LOGIN“Aku bukan perempuan yang mudah dikalahkan, Sagara!”
Kata-kata itu seperti sebuah pelatuk yang ditarik dari sebuah tembakan, mengeluarkan peluru, dan mengenai tepat di jantung Sagara. Tidak bisa dipungkiri, darah Sagara terasa mendidih dan membuat amarahnya meletup tak karuan. Dalam sejarah hidupnya, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun terlebih lagi perempuan.
Tapi pagi ini, seorang perempuan yang sialnya berstatus sebagai istrinya, dengan berani menantangnya. Membalik setiap ucapannya, dan tidak ada raut takut di wajahnya.
“Kamu tampaknya cukup berani menantangku. Kita lihat, pada akhirnya, siapa yang akan menang. Kamu, atau aku.”
Tidak ingin mendengar jawaban dari Jingga, Sagara meninggalkan perempuan itu dan pergi dari rumah. Berlama-lama berhadapan dengan Jingga, sepertinya hanya akan membuat Sagara naik pitam. Dia bukan laki-laki yang akan bermain tangan, tapi siapa yang akan tahu kalau kesabarannya justru dipermainkan.
Setelah hari itu, hubungan Jingga dan Sagara benar-benar asing. Bahkan satu minggu berlalu, mereka tampak dingin satu sama lain. Dalam sehari, mereka hanya akan bertemu di setiap pagi saat sarapan. Jingga pun tidak tahu jam berapa Sagara. Seperti yang diinginkan oleh Sagara, Jingga tidak diizinkan ikut campur urusannya. Jadi dia melakukan saja permintaan Sagara.
Malam ini, Jingga baru saja sampai di rumah ketika tiga mobil asing ada di dalam carport rumanya. Jingga bahkan harus memarkir mobilnya di depan rumah. Masuk ke dalam rumah, tidak ada yang aneh. Tapi suara di belakang rumahnya menandakan ada sebuah pesta yang terjadi.
“Sagara membawa teman-temannya, Bi?” tanya Jingga saat bibi menghamipirinya di dapur.
“Iya, Bu. Bapak pesta dengan teman-temannya. Juga, ada perempuan. Mereka sepertinya dekat banget, Bu.”
Jingga tidak tampak terkejut dengan aduan bibi. Dia dengan santai menenggak minumannya yang baru saja dia keluarkan dari kulkas. Bibi tampaknya menunggu jawaban dari Jingga. Suara musik terdengar sampai di dalam rumah.
“Biarkan saja dia mau lakukan apa yang diinginkan, Bi. Selama dia nggak mengusik ketenanganku, maka aku tidak akan terpengaruh.”
“Tapi Bapak bawa perempuan, Bu.”
“Mungkin itu adalah para kekasihnya,” jawab Jingga ringan tanpa terpengaruh sama sekali. “Aku akan ke kamar sekarang. Istirahat dulu.”
“Ibu sudah makan?”
“Sudah. Bibi juga istirahat ya. Jangan pedulikan sesuatu yang tidak perlu.”
Jingga berlalu dari dapur dan secara kebetulan, Sagara masuk ke dalam rumah. Menyeringai ketika melihat sang istri sudah ada di rumah. Mendekati Jingga, dia segera bersuara. “Ada teman-temanku di halaman belakang. Temui dia dan jadilah istri yang baik.”
Jingga tidak bereaksi. Menatap sang suami dalam diam lalu mengangguk menyetujui. Berjalan di belakang Sagara menuju halaman belakang, suara musik segera memenuhi gendang telinganya. Melihat Sagara datang dengan Jingga, semua teman-teman Sagara segera berdiri. Ada tiga perempuan di sana, dan entah yang mana kekasih Sagara di antara mereka.
“Ow, Ibu Negara sudah datang.” Begitu salah salah satu dari teman Sagara berbicara.
“Ayo, kita berpesta malam ini,” sambung yang lainnya.
Jingga tersenyum. “Terima kasih. Silakan lanjutkan saja. Saya baru saja pulang kerja. Saya perlu istirahat.” Santun sekali saat dia menjawab. Tidak ada nada sinis yang tersemat dalam ucapannya.
“Jingga. Ayolah, kami ini ‘kan tamu. Seharusnya kamu bisa menghargai kedatangan kami dengan kamu ikut pesta bersama kami.” Itu suara salah satu dari perempuan yang ada di sana.
Jingga bukannya tidak tahu apa maksud dari ucapan itu. Mereka tengah memancing dirinya untuk masuk dalam sebuah jebakan yang sudah Sagara buat. Tapi Jingga sudah memutuskan untuk menolak sejak awal, jadi dia tak akan menerimanya sampai akhir.
Masih dengan tenang dan senyum ramah, Jingga kembali bersuara. “Saya benar-benar lelah. Sagara sudah ada di sini, saya rasa itu sudah cukup. Mungkin lain kali saya bisa bergabung. Hari ini, benar-benar melelahkan buat saya. Jadi, sungguh, saya harus segera istirahat.”
Jingga menoleh ke arah Sagara yang berdiri di sisi kirinya. Lelaki itu tengah menatapnya dengan tatapan dingin seolah meminta agar Jingga menerima ajakan teman-temannya.
“Aku akan kembali ke kamar,” katanya, “kalian bersenang-senanglah.” Tak lupa, senyum ramah diberikan kepada mereka.
Tanpa ingin mendengarkan apa pun lagi, Jingga berbalik ingin pergi dari tempat itu. Tapi tangannya ditahan oleh Sagara.
“Tinggallah sebentar lagi. Hanya sebentar.” Sagara tak kalah tegasnya. Dia ingin Jingga berada di sana dan melihat seperti apa pesta malam ini yang sengaja dia adakan di rumah ini.
Sedikit tarikan, Sagara bisa membuat Jingga berbalik. Denga kuat melingkupi punggung Jingga dengan tangannya dan diletakkan di bahu perempuan itu. Dengan paksa, dia mendudukkan Jingga di kursi terdekat di sana. Suara musik hanya terdengar samar sejak Jingga datang, sehingga bisa mengobrol dengan tenang.
Melihat Jingga sudah ada di sana, teman-teman Sagara bersorak. Alih-alih duduk di samping Jingga, lelaki itu justru mengambil tempat di samping seorang perempuan yang sejak tadi hanya diam. Pergerakan Sagara tidak terlepas dari tatapan Jingga. Bagaimana lelaki itu tersenyum manis dengan perempuan itu, bagaimana Sagara tanpa sungkan mengelus kepala perempuan itu, dan bahkan berbicara dengan lembut satu sama lain.
“Mereka memang seperti itu, Jingga. Kamu tidak perlu cemburu dengan Sachi.” Salah satu teman laki-laki Sagara membuka mulutnya untuk menjelaskan saat Jingga tidak mengalihkan tatapannya dari Sagara.
Saat kalimat itu keluar dari mulut lelaki itu, sontak saja semua yang ada di sana menatap ke arah Jingga. Tak terkecuali Sagara dan perempuan yang bernama Sachi tersebut.
“Dia sudah mengerti, Lex. Nggak perlu dijelaskan.” Sagara menjawab dengan santai. “Benar begitu ‘kan, Jingga?”
Jingga tidak segera menjawab. Tatapannya tampak dingin namun itu tak lama. Mengeluarkan senyum kecil, terlalu kecil sampai dia tak terlihat seperti sebuah senyum. “Jawaban apa yang perlu aku berikan? Kamu belum menjelaskan apa pun kepadaku.”
Semua orang di sana tampak terkejut dengan keberanian Jingga. Bahkan Sagara sekalipun. Rahang lelaki itu menguat erat, kesal luar biasa.
“Tapi, anggap saja aku mengerti. Aku pengertian dengan hal-hal seperti itu. Tidak perlu khawatir.” Jingga bediri. “Sepertinya aku sudah harus pergi. Silakan bersenag-senang.”
Kali ini tidak ada yang menghalangi kepergian Jingga. Sagara hanya menguatkan rahangnya melihat tingkah sang istri yang baginya sangat tidak sopan dan meremehkan dirinya. Di dalam kepalanya memutar cara untuk membuat Jingga marah. Dia ingin membuat perhitungan kepada perempuan itu dengan cara yang sangat menyakitkan.
Jingga yang sudah berada di dalam kamarnya diam-diam melihat Sagara di balik jendela kaca. Lelaki itu masih duduk di tempat yang sama dan mengobrol dengan teman-temannya. Tampak sekali senyumnya muncul di bibirnya. Tidak ingin berlama-lama melihat pemandangan itu, Jingga memutuskan untuk tidur.
Dan yang mengejutkan saat pagi harinya, Jingga melihat Sachi ada di dalam rumahnya dengan baju tidur yang cukup menyakitkan mata. Baju tidur sutra yang mana menampakkan belahan dadanya. Jingga tak bisa menutupi kejutan pagi hari yang diberikan Sagara padanya.
“Kamu sudah bangun?” Sachi tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa. “Ayo duduklah, aku sudah membuatkan sarapan.” Tanpa rasa bersalah sedikitpun yang ditunjukkan oleh Sachi.
“Kamu menginap di sini?” tanya Jingga.
Alih-alih Sachi yang menjawab, Sagara yang bersuara. “Dia mengingap di sini. Ada masalah?”
***
Lelah itu terasa menusuk. Setelah sederet acara Luna selesai, Jingga langsung tidur tanpa memedulikan apa pun lagi. Untungnya Sagara sama sekali tidak mengganggunya. Lelaki itu juga ikut tidur dan memeluk Jingga sampai pagi.Hari ini mereka harus pulang dan beristirahat di rumah. Luna dan Alex langsung pergi honeymoon ke Korea dan Jingga sempat ditawari untuk ikut saat itu. Namun, dia tentu langsung menolak.Bepergian tidak lagi menjadi agendanya, tetapi ketika Sagara menawarinya untuk pergi ke Bromo, ada ketertarikan yang dia rasakan. Ya, Jingga belum pernah pergi ke tempat-tempat itu karena setengah hidupnya dia habiskan di luar negeri.“Mau ngopi dulu?” tanya Sagara ketika siang ini akhirnya mereka keluar dari hotel.Hanya mengenakan hoodie dan celana jeans panjang, Jingga keluar dari kamar tanpa makeup sama sekali. Justru Sagara menyukai bare face Jingga yang tampak begitu halus. Mereka hanya membawa satu koper saat menginap, dan kini koper itu sudah ada di tangannya. Bahkan tas
Jingga berkacak pinggang di depan kaca. Menatap lehernya yang kemerahan karena ulah Sagara. Dia malu, itu pasti. Terlebih lagi ada banyak orang yang pasti sudah melihatnya. Itu jauh lebih menjengkelkan.Berbanding terbalik dengan Jingga yang kesalnya sudah di ubun-ubun, Sagara justru tampak begitu santai. Lelaki itu duduk di pinggiran ranjang sambil menatap sang istri yang terlihat begitu jengkel.“Isshh,” decih Jingga sambil menggosok kemerahan itu dengan kesal. “Bisa-bisanya aku lupa menutup ini.” Perempuan itu berang karena ulah suaminya yang tak beraklak.“Kalau kamu gosok, itu kemerahan malah semakin banyak,” komentar Sagara dengan suara yang menyebalkan. “Kamu kan bisa nutupi dengan makeup, Sayang.”Jingga berbalik dan melototi Sagara. Dia ambil bantal, lalu memukulkan kepada lelaki dengan membabi-buta. Alih-alih marah, Sagara justru tertawa dan sesekali menghidar.“Kamu ini bener-benar, ya, Sagara. Kamu tahu ini acara besar dan kamu pikir aku nggak malu.” Masih dengan terus mem
Jingga melingkarkan tangannya pada lengan Sagara dengan wajah yang masih tertekuk kesal. Sejak keluar dari kamar dan beberapa teman Sagara menggoda habis-habisan mereka, Sagara justru hanya berdehem sambil menyeringai. Seperti dia baru saja mendapatkan uang milyaran rupiah.“Senyum dong, Yang. Kamu dari tadi cemberut terus,” bisik Sagara tepat di samping telinga sang istri. “Ini hari bahagia sahabat-sahabat kita. Kita juga harus ikut bahagia.”“Kamu hutang banyak cerita sama aku, Mas,” balas Jingga dengan malas. “Dan aku butuh penjelasan yang cukup masuk akal dengan segala tingkah anehmu yang terjadi beberapa waktu lalu.”“Oke,” jawab Sagara santai. Mereka lantas mengambil tempat di salah satu kursi yang sudah disediakan untuk menyaksikan akad nikah sepasang mempelai yang akan memulai menaiki bahtera bernama rumah tangga. Namun, belum juga Sagara duduk, pandangannya tak sengaja tertuju pada sosok lelaki yang beberapa waktu lalu membuatnya kesal setengah mati.Siapa lagi kalau bukan
“Saya harap kesalahpahaman di antara kalian sudah benar-benar clear,” ucap Sagara setelah itu. “Saya orangnya cemburuan dan saya tidak senang kalau istri saya berbicara dengan lelaki mana pun.”Sagara tidak mengatakan secara spesifik kalau sebenarnya dia benci kalau istrinya bertemu dengan Brian. Kalau Brian tahu karena keberadaannya justru membuat hubungannya dengan Jingga renggang, maka Brian pasti akan merasa sangat senang.Tanggapan dari Brian tak langsung datang. Dia hanya terus menatap Sagara dengan lekat. Sebelum ini, mereka tidak pernah benar-benar berkenalan. Di pertemuan pertama mereka di rumah sakit, lalu pertemuan mereka yang kedua, bahkan tidak ada interaksi yang berarti di antara mereka.Brian tahu nama suami Jingga itu dari Luna. Lalu dia juga pada akhirnya tahu kalau Sagara adalah salah satu putra dari pasangan pengusaha yang cukup hebat. Kembali lagi dia mencari tahu dan dia tahu kalau Sagara cukup populer di kalangan pebisnis.Selain kemampuan bisnisnya, lelaki itu j
Malam ini mereka berbaring saling membelakangi. Sagara yang tidak tahan itu langsung berbalik hanya untuk menatap punggung sang istri. Namun, napas teratur yang terlihat dari Jingga seakan menunjukkan kalau perempuan itu sudah benar-benar tidur.“Sayang.” Sagara tidak peduli kalau memang panggilannya tidak didengar. “Maaf udah buat kamu marah.” Ruangan itu sunyi, bisikan sekecil apa pun tentulah terdengar.Jingga sebenarnya belum tidur. Dia menatap dinding yang ada di depannya dengan datar sembari mendengarkan setiap ucapan suaminya.“Mungkin ini karma.” Sagara kembali bersuara. “Ini adalah balasan atas perbuatan yang pernah aku lakukan ke kamu. Tuhan mempertemukan kamu dengannya di saat aku sudah jatuh cinta ke kamu dan rumah tangga kita stabil. Seandainya dia muncul di awal kita menikah, mungkin aku nggak tahu gimana rasanya berjuang untuk meminta kesempatan kedua.”Jingga tetap bergeming. Dia biarkan Sagara berceloteh dan mengeluarkan unek-uneknya. Setelah mereka sedikit berdebat
“Aku minta maaf, Jingga. Aku pasti sudah membuatmu bingung saat itu. Dan pasti juga melukaimu.”Jingga tidak bereaksi berlebihan. Dia tak ingin bertanya lebih jauh sebenarnya tekanan seperti apa yang diberikan kakek Brian kepada keluarganya. Itu bukan hal yang perlu dia ketahui.“Tapi, pernikahan itu nggak berjalan lama, Jingga. Sulit berumah tangga dengan orang yang tidak kita cintai. Setelah Kakek meninggal, kami memutuskan untuk bercerai. Dia tahu, bukan dia orang yang aku inginkan.”Untuk sepersekian detik, tidak ada dari mereka yang bersuara. Jingga tak tahu harus menanggapi apa. Di satu sisi dia kesal, tetapi di sisi lain dia juga merasa sedih karena rumah tangga mantan kekasihnya itu tidak bisa bertahan lama.“Aku ikut sedih atas perceraianmu.” Jingga akhirnya mampu mengumpulkan kembali kata-katanya. “Kamu pasti akan mendapatkan pengganti yang kamu inginkan.” Melihat jam di ponselnya, Jingga tahu dia harus segera kembali. “Sorry, Bri. Aku harus balik ke hotel. Suamiku udah nyar







