Compartir

51.Batas yang Digoda

Autor: Lusiana
last update Fecha de publicación: 2026-01-28 17:53:06

****

Hari-hari tenang itu membuat orang lupa bahwa ketenangan tidak selalu berarti aman.

Aku justru merasa lebih berani.

Mungkin karena kampus sudah kembali ke ritmenya. Mungkin karena tidak ada lagi tatapan curiga atau bisik-bisik di lorong. Atau mungkin karena aku mulai terbiasa berada di dekat Pak Rassel cukup dekat untuk melihat celah kecil di balik sikap dinginnya.

Pagi itu aku kembali ke ruang asdos dengan map tebal di tangan.

“Laporan praktikum kelas sudah kamu koreksi?” tanya
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   113.Jam Sepuluh yang Mengubah Segalanya

    Pagi itu datang terlalu cepat. Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar sempat tidur atau hanya terpejam beberapa menit di antara gelisah yang tak berujung. Alarm berbunyi pukul tujuh, tapi aku sudah duduk di tepi kasur sebelum itu, menatap kosong ke lantai. Perutku terasa mual. Bukan hanya karena kondisi yang belum sepenuhnya bisa kuterima… tapi juga karena hari ini. Hari penentuan. Aku mandi lebih lama dari biasanya, seolah air bisa menenangkan pikiranku. Tapi tidak ada yang berubah. Bayangan tentang percakapan itu terus berputar di kepalaku. Bagaimana jika dia marah? Bagaimana jika dia menyangkal? Atau lebih buruk… Bagaimana jika dia tetap tenang seperti kemarin dingin, jauh, seolah aku bukan siapa-siapa? Aku mengenakan pakaian paling sederhana yang kupunya. Tidak ingin terlihat mencolok. Tidak ingin menarik perhatian. Aku hanya ingin… ini cepat selesai. Jam di kampus menunjukkan pukul 09.47 saat aku berdiri di depan pintu ruangannya. Sepuluh langkah

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   112.Garis yang Tak Bisa Disembunyikan

    Roy tidak langsung pergi. Ia tetap duduk di kursi dekat meja, menatap kami bergantian seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak kami ucapkan. Suasana di basecamp berubah menjadi canggung. Tangisku memang sudah mereda, tapi bekasnya masih terasa jelas di wajahku. “Aku beli minum,” kata Roy akhirnya, memecah keheningan. “Kalian mau apa?” “Air putih aja,” jawab Hera cepat. Dania mengangguk pelan. Aku tidak mengatakan apa-apa. Roy menatapku sebentar lebih lama, lalu mengangguk kecil sebelum keluar ruangan. Begitu pintu tertutup, Hera langsung menghembuskan napas panjang. “Ini gak bisa lama-lama disembunyiin, Ra.” Aku menunduk. “Aku tahu.” “Tapi kamu juga gak bisa cerita ke sembarang orang,” tambah Dania hati-hati. Aku memeluk tubuhku sendiri. “Aku bahkan belum siap cerita ke dia…” Nama itu tidak perlu disebut. Kami semua tahu siapa yang dimaksud. Hera menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya terlihat serius. “Kalau kamu terus nunda, nanti malah makin sulit.” “Aku takut,” b

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   111.Rahasia yang Terlalu Berat

    **** Sudah lebih dari satu bulan. Satu bulan sejak pesan singkat itu. Dan satu bulan sejak Pak Rassel seperti menghapusku dari hidupnya. Di kampus kami tetap bertemu, tapi rasanya seperti orang asing. Ia tetap mengajar seperti biasa tenang, rapi, profesional. Tidak ada satu pun sikapnya yang menunjukkan bahwa pernah ada sesuatu di antara kami. Ia bahkan jarang menatapku. Jika aku bertanya di kelas, ia menjawab seperti menjawab mahasiswa lain. Singkat. Formal. Dingin. Pada akhirnya aku menyerah. Dua minggu lalu aku mengundurkan diri sebagai asisten dosen. Tidak ada yang bertanya terlalu banyak. Mereka hanya menganggap aku sibuk dengan skripsi. Padahal sebenarnya aku hanya tidak sanggup lagi berada terlalu dekat dengannya. Tidak sanggup berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dan hari ini… semuanya menjadi jauh lebih buruk. Tanganku masih gemetar saat menyerahkan benda kecil itu pada Dania. Kami bertiga duduk di kamar kosku. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   110.Pesan dari Jarak

    **** Aku menatap layar ponsel cukup lama setelah pesan itu terkirim. Tanda centang dua muncul hampir seketika. Artinya pesan itu sudah sampai. Tapi tidak ada balasan. Tidak ada satu kata pun. Aku menghela napas pelan. Jari-jariku masih menggenggam ponsel erat, seolah kalau kulepas semuanya akan terasa lebih nyata. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang sangat Pak Rassel. Singkat. Rapi. Dingin. Aku menelan ludah. Biasanya… bahkan untuk hal sekecil apa pun, ia akan menambahkan satu kalimat lain. Jaga diri. atau Jangan pulang terlalu malam. Hal-hal kecil yang membuatku merasa diperhatikan. Tapi kali ini tidak ada apa-apa. Hanya jarak. Aku menunggu beberapa menit lagi. Tidak ada balasan. Akhirnya aku mematikan layar ponsel dan menyandarkan punggung di kursi halte depan apartemen. Angin sore terasa sedikit dingin. Lucunya, aku baru sadar sesuatu. Ia bahkan tidak memberitahuku langsu

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   109.Jarak yang Diciptakan

    **** Aku menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Pesannya singkat. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang rapi. Tenang. Seolah semuanya normal. Padahal tidak ada yang benar-benar normal. Pesan itu terkirim beberapa detik kemudian. Aku meletakkan ponsel di meja bar dan menghela napas panjang. Di luar negeri? Itu bohong. Aku bahkan masih berada di kota yang sama. Namun entah kenapa kalimat itu terasa lebih mudah daripada mengatakan yang sebenarnya. Bahwa aku sedang menghindar. Bahwa aku tidak tahu bagaimana harus kembali ke apartemen dan melihat Amara seolah tidak terjadi apa-apa. Bahwa kehadiran Rika membuat semua yang selama ini kusimpan rapi kembali berantakan. Sudah empat hari sejak malam itu. Empat hari aku tidak pulang. Aku bahkan mengambil cuti dari kampus. Pagi tadi aku mengirim email resmi kepada bagian administrasi. Saya mengambil cuti beber

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   108.Bayangan yang Kembali

    **** Aku masih duduk di kursi seberang sofa. Amara tertidur dengan selimut yang tadi kuselipkan di bahunya. Napasnya teratur, wajahnya tenang seolah dunia tidak menyimpan kerumitan apa pun. Berbeda denganku. Kepalaku terasa penuh. Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit apartemen yang terasa tiba-tiba sempit. Kenapa semuanya terasa begitu rumit? Beberapa jam lalu aku hanya duduk di ruang kerja, menatap foto lama yang tidak seharusnya masih kusimpan. Foto yang membawa kembali seseorang yang sudah lama pergi dari hidupku. Rika. Nama itu seperti luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Aku mengusap wajah dengan kasar. Mataku kembali ke arah Amara. Perempuan itu datang ke hidupku tanpa rencana. Tanpa perhitungan. Tanpa izin. Awalnya hanya mahasiswa yang terlalu jujur dengan perasaannya. Lalu entah sejak kapan… dia menjadi seseorang yang mulai kupikirkan terlalu sering. Namun tepat ketika aku mulai membiarkan semuanya berjalan… masa lalu itu kembali muncu

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   73.Garis yang Mulai Kabur

    **** Sore itu ternyata belum mau memberi aku jeda. Baru saja aku menutup pintu kamar kos, ponselku bergetar di tangan. Satu notifikasi masuk, lalu disusul dua, tiga. Grup: TARUHAN WARAS (katanya) Dania: Mar. LO UDAH NYAMPE KOS? Hera: Plis jawab. Ini penting. Aku menghempaskan tas ke

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   72.Perhatian yang Terlihat

    **** Aku masih setengah jalan menghabiskan makan siang itu ketika suara kursi ditarik cukup keras di depanku. “LAH.” Aku mendongak. Dania berdiri dengan tangan terlipat di dada, alis terangkat tinggi. Hera ada di sampingnya, matanya langsung tertuju ke paper bag di mejaku. “Amara,” kata Hera p

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   71.Tempat Bernapas

    *** Roy datang lima belas menit kemudian. Motor hitamnya berhenti tepat di depan minimarket kecil di ujung jalan. Aku sudah berdiri di sana, memeluk tasku seperti pelampung. “Naik,” katanya singkat, tapi matanya langsung meneliti wajahku. “Lo habis nangis?” Aku mengangkat bahu. “Sedikit.” “

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   70.Rumah yang Tidak Kupilih

    **** Mobil Bianca melaju tanpa banyak suara. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Hanya suara wiper sesekali menggesek kaca, meninggalkan jejak air seperti garis-garis yang tak pernah benar-benar bersih. Aku duduk di kursi penumpang, menatap lampu jalan yang lewat satu per satu. “Jang

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status