Compartir

Part 4. Sagara dan Ulahnya

Autor: Loyce
last update Última actualización: 2026-02-05 13:19:40

“Jingga, kamu ini bicara apa?”

Sachi kali ini benar-benar terkejut. Perempuan itu bahkan menoleh pada Sagara yang sejak tadi juga tengah menatap Jingga dengan tatapan tajam. Rahangnya menguat karena tersentil dengan ucapan Jingga yang mengatakan jika suami adalah beban.

“Jingga, aku dan Sagara hanya teman baik. Aku rasa kamu jangan salah paham dengan hubungan kami.”

“Apa pun hubungan kalian, tetap saja aku harus berterima kasih kepadamu karena kamu sudah mengambil peran itu dariku. Sungguh, aku tulus berterima kasih.” Jingga melihat jam tangan di pergelangan kirinya sebelum pamit. “Saya harus pergi sekarang. Selamat pagi.” Diakhiri dengan senyum kecil, Jingga pergi dari hadapan Sagara dan Sachi.

Ternyata mobilnya masih ada di depapan rumah dan tidak ada yang memasukkannya. Ya, tentu saja tidak ada yang melakukannya karena kunci mobil ada padanya. Hampir Jingga masuk ke dalam mobil, ketika tangannya tiba-tiba ditarik dari belakang. Jingga terkejut saat tubuhnya berbalik. Sagara menatap Jingga seolah ingin membumi hanguskan perempuan itu.

“Ada apa?” tanya Jingga. Dia tak mengerti kenapa Sagara menyusul dan menahannya pergi.

“Kenapa kamu memperlakukan Sachi seperti itu?”

Jingga mengernyit tidak mengerti. “Memperlakukan seperti itu? Aku memperlakukannya seperti apa?”

“Ucapanmu itu melukainya.”

“Ucapanku yang mana?”

“Semuanya.”

Untuk beberapa detik, Jingga dan Sagara saling menatap seolah jika salah satu dari mereka memutuskan lebih dulu, maka dia yang akan kalah. Melepaskan tangan Sagara di tangannya, Jingga berbicara lebih dulu. Namun sebelum itu, dia menatap ke arah belakang Sagara di mana Sachi berdiri dengan memasang wajah dinginnya.

“Aku nggak tahu kata-kataku yang mana yang melukai hati kekasihmu. Tapi meskipun begitu, aku nggak akan meminta maaf kepadanya. Lagi pula ada kamu di sisinya, kamu bisa menghiburnya ‘kan?”

“Kamu benar-benar ingin melawanku?” Sagara sudah tidak lagi menahan geramannya. Dia marah dengan sikap Jingga yang tampak tidak terpengaruh dengan keberadaan Sachi. Bahkan dia berterima kasih dengan perempuan itu. Tentu, hal tersebut menyentil harga dirinya.

“Kamu berpikir aku sedang melawanmu sekarang?”

Tidak ada jawabanan mudah yang diberikan oleh Jingga ketika berhadapan dengan Sagara. Pertanyaan yang dikeluarkan oleh Sagara, mendapatkan pertanyaan pula dari Jingga. Membuat kesabaran Sagara sungguh diuji.

Jingga menunggu Sagara menjawab pertanyaannya, tapi lelaki itu tak kunjung menjawab. Tanpa kata, Jingga berbalik untuk masuk ke dalam mobil. Namun lagi-lagi ucapan Sagara kembali terdengar.

“Aku akan membawa Sachi untuk tinggal di rumah ini.” Tangan Jingga yang sudah berada di handle pintu mobil pun ikut terhenti. “Kalau memang kamu sekuat itu menghadapi neraka yang aku buat, maka kita lihat sekuat apa kamu menghadapinya.”

“Kalau memang perempuan itu akan tinggal di rumah ini, tentu saja itu hak-mu. Tapi aku yang akan angkat kaki dari rumah ini.” Jingga menghadap Sagara dengan penuh keberanian. “Aku bisa menghadapimu sekaligus dia dalam satu waktu. Tapi membayangkan berada di satu atap dengan kalian? Aku tidak sebodoh itu.”

Sagara menyeringai. “Artinya, kamu benar-benar tidak berani menghadapinya.” Sagara menantang.

“Aku hanya tidak berani menghadapi amukan orang tua kita.” Seringai kemenangan Sagara seakan hilang begitu saja. “Kamu bisa membayangkan kalau tiba-tiba orang tua kita datang ke rumah ini, terlebih lagi Bunda. Apa kamu merasa bisa menghadapi beliau? Kalau memang kamu tidak memiliki nyali sebesar itu, aku sarankan berhentilah. Kamu bisa melakukan apa pun dengan Sachi. Tapi jangan di rumah ini.”

Setelah mengatakan kalimat panjang itu, Jingga meneruskan niatnya untuk pergi ke kantor. Meninggalkan Sagara berdiri di tempatnya dengan tangan mengepal erat. Jingga lagi-lagi merasakan jantungnya hampir meledak saking kesalnya. Berhadapan dengan Sagara, membuatnya harus terus mengulur kesabarannya. Jangan sampai karena dia emosi, semuanya menjadi hancur lebur.

Sampai di kantor, tanpa sengaja dia bertemu sang ayah di lobby kantor. Lelaki itu tersenyum dan mendekat ke arah Jingga.

“Kenapa wajahnya keruh begitu? Apa ada masalah?” Begitu tanya sang ayah. Keduanya masuk ke dalam lift bersamaan.

“Hanya kesal. Di jalanan macet banget.” Alasan Jingga cukup masuk akal sehingga membuat sang ayah tersenyum lega.

“Kamu harus lebih bersabar menghadapi kemacetan. Bagaimana dengan Sagara? Dia bersikap baik kepadamu ‘kan?”

Sejak pernikahannya dengan Sagara, Jingga belum sekalipun pergi mengunjungi orang tuanya. Mungkin dia harus membuat jadwal untuk ke sana weekend nanti. Tapi, haruskah dia mengajak suaminya? Pikiran Jingga berkelana. Tatapannya mengarah pada pintu lift, pun dengan sang ayah, sehingga ekspresi wajah Jingga yang berubah pun tak bisa terdeteksi.

“Masih dalam tahap penyesuaian, Pa,” jawaban itu adalah jawaban yang cukup aman untuk Jingga. Dia tak mungkin mengatakan keadaan yang sesungguhnya kepada orang tuanya bagaimana Sagara memperlakukannya. Dia akan bertahan sampai akhir.

“Aku akan datang ke rumah kalau ada waktu,” lanjut Jingga saat mereka sudah sampai di lantai paling atas gedung tersebut. Di mana ruangan mereka berada.

“Jangan pikirkan itu. Papa tahu bagaimana kehidupan pengantin baru. Terlebih lagi, kamu dan Sagara membutuhkan banyak waktu untuk saling mengenal lebih dekat.”

Jingga tak menanggapi dan hanya terus menatap punggung sang ayah yang menjauh, kemudian hilang di balik pintu ruangannya. Lelaki itu, bahkan seumur hidupnya selalu memastikan Jingga bahagia. Mengupayakan yang terbaik untuk putri satu-satunya. Tidak pernah sekalipun berkata kasar apalagi membentak. Tapi setelah dia menikah, justru kehidupannya berubah dan mendapatkan perlakuan buruk dari sang suami.

Sisa hari ini, Jingga tidak benar-benar bisa bekerja dengan baik. Dia lebih banyak melamun dan seolah terus menanyakan kepada dirinya apakah bertahan dalam pernikahan seperti ini adalah keputusan yang tepat. Tapi jika tidak, lalu apa yang harus dia lakukan? Bercerai setelah menikah belum genap satu bulan?

Tidak! Dia tak akan melakukan itu. Jalan satu-satunya adalah menjalani sampai akhir. Menghadapi segala hal buruk yang akan dilakukan oleh Sagara kepadanya. Apa pun itu.

“Hai, Jingga.”

Sore harinya, Jingga baru saja akan pulang ketika tiba-tiba saja Sachi berada di depan kantornya dan menyapanya. Ada senyum manis yang diberikan ketika tangannya melambai ke arahnya. Jingga tentu saja sedikit terkejut, namun dia segera menendang keterkejutannya.

“Kamu mencariku?”

Seharusnya ada alasan yang baik yang dikatan oleh Sachi saat dia nekad datang dan menemui Jingga.

“Kebetulan, aku lewat daerah sini. Jadi aku mampir.”

“Dari mana kamu tahu ini kantorku?”

Sachi tersenyum malu-malu ketika menjawab. “Aku bertanya kepada Sagara.” Lalu setelah itu dia buru-buru mengubah raut wajahnya dengan tatapan penuh sesal. “Sebenarnya aku sengaja datang, aku hanya ingin berbicara denganmu. Itu pun kalau kamu tidak keberatan. Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi di antara kita.”

Jingga tidak tahu kalau ada manusia seperti Sachi di dunia ini. Seharusnya Sachi menjadi pemain film saja jika dia begitu mahir dalam ber-akting. Jingga menerima ajakan itu dengan anggukan. Mereka lantas menuju sebuah kafe tak jauh dari kantor Jingga.

“Jadi, apa yang ingin kamu katakan?” tanya Jingga.

Dan sebuah jawaban menyebalkan terdengar di telinganya. “Untuk kedepannya, aku mungkin lebih banyak bersama dengan Sagara. Aku harap kamu tidak marah. Karena aku akan menjadi sekretarisnya.”

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 10. Perbandingan Tak Sebanding

    “Kamu yakin akan melakukannya sekarang?” Jingga meyakinkan sekali lagi. “Ada konsekuensi yang harus kamu ingat, Sagara. Kalau aku hamil, itu artinya kamu tidak akan mendapatkan kebebasanmu karena aku tidak akan membiarkanmu luput dari pengawasanku.” Tangan Jingga dingin luar biasa. Sedikit bergetar ketika terangkat untuk menelusupkan jari-jari di rambut Sagara.Dia merasakan surai halus lelaki itu. Jantungnya semakin bertalu keras, tetapi bukan saatnya untuk mundur. Mepertahankan kewarasannya agar tidak meledak dalam amarah. Sejujurnya dia merasa jijik dengan sentuhan Sagara, entah sudah berapa perempuan yang pernah tidur dengannya. Namun, dengan mundur sekarang, itu hanya akan membuat Sagara merasa kalau istrinya adalah perempuan yang lemah. Jingga tidak akan membiarkan Sagara berpikiran sejauh itu.Kebisuan yang ditunjukkan oleh Sagara adalah bukti jika lelaki itu sebenarnya tidak benar-benar menginginkannya. Sagara hanya ingin menakut-nakuti Jingga.“Ayo kita lakukan kalau memang i

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 9. Kamu Istriku, ‘Kan?

    Deringan ponsel Jingga menahan Sachi yang ingin bicara. Jingga menoleh ke arah Sagara karena ponselnya dibawa oleh lelaki itu. Sachi juga menoleh pada Sagara dengan kening mengernyit ketika Sagara dengan santainya menarik ponsel pintar itu dari sakunya, membaca nama yang tertera di sana, dan tanpa izin dia menerima panggilan dengan tatapan lurus pada Jingga.“Halo!” Sagara mendengar Luna bersuara di seberang sana dengan tenang. “Saya akan beritahu Jingga nanti, hem, oke. Terima kasih!”Sambungan telepon terputus. Seringaian Sagara terlihat di bibirnya. Ponsel yang ada di tangannya digoyang-goyangkan seolah dia tengah mengejek Jingga. Bahkan tanpa memdulikan Sachi yang ada di sana, dia lebih memilih berbicara dengan Jingga.“HP ini aku sita. Kamu, tidak akan bisa ke mana-mana tanpa izin dariku.” Begitu katanya dengan nada mengejek. Sepertinya ada rasa takut yang dirasakan oleh Sagara kalau-kalau ibunya tiba-tiba datang dan mencari keberadaan Jingga, sehingga dia harus mengancam perempu

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 8. Tak Beretika

    “Merepotkan orang lain?” Jingga mengernyit mendengar ucapan Sagara. “Orang mana yang aku repotkan?” tantang Jingga dengan berani, menuntut jawaban dari sang suami. Sagara menatap Jingga dengan tatapan berapi-api. Emosi yang ditahannya seolah ingin meledak menghanguskan perempuan itu. Tidak bisa dipungkiri, Sagara selalu merasa kesal ketika berhadapan dengan sang istri. Ekspresi datarnya, kebiasaan membalikkan ucapannya, dan yang paling penting adalah keberanian Jingga menghadapi Sagara, membuat Sagara seolah diinjak-injak.Mereka masih berada di basement mal. Sagara sepertinya tidak berniat untuk menjalankan mobilnya sama sekali. Menoleh ke belakang, Jingga masih bisa melihat Luna dan Alex berdiri di tempatnya semula belum beranjak sedikit pun. Kedua orang itu menatap ke arah mobil Sagara dengan tatapan aneh.“Kenapa diam?” Bungkamnya Sagara, membuat Jingga berinisiatif untuk kembali bertanya. “Kalau kamu hanya ingin bertanya tentang sesuatu hal yang tidak berguna, aku akan keluar s

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 7. Akting

    “Bagaimana rasanya menikah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna – sahabat Jingga.Alih-alih bertemu di mal, Luna meminta Jingga agar dijemput di butik miliknya. Dia malas menyetir dan tidak mau keluar uang untuk naik kendaraan umum. Sangat budiman sekali sahabat Jingga satu ini. Kini Jingga yang menyetir dan mobil mereka sudah membelah kota Jakarta.“Not bad,” jawaban itu cukup aman untuk dikeluarkan. Dia tak mungkin membeberkan fakta sebenarnya tentang kehidupan rumah tangganya kepada Luna meskipun Luna adalah sahabat baiknya. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di sekolah menengah atas dan bertahan sampai saat ini. Mereka sama-sama melewati masa remajanya di luar negeri, namun Luna memilih kembali setelah lulus kuliah. Selama ini, mereka selalu bercerita tentang apa pun. Tapi jika itu menyangkut rumah tangga, Jingga tak akan sembarangan membeberkan kepada siapapun. Termasuk orang tuanya. Karena urusan rumah tangga adalah ranah pribadinya. “Gue kira, lo adalah perempuan yang

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 6. Aku dan Sakitku

    “Tentu kamu boleh mencobanya, Jingga. Tapi seperti yang aku bilang. Kamu harus bersiap untuk terluka dan kecewa.”Kata-kata itu memenuhi pikiran Jingga sampai pagi menjelang dan dia sudah berada di dalam kantornya. Dia menyadari kalau jalannya tidak akan mudah, tapi apakah akan sesulit itu? Benar, bahkan Sagara sendiri juga sudah memeringatkan. Seharian ini, Jingga benar-benar tidak begitu bisa berkonsentrasi bekerja. Tidak ada hal bisa dia lakukan.Pulang kerja, dia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Dia berjanji akan pergi ke sana dan masih belum ada waktu untuk menepatinya.“Aku ikut Papa pulang ya. Biarin aja mobilnya di kantor.”Masuk ke dalam ruangan sang ayah, Jingga meminta izn. Ayah Jingga yang bersiap pulang itu mendongak, kemudian tersenyum.“Boleh. Tapi kamu udah bilang sama suami kamu? Kenapa nggak sekalian ajak dia aja?”Jingga mahir sekali menutupi perasaan kacau yang dirasakan. Menunjukkan senyumnya dia mendekat ke arah sang ayah. “Sagara itu banyak kerjaan, Pa. D

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 5. Saling Memeringatkan

    “Ada apa?” Belum juga Jingga menjawab ucapan Sachi, Sagara sudah pulang. Lelaki itu dengan otomatis berdiri di samping Sachi dan menghadap pada Jingga.“Nggak ada apa-apa. Jingga bertanya kenapa aku ada di sini.” Sachi menjawab pertanyaan Sagara.Lelaki itu masih terus menatap Jingga dengan tatapan dingin. “Kenapa kalau dia ada di sini, aku sudah mengizinkannya.” Sagara mengonfirmasi secara langsung tanpa peduli perasaan Jingga sedikitpun.Merasa lelah, Jingga akhirnya mengalah. Dia tak ingin mengeluarkan suaranya untuk bertengkar dengan sang suami. Pergi begitu saja dari hadapan Sagara dan Sachi, Jingga naik ke lantai dua. Menghadapi mereka juga membutuhkan banyak tenaga dua kali lipat. Jingga butuh istirahat.Masuk ke dalam kamarnya, perempuan itu segera mendaratkan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup matanya rapat dan segera saja, alam mimpi menguasainya. Dia tertidur hanya dengan hitungan menit. Mengesampingkan terlebih dulu segala masalah yang menimpanya. Karena setelah dia membuka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status