Compartir

Part 2. Teman Kencan

Autor: Loyce
last update Última actualización: 2026-02-05 13:18:48

“Aku bukan perempuan yang mudah dikalahkan, Sagara!” 

Kata-kata itu seperti sebuah pelatuk yang ditarik dari sebuah tembakan, mengeluarkan peluru, dan mengenai tepat di jantung Sagara. Tidak bisa dipungkiri, darah Sagara terasa mendidih dan membuat amarahnya meletup tak karuan. Dalam sejarah hidupnya, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun terlebih lagi perempuan. 

Tapi pagi ini, seorang perempuan yang sialnya berstatus sebagai istrinya, dengan berani menantangnya. Membalik setiap ucapannya, dan tidak ada raut takut di wajahnya. 

“Kamu tampaknya cukup berani menantangku. Kita lihat, pada akhirnya, siapa yang akan menang. Kamu, atau aku.” 

Tidak ingin mendengar jawaban dari Jingga, Sagara meninggalkan perempuan itu dan pergi dari rumah. Berlama-lama berhadapan dengan Jingga, sepertinya hanya akan membuat Sagara naik pitam. Dia bukan laki-laki yang akan bermain tangan, tapi siapa yang akan tahu kalau kesabarannya justru dipermainkan. 

Setelah hari itu, hubungan Jingga dan Sagara benar-benar asing. Bahkan satu minggu berlalu, mereka tampak dingin satu sama lain. Dalam sehari, mereka hanya akan bertemu di setiap pagi saat sarapan. Jingga pun tidak tahu jam berapa Sagara. Seperti yang diinginkan oleh Sagara, Jingga tidak diizinkan ikut campur urusannya. Jadi dia melakukan saja permintaan Sagara. 

Malam ini, Jingga baru saja sampai di rumah ketika tiga mobil asing ada di dalam carport rumanya. Jingga bahkan harus memarkir mobilnya di depan rumah. Masuk ke dalam rumah, tidak ada yang aneh. Tapi suara di belakang rumahnya menandakan ada sebuah pesta yang terjadi.

“Sagara membawa teman-temannya, Bi?” tanya Jingga saat bibi menghamipirinya di dapur.

“Iya, Bu. Bapak pesta dengan teman-temannya. Juga, ada perempuan. Mereka sepertinya dekat banget, Bu.”

Jingga tidak tampak terkejut dengan aduan bibi. Dia dengan santai menenggak minumannya yang baru saja dia keluarkan dari kulkas. Bibi tampaknya menunggu jawaban dari Jingga. Suara musik terdengar sampai di dalam rumah.

“Biarkan saja dia mau lakukan apa yang diinginkan, Bi. Selama dia nggak mengusik ketenanganku, maka aku tidak akan terpengaruh.”

“Tapi Bapak bawa perempuan, Bu.”

“Mungkin itu adalah para kekasihnya,” jawab Jingga ringan tanpa terpengaruh sama sekali. “Aku akan ke kamar sekarang. Istirahat dulu.”

“Ibu sudah makan?”

“Sudah. Bibi juga istirahat ya. Jangan pedulikan sesuatu yang tidak perlu.”

Jingga berlalu dari dapur dan secara kebetulan, Sagara masuk ke dalam rumah. Menyeringai ketika melihat sang istri sudah ada di rumah. Mendekati Jingga, dia segera bersuara. “Ada teman-temanku di halaman belakang. Temui dia dan jadilah istri yang baik.”

Jingga tidak bereaksi. Menatap sang suami dalam diam lalu mengangguk menyetujui. Berjalan di belakang Sagara menuju halaman belakang, suara musik segera memenuhi gendang telinganya. Melihat Sagara datang dengan Jingga, semua teman-teman Sagara segera berdiri. Ada tiga perempuan di sana, dan entah yang mana kekasih Sagara di antara mereka.

“Ow, Ibu Negara sudah datang.” Begitu salah salah satu dari teman Sagara berbicara.

“Ayo, kita berpesta malam ini,” sambung yang lainnya.

Jingga tersenyum. “Terima kasih. Silakan lanjutkan saja. Saya baru saja pulang kerja. Saya perlu istirahat.” Santun sekali saat dia menjawab. Tidak ada nada sinis yang tersemat dalam ucapannya.

“Jingga. Ayolah, kami ini ‘kan tamu. Seharusnya kamu bisa menghargai kedatangan kami dengan kamu ikut pesta bersama kami.” Itu suara salah satu dari perempuan yang ada di sana.

Jingga bukannya tidak tahu apa maksud dari ucapan itu. Mereka tengah memancing dirinya untuk masuk dalam sebuah jebakan yang sudah Sagara buat. Tapi Jingga sudah memutuskan untuk menolak sejak awal, jadi dia tak akan menerimanya sampai akhir.

Masih dengan tenang dan senyum ramah, Jingga kembali bersuara. “Saya benar-benar lelah. Sagara sudah ada di sini, saya rasa itu sudah cukup. Mungkin lain kali saya bisa bergabung. Hari ini, benar-benar melelahkan buat saya. Jadi, sungguh, saya harus segera istirahat.”

Jingga menoleh ke arah Sagara yang berdiri di sisi kirinya. Lelaki itu tengah menatapnya dengan tatapan dingin seolah meminta agar Jingga menerima ajakan teman-temannya.

“Aku akan kembali ke kamar,” katanya, “kalian bersenang-senanglah.” Tak lupa, senyum ramah diberikan kepada mereka.

Tanpa ingin mendengarkan apa pun lagi, Jingga berbalik ingin pergi dari tempat itu. Tapi tangannya ditahan oleh Sagara.

“Tinggallah sebentar lagi. Hanya sebentar.” Sagara tak kalah tegasnya. Dia ingin Jingga berada di sana dan melihat seperti apa pesta malam ini yang sengaja dia adakan di rumah ini.

Sedikit tarikan, Sagara bisa membuat Jingga berbalik. Denga kuat melingkupi punggung Jingga dengan tangannya dan diletakkan di bahu perempuan itu. Dengan paksa, dia mendudukkan Jingga di kursi terdekat di sana. Suara musik hanya terdengar samar sejak Jingga datang, sehingga bisa mengobrol dengan tenang.

Melihat Jingga sudah ada di sana, teman-teman Sagara bersorak. Alih-alih duduk di samping Jingga, lelaki itu justru mengambil tempat di samping seorang perempuan yang sejak tadi hanya diam. Pergerakan Sagara tidak terlepas dari tatapan Jingga. Bagaimana lelaki itu tersenyum manis dengan perempuan itu, bagaimana Sagara tanpa sungkan mengelus kepala perempuan itu, dan bahkan berbicara dengan lembut satu sama lain.

“Mereka memang seperti itu, Jingga. Kamu tidak perlu cemburu dengan Sachi.” Salah satu teman laki-laki Sagara membuka mulutnya untuk menjelaskan saat Jingga tidak mengalihkan tatapannya dari Sagara.

Saat kalimat itu keluar dari mulut lelaki itu, sontak saja semua yang ada di sana menatap ke arah Jingga. Tak terkecuali Sagara dan perempuan yang bernama Sachi tersebut.

“Dia sudah mengerti, Lex. Nggak perlu dijelaskan.” Sagara menjawab dengan santai. “Benar begitu ‘kan, Jingga?”

Jingga tidak segera menjawab. Tatapannya tampak dingin namun itu tak lama. Mengeluarkan senyum kecil, terlalu kecil sampai dia tak terlihat seperti sebuah senyum. “Jawaban apa yang perlu aku berikan? Kamu belum menjelaskan apa pun kepadaku.”

Semua orang di sana tampak terkejut dengan keberanian Jingga. Bahkan Sagara sekalipun. Rahang lelaki itu menguat erat, kesal luar biasa.

“Tapi, anggap saja aku mengerti. Aku pengertian dengan hal-hal seperti itu. Tidak perlu khawatir.” Jingga bediri. “Sepertinya aku sudah harus pergi. Silakan bersenag-senang.”

Kali ini tidak ada yang menghalangi kepergian Jingga. Sagara hanya menguatkan rahangnya melihat tingkah sang istri yang baginya sangat tidak sopan dan meremehkan dirinya. Di dalam kepalanya memutar cara untuk membuat Jingga marah. Dia ingin membuat perhitungan kepada perempuan itu dengan cara yang sangat menyakitkan.

Jingga yang sudah berada di dalam kamarnya diam-diam melihat Sagara di balik jendela kaca. Lelaki itu masih duduk di tempat yang sama dan mengobrol dengan teman-temannya. Tampak sekali senyumnya muncul di bibirnya. Tidak ingin berlama-lama melihat pemandangan itu, Jingga memutuskan untuk tidur.

Dan yang mengejutkan saat pagi harinya, Jingga melihat Sachi ada di dalam rumahnya dengan baju tidur yang cukup menyakitkan mata. Baju tidur sutra yang mana menampakkan belahan dadanya. Jingga tak bisa menutupi kejutan pagi hari yang diberikan Sagara padanya.

“Kamu sudah bangun?” Sachi tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa. “Ayo duduklah, aku sudah membuatkan sarapan.” Tanpa rasa bersalah sedikitpun yang ditunjukkan oleh Sachi. 

“Kamu menginap di sini?” tanya Jingga.

Alih-alih Sachi yang menjawab, Sagara yang bersuara. “Dia mengingap di sini. Ada masalah?”

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 10. Perbandingan Tak Sebanding

    “Kamu yakin akan melakukannya sekarang?” Jingga meyakinkan sekali lagi. “Ada konsekuensi yang harus kamu ingat, Sagara. Kalau aku hamil, itu artinya kamu tidak akan mendapatkan kebebasanmu karena aku tidak akan membiarkanmu luput dari pengawasanku.” Tangan Jingga dingin luar biasa. Sedikit bergetar ketika terangkat untuk menelusupkan jari-jari di rambut Sagara.Dia merasakan surai halus lelaki itu. Jantungnya semakin bertalu keras, tetapi bukan saatnya untuk mundur. Mepertahankan kewarasannya agar tidak meledak dalam amarah. Sejujurnya dia merasa jijik dengan sentuhan Sagara, entah sudah berapa perempuan yang pernah tidur dengannya. Namun, dengan mundur sekarang, itu hanya akan membuat Sagara merasa kalau istrinya adalah perempuan yang lemah. Jingga tidak akan membiarkan Sagara berpikiran sejauh itu.Kebisuan yang ditunjukkan oleh Sagara adalah bukti jika lelaki itu sebenarnya tidak benar-benar menginginkannya. Sagara hanya ingin menakut-nakuti Jingga.“Ayo kita lakukan kalau memang i

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 9. Kamu Istriku, ‘Kan?

    Deringan ponsel Jingga menahan Sachi yang ingin bicara. Jingga menoleh ke arah Sagara karena ponselnya dibawa oleh lelaki itu. Sachi juga menoleh pada Sagara dengan kening mengernyit ketika Sagara dengan santainya menarik ponsel pintar itu dari sakunya, membaca nama yang tertera di sana, dan tanpa izin dia menerima panggilan dengan tatapan lurus pada Jingga.“Halo!” Sagara mendengar Luna bersuara di seberang sana dengan tenang. “Saya akan beritahu Jingga nanti, hem, oke. Terima kasih!”Sambungan telepon terputus. Seringaian Sagara terlihat di bibirnya. Ponsel yang ada di tangannya digoyang-goyangkan seolah dia tengah mengejek Jingga. Bahkan tanpa memdulikan Sachi yang ada di sana, dia lebih memilih berbicara dengan Jingga.“HP ini aku sita. Kamu, tidak akan bisa ke mana-mana tanpa izin dariku.” Begitu katanya dengan nada mengejek. Sepertinya ada rasa takut yang dirasakan oleh Sagara kalau-kalau ibunya tiba-tiba datang dan mencari keberadaan Jingga, sehingga dia harus mengancam perempu

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 8. Tak Beretika

    “Merepotkan orang lain?” Jingga mengernyit mendengar ucapan Sagara. “Orang mana yang aku repotkan?” tantang Jingga dengan berani, menuntut jawaban dari sang suami. Sagara menatap Jingga dengan tatapan berapi-api. Emosi yang ditahannya seolah ingin meledak menghanguskan perempuan itu. Tidak bisa dipungkiri, Sagara selalu merasa kesal ketika berhadapan dengan sang istri. Ekspresi datarnya, kebiasaan membalikkan ucapannya, dan yang paling penting adalah keberanian Jingga menghadapi Sagara, membuat Sagara seolah diinjak-injak.Mereka masih berada di basement mal. Sagara sepertinya tidak berniat untuk menjalankan mobilnya sama sekali. Menoleh ke belakang, Jingga masih bisa melihat Luna dan Alex berdiri di tempatnya semula belum beranjak sedikit pun. Kedua orang itu menatap ke arah mobil Sagara dengan tatapan aneh.“Kenapa diam?” Bungkamnya Sagara, membuat Jingga berinisiatif untuk kembali bertanya. “Kalau kamu hanya ingin bertanya tentang sesuatu hal yang tidak berguna, aku akan keluar s

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 7. Akting

    “Bagaimana rasanya menikah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna – sahabat Jingga.Alih-alih bertemu di mal, Luna meminta Jingga agar dijemput di butik miliknya. Dia malas menyetir dan tidak mau keluar uang untuk naik kendaraan umum. Sangat budiman sekali sahabat Jingga satu ini. Kini Jingga yang menyetir dan mobil mereka sudah membelah kota Jakarta.“Not bad,” jawaban itu cukup aman untuk dikeluarkan. Dia tak mungkin membeberkan fakta sebenarnya tentang kehidupan rumah tangganya kepada Luna meskipun Luna adalah sahabat baiknya. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di sekolah menengah atas dan bertahan sampai saat ini. Mereka sama-sama melewati masa remajanya di luar negeri, namun Luna memilih kembali setelah lulus kuliah. Selama ini, mereka selalu bercerita tentang apa pun. Tapi jika itu menyangkut rumah tangga, Jingga tak akan sembarangan membeberkan kepada siapapun. Termasuk orang tuanya. Karena urusan rumah tangga adalah ranah pribadinya. “Gue kira, lo adalah perempuan yang

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 6. Aku dan Sakitku

    “Tentu kamu boleh mencobanya, Jingga. Tapi seperti yang aku bilang. Kamu harus bersiap untuk terluka dan kecewa.”Kata-kata itu memenuhi pikiran Jingga sampai pagi menjelang dan dia sudah berada di dalam kantornya. Dia menyadari kalau jalannya tidak akan mudah, tapi apakah akan sesulit itu? Benar, bahkan Sagara sendiri juga sudah memeringatkan. Seharian ini, Jingga benar-benar tidak begitu bisa berkonsentrasi bekerja. Tidak ada hal bisa dia lakukan.Pulang kerja, dia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Dia berjanji akan pergi ke sana dan masih belum ada waktu untuk menepatinya.“Aku ikut Papa pulang ya. Biarin aja mobilnya di kantor.”Masuk ke dalam ruangan sang ayah, Jingga meminta izn. Ayah Jingga yang bersiap pulang itu mendongak, kemudian tersenyum.“Boleh. Tapi kamu udah bilang sama suami kamu? Kenapa nggak sekalian ajak dia aja?”Jingga mahir sekali menutupi perasaan kacau yang dirasakan. Menunjukkan senyumnya dia mendekat ke arah sang ayah. “Sagara itu banyak kerjaan, Pa. D

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 5. Saling Memeringatkan

    “Ada apa?” Belum juga Jingga menjawab ucapan Sachi, Sagara sudah pulang. Lelaki itu dengan otomatis berdiri di samping Sachi dan menghadap pada Jingga.“Nggak ada apa-apa. Jingga bertanya kenapa aku ada di sini.” Sachi menjawab pertanyaan Sagara.Lelaki itu masih terus menatap Jingga dengan tatapan dingin. “Kenapa kalau dia ada di sini, aku sudah mengizinkannya.” Sagara mengonfirmasi secara langsung tanpa peduli perasaan Jingga sedikitpun.Merasa lelah, Jingga akhirnya mengalah. Dia tak ingin mengeluarkan suaranya untuk bertengkar dengan sang suami. Pergi begitu saja dari hadapan Sagara dan Sachi, Jingga naik ke lantai dua. Menghadapi mereka juga membutuhkan banyak tenaga dua kali lipat. Jingga butuh istirahat.Masuk ke dalam kamarnya, perempuan itu segera mendaratkan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup matanya rapat dan segera saja, alam mimpi menguasainya. Dia tertidur hanya dengan hitungan menit. Mengesampingkan terlebih dulu segala masalah yang menimpanya. Karena setelah dia membuka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status