Se connecter“Bagaimana rasanya menikah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna – sahabat Jingga.
Alih-alih bertemu di mal, Luna meminta Jingga agar dijemput di butik miliknya. Dia malas menyetir dan tidak mau keluar uang untuk naik kendaraan umum. Sangat budiman sekali sahabat Jingga satu ini. Kini Jingga yang menyetir dan mobil mereka sudah membelah kota Jakarta.
“Not bad,” jawaban itu cukup aman untuk dikeluarkan. Dia tak mungkin membeberkan fakta sebenarnya tentang kehidupan rumah tangganya kepada Luna meskipun Luna adalah sahabat baiknya.
Mereka sudah bersahabat sejak duduk di sekolah menengah atas dan bertahan sampai saat ini. Mereka sama-sama melewati masa remajanya di luar negeri, namun Luna memilih kembali setelah lulus kuliah. Selama ini, mereka selalu bercerita tentang apa pun. Tapi jika itu menyangkut rumah tangga, Jingga tak akan sembarangan membeberkan kepada siapapun. Termasuk orang tuanya. Karena urusan rumah tangga adalah ranah pribadinya.
“Gue kira, lo adalah perempuan yang sangat beruntung karena menikah dengan seorang Sagara Bimantara. Usut punya usut, dia itu sedikit ‘liar’ di luar sana. Dia juga sering gonta-ganti pasangan. Gue rasa dia udah tobat sejak menikah sama lo. Karena nggak ada desas-desus seperti itu lagi yang gue denger.”
Tobat? Kata itu terdengar menggelikan di telinga Jingga. Sagara masih sama. Dia adalah lelaki yang suka semena-mena dan tidak punya hati. Hanya saja, mungkin sekarang dia tak memperlihatkannya demi menjaga nama baiknya.
“Dia seterkenal itu?” tanya Jingga berpura-pura antusias.
“Yup.” Luna mengangguk. “Ada beberapa kenalan gue yang cerita tentang Sagara dan ya, sepak terjangnya memang badboy banget sih.” Luna memajukan tubuhnya berbisik, “Tapi, dia perlakukan lo dengan baik, kan?”
Jingga tidak menjawab. Tampak terlalu fokus pada jalanan. Tapi tak bisa dipungkiri kalau dia berpikir tentang Sagara. Pantas saja lelaki itu memperlakukannya begitu kasar, karena sebenarnya dia tidak ingin terikat oleh siapa pun.
“Jingga. Kok ngelamun sih.”
Jingga sedikit menoleh ke arah Luna. “Sorry.” Jingga tersenyum kecil. “Lo tadi tanya apa? Perlakuan Sagara ke gue? Em … baik kok.”
Bohong! Jingga bahkan berbohong hanya untuk menutupi hubungan buruknya kepada Sagara. Dulu dia sempat berpikir, meskipun pada awalnya pernikahannya tanpa cinta, tapi seiring berjalannya waktu mungkin cinta itu bisa tumbuh. Sayangnya, di awal pernikahannya, hubungan itu seperti berjalan di atas jebakan ranjau. Jika salah satu menginjak ranjau tersebut, maka keduanya akan sama-sama meledak.
“Syukur deh. Gue jadi percaya, kalau lelaki itu akan tunduk dengan perempuan yang tepat. Dan lo membuktikan ucapan itu.” Luna tersenyum tulus saat mengatakannya. Tampak ikut bahagia. Mereka lantas melanjutkan mengobrol sampai ke sebuah mal besar di Jakarta.
Mereka masuk dengan suka cita seolah tidak ada beban di dalam dirinya. Karena Luna mengeluh lapar, maka mereka memilih untuk ke sebuah restoran untuk makan sebelum melanjutkan kegiatannya. Luna segera memesan banyak makanan karena hari ini Jingga yang akan mentraktirnya.
“Kalau menurut lo, dibandingkan dengan Brian, Sagara dapat penilaian berapa?” Luna bertanya dengan ringannya tanpa melihat ke wajah Jingga yang tidak tampak menegang.
Penilaian. Haruskah dia membandingkan kedua lelaki itu kalau pada akhirnya mereka sama-sama menyakiti hatinya?
Jingga menarik napasnya panjang, sebelum menjawab. “Mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nggak bisa memberikan penilaian.”
Luna berdecak. “Kalau di antara keduanya, kebaikan mereka itu mana yang lebih banyak.”
‘Tentu saja Brian.’ Jingga hanya bisa mengatakan itu di dalam hatinya. Dia tak mungkin mengatakannya kepada Luna atau dia akan dikejar oleh banyak pertanyaan.
“Lo bayar sendiri atau gue yang bayar ini makanan?” Luna mendengus kesal sebelum mengomel panjang lebar.
Itu adalah cara ampuh untuk membuat Luna berhenti bertanya dan tidak membahas mana yang lebih baik di antara mantan kekasih dan suaminya. Itu sangat menyebalkan bagi Jingga.
***
Makan, belanja, dan juga nonton sudah dilakukan. Luna benar-benar tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk semua itu karena Jingga yang membayarnya. Jangan berpikir kalau Luna adalah teman yang tidak tahu diri. Tentu saja hal semacam ini sudah sering dilakukan. Karena nanti saat waktunya Luna mentraktir, maka dia yang akan membayar biaya hangout mereka.
“Lo langsung mau pulang?” tanya Luna saat mereka sudah ada di basement mal. “Nggak mau ke apartemen gue dulu?”
Jingga tampak berpikir. Tapi hampir dia menjawab, sebuah suara memanggilnya.
“Jingga!”
Bukan hanya Jingga, Luna juga menoleh ke arah sumber suara. Sagara berjalan ke arahnya dari sisi kiri bersama dengan seorang lelaki yang saat itu ikut dalam pesta yang dibuat Sagara. Semala dia tidak pulang ke rumah, apakah lelaki itu mencari atau mungkin mengkhawatirkannya?
Jangan bermimpi, Jingga. Dia pasti senang karena kamu tidak ada di rumah.
Luna yang tidak tahu seburuk apa hubungan Jingga dan Sagara hanya tanpa menatap Sagara penuh damba. Ada binar kekaguman yang ditunjukkan oleh Luna. Tentu saja respon Luna akan seperti itu. Tidak bisa dipungkiri, Sagara memiliki aura yang begitu mematikan. Dia tampan dan begitu menarik.
“Kamu sudah mau pulang?” Sagara berdiri di depan Jingga sambil menatap gadis itu dengan lekat. Ada gelegak amarah yang berusaha disimpan dalam-dalam. Jingga tahu dan memahami itu.
“Iya. Aku sudah belanja.” Jingga menjawab santai. “Kalau begitu, kami pergi dulu.”
“Kamu pulang denganku.” Sagara mencekal tangan kiri Jingga.
Jingga tidak meronta, tapi ditatapnya Sagara dengan penuh peringatan sebelum dia bersuara. “Aku bawa mobil dan harus antar Luna.”
“Biar Alex yang membawanya. Lex, lo bisa antar Luna ‘kan?”
“Masih ada tempat yang harus aku kunjungi lagi.” Sebelum Alex menjawab, Jingga lebih dulu bersuara. “Iya, ‘kan, Lun?”
“Iya.” Baru saja Luna menawarkan Jingga ke apartemennya ‘kan?
“Kamu bisa pergi lain kali. Ada hal yang perlu aku bicarakan dan ini penting.”
Penting? Sepeting apa? Apa ini tentang desakan lelaki itu agar Jingga menceraikannya? Kalau iya, bukankah hanya sia-sia kalau Sagara melakukannya?
Jika isi pikiran Jingga bisa terlihat, maka akan ada banyak pertanyaan yang mengelilingi kepalanya.
“Nggak papa, Na, kita bisa pergi lain kali.” Luna tiba-tiba saja bersuara dan ‘memberi izin’ kepada Jingga untuk pergi bersama dengan sang suami. Tentu saja, Sagara segera tersenyum pada Luna.
“Terima kasih, Lun. Saya janji nanti saya akan kasih izin ke Jingga untuk pergi sama kamu lagi.” Akting mereka sangat sempurna sehingga Luna mampu dikelabui. Satu-satunya orang yang tidak bersuara hanyalah Alex. Karena lelaki itu paham betul jika dua sejoli ini tengah ‘memeranka sebuah drama’ picisan.
“Ayo!” Sagara menggandeng tangan Jingga untuk pergi dari tempat itu. Dan segera, Sagara mengeluarkan pertanyaan dengan nada sarkasme.
“Ke mana kamu semalam?” Itu pertanyaan pertama. Belum pertanyaan itu di jawab, Sagara kembali bersuara. “Kalau ingin melarikan diri, setidaknya jangan membuat orang lain repot.”
***
Lelah itu terasa menusuk. Setelah sederet acara Luna selesai, Jingga langsung tidur tanpa memedulikan apa pun lagi. Untungnya Sagara sama sekali tidak mengganggunya. Lelaki itu juga ikut tidur dan memeluk Jingga sampai pagi.Hari ini mereka harus pulang dan beristirahat di rumah. Luna dan Alex langsung pergi honeymoon ke Korea dan Jingga sempat ditawari untuk ikut saat itu. Namun, dia tentu langsung menolak.Bepergian tidak lagi menjadi agendanya, tetapi ketika Sagara menawarinya untuk pergi ke Bromo, ada ketertarikan yang dia rasakan. Ya, Jingga belum pernah pergi ke tempat-tempat itu karena setengah hidupnya dia habiskan di luar negeri.“Mau ngopi dulu?” tanya Sagara ketika siang ini akhirnya mereka keluar dari hotel.Hanya mengenakan hoodie dan celana jeans panjang, Jingga keluar dari kamar tanpa makeup sama sekali. Justru Sagara menyukai bare face Jingga yang tampak begitu halus. Mereka hanya membawa satu koper saat menginap, dan kini koper itu sudah ada di tangannya. Bahkan tas
Jingga berkacak pinggang di depan kaca. Menatap lehernya yang kemerahan karena ulah Sagara. Dia malu, itu pasti. Terlebih lagi ada banyak orang yang pasti sudah melihatnya. Itu jauh lebih menjengkelkan.Berbanding terbalik dengan Jingga yang kesalnya sudah di ubun-ubun, Sagara justru tampak begitu santai. Lelaki itu duduk di pinggiran ranjang sambil menatap sang istri yang terlihat begitu jengkel.“Isshh,” decih Jingga sambil menggosok kemerahan itu dengan kesal. “Bisa-bisanya aku lupa menutup ini.” Perempuan itu berang karena ulah suaminya yang tak beraklak.“Kalau kamu gosok, itu kemerahan malah semakin banyak,” komentar Sagara dengan suara yang menyebalkan. “Kamu kan bisa nutupi dengan makeup, Sayang.”Jingga berbalik dan melototi Sagara. Dia ambil bantal, lalu memukulkan kepada lelaki dengan membabi-buta. Alih-alih marah, Sagara justru tertawa dan sesekali menghidar.“Kamu ini bener-benar, ya, Sagara. Kamu tahu ini acara besar dan kamu pikir aku nggak malu.” Masih dengan terus mem
Jingga melingkarkan tangannya pada lengan Sagara dengan wajah yang masih tertekuk kesal. Sejak keluar dari kamar dan beberapa teman Sagara menggoda habis-habisan mereka, Sagara justru hanya berdehem sambil menyeringai. Seperti dia baru saja mendapatkan uang milyaran rupiah.“Senyum dong, Yang. Kamu dari tadi cemberut terus,” bisik Sagara tepat di samping telinga sang istri. “Ini hari bahagia sahabat-sahabat kita. Kita juga harus ikut bahagia.”“Kamu hutang banyak cerita sama aku, Mas,” balas Jingga dengan malas. “Dan aku butuh penjelasan yang cukup masuk akal dengan segala tingkah anehmu yang terjadi beberapa waktu lalu.”“Oke,” jawab Sagara santai. Mereka lantas mengambil tempat di salah satu kursi yang sudah disediakan untuk menyaksikan akad nikah sepasang mempelai yang akan memulai menaiki bahtera bernama rumah tangga. Namun, belum juga Sagara duduk, pandangannya tak sengaja tertuju pada sosok lelaki yang beberapa waktu lalu membuatnya kesal setengah mati.Siapa lagi kalau bukan
“Saya harap kesalahpahaman di antara kalian sudah benar-benar clear,” ucap Sagara setelah itu. “Saya orangnya cemburuan dan saya tidak senang kalau istri saya berbicara dengan lelaki mana pun.”Sagara tidak mengatakan secara spesifik kalau sebenarnya dia benci kalau istrinya bertemu dengan Brian. Kalau Brian tahu karena keberadaannya justru membuat hubungannya dengan Jingga renggang, maka Brian pasti akan merasa sangat senang.Tanggapan dari Brian tak langsung datang. Dia hanya terus menatap Sagara dengan lekat. Sebelum ini, mereka tidak pernah benar-benar berkenalan. Di pertemuan pertama mereka di rumah sakit, lalu pertemuan mereka yang kedua, bahkan tidak ada interaksi yang berarti di antara mereka.Brian tahu nama suami Jingga itu dari Luna. Lalu dia juga pada akhirnya tahu kalau Sagara adalah salah satu putra dari pasangan pengusaha yang cukup hebat. Kembali lagi dia mencari tahu dan dia tahu kalau Sagara cukup populer di kalangan pebisnis.Selain kemampuan bisnisnya, lelaki itu j
Malam ini mereka berbaring saling membelakangi. Sagara yang tidak tahan itu langsung berbalik hanya untuk menatap punggung sang istri. Namun, napas teratur yang terlihat dari Jingga seakan menunjukkan kalau perempuan itu sudah benar-benar tidur.“Sayang.” Sagara tidak peduli kalau memang panggilannya tidak didengar. “Maaf udah buat kamu marah.” Ruangan itu sunyi, bisikan sekecil apa pun tentulah terdengar.Jingga sebenarnya belum tidur. Dia menatap dinding yang ada di depannya dengan datar sembari mendengarkan setiap ucapan suaminya.“Mungkin ini karma.” Sagara kembali bersuara. “Ini adalah balasan atas perbuatan yang pernah aku lakukan ke kamu. Tuhan mempertemukan kamu dengannya di saat aku sudah jatuh cinta ke kamu dan rumah tangga kita stabil. Seandainya dia muncul di awal kita menikah, mungkin aku nggak tahu gimana rasanya berjuang untuk meminta kesempatan kedua.”Jingga tetap bergeming. Dia biarkan Sagara berceloteh dan mengeluarkan unek-uneknya. Setelah mereka sedikit berdebat
“Aku minta maaf, Jingga. Aku pasti sudah membuatmu bingung saat itu. Dan pasti juga melukaimu.”Jingga tidak bereaksi berlebihan. Dia tak ingin bertanya lebih jauh sebenarnya tekanan seperti apa yang diberikan kakek Brian kepada keluarganya. Itu bukan hal yang perlu dia ketahui.“Tapi, pernikahan itu nggak berjalan lama, Jingga. Sulit berumah tangga dengan orang yang tidak kita cintai. Setelah Kakek meninggal, kami memutuskan untuk bercerai. Dia tahu, bukan dia orang yang aku inginkan.”Untuk sepersekian detik, tidak ada dari mereka yang bersuara. Jingga tak tahu harus menanggapi apa. Di satu sisi dia kesal, tetapi di sisi lain dia juga merasa sedih karena rumah tangga mantan kekasihnya itu tidak bisa bertahan lama.“Aku ikut sedih atas perceraianmu.” Jingga akhirnya mampu mengumpulkan kembali kata-katanya. “Kamu pasti akan mendapatkan pengganti yang kamu inginkan.” Melihat jam di ponselnya, Jingga tahu dia harus segera kembali. “Sorry, Bri. Aku harus balik ke hotel. Suamiku udah nyar







