Compartir

Part 3. Tidak Terusik

Autor: Loyce
last update Última actualización: 2026-02-05 13:19:13

“Ada masalah?”

Jingga mengulangi pertanyaan itu sambil menatap Sagara dengan tajam. Sedangkan Sagara sama sekali tak peduli dengan keberadaan Jingga ketika duduk di kursi makan. Tampak begitu alami, Sachi menuangkan air lemon ke cangkir dan mendekatkan ke arah Sagara.

Dia bilang, “Air lemon, akan meningkatkan daya tubuh kamu.” Diakhiri dengan senyum lembut.

“Terima kasih.” Sagara balas tersenyum menatap Sachi.

Pemandangan itu sungguh menyakitkan. Meskipun Jingga tidak mencintai Sagara, perlakukan Sagara tentu saja melukai hati istrinya. Jadi inilah yang dimaksud Sagara menciptakan neraka baginya? Memunculkan perempuan lain di dalam rumah tangganya? Jingga merasa ini benar-benar tidak masuk akal. Sagara ternyata sebrengsek itu.

Tetap berdiri di tempatnya, Jingga merasa hatinya dialiri oleh lahar panas yang tidak bisa dipadamkan. Tapi, jika dia memberontak dan mencaci maki Sagara, itu hanya akan membuatnya terlihat lemah di mata Sagara.

“Jingga!” Panggilan itu menyadarkan lamunan Jingga. “Ayo sarapan. Aku sudah membuatkan bubur untuk sarapan kita pagi ini.” Sachi sudah duduk tepat di depan Sagara. Tatapannya mengarah pada Jingga. Perempuan itu bertingkah seolah dia adalah tuan rumah di sana.

‘Ini baru awal, Jingga. Tahan dan buktikan kepada Sagara jika kamu bukanlah perempuan yang leah.’ Batin Jingga menyemangati dirinya sendiri.

Maka dia tersenyum kecil. “Kalian saja. Aku harus bersiap-siap berangkat ke kantor.”

“Tapi ini masih pagi. Kamu masih punya banyak waktu untuk sekedar sarapan.” Sachi menunjukkan kekecewaannya terhadap penolakan Jingga. “Atau, kamu memang tidak suka aku berada di sini?”

Wajah itu sungguh menyebalkan. Kepura-puraan yang ditunjukkan oleh Sachi mungkin bisa mengelabuhi Sagara, tapi tentu saja tidak untuk Jingga. Dia lebih dari tahu jika wajah manis itu mengandung racun yang begitu mematikan. Jingga tentu tak ingin terjebak, oleh karena itu dia harus berhati-hati.

Dan Sagara bereaksi melihat wajah kecewa yang ditunjukkan oleh Sachi. Lelaki itu menatap tajam Jingga ketika dia berbicara dengan dingin.

“Ada orang yang berbuat baik kepadamu, tidak bisakah kamu menerimanya dengan baik dan berterima kasih? Jangan membuat masalah.”

“Masalah seperti apa yang aku buat? Aku pikir aku hanya menolak dengan wajar.”

“Sachi bangun pagi untuk membuatkan sarapan untuk kita. Dia melakukan kebaikan, tidak seharusnya kamu mengecewakannya.”

“Tidak ada keharusan untukku membahagiakan semua orang.”

Melihat bagaimana Sagara begitu membela Sachi, kemungkinan besar jika perempuan itu memang adalah kekasih Sagara. Jingga mati-matian menahan agar dirinya tidak bertanya tentang hubungan mereka karena dia tak ingin dianggap mencampuri urusan Sagara.

“Sagara, aku nggak papa.” Sachi akhirnya buka suara. “Aku tahu Jingga pasti tidak nyaman dengan keberadaanku di sini.”

Dalam pandangan Jingga, Sachi sepertinya adalah perempuan yang ahli memanipulasi. Terbukti bagaimana dia terus mempertahakan dirinya yang tampak lemah dan baik hati di depan Sagara.

“Jingga aku minta maaf karena aku menginap di sini. Aku tidak bermaksud ….”

“Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun kepadanya.” Sagara memotong ucapan Sachi.

“Tapi ini salah, Ga. Aku menginap di rumah ini tanpa izin dari istri kamu. Dan kita bahkan ….”

“Yang menentukan salah dan benar adalah aku di rumah ini. Jadi berhentilah menyalahkan diri kamu sendiri.”

Jingga semakin merasakan sakit luar biasa di dalam hatinya. Dua orang yang ada di depannya ini sungguh memancing emosinya. Yang menjadi pertanyaan Jingga di dalam hatinya adalah apakah mereka semalam berada di kamar yang sama dan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya?

Tapi, apalagi yang dilakukan oleh dua orang dewasa di tempat yang sama dan keduanya bahkan saling menyukai. Jujur, Jingga kecewa kalau Sagara melakukan itu.

“Kalau kamu memang tidak ingin sarapan, maka pergilah. Jangan buat aku muak dengan wajahmu yang menjengkelkan itu.”

“Ga ….”

“Kita makan sekarang, Sachi.”

Jingga tidak buta ketika melihat sudut bibir Sachi mengurva membetuk seringaian. Perempuan itu duduk di tempatnya semula sebelum memegang sendoknya. Jingga segera pergi dari tempat itu dan dengan samar dia mendengar Sachi berbicara kepada Sagara.

“Apa aku membuatkan bekal Jingga, Ga?”

“Nggak perlu. Kamu bisa membawanya pulang nanti.”

Jingga melangkah panjang-panjang menaiki tangga dan segera masuk ke dalam kamar sebelum menutup dan mengunci pintu kamarnya. Jantungnya hampir meledak melihat adegan menjijikkan beberapa waktu lalu. Jingga terduduk di pinggiran kasur dengan tangan meremas bantal dengan kuat. Dia merasa selalu tidak beruntung dalam hal menjalin hubungan asmara.

Keinginannya dulu saat harus menikah dengan Sagara adalah membuka lembaran baru dengan sebuah kedamaian. Tak masalah kalau mereka mengawali pernikahan itu tanpa cinta. Tapi pelan-pelan mereka bisa mencoba. Sayangnya, semua pikiran itu seolah lenyap melihat Sagara adalah lelaki brengsek.

‘Lalu kamu akan kalah hanya dengan itu?’ batinnya bertanya.

“Kalah?” Jingga bergumam pelan. “Aku tidak akan membiarkan diriku dikalahkan oleh orang-orang seperti itu. Kalaupun harus mati berdarah-darah, aku tidak akan membiarkan mereka menang.”

Ini baru permulaan. Jingga tidak akan mudah dipukul mundur. Tidak akan pernah. Merasa perasaannya lebih baik, dia segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Kembali turun ke lantai satu dan dia tidak menemukan pasangan itu di sana. Mungkin mereka sudah pergi, begitulah Jingga menebak.

Sayangnya dia salah. Sagara dan Sachi justru masih berada di depan rumah. Sachi dengan mesra memeluk lengan Sagara, dan saling tertawa-tawa. Mendengar suara langkah kaki, Sachi menoleh dan segera melepaskan tangannya.

“Jingga. Maaf, kamu jangan salah paham. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan.” Wajah Sachi tampak panik yang Jingga tahu itu hanya drama yang dibuat-buat.

Jingga tersenyum kecil. “Lanjutkan saja. Dilihat-lihat, kalian memang cukup serasi.”

Jingga berdiri dengan tegak dan tampak sangat anggun dengan pakaian kerjanya. Atasan berwana coklat, celana panjang berwarna hitam, dan sepatu bertumit runcing berwarna hitam. Tas tangannya ditenteng di tangan kanannya. Semua yang dikenakana meneriakkan kemewahan.

Sagara tampak tidak tertarik dengan Jingga dan memilih menatap ke mana saja asalkan bukan pada istrinya.

“Jingga. Sekali lagi aku minta maaf karena semalam aku menginap di sini. Aku semalam sangat kelelahan. Dan tidak ada yang bisa mengantarkanku pulang. Sagara memintaku untuk menginap.”

Alasan itu terdengar sangat tidak masuk akal. Zaman sekarang tidak ada yang tidak bisa dilakukan dengan sebuah ponsel. Transportasi online pun sudah membeludak. Tapi, itu hanya akal-akalan saja agar mereka bisa tidur bersama.

“Santai saja.” Jingga menjawab ringan. “Aku nggak keberatan. Kamu tahu? Keberadaanmu sangat membantuku.”

Sachi tampak bingung dengan jawaban Jingga. Bukan hanya itu, Sagara pun menoleh menatap Jingga dengan kening berkerut. Seolah ikut menunggu kalimat apa yang akan diucapkaan oleh Jingga selanjutnya.

“Karena kamu, aku nggak perlu repot-repot mengurus beban bernama suami. Kamu bisa masak untuknya, mengurusnya, bahkan kamu bisa menemaninya di malam hari.” Jingga semakin tersenyum lebar. “Haruskah aku berterima kasih kepadamu?”

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 10. Perbandingan Tak Sebanding

    “Kamu yakin akan melakukannya sekarang?” Jingga meyakinkan sekali lagi. “Ada konsekuensi yang harus kamu ingat, Sagara. Kalau aku hamil, itu artinya kamu tidak akan mendapatkan kebebasanmu karena aku tidak akan membiarkanmu luput dari pengawasanku.” Tangan Jingga dingin luar biasa. Sedikit bergetar ketika terangkat untuk menelusupkan jari-jari di rambut Sagara.Dia merasakan surai halus lelaki itu. Jantungnya semakin bertalu keras, tetapi bukan saatnya untuk mundur. Mepertahankan kewarasannya agar tidak meledak dalam amarah. Sejujurnya dia merasa jijik dengan sentuhan Sagara, entah sudah berapa perempuan yang pernah tidur dengannya. Namun, dengan mundur sekarang, itu hanya akan membuat Sagara merasa kalau istrinya adalah perempuan yang lemah. Jingga tidak akan membiarkan Sagara berpikiran sejauh itu.Kebisuan yang ditunjukkan oleh Sagara adalah bukti jika lelaki itu sebenarnya tidak benar-benar menginginkannya. Sagara hanya ingin menakut-nakuti Jingga.“Ayo kita lakukan kalau memang i

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 9. Kamu Istriku, ‘Kan?

    Deringan ponsel Jingga menahan Sachi yang ingin bicara. Jingga menoleh ke arah Sagara karena ponselnya dibawa oleh lelaki itu. Sachi juga menoleh pada Sagara dengan kening mengernyit ketika Sagara dengan santainya menarik ponsel pintar itu dari sakunya, membaca nama yang tertera di sana, dan tanpa izin dia menerima panggilan dengan tatapan lurus pada Jingga.“Halo!” Sagara mendengar Luna bersuara di seberang sana dengan tenang. “Saya akan beritahu Jingga nanti, hem, oke. Terima kasih!”Sambungan telepon terputus. Seringaian Sagara terlihat di bibirnya. Ponsel yang ada di tangannya digoyang-goyangkan seolah dia tengah mengejek Jingga. Bahkan tanpa memdulikan Sachi yang ada di sana, dia lebih memilih berbicara dengan Jingga.“HP ini aku sita. Kamu, tidak akan bisa ke mana-mana tanpa izin dariku.” Begitu katanya dengan nada mengejek. Sepertinya ada rasa takut yang dirasakan oleh Sagara kalau-kalau ibunya tiba-tiba datang dan mencari keberadaan Jingga, sehingga dia harus mengancam perempu

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 8. Tak Beretika

    “Merepotkan orang lain?” Jingga mengernyit mendengar ucapan Sagara. “Orang mana yang aku repotkan?” tantang Jingga dengan berani, menuntut jawaban dari sang suami. Sagara menatap Jingga dengan tatapan berapi-api. Emosi yang ditahannya seolah ingin meledak menghanguskan perempuan itu. Tidak bisa dipungkiri, Sagara selalu merasa kesal ketika berhadapan dengan sang istri. Ekspresi datarnya, kebiasaan membalikkan ucapannya, dan yang paling penting adalah keberanian Jingga menghadapi Sagara, membuat Sagara seolah diinjak-injak.Mereka masih berada di basement mal. Sagara sepertinya tidak berniat untuk menjalankan mobilnya sama sekali. Menoleh ke belakang, Jingga masih bisa melihat Luna dan Alex berdiri di tempatnya semula belum beranjak sedikit pun. Kedua orang itu menatap ke arah mobil Sagara dengan tatapan aneh.“Kenapa diam?” Bungkamnya Sagara, membuat Jingga berinisiatif untuk kembali bertanya. “Kalau kamu hanya ingin bertanya tentang sesuatu hal yang tidak berguna, aku akan keluar s

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 7. Akting

    “Bagaimana rasanya menikah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna – sahabat Jingga.Alih-alih bertemu di mal, Luna meminta Jingga agar dijemput di butik miliknya. Dia malas menyetir dan tidak mau keluar uang untuk naik kendaraan umum. Sangat budiman sekali sahabat Jingga satu ini. Kini Jingga yang menyetir dan mobil mereka sudah membelah kota Jakarta.“Not bad,” jawaban itu cukup aman untuk dikeluarkan. Dia tak mungkin membeberkan fakta sebenarnya tentang kehidupan rumah tangganya kepada Luna meskipun Luna adalah sahabat baiknya. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di sekolah menengah atas dan bertahan sampai saat ini. Mereka sama-sama melewati masa remajanya di luar negeri, namun Luna memilih kembali setelah lulus kuliah. Selama ini, mereka selalu bercerita tentang apa pun. Tapi jika itu menyangkut rumah tangga, Jingga tak akan sembarangan membeberkan kepada siapapun. Termasuk orang tuanya. Karena urusan rumah tangga adalah ranah pribadinya. “Gue kira, lo adalah perempuan yang

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 6. Aku dan Sakitku

    “Tentu kamu boleh mencobanya, Jingga. Tapi seperti yang aku bilang. Kamu harus bersiap untuk terluka dan kecewa.”Kata-kata itu memenuhi pikiran Jingga sampai pagi menjelang dan dia sudah berada di dalam kantornya. Dia menyadari kalau jalannya tidak akan mudah, tapi apakah akan sesulit itu? Benar, bahkan Sagara sendiri juga sudah memeringatkan. Seharian ini, Jingga benar-benar tidak begitu bisa berkonsentrasi bekerja. Tidak ada hal bisa dia lakukan.Pulang kerja, dia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Dia berjanji akan pergi ke sana dan masih belum ada waktu untuk menepatinya.“Aku ikut Papa pulang ya. Biarin aja mobilnya di kantor.”Masuk ke dalam ruangan sang ayah, Jingga meminta izn. Ayah Jingga yang bersiap pulang itu mendongak, kemudian tersenyum.“Boleh. Tapi kamu udah bilang sama suami kamu? Kenapa nggak sekalian ajak dia aja?”Jingga mahir sekali menutupi perasaan kacau yang dirasakan. Menunjukkan senyumnya dia mendekat ke arah sang ayah. “Sagara itu banyak kerjaan, Pa. D

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 5. Saling Memeringatkan

    “Ada apa?” Belum juga Jingga menjawab ucapan Sachi, Sagara sudah pulang. Lelaki itu dengan otomatis berdiri di samping Sachi dan menghadap pada Jingga.“Nggak ada apa-apa. Jingga bertanya kenapa aku ada di sini.” Sachi menjawab pertanyaan Sagara.Lelaki itu masih terus menatap Jingga dengan tatapan dingin. “Kenapa kalau dia ada di sini, aku sudah mengizinkannya.” Sagara mengonfirmasi secara langsung tanpa peduli perasaan Jingga sedikitpun.Merasa lelah, Jingga akhirnya mengalah. Dia tak ingin mengeluarkan suaranya untuk bertengkar dengan sang suami. Pergi begitu saja dari hadapan Sagara dan Sachi, Jingga naik ke lantai dua. Menghadapi mereka juga membutuhkan banyak tenaga dua kali lipat. Jingga butuh istirahat.Masuk ke dalam kamarnya, perempuan itu segera mendaratkan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup matanya rapat dan segera saja, alam mimpi menguasainya. Dia tertidur hanya dengan hitungan menit. Mengesampingkan terlebih dulu segala masalah yang menimpanya. Karena setelah dia membuka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status