belas menit berlalu tanpa balasan, pikiranku mulai bergerak sendiri. Biasanya dia cepat membalas. Biasanya. Aku meletakkan ponsel di meja. Menghadap layar ke bawah. Jangan berharap. Aku yang memilih ini. Satu jam kemudian notifikasi berbunyi. Jantungku berdegup sedikit lebih keras dari yang pantas. Kubuka. Balasanny
*** Aku tidak langsung pergi ke parkiran setelah keluar dari ruangan Pak Rassel. Kakiku justru membawaku ke taman kecil di belakang fakultas tempat Hera dan Dania biasa nongkrong kalau jam kosong. Dari jauh, aku sudah melihat mereka duduk berhadap-hadapan, dua gelas es kopi di meja, ekspresi yang terlalu siap menyambut gosip. Hera yang pertama menyadari kedatanganku. “Wajah lo kenapa?” tanyanya tanpa basa-basi. “Itu muka orang yang habis debat tapi pura-pura tenang.” Dania langsung menoleh. “Bimbingan?” Aku menjatuhkan diri ke kursi kosong. “Iya.” “Dan?” mereka berdua kompak mendekat. Aku menghembuskan napas panjang. “Pak Rassel berubah.” Hera menyipitkan mata. “Berubah gimana? Tambah dingin? Atau tambah perhatian?” “Lebih formal,” jawabku pelan. “Dingin, tapi bukan dingin marah. Lebih ke… menjaga jarak.” Dania langsung memukul meja pelan. “YES.” Aku menatapnya tajam. “Lo bisa nggak sih jangan reaksi dulu?” “Sorry, sorry,” katanya, tapi senyumnya terlalu leba
**** Aku mencoba membuktikan pada diri sendiri bahwa semua ini masih terkendali. Caranya sederhana: bersikap lebih formal. Lebih tegas. Lebih dingin. Senin pagi itu, ketika Amara masuk kelas dan duduk di barisan depan seperti biasa, aku tidak menoleh ke arahnya sebelum kelas benar-benar dimulai. Biasanya, ada sepersekian detik ketika pandangan kami bertemu. Hari itu, tidak. “Ada yang mau mereview materi minggu lalu?” tanyaku datar. Beberapa mahasiswa saling pandang. Hening. Lalu tangan itu terangkat. Amara. Aku tahu tanpa harus melihat. “Iya?” kataku singkat. Ia berdiri. “Bagian tentang bias penelitian. Saya rasa beberapa contoh kemarin bisa diperjelas lagi.” Nada suaranya stabil. Profesional. Aku mengangguk. “Silakan.” Ia menjelaskan dengan runtut. Tidak berlebihan. Tidak mencari perhatian. Tepat. Kelas memperhatikannya. Dan aku memperhatikan caranya menjelaskan tanpa sekali pun mencari persetujuanku lewat tatapan. Ia menjaga jarak. Sesuai yang k
**** Aku selalu percaya satu hal: batas itu tidak hilang begitu saja. Ia tidak runtuh dengan ledakan. Ia hanya bergeser pelan, hampir tak terasa, sampai suatu hari kau berdiri di tempat yang berbeda dan bertanya kapan kau melangkah sejauh ini. Dua hari setelah percakapan terakhir itu, aku sengaja menata ulang jadwal bimbingan. Rasional. Supaya lebih efisien. Setidaknya itu yang kukatakan pada diri sendiri. “Pak, jadwal Amara dipindah ke Kamis sore?” tanya staf administrasi saat aku menyerahkan revisi daftar. “Iya. Ada bentrok ruang,” jawabku singkat. Padahal tidak ada. Kamis sore lebih sepi. Lebih tenang. Lebih berbahaya. Hari itu datang juga. Aku sudah berada di ruang kerja lima belas menit sebelum jadwalnya. Map-map tersusun rapi. Laptop terbuka. Jendela sedikit kubuka agar udara masuk. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku memperhatikan hal sekecil itu. Ketukan terdengar. Tiga kali. Ritmenya kukenal. “Masuk.” Amara muncul dengan tas selempang dan map biru d
**** Aku tidak pernah suka membawa pekerjaan pulang. Tapi malam itu, setelah rapat selesai dan kampus mulai sepi, aku tetap duduk di ruang kerja dengan map milik Amara terbuka di depan mata. Halamannya sudah kubaca dua kali. Revisi metodologinya rapi. Referensinya mulai tajam. Secara akademik, ia berkembang. Secara pribadi. Aku berhenti di sana. “Fokus,” gumamku pada diri sendiri. Ponsel di meja menyala. Notifikasi email masuk. Bukan dari dia. Tapi entah kenapa, yang terlintas justru pesan singkatnya tadi siang. Senang bisa bantu, Pak. Singkat. Netral. Tanpa embel-embel. Aku menyandarkan punggung ke kursi. Sejak kapan aku memperhatikan hal-hal sekecil itu? **** Keesokan paginya, aku datang lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, aku ingin suasana tenang sebelum kelas dimulai. Saat membuka pintu ruang dosen, aku melihat seseorang sudah duduk di kursi luar, laptop terbuka. Amara. Ia mengangkat kepala ketika mendengar langkahku. “Pagi, Pak.” “Pagi,” jawabku oto







