Share

Mengejar Cinta Mayor Bintang
Mengejar Cinta Mayor Bintang
Author: LV Edelweiss

Bab 1

Author: LV Edelweiss
last update publish date: 2026-02-25 14:53:15

“Om, Bintang!” pekik Anya agak keras dari balik pintu ruang kerja pria yang ia panggil dengan sebutan ‘Om’ itu.

Anya merupakan gadis 20 tahun yang menyandang status sebagai mahasiswa jurusan Keperawatan di sebuah kampus Militer Angkatan Darat.

Ia mengangkat secarik kertas yang dibawanya sejak tadi, menunjukkannya pada Bintang, lebih tepatnya, Bintang Dirgantara, Mayor TNI Angkatan Darat di Kodim depan kampusnya.

Pria dengan seragam TNI lengkap yang sejak tadi fokus pada pekerjaannya itu langsung menoleh. Ia menghela napas dalam ketika melihat kehadiran Anya, seolah itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak ia harapkan.

“Ada apa?” tanya Bintang singkat, nadanya dingin dan tajam seperti biasa, dahinya mengernyit.

Anya langsung melangkah masuk dengan penuh antusias. Ia meletakkan secarik kertas itu di meja kerja Bintang.

“Mau minta tanda tangan untuk surat pembinaan, Om,” kata Anya terus terang, ia bahkan mengedipkan satu matanya pada sang Mayor, membuat Bintang semakin mengernyitkan dahi.

Bintang menarik kertas itu dan membacanya sekilas. Ia tahu apa maksud dari surat pembinaan ini. Akhirnya, ia hanya bisa menghela napas kasar.

Dalam pendidikan Keperawatan militer, pembinaan ini adalah proses sistematis dan terintegrasi yang bertujuan untuk membentuk perawat yang profesional dan memiliki dua identitas—tenaga kesehatan dan prajurit.

Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kedisiplinan serta menanamkan jiwa keprajuritan kepada calon tenaga keperawatan yang berada dalam lingkup militer nantinya.

Dan sebagai seorang Mayor yang sudah memiliki pengalaman dalam dunia militer, Bintang diminta untuk menjadi salah satu mentor pada pembinaan semester kali ini.

Sialnya, Anya juga terpilih sebagai mahasiswi bimbingannya. Menjadi pembina Anya, artinya mereka akan lebih sering bertemu dan berinteraksi.

Namun bagi Anya, tentu saja hal itu merupakan sebuah anugerah. Sebab, sejak pertama kali masuk ke sekolah militer ini, kurang lebih 3 tahun lalu, ia sudah jatuh hati pada Bintang.

Saat itu, Anya nyaris pingsan dan mencium tanah sebab dihukum hormat bendera di bawah terik matahari karena terlambat. Untungnya, Bintang datang tepat waktu dan berhasil menahan tubuh mungilnya.

Wajah tampan sang Mayor yang bagi Anya mirip seperti aktor drama ternama, Jo In-Sung, berhasil membuat dirinya terpana. Padahal, usia mereka terpaut cukup jauh, hampir 15 tahun. Bahkan status Bintang juga merupakan seorang duda, walau tanpa anak.

Tapi, semua itu bukan masalah bagi Anya.

Sementara bagi Bintang, ini jelas sebuah bencana.

Pria yang selalu dikenal dingin, tegas, dan tidak suka basa-basi itu pasti akan merasa sakit kepala terus-terusan jika harus menangani gadis tengil dengan tingkah segudang seperti Anya ini.

“Ayo, tandatangani suratnya, Om,” kata Anya dengan senyum lebar, seolah sangat menikmati takdir ini. “Aku yakin, ini salah satu tanda kalau kita memang berjodoh, Om.”

“Diam kamu,” tukas Bintang, sama sekali tidak ramah.

Namun, Anya masih terus menunjukkan senyum pasta giginya. Benar-benar mental baja gadis muda itu. Sudah diperlakukan tak ramah, masih saja kecintaan.

“Jangan galak-galak, Om. Kata orang, kalau kayak gitu nanti endingnya bisa jatuh cint—”

“Kalau tidak ada urusan lagi, silakan keluar,” potong Bintang cepat sembari menyodorkan kertas yang telah ia tandatangani.

Melihat tanda tangan Bintang sudah ada di kertas itu, Anya merasa semakin bersemangat. Ia bahkan nyaris melompat kegirangan, untungnya masih bisa ditahan.

***

“Melamun terus ....” Salah seorang teman datang dan langsung membuyarkan lamunan Anya.

“Apa sih? Ganggu aja.” Anya kesal karena Aurel-teman sekelasnya, mengusik dunia imajinasinya bersama Mayor Bintang.

“Kamu yang apa? Udah dapat tanda tangan pembina belum?” tanya Aurel.

“Udah, baru aja, makanya aku ngelamun. Eh, kamu datang, rusak deh semua imajinasiku.”

Aurel meraih kertas milik Anya dan melihat nama pembina yang tertulis di sana. “Hmm ... pantes,” serunya begitu tahu jika pembina Anya adalah Bintang.

Selama ini, Aurel memang tahu jika Anya begitu terobsesi dengan tentara yang satu itu. Ia bahkan sering bosan setiap kali mendengar Anya memuji-muji Bintang secara terus-menerus.

Namun ia juga tahu, Anya seperti itu karena tak pernah merasakan figur seorang ayah. Sejak kecil, Anya hanya hidup berdua dengan ibunya. Jangankan merasakan kasih sayang seorang ayah, tahu wajahnya saja tidak.

Sebagai seorang sahabat, Aurel hanya bisa memperingati Anya, jika Bintang itu tidak cocok dengannya.

Dari segi usia saja sudah cukup jauh. Anya baru akan masuk dua puluh satu, sedang Bintang nyaris kepala tiga. Plus ditambah satu lagi, sang Mayor adalah seorang duda. Yah ... walau duda tanpa anak. Namun kan, tetap saja duda.

“Kayaknya Dewi Fortuna sedang berpihak sama aku deh, Rel. Berawal dari mahasiswa binaan, berujung ke pelaminan.” Anya melihat ke langit-langit ruang kelas.

“Astaga! Bangun Anya, tidurmu terlalu miring.”

“Biarin. Kan ... hidup memang berawal dari mimpi. Ya kan?” Anya mendekatkan wajahnya kepada Aurel.

“Terserah kamu deh.” Aurel kehabisan kata-kata. Menasehati orang yang sedang di mabuk cinta, memang sering kali membuat putus asa dan berujung sia-sia.

Sebab apapun yang Aurel katakan, Anya tetap pada pendiriannya. Mengejar cinta Bintang sampai duda kembang itu benar-benar menjadi miliknya.

Namun apa jadinya, jika ternyata untuk menaklukkan hati seorang Bintang, Anya harus bersaing dengan perempuan lain?

Semua itu bermula saat Aurel meminta Anya untuk menemaninya menemui Kapten Bima—tentara yang menjadi pembinanya—di Kodim.

Awalnya, langkah kaki mereka tampak biasa saja. Sampai pada saat dua bola mata Anya menangkap sosok yang baru saja ia temui pagi tadi.

Ya, Anya melihat Mayor Bintang berdiri di dekat mobil dinas bersama seorang wanita cantik yang diduga merupakan seorang dokter. Terlihat dari jas putih yang perempuan itu kenakan dan name tag-nya.

“Kenapa Nya?” tanya Aurel. Ia lalu melihat ke arah titik fokus Anya. Spontan raut wajah Aurel berubah menjadi tegang. Meski Anya tidak menjawab pertanyaannya, Aurel bisa tahu, apa yang temannya itu rasakan.

“Nya ... kamu baik-baik aja?” tanya Aurel yang paham betul dengan isi hati Anya saat ini.

Anya masih diam. Terus melihat ke arah sang Mayor yang tampak berbincang serius dengan dokter perempuan itu. Mayor Bintang juga terlihat Sesekali tersenyum bahagia. Senyum yang tak pernah Anya lihat selama ia mengenal laki-laki itu.

Sebenarnya, siapa perempuan itu? Apa dia pemilik hati Mayor Bintang?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 73

    Anya menarik napas dalam dan kembali membuangnya dengan perlahan. Sementara Bintang, tampak masih menatap lekat-lekat ke arah dirinya. “Maafkan saya, Anya,” ucap Bintang tulus. Kalimat itu kembali terucap dari mulut Sang Mayor dan entah sudah kali yang ke berapa ia mengucapkan kata maaf sejak menjadi suami Anya. Yang jelas, dirinya memang bukan tipikal laki-laki yang suka menunda-nunda untuk menyelesaikan sebuah masalah. Anya masih bergeming. “Maafkan saya, Anya. Tadi saya terbawa emosi. Saya tidak bermaksud untuk melukai perasaan kamu. Apalagi menyuruh kamu untuk menggoda pria lain. Kamu mau memaafkan saya kan?” ulang Bintang, berharap Anya mau memaafkannya. Lembut nian suara laki-laki dewasa itu saat menyampaikan rasa penyesalannya. Wanita mana pun yang mendengarnya sudah pasti akan luluh. Apa lagi Anya, yang jelas-jelas menaruh hati yang begitu dalam kepada Bintang. Anya menoleh dan langsung berteriak histeris. Tangisnya pecah di hadapan Bintang. Dengan segera, ia pun la

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 72

    “Eum,” angguk Anya cepat. “Ya sudah, coba kamu jelaskan, pelanggaran apa yang sudah saya lakukan,” tanya Bintang. “Ok! Pertama, Om pulang terlambat tanpa ngabarin aku. Kedua, Om pergi cepat tanpa pamit sama aku. Ketiga, Om udah ngerusak suasana jalan-jalan aku sama Rea. Yang padahal, Om sendiri nggak pernah ngelakuinnya bareng aku. Tiga pelanggaran HAM terberat.” Anya menunjuk tiga jari tangannya.Bintang menarik dan membuang napas kasar. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini, Anya mencari-cari kesalahan agar dirinya terlihat menyebalkan di mata istri sendiri. Seolah selama ini ia tidak pernah memberikan perempuan ini perhatian dan waktu yang menyenangkan.Apa kehidupannya sebegitu membosankannya bagi seorang Anya?“Apa menurut kamu itu semua sebuah kesalahan?” tanya Bintang lagi. “Iya! Menurut aku … Om itu, boring!” Anya memasang raut wajah tak suka. Mendengar jawaban Anya, lidah Bintang pun mulai berkelintaran karena kesal. Secepat dan sejauh itu ia mengemudi demi memastikan is

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 71

    Bersamaan dengan rasa amarah Bintang membuncah, kedua bola matanya menangkap dua sosok yang sedang berjalan di tepi pantai tanpa alas kaki. Baju keduanya sama dengan langkah yang selaras. Tampak sesekali mereka tertawa pelan seperti tengah bercanda.“Apa itu mereka?” tanya Bintang penasaran. Tanpa menunda lagi, ia pun segera berlari ke arah sosok yang diduganya sebagai Anya dan Rea. “Anya ...!” teriaknya.Benar saja, itu adalah Anya. Perempuan itu seketika menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah asal suara yang memanggil namanya. “Hah?! Om Bintang?” serunya tak percaya.“Om Bintang?” tanya Rea. Ia ikut menoleh ke arah yang Anya lihat. Terperanjat, saat melihat tentara satu itu berhasil menyusul mereka ke tempat yang sejauh itu.“Anya ....” Bintang berhenti tepat di depan Anya. Napasnya tampak tersengal dan naik turun tak beraturan.Anya tercengang dengan mulut yang ternganga. Ekspresi wajahnya bingung campur kaget karena melihat suaminya sudah berdiri di hadapannya saat ini.

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 70

    “Ya sudah, saya balik ke kantor dulu.” Satria berlalu meninggalkan Bulan begitu saja. Seolah dokter spesialis bedah itu bukanlah wanita yang ditunggunya sejak tadi, jadi tidak perlu bertemu lama-lama. Bulan hanya bisa pasrah ditinggal begitu saja. Karena pada dasarnya, seperti itulah karakter asli Satria. Kadang acuh, kadang tak perduli sama sekali. Dirinya saja yang terlalu kecintaan pada pria tampan itu. Bahkan sudah diselingkuhi berkali-kali pun, tetap saja masih mau menerima lagi.Dan kalau sedang terluka hebat, obatnya adalah Bintang.***“Selamat beristirahat, semoga cepat sembuh ya?” ucap Anya kepada pasien terakhir yang ia periksa.Ia kemudian berlalu keluar ruangan dan langsung merogoh ponselnya. Masih berharap jika ada pesan dari suaminya-Bintang, walau hanya satu pesan saja. Namun hasilnya nihil.Ia pun mengetik pesan untuk Aurel, mengabari teman dekatnya itu kalau nanti ia akan pulang dengan Rea. Jadi Aurel tidak perlu menunggu apalagi mencarinya. Setelah pesan terkirim,

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 69

    “Maksudku, kamu bikin special moment gitu. Yah, apa kek. Kamu bisa bikinin dia apa gitu.” “Masak maksud kamu?” Anya membuang napas kasar. “Terakhir aku masakin dia, masakanku ke buang semua. Udah ah, nggak usah dibahas lagi. Capek!” Anya berlalu begitu saja ke arah rumah sakit. “Ya elah, dia marah, aku ditinggal gitu aja,” omel Aurel. “Nya, tungguin woy!” teriaknya sembari melangkah menyusul Anya yang sudah hampir sampai di pintu utama. Setibanya di dalam, mereka langsung berpisah. Anya ke bagian ICU, sedang Aurel ke IGD. Kembali menjalani tugas dan tanggungjawab masing-masing. Demi pengalaman dan nilai PKL yang memuaskan, mereka harus bisa melakukan pekerjaan sebagai perawat magang dengan sebaik-baiknya. Mengingat setelah ini mereka akan langsung membuat KTI sebelum kemudian naik sidang, yudisium dan wisuda. “Udah datang kamu?” Rea langsung menyapa Anya dengan raut wajah yang sengaja dibuat seramah mungkin. “Udah,” jawab Anya singkat. Jujur, untuk kali ini dia benar-benar s

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 68

    Pukul tiga dini hari, mobil Bintang baru saja berhenti di depan unit asramanya. Ia langsung turun dan menekan tombol kunci. Kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan kunci duplikat. Saat pintu sudah terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Anya. Perempuan itu tampak tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang tergeletak acak di atas meja. “Astaga, kenapa dia tidur di sini?” gumam Bintang. Perlahan, Bintang pun mengangkat kepala Anya lalu menggendongnya dan membawanya ke kamar. Perempuan itu terus bergeming karena tidur benar-benar pulas. Bahkan saat diletakkan di atas tempat tidur pun, Anya tidak terjaga sedikitpun. “Apa dia menunggu saya lagi?” tanya Sang Mayor seraya menatap lekat kepada Anya. Ia lalu menarik selimut dan menyetel suhu pendingin agar Anya bisa tidur lebih nyaman. Setelah itu, ia duduk di tepi ranjang dan kembali menatap wajah perempuan itu. Perempuan yang baru sebulan ini ia nikahi, tapi sudah sering ia tinggalkan. “Maafkan saya, Anya.

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 25

    Sepanjang jalan, Anya hanya diam dengan pandang yang terus tertuju ke arah depan jalan. Berbeda dengan Bintang, laki-laki itu justru tampak seperti orang yang sedang gelisah. Berulang-ulang kali berdehem, tanpa ada sebab. Batuk pun, tidak. Terus mencuri-curi pandang kepada perempuan dengan seragam P

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 23

    Namun, belum sempat sang Mayor mengulangi kata-katanya, Andini sudah lebih dulu datang dengan nampan berisi teh hangat di tangannya. “Ayo diminum dulu, Mbak,” tawar perempuan berambut ikal tersebut. “Wah, makasih banyak, Mbak. Maaf udah ngerepotin.” Anya langsung duduk. “Nggak kok, Mbak. Mal

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 20

    Mobil Bintang sudah tiba di depan sebuah bangunan berlantai dua. Setelah mengantar anak buahnya, ia langsung kembali ke rumah milik orang tuanya itu. Dikarenakan sebentar lagi dia akan menikah, jadi untuk sementara waktu dia harus tinggal di sana dulu. Di depan teras, tampak beberapa orang masih d

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 18

    “Ini, Om, silahkan diminum.” Anya meletakkan segelas teh dingin di atas meja.“Terima kasih.” Bintang langsung mengambil teh tersebut dan menenggaknya hingga tersisa setengah gelas.Anya kembali duduk di depan Bintang dengan jantung yang berdebar tak karuan. Ibunya sudah tahu maksud kedatangannya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status