Share

5 Roy Pengganggu

Author: Lusiana
last update publish date: 2025-11-22 22:27:05

Begitu percakapan soal taruhan tadi selesai, aku masih merasa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Hera dan Dania terus saja membahas hal itu sambil sesekali melirikku dengan tatapan menggoda. Aku pura-pura sibuk dengan makanan di depanku, mencoba mengalihkan perasaan tidak nyaman yang sejak tadi menggantung di kepalaku.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Roy dan kawan-kawannya tiba-tiba muncul dari arah belakang, menghampiri meja kami seperti sudah merencanakan semuanya. Di kampus, mereka memang terkenal sebagai kelompok mahasiswa idaman: ganteng, kaya, dan penuh percaya diri. Sayangnya, untukku itu sama sekali bukan nilai plus.

Roy, yang mengambil posisi satu langkah lebih maju, menatapku sambil tersenyum percaya diri. Dia beda prodi denganku, tapi entah kenapa selalu saja menemukan cara untuk muncul di hadapanku. Sudah beberapa kali dia menyatakan perasaan, tetapi aku tak pernah menanggapinya. Bukan karena dia buruk dia hanya terlalu… bukan tipeku.

“Hai, Mara. Boleh gabung?” suara Roy terdengar sok santai, seperti yakin aku akan menyambutnya dengan senyum manis.

Aku hanya melanjutkan makanku. Tidak ada niat sedikit pun untuk mengangkat kepala. Dania sampai menahan napas, mungkin menunggu bagaimana aku akan menanggapi.

Di sampingku, Hera mendesah kecil lalu berkata, “Ngapain kamu duduk di sini? Duduk di sana.” Ia menunjuk sebuah bangku kosong di pojok kantin.

“Di sini penuh dan sesak,” tambahnya.

Roy menggerakkan dagunya sedikit, seakan kesal. “Aku bukan tanya sama kamu, tapi sama Amara.”

Aku masih diam, menusukkan garpu ke ayam geprekku. Aku rasa dia tidak akan pergi kalau aku tidak bicara.

Dania langsung ikut campur. “Heh, aku kasih tahu ya. Kamu itu di sini nggak diharapkan sama Amara.”

Aku menutup kotak makanku, menarik napas panjang. Sebenarnya aku ingin mengabaikan semuanya, tapi Roy memang tidak tahu kapan harus berhenti.

“Sudah-sudah,” kataku akhirnya sambil mendongak. “Roy, kamu pindah aja. Jangan buat mood-ku rusak.”

Roy menatapku, jelas tidak terima. “Mara, tapi aku cuma ingin makan bareng kamu.”

Aku tidak ingin mendengar lebih banyak. Aku langsung berdiri, mengangkat tas kecilku, dan melangkah pergi tanpa menoleh. Aku bisa merasakan tatapan banyak orang mengikuti gerakanku, tapi aku tidak peduli. Yang penting, aku perlu keluar dari situ sebelum benar-benar kehilangan kesabaran.

Hera dan Dania panik, langsung berlari kecil mengejarku. Aku tidak menunggu mereka. Langkahku cepat, penuh emosi yang kutahan sejak Roy mulai bicara.

Dari belakang samar-samar kudengar suara kursi digeser keras. Suara itu pasti suara Roy. Bayangan wajahnya yang kesal pun muncul di pikiranku. Roy memang seperti itu. Egonya besar. Tidak tahan kalau ditolak, apalagi di depan orang banyak. Dan aku tahu betul, ini bukan pertama kalinya dia merasa tersinggung karena aku menjaga jarak.

“Lihat saja, Mara,” suara Roy menggema samar, tetapi cukup jelas untuk kudengar. “Setelah ini aku bakal bisa dapatkan kamu.”

Aku berhenti sejenak di dekat pintu kantin, menoleh sedikit dengan rasa tak percaya. Dia benar-benar mengucapkan itu? Tekadnya untuk mengejarku malah membuatku merinding, bukan terkesan.

Hera dan Dania akhirnya mencapai posisiku. Hera meraih lenganku, terengah.

“Mara, kamu nggak apa-apa? Tadi itu..”

“Aku baik-baik saja.” Aku menghela napas, mencoba menenangkan diriku. “Aku cuma malas dengar ocehannya. Hari ini capek. Aku nggak mau tambah pusing.”

Dania ikut mengangguk, meski wajahnya terlihat masih kesal. “Roy memang nyebelin. Tapi sumpah tadi dia marah banget. Kamu dengar nggak?”

“Dengar,” jawabku dingin. “Biarkan saja. Itu masalah dia. Bukan urusanku.”

Kami bertiga berjalan keluar dari kantin dengan langkah lebih santai. Matahari sore menyengat, tetapi lebih baik daripada atmosfer panas akibat Roy barusan. Meski aku berusaha tenang, hatiku masih terasa tidak nyaman. Ucapan Roy barusan caranya mengatakan akan ‘mendapatkan’ aku terasa seperti ancaman yang dibungkus manis.

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku gelisah.

Namun aku tidak ingin menunjukkan itu pada Hera dan Dania.

Setelah beberapa menit berjalan, kami akhirnya sampai di area parkiran dan langsung menuju basecamp, tempat kami biasa nongkrong dan nugas setelah kuliah selesai.

“Hari ini kuliah sudah selesai, kan?” tanyaku memastikan.

“Iya,” jawab Hera. “Dosennya tadi cuma masuk sebentar buat kasih pengumuman.”

Dania menambahkan, “Makanya ayo ke basecamp. Kita istirahat dulu. Kamu butuh duduk dan tarik napas dalam.”

Aku tersenyum kecil mendengar perhatian mereka, meski rasa risih tentang Roy masih menempel di pikiranku. “Iya, iya. Kita ke sana.”

Segera setelah kami sampai di basecamp, aku menjatuhkan diri ke kursi beanbag ungu kesukaanku. Rasanya begitu nyaman, seakan beanbag itu tahu betapa beratnya kepalaku hari ini. Hera duduk di sofa panjang, sementara Dania membuka laptopnya, entah untuk apa.

“Jadi,” Hera membuka percakapan sambil melirikku, “besok kamu siap untuk taruhan itu?”

Aku mendesah panjang. “Jangan bahas itu dulu, Her. Kepalaku sudah penuh.”

Dania tertawa pelan. “Ya iyalah kepalamu penuh. Setengah isinya adalah Roy yang ngejar kamu terus.”

Aku melempar bantal kecil ke arahnya, membuatnya tertawa makin keras.

Meski berusaha bercanda, aku tahu mereka mengerti. Taruhan tadi, ditambah gangguan Roy, benar-benar membuat hariku berantakan. Namun aku tidak mungkin mundur. Taruhan itu sudah disepakati. Dan bagaimanapun, aku tidak boleh terlihat lemah.

Hera mendekat, duduk di sampingku. “Mara, apa pun yang terjadi, kami di sini. Jadi jangan overthinking, oke?”

Aku mengangguk kecil, menatap langit-langit ruangan.

Aku mencoba menenangkan diriku, namun satu hal pasti: hariku belum berakhir. Dan entah kenapa, aku merasa semuanya baru saja dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   113.Jam Sepuluh yang Mengubah Segalanya

    Pagi itu datang terlalu cepat. Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar sempat tidur atau hanya terpejam beberapa menit di antara gelisah yang tak berujung. Alarm berbunyi pukul tujuh, tapi aku sudah duduk di tepi kasur sebelum itu, menatap kosong ke lantai. Perutku terasa mual. Bukan hanya karena kondisi yang belum sepenuhnya bisa kuterima… tapi juga karena hari ini. Hari penentuan. Aku mandi lebih lama dari biasanya, seolah air bisa menenangkan pikiranku. Tapi tidak ada yang berubah. Bayangan tentang percakapan itu terus berputar di kepalaku. Bagaimana jika dia marah? Bagaimana jika dia menyangkal? Atau lebih buruk… Bagaimana jika dia tetap tenang seperti kemarin dingin, jauh, seolah aku bukan siapa-siapa? Aku mengenakan pakaian paling sederhana yang kupunya. Tidak ingin terlihat mencolok. Tidak ingin menarik perhatian. Aku hanya ingin… ini cepat selesai. Jam di kampus menunjukkan pukul 09.47 saat aku berdiri di depan pintu ruangannya. Sepuluh langkah

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   112.Garis yang Tak Bisa Disembunyikan

    Roy tidak langsung pergi. Ia tetap duduk di kursi dekat meja, menatap kami bergantian seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak kami ucapkan. Suasana di basecamp berubah menjadi canggung. Tangisku memang sudah mereda, tapi bekasnya masih terasa jelas di wajahku. “Aku beli minum,” kata Roy akhirnya, memecah keheningan. “Kalian mau apa?” “Air putih aja,” jawab Hera cepat. Dania mengangguk pelan. Aku tidak mengatakan apa-apa. Roy menatapku sebentar lebih lama, lalu mengangguk kecil sebelum keluar ruangan. Begitu pintu tertutup, Hera langsung menghembuskan napas panjang. “Ini gak bisa lama-lama disembunyiin, Ra.” Aku menunduk. “Aku tahu.” “Tapi kamu juga gak bisa cerita ke sembarang orang,” tambah Dania hati-hati. Aku memeluk tubuhku sendiri. “Aku bahkan belum siap cerita ke dia…” Nama itu tidak perlu disebut. Kami semua tahu siapa yang dimaksud. Hera menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya terlihat serius. “Kalau kamu terus nunda, nanti malah makin sulit.” “Aku takut,” b

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   111.Rahasia yang Terlalu Berat

    **** Sudah lebih dari satu bulan. Satu bulan sejak pesan singkat itu. Dan satu bulan sejak Pak Rassel seperti menghapusku dari hidupnya. Di kampus kami tetap bertemu, tapi rasanya seperti orang asing. Ia tetap mengajar seperti biasa tenang, rapi, profesional. Tidak ada satu pun sikapnya yang menunjukkan bahwa pernah ada sesuatu di antara kami. Ia bahkan jarang menatapku. Jika aku bertanya di kelas, ia menjawab seperti menjawab mahasiswa lain. Singkat. Formal. Dingin. Pada akhirnya aku menyerah. Dua minggu lalu aku mengundurkan diri sebagai asisten dosen. Tidak ada yang bertanya terlalu banyak. Mereka hanya menganggap aku sibuk dengan skripsi. Padahal sebenarnya aku hanya tidak sanggup lagi berada terlalu dekat dengannya. Tidak sanggup berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dan hari ini… semuanya menjadi jauh lebih buruk. Tanganku masih gemetar saat menyerahkan benda kecil itu pada Dania. Kami bertiga duduk di kamar kosku. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   110.Pesan dari Jarak

    **** Aku menatap layar ponsel cukup lama setelah pesan itu terkirim. Tanda centang dua muncul hampir seketika. Artinya pesan itu sudah sampai. Tapi tidak ada balasan. Tidak ada satu kata pun. Aku menghela napas pelan. Jari-jariku masih menggenggam ponsel erat, seolah kalau kulepas semuanya akan terasa lebih nyata. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang sangat Pak Rassel. Singkat. Rapi. Dingin. Aku menelan ludah. Biasanya… bahkan untuk hal sekecil apa pun, ia akan menambahkan satu kalimat lain. Jaga diri. atau Jangan pulang terlalu malam. Hal-hal kecil yang membuatku merasa diperhatikan. Tapi kali ini tidak ada apa-apa. Hanya jarak. Aku menunggu beberapa menit lagi. Tidak ada balasan. Akhirnya aku mematikan layar ponsel dan menyandarkan punggung di kursi halte depan apartemen. Angin sore terasa sedikit dingin. Lucunya, aku baru sadar sesuatu. Ia bahkan tidak memberitahuku langsu

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   109.Jarak yang Diciptakan

    **** Aku menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Pesannya singkat. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang rapi. Tenang. Seolah semuanya normal. Padahal tidak ada yang benar-benar normal. Pesan itu terkirim beberapa detik kemudian. Aku meletakkan ponsel di meja bar dan menghela napas panjang. Di luar negeri? Itu bohong. Aku bahkan masih berada di kota yang sama. Namun entah kenapa kalimat itu terasa lebih mudah daripada mengatakan yang sebenarnya. Bahwa aku sedang menghindar. Bahwa aku tidak tahu bagaimana harus kembali ke apartemen dan melihat Amara seolah tidak terjadi apa-apa. Bahwa kehadiran Rika membuat semua yang selama ini kusimpan rapi kembali berantakan. Sudah empat hari sejak malam itu. Empat hari aku tidak pulang. Aku bahkan mengambil cuti dari kampus. Pagi tadi aku mengirim email resmi kepada bagian administrasi. Saya mengambil cuti beber

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   108.Bayangan yang Kembali

    **** Aku masih duduk di kursi seberang sofa. Amara tertidur dengan selimut yang tadi kuselipkan di bahunya. Napasnya teratur, wajahnya tenang seolah dunia tidak menyimpan kerumitan apa pun. Berbeda denganku. Kepalaku terasa penuh. Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit apartemen yang terasa tiba-tiba sempit. Kenapa semuanya terasa begitu rumit? Beberapa jam lalu aku hanya duduk di ruang kerja, menatap foto lama yang tidak seharusnya masih kusimpan. Foto yang membawa kembali seseorang yang sudah lama pergi dari hidupku. Rika. Nama itu seperti luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Aku mengusap wajah dengan kasar. Mataku kembali ke arah Amara. Perempuan itu datang ke hidupku tanpa rencana. Tanpa perhitungan. Tanpa izin. Awalnya hanya mahasiswa yang terlalu jujur dengan perasaannya. Lalu entah sejak kapan… dia menjadi seseorang yang mulai kupikirkan terlalu sering. Namun tepat ketika aku mulai membiarkan semuanya berjalan… masa lalu itu kembali muncu

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   74.Sidang Tanpa Palu

    **** Ruang sidang semu Fakultas Hukum selalu punya aura yang bikin tenggorokan kering. Bangku kayu tersusun rapi. Meja hakim di depan tampak lebih tinggi dari seharusnya, seolah sengaja dibuat untuk mengintimidasi. Di dinding, lambang Garuda menatap tanpa ekspresi. Aku berdiri di samping Pak

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   73.Garis yang Mulai Kabur

    **** Sore itu ternyata belum mau memberi aku jeda. Baru saja aku menutup pintu kamar kos, ponselku bergetar di tangan. Satu notifikasi masuk, lalu disusul dua, tiga. Grup: TARUHAN WARAS (katanya) Dania: Mar. LO UDAH NYAMPE KOS? Hera: Plis jawab. Ini penting. Aku menghempaskan tas ke

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   72.Perhatian yang Terlihat

    **** Aku masih setengah jalan menghabiskan makan siang itu ketika suara kursi ditarik cukup keras di depanku. “LAH.” Aku mendongak. Dania berdiri dengan tangan terlipat di dada, alis terangkat tinggi. Hera ada di sampingnya, matanya langsung tertuju ke paper bag di mejaku. “Amara,” kata Hera p

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   70.Rumah yang Tidak Kupilih

    **** Mobil Bianca melaju tanpa banyak suara. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Hanya suara wiper sesekali menggesek kaca, meninggalkan jejak air seperti garis-garis yang tak pernah benar-benar bersih. Aku duduk di kursi penumpang, menatap lampu jalan yang lewat satu per satu. “Jang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status