Share

Bab 2. Kujang Emas

Author: Enday Hidayat
last update publish date: 2024-05-22 22:59:12

Arjuna berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, memandang kota yang mulai diselimuti kabut tipis di sore hari. Dadanya terasa sesak yang tak kunjung hilang. Selama dua puluh lima tahun hidupnya, ia selalu merasa ada bagian yang belum lengkap. Ibunya telah mengerahkan segala tenaga dan biaya untuk melacak keberadaan pria yang menjadi ayahnya, namun hingga kini hasilnya nihil.

Pencarian dilakukan ke seluruh penjuru kota, bahkan sampai ke desa-desa terpencil di ujung wilayah negeri ini. Orang-orang kepercayaan yang disewa ibunya tak pernah berhenti bergerak, membawa sketsa wajah yang dibuat berdasarkan ingatan samar ibunya, namun tak satu pun petunjuk yang mengarah ke sosok yang pasti.

"Ayahku seolah lenyap ditelan bumi," gumam Arjuna kelu. "Meninggalkan pertanyaan yang terus menghantui hari-hariku."

Dalam kebingungan yang makin memuncak, Arjuna memutuskan untuk mendatangi Profesor Wijaya, arkeolog paling terkemuka dan dihormati di kota ini.

Di ruang kerja yang penuh dengan buku-buku tua dan pecahan benda bersejarah, Arjuna meletakkan sebuah bungkus kain halus di atas meja. Saat kain itu dibuka, tampaklah sebilah kujang yang memancarkan kilau lembut.

Profesor Wijaya segera mengambil kaca pembesar, memeriksa setiap lekukan, motif, dan ketajaman bilahnya dengan teliti selama beberapa menit. Kemudian ia mengangkat kepala, matanya memancarkan rasa takjub yang sulit disembunyikan.

"Mahakarya yang sangat sempurna, tiada cacat sama sekali. Pengerjaannya sangat presisi, seolah dibuat oleh tangan yang memiliki keahlian turun-temurun selama berabad-abad. Anda mendapatkan dari mana? Orang yang memiliki kujang ini lalu melepaskannya sungguh bodoh sekali."

Arjuna menarik napas panjang, menahan rasa ingin tahu yang meluap. "Apa keistimewaan kujang ini selain terbuat dari emas murni seberat hampir satu kilogram?"

Di dalam hatinya, ia menyimpan rahasia yang belum pernah diceritakan kepada siapa pun. Kujang emas itu adalah satu-satunya petunjuk yang tertinggal dari sebuah peristiwa yang terjadi dua puluh lima tahun silam, sebuah pertemuan singkat yang bisa disebut skandal cinta satu malam.

Ibunya pernah bercerita bahwa saat ia terbangun di kamar hotel keesokan harinya, pria itu sudah tiada, dan hanya benda itu yang tergeletak rapi di atas meja samping tempat tidur.

"Jika dilihat dari motif ukiran, gaya bilah, dan kandungan logamnya kujang ini adalah peninggalan dari abad keenam belas, masa kejayaan Kerajaan Pasundan," jelas Profesor Wijaya perlahan, "Dahulu, kujang jenis ini bukan sekadar senjata, melainkan pusaka yang hanya dimiliki oleh kasta ksatria atau keluarga bangsawan tertinggi. Ia melambangkan kekuasaan, keberanian, dan kedudukan yang mulia."

"Profesor tahu berapa kira-kira nilainya?" tanya Arjuna lagi.

Pria tua itu tersenyum samar sambil menggeleng pelan. "Kujang ini tak ternilai harganya. Ia memiliki nilai sejarah, budaya, dan seni yang tidak bisa diukur dengan angka. Jika kau bawa ke pasar barang antik atau lelang internasional, cukup sebutkan saja harganya, mereka pasti akan segera mengeluarkan uang sebanyak yang kau minta."

Mendengar penjelasan itu, pikiran Arjuna mulai berputar. Ayahnya pasti bukan orang sembarangan, seorang kolektor seni yang sangat kaya raya dan memiliki wawasan luas. Tidak banyak orang di negeri ini yang memiliki kegemaran sedemikian "gila" hingga membawa pusaka kuno itu ke mana pun ia pergi.

Di kepalanya mulai bermunculan nama-nama tokoh publik, pengusaha sukses, dan konglomerat yang dikenal luas. Namun, semakin ia telusuri satu per satu, rasanya tak ada yang benar-benar masuk dalam kategori penggemar berat barang antik yang rela mengeluarkan biaya selangit.

"Profesor," kata Arjuna, "apakah Anda punya daftar alamat atau nama-nama kolektor seni terkemuka dan agak eksentrik di negeri ini? Mungkin saja salah satu dari mereka mengenali benda ini."

Profesor Wijaya menatapnya dengan pandangan menyelidik. "Tentu saja. Mereka sering mendatangiku untuk meminta pendapat soal keaslian barang koleksi mereka. Tapi buat apa kau tanyakan hal ini? Kau tidak bermaksud menjual kujang pusaka ini, kan?"

Arjuna segera mengarang jawaban agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Anda bilang ia tak ternilai, aku jadi bingung menetapkan harganya jika suatu saat nanti harus merawatnya. Aku hanya ingin tahu nilainya saja."

"Jangan pernah melepasnya dengan harga di bawah lima ratus miliar rupiah," jawab sang profesor tegas.

Angka itu membuat Arjuna tertegun. Daftar nama di kepalanya mulai mengerucut hingga akhirnya mengabur. Hanya konglomerat yang sangat eksentrik dan bisa dibilang kurang waras saja yang mungkin berani mengeluarkan uang sebesar itu.

Rasanya, orang seperti itu belum ada di tanah air. Ia punya dugaan lain yang lebih masuk akal: ayahnya adalah peneliti atau arkeolog. Malam itu ia mungkin sedang merayakan keberhasilan penemuan benda bersejarah, lalu menginap di hotel yang sama dengan ibunya.

"Profesor, dua puluh lima tahun silam, apakah ada tim arkeolog yang mengadakan eksplorasi besar-besaran untuk meneliti kehidupan masyarakat Pasundan di masa lampau?" tanya Arjuna berharap.

"Beberapa tim pernah turun ke lapangan, dan sebagian penelitian itu masih berlangsung hingga sekarang," jawab Profesor Wijaya. "Namun, sejauh ini aku belum pernah mendengar kabar resmi mengenai penemuan kujang emas seunik ini. Kalau ada, sudah pasti akan menjadi berita utama dan dimuat dalam jurnal ilmiah seluruh dunia."

Mungkin saja penemuan itu belum sempat dilaporkan, pikir Arjuna. Bisa jadi kujang itu justru hilang atau tertinggal sebelum catatan resmi dibuat. Ayahnya pasti menyadari kehilangannya, tapi mungkin tak berani melacak karena takut terungkap kejadian malam itu dan menyeretnya ke meja hijau.

Tak puas hanya bertanya pada satu orang, Arjuna meluangkan waktu untuk menemui tiga arkeolog lain yang memiliki reputasi baik. Namun jawaban yang didapat tetap sama: mereka mengakui keaslian dan nilai tinggi benda itu, tapi tak satu pun yang tahu asal-usul pasti atau siapa pemilik aslinya.

"Kujang ini berasal dari mana kalau kalian semua tidak pernah mendengar kabarnya?" keluh Arjuna dengan nada kecewa.

Arkeolog terakhir yang ditemuinya memberikan saran yang berbeda. "Aku sarankan Anda datang ke alamat-alamat ini. Mungkin mereka bukan pemiliknya, tapi jaringan mereka luas. Mereka sering berhubungan dengan kolektor dari luar negeri yang mungkin memiliki catatan tersendiri."

Namun, perjalanan Arjuna berikutnya justru membuatnya kesal dan muak. Para kolektor yang didatangi hanya melihat dari sisi hukum dan keuntungan semata.

Mereka menilai kujang itu sebagai barang ilegal karena tidak dilengkapi surat keterangan asal dan izin penyimpanan dari lembaga berwenang. Bahkan salah satu di antaranya menuduh Arjuna membawa barang curian.

Padahal ia sudah mengaku barang itu milik seseorang dan menemukan secara tak sengaja.

"Kau tahu siapa aku dan keluargaku," gerutu Arjuna tak dapat menahan emosi. "Bagaimana mungkin orang sepertiku mau menyimpan barang hasil curian?"

Kolektor terakhir dalam daftar itu adalah Surya, Presiden Komisaris Nagasoka Grup, ayah Ulupi, mantan kekasihnya semasa SMA. Seperti yang diduga, Surya juga tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Pengetahuannya tentang benda antik sangat terbatas.

"Aku harus mencari ke mana lagi untuk menemukan pemilik kujang ini?" gumam Arjuna dalam hati. "Mungkinkah ayahku berasal dari negeri seberang?"

Arjuna tak bisa berterus terang kepada siapa pun. Ia sudah terbiasa mendapatkan rasa hormat dari lingkungan sosialnya. Jika sampai diketahui bahwa kujang emas itu adalah satu-satunya jejak dari cinta satu malam, yang bisa dianggap sebagai "bayaran" tak langsung, maka nama baiknya dan ibunya akan hancur. Bahkan, rencana untuk mencari pasangan hidup dari keluarga terhormat akan kandas sebelum dimulai.

Ulupi, yang menemani Arjuna saat itu, hanya tersenyum mendengar kebingungannya. "Mungkin saja kujang ini bukan milik orang yang hilang, melainkan hadiah. Aku kira ada pengagum rahasia yang sengaja memberikannya diam-diam sebagai kado ulang tahun. Ia ingin membuatmu penasaran dan terus memikirkannya."

Arjuna hanya mengangguk tanpa semangat. Ia enggan melanjutkan pembicaraan soal pengagum rahasia, itu hanya cerita receh yang tak akan menyelesaikan masalah. Tapi satu hal yang semakin jelas; ayahnya bukan orang biasa. Ia memiliki akses, kekayaan, dan wawasan yang melampaui kebanyakan orang.

Tiba-tiba Ulupi teringat sesuatu. "Oh ya, kau masih ingat Lesmana? Teman sekelas kita dulu?"

Arjuna mengernyitkan dahi mencoba mengingat. "Lesmana? Anak yang sering jadi bahan bullying karena katanya bisa berhubungan dengan makhluk halus itu?"

"Ya," jawab Ulupi antusias. "Sejak SMA, hobinya memburu hal-hal gaib. Sekarang dia jadi cenayang yang sangat populer, punya jutaan pengikut di media sosial. Banyak orang penting yang datang minta bantuan. Barangkali dia bisa melihat sesuatu dari benda itu lewat penerawangannya."

Di sekolah internasional tempat mereka belajar, Lesmana selalu terasing. Wajahnya yang agak pucat dan sorot matanya yang aneh sering dikatakan mirip penampakan, membuatnya sering dijadikan sasaran olok-olokan mereka.

Jika itu satu-satunya jalan yang tersisa, Arjuna tak punya pilihan lain.

"Kapan kau ada waktu untuk mengantarku ke rumahnya?" tanya Arjuna segera.

"Aku punya alamatnya," jawab Ulupi agak ragu. "Aku tidak bisa mengantar, ada agenda penting siang ini yang tidak bisa diubah."

Arjuna menatapnya dengan pandangan mengejek. "Sepenting apa jadwalmu sampai tidak sempat menolong aku? Bukankah acara dengan circle bestie bisa diatur ulang?"

Ia tahu alasan sebenarnya. Dari sorot matanya, masih terlihat sisa-sisa masa lalu yang belum hilang. Mereka pernah menjalin cinta selama tiga bulan, cinta yang labil, mudah terbawa suasana, dan cepat pudar.

Sekarang mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Arjuna akan segera melangsungkan pertunangan dengan Citra. Namun, Ulupi tampak khawatir jika kebersamaan mereka akan membangkitkan kembali kenangan lama.

"Aku hanya ingin menjaga perasaan calon istrimu," kata Ulupi pelan saat mereka akhirnya tetap berangkat bersama. "Meskipun calon suamiku sendiri tidak keberatan."

"Tenang saja, Citra bukan tipe perempuan posesif," sahut Arjuna santai. "Jadi aku bebas pergi ke mana saja dan dengan siapa saja."

"Bahkan pergi bersama mantan SMA?" tanya Ulupi sambil melirik sekilas.

Arjuna tersenyum samar, pandangannya lurus ke jalan raya yang makin sepi. "Kamu terlalu indah untuk disebut mantan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 104. Peristiwa Berdarah di Restoran Penginapan

    Suasana di restoran mewah itu jadi kacau balau, seolah gempa baru saja melanda. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit bergoyang hebat. Meja-meja kayu jati terbalik, kursi-kursi patah, piring dan gelas keramik berjatuhan, pecah berserakan di lantai. Pertarungan berlangsung seru dan sengit. Puluhan pendekar golongan hitam menyerang silih berganti; golok, keris beracun, pedang pendek, hingga trisula kecil berseliweran di udara. Citrangada dan kawan-kawan bergerak lincah menangkis, menghindar, dan membalas dengan tendangan dan pukulan. Korban berjatuhan dari pihak lawan.“Maju kalian semua kalau ingin nyawa melayang!” seru Larasati lantang sambil menepis sebilah belati yang melayang ke arahnya. “Kalian memaksa terjadi pertumpahan darah!”“Kalian sudah mengganggu ketenangan kami!” bentak seorang pendekar sambil menebas ke arah Lasmini. “Siapa pun yang menolak keinginan kami, harus membayarnya dengan nyawa!”"Kematian adalah hukuman yang pantas!" teriak Dara Hiti sambil mengirim

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 103. Keributan di Restoran Penginapan

    Begitu mereka melangkah masuk, suasana di dalam restoran mendadak hening. Langkah mereka terdengar berirama menyentuh lantai kayu. Cahaya lampu kristal yang digantung di tiang-tiang kayu memancarkan cahaya kuning redup, menyapu wajah yang menoleh serentak ke arah mereka. Ada yang heran, ada yang menilai dari atas ke bawah, dan tak sedikit yang melotot penuh nafsu. "Pura-pura tidak tahu saja," bisik Citrangada. "Sepertinya mereka belum pernah melihat perempuan cantik." Kehadiran tujuh perempuan yang berpenampilan anggun itu menjadi pusat perhatian pendekar yang sedang makan malam. Mereka bagai bunga yang mekar di tengah rimbunnya semak berduri. Satu pun tak ada yang memperhatikan Yang Luchan dan Bajang yang berjalan di belakang. Pikiran kotor mereka seketika terpicu. Mereka biasa hidup dengan kekuatan, kehadiran wanita-wanita asing yang tampak gemulai itu adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan, tak peduli klan bangsawan atau rakyat jelata. Seorang pendekar berambut kusut ya

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 102. Rencana Serangan Besar

    Suasana restoran di penginapan itu terlihat berbeda dari hari-hari biasa. Lampu kristal yang digantung di tiang kayu memancarkan cahaya kuning redup, sudut ruangan sebagian tertutup bayangan gelap yang menambah kesan mencekam. Udara malam yang masuk lewat jendela besar bercampur bau masakan, asap lampu, dan senjata yang tak sepenuhnya tersembunyi di balik pakaian para tamu—menciptakan ketegangan. Beberapa pelayan laki-laki melangkah dengan napas tertahan. Nampan di tangannya bergetar pelan setiap kali menaruh hidangan makan malam di atas meja. Tak ada yang peduli. Semua asyik bercakap dengan temannya. Hampir semua meja terisi penuh. Tak ada canda atau tawa. Mereka tampak serius dan hati-hati, bersuara pelan, seolah takut terdengar oleh telinga di meja sebelah. Padahal semua tamu yang ada dari kalangan mereka sendiri. Di meja paling ujung, sedikit terpisah dari keramaian, duduk Bairawa bersama empat wakilnya. Sebagai ketua golongan hitam, penampilannya paling menonjol, penuh wibaw

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 101. RAHASIA DI BALIK PENGINAPAN MEWAH

    Rombongan Citrangada tiba di penginapan yang berdiri megah tidak jauh dari pantai. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang berkilau halus, tiang-tiang besarnya diukir rumit dengan motif naga dan bunga yang melingkar naik, atapnya berlapis genteng tanah liat berwarna merah coklat yang tersusun rapi. Di halaman tumbuh beberapa pohon besar yang rindang, serta tanaman hias berwarna-warni di dalam pot batu berukir. Di samping halaman utama terdapat kandang kuda yang luas dan bersih, serta tempat memandikan kuda yang dilapisi batu bata. Angin laut yang sejuk berhembus melewati pilar-pilar besar, membawa aroma bunga melati yang ditanam di sepanjang pagar. Dari luar, penginapan itu tampak tenang, indah, dan penuh kemewahan—hanya dikunjungi oleh orang-orang kaya yang datang untuk menikmati ketenangan tepi pantai. "Penginapan yang sangat bagus," komentar Lasmini sambil mendongak memandangi bangunan itu. "Siapa sangka aku bisa bermalam di tempat semegah ini." Namun begitu mereka melewa

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 100. Kota yang Terlalu Tenang

    Setelah menempuh perjalanan hampir tiga hari penuh melewati jalan berkelok di kaki bukit, menyusuri tepi hutan yang rimbun, serta melintasi beberapa desa kecil yang penduduknya tampak lebih banyak diam dan saling mengamati, rombongan Citrangada akhirnya tiba di Batu Layang. Kota pesisir itu terbentang luas di antara perbukitan rendah yang hijau sepanjang musim dan garis pantai yang memanjang mengikuti lekukan teluk yang tenang. Tanah berpasir halus bercampur tanah lempung yang kokoh, sehingga jalan utama tetap bersih dan tidak becek meskipun turun hujan. Tampak deretan rumah warga yang dibangun rapi, atap-atapnya dari daun rumbia dan sebagian dari genteng tanah liat, pasar yang ramai pengunjung, serta puluhan perahu nelayan dengan layar tergulung rapi bersandar di tepi pantai yang jernih hingga terlihat bayangan karang di dasarnya. “Tujuan utama kita datang ke sini untuk melancong, melepas penat setelah sekian lama disibukkan berbagai ur

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 99. Jalan yang Dipilih Hati

    Mereka tiba di sebuah dataran kecil yang dilindungi oleh tiga pohon raksasa yang sudah ratusan tahun usianya. Batangnya begitu besar hingga butuh beberapa orang bergandengan tangan untuk melingkarinya. Dahan saling menyilang membentuk atap alami yang meneduhkan sepanjang hari. Tempat ini jarang dilewati manusia maupun hewan buas. Suara alam kembali terdengar. Gemerisik daun tertiup angin, kicau burung pulang ke sarang, gemericik air sungai terdengar samar di kejauhan. Menenangkan makhluk yang baru tiba. Arjuna duduk bersandar pada batang pohon. Ia mengusap wajahnya membersihkan sisa-sisa pikiran yang sempat berantakan karena peristiwa yang baru saja terjadi. Kong berdiri memandang ke arah jalan yang mereka lalui, seolah pikirannya masih tertinggal di belakang. Sorot matanya yang biasanya bercahaya kini berawan. "Sudahlah," tegur Arjuna lembut. "Katanya Srikandi Perang Kesembilan bukan seleramu, nyatanya kau seperti mengharapkan dia bisa

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 47. Tabir Gelap Mulai Terungkap

    "Entahlah." Resi Kamandalu menghela nafas seolah ingin menghalau misteri yang menggantung di kepalanya. "Aku tidak kenal siapa ayahmu. Jadi aku tidak tahu suara tanpa wujud itu milik siapa." Arjuna termenung. Bagaimana kalau suara itu adalah suara ayahnya? Ia ingin menyelamatkan putranya yang t

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 35. Kakek Misterius

    "Ada orang datang." Arjuna berbisik kepada Citrangada yang tengah menikmati kelinci bakar. Tampak seorang kakek berpakaian resi berjalan sambil menengok kanan kiri seperti mencari sesuatu. Kakek itu berjalan dengan berkelebat, sehingga dalam sekejap saja sudah berada di sekitar mereka. "Ia s

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 33. Calon Istri Dambaan Setiap Pria

    Mereka menempuh perjalanan sudah bermil-mil, namun belum menemukan perkampungan. Sejauh mata memandang, pemandangan yang terlihat hanyalah pepohonan dan semak belukar. Mereka senang saat menjumpai sungai kecil dengan air sangat jernih, mengalir bergemericik di sela bebatuan. "Air ini dapat menyam

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 32. Menikmati Perjalanan

    Mereka bangun saat mendengar suara berisik di tepi danau. Tampak harimau dan buaya bertarung antara hidup dan mati. Harimau kabur setelah mendapat banyak luka. Perut buaya tercabik sehingga ususnya terburai. Ia hampir jadi korban raja rimba kalau temannya tidak datang membantu. "Hari sudah siang,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status