LOGIN
“Om, Bintang!” pekik Anya agak keras dari balik pintu ruang kerja pria yang ia panggil dengan sebutan ‘Om’ itu.
Anya merupakan gadis 20 tahun yang menyandang status sebagai mahasiswa jurusan Keperawatan di sebuah kampus Militer Angkatan Darat. Ia mengangkat secarik kertas yang dibawanya sejak tadi, menunjukkannya pada Bintang, lebih tepatnya, Bintang Dirgantara, Mayor TNI Angkatan Darat di Kodim depan kampusnya. Pria dengan seragam TNI lengkap yang sejak tadi fokus pada pekerjaannya itu langsung menoleh. Ia menghela napas dalam ketika melihat kehadiran Anya, seolah itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak ia harapkan. “Ada apa?” tanya Bintang singkat, nadanya dingin dan tajam seperti biasa, dahinya mengernyit. Anya langsung melangkah masuk dengan penuh antusias. Ia meletakkan secarik kertas itu di meja kerja Bintang. “Mau minta tanda tangan untuk surat pembinaan, Om,” kata Anya terus terang, ia bahkan mengedipkan satu matanya pada sang Mayor, membuat Bintang semakin mengernyitkan dahi. Bintang menarik kertas itu dan membacanya sekilas. Ia tahu apa maksud dari surat pembinaan ini. Akhirnya, ia hanya bisa menghela napas kasar. Dalam pendidikan Keperawatan militer, pembinaan ini adalah proses sistematis dan terintegrasi yang bertujuan untuk membentuk perawat yang profesional dan memiliki dua identitas—tenaga kesehatan dan prajurit. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kedisiplinan serta menanamkan jiwa keprajuritan kepada calon tenaga keperawatan yang berada dalam lingkup militer nantinya. Dan sebagai seorang Mayor yang sudah memiliki pengalaman dalam dunia militer, Bintang diminta untuk menjadi salah satu mentor pada pembinaan semester kali ini. Sialnya, Anya juga terpilih sebagai mahasiswi bimbingannya. Menjadi pembina Anya, artinya mereka akan lebih sering bertemu dan berinteraksi. Namun bagi Anya, tentu saja hal itu merupakan sebuah anugerah. Sebab, sejak pertama kali masuk ke sekolah militer ini, kurang lebih 3 tahun lalu, ia sudah jatuh hati pada Bintang. Saat itu, Anya nyaris pingsan dan mencium tanah sebab dihukum hormat bendera di bawah terik matahari karena terlambat. Untungnya, Bintang datang tepat waktu dan berhasil menahan tubuh mungilnya. Wajah tampan sang Mayor yang bagi Anya mirip seperti aktor drama ternama, Jo In-Sung, berhasil membuat dirinya terpana. Padahal, usia mereka terpaut cukup jauh, hampir 15 tahun. Bahkan status Bintang juga merupakan seorang duda, walau tanpa anak. Tapi, semua itu bukan masalah bagi Anya. Sementara bagi Bintang, ini jelas sebuah bencana. Pria yang selalu dikenal dingin, tegas, dan tidak suka basa-basi itu pasti akan merasa sakit kepala terus-terusan jika harus menangani gadis tengil dengan tingkah segudang seperti Anya ini. “Ayo, tandatangani suratnya, Om,” kata Anya dengan senyum lebar, seolah sangat menikmati takdir ini. “Aku yakin, ini salah satu tanda kalau kita memang berjodoh, Om.” “Diam kamu,” tukas Bintang, sama sekali tidak ramah. Namun, Anya masih terus menunjukkan senyum pasta giginya. Benar-benar mental baja gadis muda itu. Sudah diperlakukan tak ramah, masih saja kecintaan. “Jangan galak-galak, Om. Kata orang, kalau kayak gitu nanti endingnya bisa jatuh cint—” “Kalau tidak ada urusan lagi, silakan keluar,” potong Bintang cepat sembari menyodorkan kertas yang telah ia tandatangani. Melihat tanda tangan Bintang sudah ada di kertas itu, Anya merasa semakin bersemangat. Ia bahkan nyaris melompat kegirangan, untungnya masih bisa ditahan. *** “Melamun terus ....” Salah seorang teman datang dan langsung membuyarkan lamunan Anya. “Apa sih? Ganggu aja.” Anya kesal karena Aurel-teman sekelasnya, mengusik dunia imajinasinya bersama Mayor Bintang. “Kamu yang apa? Udah dapat tanda tangan pembina belum?” tanya Aurel. “Udah, baru aja, makanya aku ngelamun. Eh, kamu datang, rusak deh semua imajinasiku.” Aurel meraih kertas milik Anya dan melihat nama pembina yang tertulis di sana. “Hmm ... pantes,” serunya begitu tahu jika pembina Anya adalah Bintang. Selama ini, Aurel memang tahu jika Anya begitu terobsesi dengan tentara yang satu itu. Ia bahkan sering bosan setiap kali mendengar Anya memuji-muji Bintang secara terus-menerus. Namun ia juga tahu, Anya seperti itu karena tak pernah merasakan figur seorang ayah. Sejak kecil, Anya hanya hidup berdua dengan ibunya. Jangankan merasakan kasih sayang seorang ayah, tahu wajahnya saja tidak. Sebagai seorang sahabat, Aurel hanya bisa memperingati Anya, jika Bintang itu tidak cocok dengannya. Dari segi usia saja sudah cukup jauh. Anya baru akan masuk dua puluh satu, sedang Bintang nyaris kepala tiga. Plus ditambah satu lagi, sang Mayor adalah seorang duda. Yah ... walau duda tanpa anak. Namun kan, tetap saja duda. “Kayaknya Dewi Fortuna sedang berpihak sama aku deh, Rel. Berawal dari mahasiswa binaan, berujung ke pelaminan.” Anya melihat ke langit-langit ruang kelas. “Astaga! Bangun Anya, tidurmu terlalu miring.” “Biarin. Kan ... hidup memang berawal dari mimpi. Ya kan?” Anya mendekatkan wajahnya kepada Aurel. “Terserah kamu deh.” Aurel kehabisan kata-kata. Menasehati orang yang sedang di mabuk cinta, memang sering kali membuat putus asa dan berujung sia-sia. Sebab apapun yang Aurel katakan, Anya tetap pada pendiriannya. Mengejar cinta Bintang sampai duda kembang itu benar-benar menjadi miliknya. Namun apa jadinya, jika ternyata untuk menaklukkan hati seorang Bintang, Anya harus bersaing dengan perempuan lain? Semua itu bermula saat Aurel meminta Anya untuk menemaninya menemui Kapten Bima—tentara yang menjadi pembinanya—di Kodim. Awalnya, langkah kaki mereka tampak biasa saja. Sampai pada saat dua bola mata Anya menangkap sosok yang baru saja ia temui pagi tadi. Ya, Anya melihat Mayor Bintang berdiri di dekat mobil dinas bersama seorang wanita cantik yang diduga merupakan seorang dokter. Terlihat dari jas putih yang perempuan itu kenakan dan name tag-nya. “Kenapa Nya?” tanya Aurel. Ia lalu melihat ke arah titik fokus Anya. Spontan raut wajah Aurel berubah menjadi tegang. Meski Anya tidak menjawab pertanyaannya, Aurel bisa tahu, apa yang temannya itu rasakan. “Nya ... kamu baik-baik aja?” tanya Aurel yang paham betul dengan isi hati Anya saat ini. Anya masih diam. Terus melihat ke arah sang Mayor yang tampak berbincang serius dengan dokter perempuan itu. Mayor Bintang juga terlihat Sesekali tersenyum bahagia. Senyum yang tak pernah Anya lihat selama ia mengenal laki-laki itu. Sebenarnya, siapa perempuan itu? Apa dia pemilik hati Mayor Bintang?Anya terkejut melihat reaksi suaminya. Ia langsung terduduk di tepi ranjang, menatap Bintang dengan polos sekaligus sedikit cemas karena perubahan intonasi pria itu.“I–iya, Om ... kalau aku hamil, gimana?” ulang Anya dengan suara yang mendadak memelan, ragu-ragu. “Mak–maksud aku ... kalau seandainya Tuhan merencanakan kita dapat momongan lebih cepat, Om siap nggak?” Anya menggigit bibir bawahnya. Bintang menghentikan kegiatannya di depan nakas. Ia lalu meletakkan ponselnya, melangkah perlahan mendekati ranjang. Wajah tegasnya yang sempat tegang perlahan melunak, digantikan oleh sorot mata hangat yang memancarkan rasa haru mendalam.Bintang mendudukkan dirinya tepat di samping Anya. Tangan kokohnya terangkat, meraih jemari lentik istrinya yang sedikit dingin, lalu meremasnya lembut.“Anya,” panggil Bintang dengan suara baritonnya yang tenang dan dalam. “Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu ….”“Aku udah telat seminggu, Om.” Mendengar pengakuan Anya, napas Bintang serasa terc
Di pelabuhan, kapal TNI angkatan laut sudah menepi. Deretan prajurit berseragam loreng perlahan mulai melangkah turun melalui tangga kapal. Sorak-sorai riuh dan derap musik militer yang membahana di sepanjang dermaga menyambut mereka. Di tengah riuhnya ribuan manusia yang saling berpelukan menumpahkan rindu, sepasang mata bulat Anya terus menyapu barisan tentara itu dengan napas yang berkejaran.“Om Bintang … dimana dia?” gumam Anya pada diri sendiri. Ia lalu melangkah tertatih membelah kerumunan keluarga prajurit. Namun, lama ia mencari, sosok yang dituju tak kunjung ia temukan. Matanya mulai berair. Panik, takut, mulai menggerogoti pikirannya. Bagaimana jika suaminya ternyata tidak ada di sana? “Om Bintang. Om Bintang dimana sih?” tanya Anya lagi. Ia kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dermaga. Sampai akhirnya, langkahnya terhenti. Tak jauh dari ujung tangga kapal, berdiri seorang pria berpostur tegap dan gagah. Wajah tegasnya tampak sedikit lebih eksotis karena
Pagi menjelang. Suasana di pelabuhan kapal milik TNI Angkatan Laut sudah dipadati oleh sejumlah anggota TNI AD yang akan berangkat Latgabma ke California, Amerika Serikat. Bintang dan Anya sudah sampai sejak tadi. Setelah pamit pada keluarga besar, mereka langsung menuju ke titik kumpul keberangkatan.Semua perlengkapan sudah dimasukkan ke dalam ransel khusus prajurit. Anya juga hadir dengan seragam Persit dengan rambut yang dicepol rapi, membuat ia terlihat sangat keibuan. Anya merapikan letak kerah kemeja Bintang untuk yang kesekian kalinya. Jemarinya sedikit gemetar, namun senyum ketegaran tak pernah lekang dari bibirnya.Di sekeliling mereka, derap langkah sepatu lars, riuh suara klakson kendaraan taktis, dan perintah-perintah tegas yang diserukan para perwira menyatukan atmosfer haru sekaligus membakar semangat di pelabuhan pagi itu.“Di sana nanti, jangan lupa makan yang teratur. Walaupun di negeri orang, perutnya tetap harus diisi nasi kalau ada, ya?” bisik Anya pelan, mencob
“Surprise ….” Semua orang di rumah itu muncul dari balik pintu dengan membawa kue serta berbagai pernak pernik ulang tahun. Mereka tampak seperti sudah menyiapkan kejutan itu jauh-jauh hari. Terlihat dari kue, kado serta aksesoris yang ada. “Ya ampun kalian! Kok nggak bilang-bilang sih kalau mau ngasih kejutan?” tanya Anya dengan ekspresi wajah yang masih sedikit syok. “Kalau dikasih tahu, bukan kejutan namanya, Anya,” sahut Andini gemas. Rahayu lalu maju lebih dekat. “Anya, selamat ulang tahun ya, Sayang. Ini kado dari Mama,” ucapnya sembari menyerahkan sebuah paper bag pada Anya. “Makasih, Ma. Apa ini?” tanya Anya penasaran. “Nanti kamu buka saja sendiri.”Sekarang gantian Anne yang maju. Wanita paruh baya itu melangkah perlahan mendekati putri semata wayangnya. Wajahnya yang biasa menyembunyikan ketegaran kini dipenuhi rona haru yang membuncah.Di tangannya, Anne menggenggam sebuah kotak kayu dengan ukiran klasik yang tampak sudah berusia puluhan tahun.“Selamat ulang tahun,
Anya terperanjat. Matanya membola, mulutnya ternganga. Ia benar-benar tidak menyangka jika Bintang akan melamarnya meski mereka sudah menikah. “Om, kenapa Om lamar aku? Aku kan udah jadi istri Om,” tanya Anya. “Iya, saya tahu. Tapi kita menikah begitu dadakan. Saya belum sempat melamarmu. Belum juga sempat mengungkapkan isi hati saya. Jadi … sebelum saya berangkat lagabma, saya mau tidak lagi berpikir kalau pernikahan kita ini hanya sebatas hitam diatas putih. Tapi saya menikahi kamu, karena saya mencintai kamu.”“Hiks, Om….” Anya langsung mendung mendengar ungkapan isi hati Bintang. Meski ia tahu jika Bintang sudah menaruh hati padanya sejak malam pertama mereka, tapi lamaran pria itu tetap membuatnya tersentuh. “Om ….” lirih Anya, air matanya sudah berlinang karena haru. “Dijawab, Anya. Kaki saya sudah pegal ini,” tutur Bintang berpura-pura. Anya tertawa pelan. Lalu dengan perlahan ia pun mengarahkan tangannya untuk mengambil kotak cincin tersebut. “Iya, Om. Aku mau nikah sama
“Jadi maksud kamu, hilangnya Ayah ada sangkut pautnya dengan orang yang sekarang sedang meneror kamu, begitu?” tanya Anne. Bintang mengangguk pelan. Sorot matanya tidak menunjukkan keraguan sedikitpun saat menatap langsung ke dalam manik mata Anne yang tampak bergetar.“Benar, Bunda. Polanya sangat identik untuk disebut sebuah kebetulan,” jawab Bintang, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ketegasan seorang perwira.Ia menjeda sejenak, membiarkan angin sore berembus di antara mereka sebelum kemudian melanjutkan.“Mereka menggunakan taktik yang sama, menghilangkan orang yang mereka anggap sebagai ancaman. Bedanya, puluhan tahun lalu mereka berhasil melakukannya pada Ayah. Tapi sekarang, tidak akan lagi. Karena situasinya sudah berbeda.”Bintang menegakkan tubuhnya, seperti sedang memperlihatkan aura seorang prajurit yang kokoh lagi berani pada ibu mertuanya. “Apa kamu yakin bisa melawan mereka, Bin? Bunda takut kamu kenapa-kenapa. Kasihan Anya kalau sampai kamu mengal
BAB 4“Ya Om, ini aku. Anya,” jawab Anya santai.“Se—sedang apa kamu di sini?” tanya Bintang.“Om sendiri, lagi apa?”“Saya tanya kamu, kamu jangan tanya saya balik.”Anya mengulum senyum. “Aku lagi nungguin temen, Om. Tapi kayaknya dia nggak jadi datang. Terus nggak sengaja, aku ngeliatin Om Binta
“Kamu yakin kalau Mayor Bintang mau nge-date di sini sama calon istrinya?” tanya Aurel saat ia dan Anya sudah berdiri di depan Restoran Kenangan.“Yakin aku,” jawab Anya.“Berapa persen?” tanya Aurel lagi.“Seribu persen.”“Tapi udah mau pukul delapan, belum ada tanda-tanda mereka datang ke sini? J
“Nya ....” Aurel kembali memanggil temannya itu.“Heuh?” Anya tampak linglung.“Kita langsung ke ruangan Kapten Bima, yuk? Bentar lagi kita harus masuk kelas lagi,” jelas Aurel.Anya seperti tidak mendengar ucapan Aurel. Terus melihat ke arah Mayor Bintang dengan hati yang patah dan hancur berantak
Namanya Rea, lebih lengkapnya Reana Ratisha. Ia muncul di sela-sela percakapan antara Anya dan Aurel. “Nih,” Rea melempar selembar uang seratus ribu yang dilipat simetris ke atas meja. Anya dan Aurel terkejut secara bersamaan. Mereka pun langsung menatap perempuan yang biasa dipanggil dengan se







