เข้าสู่ระบบ“Jingga, kamu ini bicara apa?”
Sachi kali ini benar-benar terkejut. Perempuan itu bahkan menoleh pada Sagara yang sejak tadi juga tengah menatap Jingga dengan tatapan tajam. Rahangnya menguat karena tersentil dengan ucapan Jingga yang mengatakan jika suami adalah beban.
“Jingga, aku dan Sagara hanya teman baik. Aku rasa kamu jangan salah paham dengan hubungan kami.”
“Apa pun hubungan kalian, tetap saja aku harus berterima kasih kepadamu karena kamu sudah mengambil peran itu dariku. Sungguh, aku tulus berterima kasih.” Jingga melihat jam tangan di pergelangan kirinya sebelum pamit. “Saya harus pergi sekarang. Selamat pagi.” Diakhiri dengan senyum kecil, Jingga pergi dari hadapan Sagara dan Sachi.
Ternyata mobilnya masih ada di depapan rumah dan tidak ada yang memasukkannya. Ya, tentu saja tidak ada yang melakukannya karena kunci mobil ada padanya. Hampir Jingga masuk ke dalam mobil, ketika tangannya tiba-tiba ditarik dari belakang. Jingga terkejut saat tubuhnya berbalik. Sagara menatap Jingga seolah ingin membumi hanguskan perempuan itu.
“Ada apa?” tanya Jingga. Dia tak mengerti kenapa Sagara menyusul dan menahannya pergi.
“Kenapa kamu memperlakukan Sachi seperti itu?”
Jingga mengernyit tidak mengerti. “Memperlakukan seperti itu? Aku memperlakukannya seperti apa?”
“Ucapanmu itu melukainya.”
“Ucapanku yang mana?”
“Semuanya.”
Untuk beberapa detik, Jingga dan Sagara saling menatap seolah jika salah satu dari mereka memutuskan lebih dulu, maka dia yang akan kalah. Melepaskan tangan Sagara di tangannya, Jingga berbicara lebih dulu. Namun sebelum itu, dia menatap ke arah belakang Sagara di mana Sachi berdiri dengan memasang wajah dinginnya.
“Aku nggak tahu kata-kataku yang mana yang melukai hati kekasihmu. Tapi meskipun begitu, aku nggak akan meminta maaf kepadanya. Lagi pula ada kamu di sisinya, kamu bisa menghiburnya ‘kan?”
“Kamu benar-benar ingin melawanku?” Sagara sudah tidak lagi menahan geramannya. Dia marah dengan sikap Jingga yang tampak tidak terpengaruh dengan keberadaan Sachi. Bahkan dia berterima kasih dengan perempuan itu. Tentu, hal tersebut menyentil harga dirinya.
“Kamu berpikir aku sedang melawanmu sekarang?”
Tidak ada jawabanan mudah yang diberikan oleh Jingga ketika berhadapan dengan Sagara. Pertanyaan yang dikeluarkan oleh Sagara, mendapatkan pertanyaan pula dari Jingga. Membuat kesabaran Sagara sungguh diuji.
Jingga menunggu Sagara menjawab pertanyaannya, tapi lelaki itu tak kunjung menjawab. Tanpa kata, Jingga berbalik untuk masuk ke dalam mobil. Namun lagi-lagi ucapan Sagara kembali terdengar.
“Aku akan membawa Sachi untuk tinggal di rumah ini.” Tangan Jingga yang sudah berada di handle pintu mobil pun ikut terhenti. “Kalau memang kamu sekuat itu menghadapi neraka yang aku buat, maka kita lihat sekuat apa kamu menghadapinya.”
“Kalau memang perempuan itu akan tinggal di rumah ini, tentu saja itu hak-mu. Tapi aku yang akan angkat kaki dari rumah ini.” Jingga menghadap Sagara dengan penuh keberanian. “Aku bisa menghadapimu sekaligus dia dalam satu waktu. Tapi membayangkan berada di satu atap dengan kalian? Aku tidak sebodoh itu.”
Sagara menyeringai. “Artinya, kamu benar-benar tidak berani menghadapinya.” Sagara menantang.
“Aku hanya tidak berani menghadapi amukan orang tua kita.” Seringai kemenangan Sagara seakan hilang begitu saja. “Kamu bisa membayangkan kalau tiba-tiba orang tua kita datang ke rumah ini, terlebih lagi Bunda. Apa kamu merasa bisa menghadapi beliau? Kalau memang kamu tidak memiliki nyali sebesar itu, aku sarankan berhentilah. Kamu bisa melakukan apa pun dengan Sachi. Tapi jangan di rumah ini.”
Setelah mengatakan kalimat panjang itu, Jingga meneruskan niatnya untuk pergi ke kantor. Meninggalkan Sagara berdiri di tempatnya dengan tangan mengepal erat. Jingga lagi-lagi merasakan jantungnya hampir meledak saking kesalnya. Berhadapan dengan Sagara, membuatnya harus terus mengulur kesabarannya. Jangan sampai karena dia emosi, semuanya menjadi hancur lebur.
Sampai di kantor, tanpa sengaja dia bertemu sang ayah di lobby kantor. Lelaki itu tersenyum dan mendekat ke arah Jingga.
“Kenapa wajahnya keruh begitu? Apa ada masalah?” Begitu tanya sang ayah. Keduanya masuk ke dalam lift bersamaan.
“Hanya kesal. Di jalanan macet banget.” Alasan Jingga cukup masuk akal sehingga membuat sang ayah tersenyum lega.
“Kamu harus lebih bersabar menghadapi kemacetan. Bagaimana dengan Sagara? Dia bersikap baik kepadamu ‘kan?”
Sejak pernikahannya dengan Sagara, Jingga belum sekalipun pergi mengunjungi orang tuanya. Mungkin dia harus membuat jadwal untuk ke sana weekend nanti. Tapi, haruskah dia mengajak suaminya? Pikiran Jingga berkelana. Tatapannya mengarah pada pintu lift, pun dengan sang ayah, sehingga ekspresi wajah Jingga yang berubah pun tak bisa terdeteksi.
“Masih dalam tahap penyesuaian, Pa,” jawaban itu adalah jawaban yang cukup aman untuk Jingga. Dia tak mungkin mengatakan keadaan yang sesungguhnya kepada orang tuanya bagaimana Sagara memperlakukannya. Dia akan bertahan sampai akhir.
“Aku akan datang ke rumah kalau ada waktu,” lanjut Jingga saat mereka sudah sampai di lantai paling atas gedung tersebut. Di mana ruangan mereka berada.
“Jangan pikirkan itu. Papa tahu bagaimana kehidupan pengantin baru. Terlebih lagi, kamu dan Sagara membutuhkan banyak waktu untuk saling mengenal lebih dekat.”
Jingga tak menanggapi dan hanya terus menatap punggung sang ayah yang menjauh, kemudian hilang di balik pintu ruangannya. Lelaki itu, bahkan seumur hidupnya selalu memastikan Jingga bahagia. Mengupayakan yang terbaik untuk putri satu-satunya. Tidak pernah sekalipun berkata kasar apalagi membentak. Tapi setelah dia menikah, justru kehidupannya berubah dan mendapatkan perlakuan buruk dari sang suami.
Sisa hari ini, Jingga tidak benar-benar bisa bekerja dengan baik. Dia lebih banyak melamun dan seolah terus menanyakan kepada dirinya apakah bertahan dalam pernikahan seperti ini adalah keputusan yang tepat. Tapi jika tidak, lalu apa yang harus dia lakukan? Bercerai setelah menikah belum genap satu bulan?
Tidak! Dia tak akan melakukan itu. Jalan satu-satunya adalah menjalani sampai akhir. Menghadapi segala hal buruk yang akan dilakukan oleh Sagara kepadanya. Apa pun itu.
“Hai, Jingga.”
Sore harinya, Jingga baru saja akan pulang ketika tiba-tiba saja Sachi berada di depan kantornya dan menyapanya. Ada senyum manis yang diberikan ketika tangannya melambai ke arahnya. Jingga tentu saja sedikit terkejut, namun dia segera menendang keterkejutannya.
“Kamu mencariku?”
Seharusnya ada alasan yang baik yang dikatan oleh Sachi saat dia nekad datang dan menemui Jingga.
“Kebetulan, aku lewat daerah sini. Jadi aku mampir.”
“Dari mana kamu tahu ini kantorku?”
Sachi tersenyum malu-malu ketika menjawab. “Aku bertanya kepada Sagara.” Lalu setelah itu dia buru-buru mengubah raut wajahnya dengan tatapan penuh sesal. “Sebenarnya aku sengaja datang, aku hanya ingin berbicara denganmu. Itu pun kalau kamu tidak keberatan. Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi di antara kita.”
Jingga tidak tahu kalau ada manusia seperti Sachi di dunia ini. Seharusnya Sachi menjadi pemain film saja jika dia begitu mahir dalam ber-akting. Jingga menerima ajakan itu dengan anggukan. Mereka lantas menuju sebuah kafe tak jauh dari kantor Jingga.
“Jadi, apa yang ingin kamu katakan?” tanya Jingga.
Dan sebuah jawaban menyebalkan terdengar di telinganya. “Untuk kedepannya, aku mungkin lebih banyak bersama dengan Sagara. Aku harap kamu tidak marah. Karena aku akan menjadi sekretarisnya.”
***
Lelah itu terasa menusuk. Setelah sederet acara Luna selesai, Jingga langsung tidur tanpa memedulikan apa pun lagi. Untungnya Sagara sama sekali tidak mengganggunya. Lelaki itu juga ikut tidur dan memeluk Jingga sampai pagi.Hari ini mereka harus pulang dan beristirahat di rumah. Luna dan Alex langsung pergi honeymoon ke Korea dan Jingga sempat ditawari untuk ikut saat itu. Namun, dia tentu langsung menolak.Bepergian tidak lagi menjadi agendanya, tetapi ketika Sagara menawarinya untuk pergi ke Bromo, ada ketertarikan yang dia rasakan. Ya, Jingga belum pernah pergi ke tempat-tempat itu karena setengah hidupnya dia habiskan di luar negeri.“Mau ngopi dulu?” tanya Sagara ketika siang ini akhirnya mereka keluar dari hotel.Hanya mengenakan hoodie dan celana jeans panjang, Jingga keluar dari kamar tanpa makeup sama sekali. Justru Sagara menyukai bare face Jingga yang tampak begitu halus. Mereka hanya membawa satu koper saat menginap, dan kini koper itu sudah ada di tangannya. Bahkan tas
Jingga berkacak pinggang di depan kaca. Menatap lehernya yang kemerahan karena ulah Sagara. Dia malu, itu pasti. Terlebih lagi ada banyak orang yang pasti sudah melihatnya. Itu jauh lebih menjengkelkan.Berbanding terbalik dengan Jingga yang kesalnya sudah di ubun-ubun, Sagara justru tampak begitu santai. Lelaki itu duduk di pinggiran ranjang sambil menatap sang istri yang terlihat begitu jengkel.“Isshh,” decih Jingga sambil menggosok kemerahan itu dengan kesal. “Bisa-bisanya aku lupa menutup ini.” Perempuan itu berang karena ulah suaminya yang tak beraklak.“Kalau kamu gosok, itu kemerahan malah semakin banyak,” komentar Sagara dengan suara yang menyebalkan. “Kamu kan bisa nutupi dengan makeup, Sayang.”Jingga berbalik dan melototi Sagara. Dia ambil bantal, lalu memukulkan kepada lelaki dengan membabi-buta. Alih-alih marah, Sagara justru tertawa dan sesekali menghidar.“Kamu ini bener-benar, ya, Sagara. Kamu tahu ini acara besar dan kamu pikir aku nggak malu.” Masih dengan terus mem
Jingga melingkarkan tangannya pada lengan Sagara dengan wajah yang masih tertekuk kesal. Sejak keluar dari kamar dan beberapa teman Sagara menggoda habis-habisan mereka, Sagara justru hanya berdehem sambil menyeringai. Seperti dia baru saja mendapatkan uang milyaran rupiah.“Senyum dong, Yang. Kamu dari tadi cemberut terus,” bisik Sagara tepat di samping telinga sang istri. “Ini hari bahagia sahabat-sahabat kita. Kita juga harus ikut bahagia.”“Kamu hutang banyak cerita sama aku, Mas,” balas Jingga dengan malas. “Dan aku butuh penjelasan yang cukup masuk akal dengan segala tingkah anehmu yang terjadi beberapa waktu lalu.”“Oke,” jawab Sagara santai. Mereka lantas mengambil tempat di salah satu kursi yang sudah disediakan untuk menyaksikan akad nikah sepasang mempelai yang akan memulai menaiki bahtera bernama rumah tangga. Namun, belum juga Sagara duduk, pandangannya tak sengaja tertuju pada sosok lelaki yang beberapa waktu lalu membuatnya kesal setengah mati.Siapa lagi kalau bukan
“Saya harap kesalahpahaman di antara kalian sudah benar-benar clear,” ucap Sagara setelah itu. “Saya orangnya cemburuan dan saya tidak senang kalau istri saya berbicara dengan lelaki mana pun.”Sagara tidak mengatakan secara spesifik kalau sebenarnya dia benci kalau istrinya bertemu dengan Brian. Kalau Brian tahu karena keberadaannya justru membuat hubungannya dengan Jingga renggang, maka Brian pasti akan merasa sangat senang.Tanggapan dari Brian tak langsung datang. Dia hanya terus menatap Sagara dengan lekat. Sebelum ini, mereka tidak pernah benar-benar berkenalan. Di pertemuan pertama mereka di rumah sakit, lalu pertemuan mereka yang kedua, bahkan tidak ada interaksi yang berarti di antara mereka.Brian tahu nama suami Jingga itu dari Luna. Lalu dia juga pada akhirnya tahu kalau Sagara adalah salah satu putra dari pasangan pengusaha yang cukup hebat. Kembali lagi dia mencari tahu dan dia tahu kalau Sagara cukup populer di kalangan pebisnis.Selain kemampuan bisnisnya, lelaki itu j
Malam ini mereka berbaring saling membelakangi. Sagara yang tidak tahan itu langsung berbalik hanya untuk menatap punggung sang istri. Namun, napas teratur yang terlihat dari Jingga seakan menunjukkan kalau perempuan itu sudah benar-benar tidur.“Sayang.” Sagara tidak peduli kalau memang panggilannya tidak didengar. “Maaf udah buat kamu marah.” Ruangan itu sunyi, bisikan sekecil apa pun tentulah terdengar.Jingga sebenarnya belum tidur. Dia menatap dinding yang ada di depannya dengan datar sembari mendengarkan setiap ucapan suaminya.“Mungkin ini karma.” Sagara kembali bersuara. “Ini adalah balasan atas perbuatan yang pernah aku lakukan ke kamu. Tuhan mempertemukan kamu dengannya di saat aku sudah jatuh cinta ke kamu dan rumah tangga kita stabil. Seandainya dia muncul di awal kita menikah, mungkin aku nggak tahu gimana rasanya berjuang untuk meminta kesempatan kedua.”Jingga tetap bergeming. Dia biarkan Sagara berceloteh dan mengeluarkan unek-uneknya. Setelah mereka sedikit berdebat
“Aku minta maaf, Jingga. Aku pasti sudah membuatmu bingung saat itu. Dan pasti juga melukaimu.”Jingga tidak bereaksi berlebihan. Dia tak ingin bertanya lebih jauh sebenarnya tekanan seperti apa yang diberikan kakek Brian kepada keluarganya. Itu bukan hal yang perlu dia ketahui.“Tapi, pernikahan itu nggak berjalan lama, Jingga. Sulit berumah tangga dengan orang yang tidak kita cintai. Setelah Kakek meninggal, kami memutuskan untuk bercerai. Dia tahu, bukan dia orang yang aku inginkan.”Untuk sepersekian detik, tidak ada dari mereka yang bersuara. Jingga tak tahu harus menanggapi apa. Di satu sisi dia kesal, tetapi di sisi lain dia juga merasa sedih karena rumah tangga mantan kekasihnya itu tidak bisa bertahan lama.“Aku ikut sedih atas perceraianmu.” Jingga akhirnya mampu mengumpulkan kembali kata-katanya. “Kamu pasti akan mendapatkan pengganti yang kamu inginkan.” Melihat jam di ponselnya, Jingga tahu dia harus segera kembali. “Sorry, Bri. Aku harus balik ke hotel. Suamiku udah nyar
“Bagaimana rasanya menikah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna – sahabat Jingga.Alih-alih bertemu di mal, Luna meminta Jingga agar dijemput di butik miliknya. Dia malas menyetir dan tidak mau keluar uang untuk naik kendaraan umum. Sangat budiman sekali sahabat Jingga satu ini. Kini Jingga y
“Tentu kamu boleh mencobanya, Jingga. Tapi seperti yang aku bilang. Kamu harus bersiap untuk terluka dan kecewa.”Kata-kata itu memenuhi pikiran Jingga sampai pagi menjelang dan dia sudah berada di dalam kantornya. Dia menyadari kalau jalannya tidak akan mudah, tapi apakah akan sesulit itu? Benar,
“Ada apa?” Belum juga Jingga menjawab ucapan Sachi, Sagara sudah pulang. Lelaki itu dengan otomatis berdiri di samping Sachi dan menghadap pada Jingga.“Nggak ada apa-apa. Jingga bertanya kenapa aku ada di sini.” Sachi menjawab pertanyaan Sagara.Lelaki itu masih terus menatap Jingga dengan tatapan
“Ada masalah?”Jingga mengulangi pertanyaan itu sambil menatap Sagara dengan tajam. Sedangkan Sagara sama sekali tak peduli dengan keberadaan Jingga ketika duduk di kursi makan. Tampak begitu alami, Sachi menuangkan air lemon ke cangkir dan mendekatkan ke arah Sagara.Dia bilang, “Air lemon, akan m







