Share

Part 6. Aku dan Sakitku

Penulis: Loyce
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-20 17:47:41

“Tentu kamu boleh mencobanya, Jingga. Tapi seperti yang aku bilang. Kamu harus bersiap untuk terluka dan kecewa.”

Kata-kata itu memenuhi pikiran Jingga sampai pagi menjelang dan dia sudah berada di dalam kantornya. Dia menyadari kalau jalannya tidak akan mudah, tapi apakah akan sesulit itu? Benar, bahkan Sagara sendiri juga sudah memeringatkan. Seharian ini, Jingga benar-benar tidak begitu bisa berkonsentrasi bekerja. Tidak ada hal bisa dia lakukan.

Pulang kerja, dia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Dia berjanji akan pergi ke sana dan masih belum ada waktu untuk menepatinya.

“Aku ikut Papa pulang ya. Biarin aja mobilnya di kantor.”

Masuk ke dalam ruangan sang ayah, Jingga meminta izn. Ayah Jingga yang bersiap pulang itu mendongak, kemudian tersenyum.

“Boleh. Tapi kamu udah bilang sama suami kamu? Kenapa nggak sekalian ajak dia aja?”

Jingga mahir sekali menutupi perasaan kacau yang dirasakan. Menunjukkan senyumnya dia mendekat ke arah sang ayah. “Sagara itu banyak kerjaan, Pa. Dia juga sering lembur. Kalau nunggu jadwal free dia, aku nggak bakalan ketemu Mama.”

Pak Rama – ayah Jingga – tersenyum kecil mengacak rambut putri satu-satunya itu. “Ya sudah, kita pulang sekarang.”

Jingga merasa lega. Dia akan menginap di sana setidaknya dia tak harus berada di satu atap dengan orang-orang yang menjijikkan. Dia tidak sedang melarikan diri dari masalah, tapi dia juga membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Lagi pula, Sagara tidak akan mencari dirinya. Lelaki itu jsutru akan merasa senang karena Jingga tidak tampak di matanya.

Dalam perjalanan pulang, obrolan random tercipta antara ayah dan anak itu. Jingga rindu hari-hari seperti ini. Rindu di mana dia memiliki banyak waktu untuk orang tuanya. Tapi sejak menikah, semua hal itu otomatis menjadi terbata. Sedih tentu saja, tapi mau bagaimana lagi, waktu harus terus berjalan dan cepat atau lambat ini akan terjadi.

“Sagara itu beda dari dua saudara kembarnya, Jingga. Dia agak nyentrik.”

“Kata-kata apa itu. Nyentrik? Nyentrik apanya?”

Pak Rama terkekeh mendengar protesan dari sang putri. Bibirnya bahkan sedikit cemberut karena tak terima Pak Rama memuji Sagara. “Ya intinya dia itu beda sendiri dari Samudra dan Semesta. Dia sedikit lebih tidak terkendali. Mertuamu sendiri yang bilang.”

Karena obrolan itu dimulai, maka Jingga memilih untuk mencari tahu. “Kalau Papa tahu Sagara tidak sebaik itu, kenapa justru Papa menjodohkan aku dengannya?” Jingga memilih memiringkan tubuhnya untuk menatap sang ayah yang ada di samping kirinya. “Papa nggak takut kalau dia akan menyakiti aku? Terlebih lagi, aku dan dia juga nggak pernah ketemu.”

Aneh memang. Orang tua Sagara dan Jingga dulu berteman baik. Bersahabat malah. Namun tidak sekalipun anak-anaknya pernah bertemu. Mungkin pernah saat sama-sama kecil. Karena Jingga sejak dulu sekolah di luar negeri. Sejak dia lulus SD.

“Sagara sebenarnya nggak seburuk yang orang lain kira. Dia santun, terlahir dari keluarga baik-baik, dan bagi kami para orang tua, kalian berdua cocok.”

Dan salah Jingga juga karena dia dengan bodohnya tidak menolak perjodohan itu. Sibuk dengan perasaannya sendiri karena ditinggalkan sang kekasih.

Jingga tak lagi mendebat ayahnya. Dia selalu percaya kalau orang tuanya tidak akan mencarikan pendamping yang buruk untuk anaknya. Jadi sekarang, bukankah lebih baik agar dia menjalani saja sejauh apa dia bisa menjalaninya. Jujur saja, Jingga ingin bertanya tentang hal buruk yang barangkali akan terjadi kepada dirinya dan Sagara suatu hari nanti. Tapi dia mengurungkannya.

Rumahnya sudah terlihat dan mobil hitam yang ditumpanginya masuk ke dalam halaman rumah menuju carport. Jingga keluar sedikit terburu-buru dan masuk ke dalam rumah mengejutkan ibunya.

“Ow, putri Mama.” Itu suara ibunya yang terdengar semangat. Senyumnya lebar sekali. Perempuan paruh baya itu segera memberikan pelukan kepada putri semata wayangnya itu dengan lembut. “Kamu sama Papa?”

Pelukan mereka sudah terurai dan ayah Jingga juga sudah masuk ke dalam rumah. Tidak ada tanda-tanda Sagara ada bersama mereka.

“Iya, aku nginap sini, Ma.”

“Lho, tadi nggak bilang sama Papa mau nginap?” Sang ayah yang sudah duduk di sofa ruang keluarga itu protes.

“Aku kan udah bilang sama Sagara. Lagian dia juga udah bilang iya. Kenapa nggak diajak dianya. Besok lagian kan malam minggu.”

Jingga lagi-lagi memakai topengnya agar terlihat baik-baik saja. “Mama ini kayak nggak tahu aja. Sagara itu kerjaannya banyak. Aku nggak mau ganggu dia. Dia sebenarnya juga bilang kalau mau nemeni aku, tapi gimana lagi dia nggak bisa.”

Jingga mengedikkan bahunya tak acuh seolah dia mengatakan sebuah kebenaran. Aktingnya benar-benar luar biasa. Dengan begitu, tidak ada dari kedua orang tuanya yang menyadari kebohongan Jingga.

“Kasihan banget sih menantu Mama. Kamu harus baik-baik sama dia ya, Jingga. Perhatikan makannya dan kesehatannya. Itu kewajibanmu sebagai seorang istri.”

Jingga hanya mengangkat jempolnya tanda setuju. Ekspresinya sungguh tidak terlihat kalau dia sebenarnya menahan luka yang dalam. Tapi demi membuat orang tuanya bahagia, dia mampu menahan rasa luka itu. Pamit ke lantai atas, Jingga memilih mendekam di kamarnya dan menguncinya.

Membaringkan tubuhnya di atas ranjang kamarnya, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Pikirannya terlalu berisik tapi dia tak ingin memedulikannya. Maka dia menutup matanya sebelum mengingat seseorang. Luna. Dia juga lupa kalau dia akan bertemu dengan gadis itu.

Bangun dari kasur, dia segera merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Menghubungi Luna sampai deringan ketiga barulah diangkat.

“Sorry. Gue lupa mau ketemu sama lo.” Jingga buru-buru meminta maaf. Ada dengusan yang dikeluarkan oleh Luna di seberang sana.

“Mentang-mentang udah nikah, malas ketemu sahabat.” Terdengar kesal.

“Besok gue datang. Kita ke mal. Gimana?”

“Ditraktir?”

Jingga menarik napas panjang. Sudah hapal dengan kebiasaan Luna. “Oke, apa pun yang lo mau.”

Maka lenyaplah kemarahan yang ada di dalam hati Luna. Gadis itu terdengar tertawa dan melanjutkan obrolan. Jingga memilih mendengarkan dan tidak begitu banyak bicara. Karena nyatanya, pikirannya tidak benar-benar fokus pada ucapan Luna. Telepon diakhiri tak lama setelah itu. Keheningan di dalam kamarnya kembali.

Jingga beranjak dan berjalan menuju meja belajarnya. Kamar itu masih sama dan tidak ada yang berubah. Menarik buku yang ada di lemari tepat di sampingnya secara acak. Itu sebuah novel yang dibelikan oleh mantan kekasihnya. Membukanya, dia mendapati sebuah foto di sana yang meremas hatinya. Foto itu diambil di depan kampus setelah mereka baru saja pacaran.

Tersenyum ke arah kamera seolah tanpa beban. Lelaki itu merangkut pundak Jingga dengan penuh sayang.

Jingga meringis nyeri. “Sekarang kamu mungkin juga sudah bahagia,” gumamnya, “tapi aku masih di tempatku dengan rasa sakit yang semakin bertambah.”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 10. Perbandingan Tak Sebanding

    “Kamu yakin akan melakukannya sekarang?” Jingga meyakinkan sekali lagi. “Ada konsekuensi yang harus kamu ingat, Sagara. Kalau aku hamil, itu artinya kamu tidak akan mendapatkan kebebasanmu karena aku tidak akan membiarkanmu luput dari pengawasanku.” Tangan Jingga dingin luar biasa. Sedikit bergetar ketika terangkat untuk menelusupkan jari-jari di rambut Sagara.Dia merasakan surai halus lelaki itu. Jantungnya semakin bertalu keras, tetapi bukan saatnya untuk mundur. Mepertahankan kewarasannya agar tidak meledak dalam amarah. Sejujurnya dia merasa jijik dengan sentuhan Sagara, entah sudah berapa perempuan yang pernah tidur dengannya. Namun, dengan mundur sekarang, itu hanya akan membuat Sagara merasa kalau istrinya adalah perempuan yang lemah. Jingga tidak akan membiarkan Sagara berpikiran sejauh itu.Kebisuan yang ditunjukkan oleh Sagara adalah bukti jika lelaki itu sebenarnya tidak benar-benar menginginkannya. Sagara hanya ingin menakut-nakuti Jingga.“Ayo kita lakukan kalau memang i

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 9. Kamu Istriku, ‘Kan?

    Deringan ponsel Jingga menahan Sachi yang ingin bicara. Jingga menoleh ke arah Sagara karena ponselnya dibawa oleh lelaki itu. Sachi juga menoleh pada Sagara dengan kening mengernyit ketika Sagara dengan santainya menarik ponsel pintar itu dari sakunya, membaca nama yang tertera di sana, dan tanpa izin dia menerima panggilan dengan tatapan lurus pada Jingga.“Halo!” Sagara mendengar Luna bersuara di seberang sana dengan tenang. “Saya akan beritahu Jingga nanti, hem, oke. Terima kasih!”Sambungan telepon terputus. Seringaian Sagara terlihat di bibirnya. Ponsel yang ada di tangannya digoyang-goyangkan seolah dia tengah mengejek Jingga. Bahkan tanpa memdulikan Sachi yang ada di sana, dia lebih memilih berbicara dengan Jingga.“HP ini aku sita. Kamu, tidak akan bisa ke mana-mana tanpa izin dariku.” Begitu katanya dengan nada mengejek. Sepertinya ada rasa takut yang dirasakan oleh Sagara kalau-kalau ibunya tiba-tiba datang dan mencari keberadaan Jingga, sehingga dia harus mengancam perempu

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 8. Tak Beretika

    “Merepotkan orang lain?” Jingga mengernyit mendengar ucapan Sagara. “Orang mana yang aku repotkan?” tantang Jingga dengan berani, menuntut jawaban dari sang suami. Sagara menatap Jingga dengan tatapan berapi-api. Emosi yang ditahannya seolah ingin meledak menghanguskan perempuan itu. Tidak bisa dipungkiri, Sagara selalu merasa kesal ketika berhadapan dengan sang istri. Ekspresi datarnya, kebiasaan membalikkan ucapannya, dan yang paling penting adalah keberanian Jingga menghadapi Sagara, membuat Sagara seolah diinjak-injak.Mereka masih berada di basement mal. Sagara sepertinya tidak berniat untuk menjalankan mobilnya sama sekali. Menoleh ke belakang, Jingga masih bisa melihat Luna dan Alex berdiri di tempatnya semula belum beranjak sedikit pun. Kedua orang itu menatap ke arah mobil Sagara dengan tatapan aneh.“Kenapa diam?” Bungkamnya Sagara, membuat Jingga berinisiatif untuk kembali bertanya. “Kalau kamu hanya ingin bertanya tentang sesuatu hal yang tidak berguna, aku akan keluar s

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 7. Akting

    “Bagaimana rasanya menikah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna – sahabat Jingga.Alih-alih bertemu di mal, Luna meminta Jingga agar dijemput di butik miliknya. Dia malas menyetir dan tidak mau keluar uang untuk naik kendaraan umum. Sangat budiman sekali sahabat Jingga satu ini. Kini Jingga yang menyetir dan mobil mereka sudah membelah kota Jakarta.“Not bad,” jawaban itu cukup aman untuk dikeluarkan. Dia tak mungkin membeberkan fakta sebenarnya tentang kehidupan rumah tangganya kepada Luna meskipun Luna adalah sahabat baiknya. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di sekolah menengah atas dan bertahan sampai saat ini. Mereka sama-sama melewati masa remajanya di luar negeri, namun Luna memilih kembali setelah lulus kuliah. Selama ini, mereka selalu bercerita tentang apa pun. Tapi jika itu menyangkut rumah tangga, Jingga tak akan sembarangan membeberkan kepada siapapun. Termasuk orang tuanya. Karena urusan rumah tangga adalah ranah pribadinya. “Gue kira, lo adalah perempuan yang

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 6. Aku dan Sakitku

    “Tentu kamu boleh mencobanya, Jingga. Tapi seperti yang aku bilang. Kamu harus bersiap untuk terluka dan kecewa.”Kata-kata itu memenuhi pikiran Jingga sampai pagi menjelang dan dia sudah berada di dalam kantornya. Dia menyadari kalau jalannya tidak akan mudah, tapi apakah akan sesulit itu? Benar, bahkan Sagara sendiri juga sudah memeringatkan. Seharian ini, Jingga benar-benar tidak begitu bisa berkonsentrasi bekerja. Tidak ada hal bisa dia lakukan.Pulang kerja, dia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Dia berjanji akan pergi ke sana dan masih belum ada waktu untuk menepatinya.“Aku ikut Papa pulang ya. Biarin aja mobilnya di kantor.”Masuk ke dalam ruangan sang ayah, Jingga meminta izn. Ayah Jingga yang bersiap pulang itu mendongak, kemudian tersenyum.“Boleh. Tapi kamu udah bilang sama suami kamu? Kenapa nggak sekalian ajak dia aja?”Jingga mahir sekali menutupi perasaan kacau yang dirasakan. Menunjukkan senyumnya dia mendekat ke arah sang ayah. “Sagara itu banyak kerjaan, Pa. D

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 5. Saling Memeringatkan

    “Ada apa?” Belum juga Jingga menjawab ucapan Sachi, Sagara sudah pulang. Lelaki itu dengan otomatis berdiri di samping Sachi dan menghadap pada Jingga.“Nggak ada apa-apa. Jingga bertanya kenapa aku ada di sini.” Sachi menjawab pertanyaan Sagara.Lelaki itu masih terus menatap Jingga dengan tatapan dingin. “Kenapa kalau dia ada di sini, aku sudah mengizinkannya.” Sagara mengonfirmasi secara langsung tanpa peduli perasaan Jingga sedikitpun.Merasa lelah, Jingga akhirnya mengalah. Dia tak ingin mengeluarkan suaranya untuk bertengkar dengan sang suami. Pergi begitu saja dari hadapan Sagara dan Sachi, Jingga naik ke lantai dua. Menghadapi mereka juga membutuhkan banyak tenaga dua kali lipat. Jingga butuh istirahat.Masuk ke dalam kamarnya, perempuan itu segera mendaratkan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup matanya rapat dan segera saja, alam mimpi menguasainya. Dia tertidur hanya dengan hitungan menit. Mengesampingkan terlebih dulu segala masalah yang menimpanya. Karena setelah dia membuka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status