LOGINSrikandi perang tergolek lemas di atas rumput. Matanya tampak sayu. Ia mengalami guncangan hebat setelah menyadari apa yang terjadi. Mengapa ia sampai berhalusinasi bercinta dengan seorang ksatria gagah dan tampan? Padahal ksatria pemburu saja enggan bercinta dengannya kalau tak diiming-imingi ringgit. Kemarahan membakar hati srikandi perang. Namun ia sulit bergerak untuk membunuh kingkong yang berdiri penuh kepuasan itu. Tenaganya habis terkuras melayani nafsu binatang itu, ia mungkin sudah mati kalau saja tak mengalir energi aneh dari persenggamaan itu. "Berisik!" sergah Arjuna saat Kong belum berhenti juga dengan erangannya. "Binatang saja muak mendengar eranganmu! Kau ingin membuat kupingku pekak?" Kong berhenti mengerang. Kemudian merapikan jubah dan mendatangi Arjuna yang duduk menunggu di akar besar. "Wangsit palsu itu sungguh memanjakan dirimu," gerutu Arjuna jengkel. "Aku tidak melihat perubahan pada dirimu, selain basah di bawah." "Kau...perhatikan...
Permainan pedang srikandi perang sangat hebat, dikombinasikan dengan tendangan dewa yang mengandung chi penuh. Tapi musuh yang dihadapi bukan makhluk bumi, tokoh sakti dari langit yang terkena kutukan. Dalam satu kesempatan Kong berhasil menangkap kaki srikandi perang, ia memutar kaki gempal itu dan mendorongnya. Srikandi perang jatuh terhempas. Kong segera menotok saraf motoriknya, komandan pasukan pemburu itu merasa seluruh ototnya lemas, tak kuasa bangun. "Bedebah!" geram srikandi perang. "Lepaskan totokanmu!" Kong segera membawa srikandi perang ke bawah pohon rindang. Pimpinan ksatria pemburu itu mendelik tanpa kuasa untuk melepaskan diri. Srikandi perang sulit melepaskan diri dari totokan, ia curiga kingkong itu binatang dari langit, totokannya sangat berbeda. Kong membaringkan srikandi perang di atas daun mati. Wanita bertubuh gembrot itu semakin deras memaki. "Jahanam! Apa yang hendak kau lakukan?" Kong segera mempreteli rok zirah srikandi perang. "Antara melaksanakan
Pasukan pemburu bertumbangan kena amuk naga sakti. Pedang mereka tidak mempan untuk melukai, kulit naga seakan membal. Para ksatria itu jadi bulan-bulanan naga sakti. Kematian adalah akhir dari perlawanan mereka, tak satu pun tersisa. Ksatria berjubah biru yang sedang menghadapi Arjuna tampak gentar menyaksikan semua kawannya tewas secara mengenaskan. "Jadi kau pewaris pedang mustika manik?" tanya ksatria berjubah biru. "Bagaimana manusia seperti dirimu terpilih jadi ksatria perang? Kau lebih cocok jadi pangeran dengan dikelilingi puteri cantik jelita, gerakanmu terlalu lembut untuk memainkan pedang." Keunikan ilmu pedang kuno yang dimiliki Arjuna adalah laksana penari memainkan pita, terlihat kurang bertenaga, menitikberatkan pada keseimbangan energi, selaras dengan ilmu tai chi yang dipelajarinya. Sekali terkena pukulan, organ tubuh dalam akan remuk. Pedang di tangan musuh akan terbabat putus dengan aliran chi lebih besar. Ksatria berjubah biru tidak menyadari bahaya itu
Arjuna memandang Anjali. Matanya yang tajam menyelidik seolah mencari kebohongan yang terselip dalam bola mata yang kecoklatan itu. “Aku ada masalah dengan kejujuran perempuan,” ucapnya menusuk. Anjali tertegun sejenak. Julukan Empat Iblis Hitam yang melekat karena kehebatan ilmu mereka, dan tak selamanya mencerminkan hati mereka yang sesungguhnya. Mereka datang bukan untuk berbuat jahat, tapi hanya mencari tempat berlindung dari kejaran musuh yang mengancam nyawa. Kong tampak siap menjadi perisai bagi mereka. Kesediaannya itu sebenarnya hanyalah bentuk kepercayaan yang mudah dimanfaatkan. Di balik sikapnya yang murah hati, ia memiliki keterbatasan yang tak disadari banyak pendekar. Jika benar-benar terdesak, Arjuna yang harus turun tangan, karena ia mengerti kemampuan lawan jauh melampaui apa yang bisa dihadapinya sekalipun didampingi empat wanita tangguh itu. Kong takkan sanggup menghadapi pasukan pemburu itu. Ilmu yang tersisa dari alam atas hanyalah kecepatan lari yang luar
Dara Hiti melompat tinggi ke udara keluar dari arena pertarungan, jungkir balik dua kali, dan mendarat dengan ringan di hadapan Arjuna. Ia menatap lekat-lekat dan bertanya untuk memastikan, "Kau serius dengan kata-katamu tadi?" Arjuna mengangkat kepalanya sedikit, matanya menyapu wajah rupawan itu. "Apa aku kelihatan main-main?" Dara Hiti tersenyum manis. "Kau keliru jika mengira aku akan menolak. Makhluk apapun yang pikirannya waras pasti memenuhi permintaan ksatria tertampan dan terkuat di muka bumi." Dara Hiti melangkah pergi, Arjuna menegur. "Kau mau ke mana?" "Belakang pohon." "Aku ingin di sini." Dara Hiti terdiam sesaat, ia mendadak jadi gugup. "Aku...aku malu bermesraan di depan banyak orang." "Emangnya daying boleh protes?" Ragu-ragu Dara Hiti mendekat. Arjuna tidak sabar menunggu, ia menarik tangan lembut itu sehingga terjatuh ke dalam pangkuannya. "Aku belum pernah disentuh laki-laki," bisik Dara Hiti saat Arjuna mengecup bibirnya. "Mungkin agak kaku dan tidak bisa
Arjuna duduk santai di akar pohon rindang sambil menyaksikan pertarungan yang semakin seru dan sengit. Suara benturan senjata, teriakan, dan desiran angin yang dipenuhi kekuatan sakti mampir di telinganya. Ia memperhatikan Dara Hiti, wanita yang memiliki kecerdikan setajam pisau dan lidah yang mampu membakar emosi siapa saja yang mendengarnya. Ia tahu apa yang sedang dimainkannya saat ini. Setiap ejekan yang dilontarkan, semuanya dirancang untuk membakar amarah dan mengubah arah pertarungan sesuai keinginannya. “Aku tahu kau tak pernah berniat menjadi daying,” kata Arjuna pelan, suaranya hanya terdengar oleh Dara Hiti di antara desau angin. “Kau kira segampang itu berbohong padaku." Dara Hiti tersenyum samar. Ia tahu Arjuna bukan orang yang mudah percaya. "Kau pikir aku main-main? Aku dan Anjali siap kapan pun untukmu." Arjuna memiliki sebuah rencana yang rumit dan berisiko; ia menginginkan Lasmini dan Cantik menjadi istri Kong. Kerelaan mereka untuk hidup bersamanya mungkin satu-
Empat Iblis Hitam siap menjalankan perintah Arjuna untuk membebaskan tawanan wanita di kastil selatan. Mereka juga bersedia memenuhi permintaan ksatria itu untuk jadi istri kingkong. "Barangkali sudah takdir kami," kata Dara Hiti. "Aku menganggap ucapanmu adalah lamaran bagi kami." Arjuna terkejut
Arjuna berkelebat maju. Pedang mustika manik meliuk-liuk mengincar titik kelemahan Kalapati, tokoh sakti istana itu berusaha menangkis dengan celurit. Trang! Trang! Bunga api berhamburan dari bentrokan senjata, mewarnai siluet kebiruan dan kemerahan laksana kembang api. Kalapati terkejut merasaka
Dara Hiti berkata, "Aku harus mempercayai teman seperjalanan. Maka itu aku bercerita kepadamu." Setelah bertemu dengan penghubung nanti, mereka akan melakukan perjalanan ke Jepara. Arjuna mencari pintu dimensi untuk pulang ke masa depan, Dara Hiti mencari rumah untuk tinggal sebagai warga J
Arjuna merasa kepalanya pening. Ia sulit menerima kenyataan itu. Ia curiga ibunya sudah mengetahui siapa ayahnya, karena seorang pembesar maka dirahasiakan. Pria yang dicari selama puluhan tahun ada di depan mata. Arjuna sering melihatnya di media elektronik. "Aku mesti segera pulang,"







