Compartir

Part 7. Akting

Autor: Loyce
last update Última actualización: 2026-02-20 17:48:09

“Bagaimana rasanya menikah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna – sahabat Jingga.

Alih-alih bertemu di mal, Luna meminta Jingga agar dijemput di butik miliknya. Dia malas menyetir dan tidak mau keluar uang untuk naik kendaraan umum. Sangat budiman sekali sahabat Jingga satu ini. Kini Jingga yang menyetir dan mobil mereka sudah membelah kota Jakarta.

“Not bad,” jawaban itu cukup aman untuk dikeluarkan. Dia tak mungkin membeberkan fakta sebenarnya tentang kehidupan rumah tangganya kepada Luna meskipun Luna adalah sahabat baiknya. 

Mereka sudah bersahabat sejak duduk di sekolah menengah atas dan bertahan sampai saat ini. Mereka sama-sama melewati masa remajanya di luar negeri, namun Luna memilih kembali setelah lulus kuliah. Selama ini, mereka selalu bercerita tentang apa pun. Tapi jika itu menyangkut rumah tangga, Jingga tak akan sembarangan membeberkan kepada siapapun. Termasuk orang tuanya. Karena urusan rumah tangga adalah ranah pribadinya. 

“Gue kira, lo adalah perempuan yang sangat beruntung karena menikah dengan seorang Sagara Bimantara. Usut punya usut, dia itu sedikit ‘liar’ di luar sana. Dia juga sering gonta-ganti pasangan. Gue rasa dia udah tobat sejak menikah sama lo. Karena nggak ada desas-desus seperti itu lagi yang gue denger.” 

Tobat? Kata itu terdengar menggelikan di telinga Jingga. Sagara masih sama. Dia adalah lelaki yang suka semena-mena dan tidak punya hati. Hanya saja, mungkin sekarang dia tak memperlihatkannya demi menjaga nama baiknya. 

“Dia seterkenal itu?” tanya Jingga berpura-pura antusias. 

“Yup.” Luna mengangguk. “Ada beberapa kenalan gue yang cerita tentang Sagara dan ya, sepak terjangnya memang badboy banget sih.” Luna memajukan tubuhnya berbisik, “Tapi, dia perlakukan lo dengan baik, kan?” 

Jingga tidak menjawab. Tampak terlalu fokus pada jalanan. Tapi tak bisa dipungkiri kalau dia berpikir tentang Sagara. Pantas saja lelaki itu memperlakukannya begitu kasar, karena sebenarnya dia tidak ingin terikat oleh siapa pun. 

“Jingga. Kok ngelamun sih.”

Jingga sedikit menoleh ke arah Luna. “Sorry.” Jingga tersenyum kecil. “Lo tadi tanya apa? Perlakuan Sagara ke gue? Em … baik kok.” 

Bohong! Jingga bahkan berbohong hanya untuk menutupi hubungan buruknya kepada Sagara. Dulu dia sempat berpikir, meskipun pada awalnya pernikahannya tanpa cinta, tapi seiring berjalannya waktu mungkin cinta itu bisa tumbuh. Sayangnya, di awal pernikahannya, hubungan itu seperti berjalan di atas jebakan ranjau. Jika salah satu menginjak ranjau tersebut, maka keduanya akan sama-sama meledak. 

“Syukur deh. Gue jadi percaya, kalau lelaki itu akan tunduk dengan perempuan yang tepat. Dan lo membuktikan ucapan itu.” Luna tersenyum tulus saat mengatakannya. Tampak ikut bahagia. Mereka lantas melanjutkan mengobrol sampai ke sebuah mal besar di Jakarta.

Mereka masuk dengan suka cita seolah tidak ada beban di dalam dirinya. Karena Luna mengeluh lapar, maka mereka memilih untuk ke sebuah restoran untuk makan sebelum melanjutkan kegiatannya. Luna segera memesan banyak makanan karena hari ini Jingga yang akan mentraktirnya.

“Kalau menurut lo, dibandingkan dengan Brian, Sagara dapat penilaian berapa?” Luna bertanya dengan ringannya tanpa melihat ke wajah Jingga yang tidak tampak menegang.

Penilaian. Haruskah dia membandingkan kedua lelaki itu kalau pada akhirnya mereka sama-sama menyakiti hatinya?

Jingga menarik napasnya panjang, sebelum menjawab. “Mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nggak bisa memberikan penilaian.”

Luna berdecak. “Kalau di antara keduanya, kebaikan mereka itu mana yang lebih banyak.”

‘Tentu saja Brian.’ Jingga hanya bisa mengatakan itu di dalam hatinya. Dia tak mungkin mengatakannya kepada Luna atau dia akan dikejar oleh banyak pertanyaan.

“Lo bayar sendiri atau gue yang bayar ini makanan?” Luna mendengus kesal sebelum mengomel panjang lebar.

Itu adalah cara ampuh untuk membuat Luna berhenti bertanya dan tidak membahas mana yang lebih baik di antara mantan kekasih dan suaminya. Itu sangat menyebalkan bagi Jingga.

***

Makan, belanja, dan juga nonton sudah dilakukan. Luna benar-benar tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk semua itu karena Jingga yang membayarnya. Jangan berpikir kalau Luna adalah teman yang tidak tahu diri. Tentu saja hal semacam ini sudah sering dilakukan. Karena nanti saat waktunya Luna mentraktir, maka dia yang akan membayar biaya hangout mereka.

“Lo langsung mau pulang?” tanya Luna saat mereka sudah ada di basement mal. “Nggak mau ke apartemen gue dulu?”

Jingga tampak berpikir. Tapi hampir dia menjawab, sebuah suara memanggilnya.

“Jingga!”

Bukan hanya Jingga, Luna juga menoleh ke arah sumber suara. Sagara berjalan ke arahnya dari sisi kiri bersama dengan seorang lelaki yang saat itu ikut dalam pesta yang dibuat Sagara. Semala dia tidak pulang ke rumah, apakah lelaki itu mencari atau mungkin mengkhawatirkannya?

Jangan bermimpi, Jingga. Dia pasti senang karena kamu tidak ada di rumah.

Luna yang tidak tahu seburuk apa hubungan Jingga dan Sagara hanya tanpa menatap Sagara penuh damba. Ada binar kekaguman yang ditunjukkan oleh Luna. Tentu saja respon Luna akan seperti itu. Tidak bisa dipungkiri, Sagara memiliki aura yang begitu mematikan. Dia tampan dan begitu menarik.

“Kamu sudah mau pulang?” Sagara berdiri di depan Jingga sambil menatap gadis itu dengan lekat. Ada gelegak amarah yang berusaha disimpan dalam-dalam. Jingga tahu dan memahami itu.

“Iya. Aku sudah belanja.” Jingga menjawab santai. “Kalau begitu, kami pergi dulu.”

“Kamu pulang denganku.” Sagara mencekal tangan kiri Jingga.

Jingga tidak meronta, tapi ditatapnya Sagara dengan penuh peringatan sebelum dia bersuara. “Aku bawa mobil dan harus antar Luna.”

“Biar Alex yang membawanya. Lex, lo bisa antar Luna ‘kan?”

“Masih ada tempat yang harus aku kunjungi lagi.” Sebelum Alex menjawab, Jingga lebih dulu bersuara. “Iya, ‘kan, Lun?”

“Iya.” Baru saja Luna menawarkan Jingga ke apartemennya ‘kan?

“Kamu bisa pergi lain kali. Ada hal yang perlu aku bicarakan dan ini penting.”

Penting? Sepeting apa? Apa ini tentang desakan lelaki itu agar Jingga menceraikannya? Kalau iya, bukankah hanya sia-sia kalau Sagara melakukannya?

Jika isi pikiran Jingga bisa terlihat, maka akan ada banyak pertanyaan yang mengelilingi kepalanya.

“Nggak papa, Na, kita bisa pergi lain kali.” Luna tiba-tiba saja bersuara dan ‘memberi izin’ kepada Jingga untuk pergi bersama dengan sang suami. Tentu saja, Sagara segera tersenyum pada Luna.

“Terima kasih, Lun. Saya janji nanti saya akan kasih izin ke Jingga untuk pergi sama kamu lagi.” Akting mereka sangat sempurna sehingga Luna mampu dikelabui. Satu-satunya orang yang tidak bersuara hanyalah Alex. Karena lelaki itu paham betul jika dua sejoli ini tengah ‘memeranka sebuah drama’ picisan.

“Ayo!” Sagara menggandeng tangan Jingga untuk pergi dari tempat itu. Dan segera, Sagara mengeluarkan pertanyaan dengan nada sarkasme.

“Ke mana kamu semalam?” Itu pertanyaan pertama. Belum pertanyaan itu di jawab, Sagara kembali bersuara. “Kalau ingin melarikan diri, setidaknya jangan membuat orang lain repot.”

***  

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 10. Perbandingan Tak Sebanding

    “Kamu yakin akan melakukannya sekarang?” Jingga meyakinkan sekali lagi. “Ada konsekuensi yang harus kamu ingat, Sagara. Kalau aku hamil, itu artinya kamu tidak akan mendapatkan kebebasanmu karena aku tidak akan membiarkanmu luput dari pengawasanku.” Tangan Jingga dingin luar biasa. Sedikit bergetar ketika terangkat untuk menelusupkan jari-jari di rambut Sagara.Dia merasakan surai halus lelaki itu. Jantungnya semakin bertalu keras, tetapi bukan saatnya untuk mundur. Mepertahankan kewarasannya agar tidak meledak dalam amarah. Sejujurnya dia merasa jijik dengan sentuhan Sagara, entah sudah berapa perempuan yang pernah tidur dengannya. Namun, dengan mundur sekarang, itu hanya akan membuat Sagara merasa kalau istrinya adalah perempuan yang lemah. Jingga tidak akan membiarkan Sagara berpikiran sejauh itu.Kebisuan yang ditunjukkan oleh Sagara adalah bukti jika lelaki itu sebenarnya tidak benar-benar menginginkannya. Sagara hanya ingin menakut-nakuti Jingga.“Ayo kita lakukan kalau memang i

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 9. Kamu Istriku, ‘Kan?

    Deringan ponsel Jingga menahan Sachi yang ingin bicara. Jingga menoleh ke arah Sagara karena ponselnya dibawa oleh lelaki itu. Sachi juga menoleh pada Sagara dengan kening mengernyit ketika Sagara dengan santainya menarik ponsel pintar itu dari sakunya, membaca nama yang tertera di sana, dan tanpa izin dia menerima panggilan dengan tatapan lurus pada Jingga.“Halo!” Sagara mendengar Luna bersuara di seberang sana dengan tenang. “Saya akan beritahu Jingga nanti, hem, oke. Terima kasih!”Sambungan telepon terputus. Seringaian Sagara terlihat di bibirnya. Ponsel yang ada di tangannya digoyang-goyangkan seolah dia tengah mengejek Jingga. Bahkan tanpa memdulikan Sachi yang ada di sana, dia lebih memilih berbicara dengan Jingga.“HP ini aku sita. Kamu, tidak akan bisa ke mana-mana tanpa izin dariku.” Begitu katanya dengan nada mengejek. Sepertinya ada rasa takut yang dirasakan oleh Sagara kalau-kalau ibunya tiba-tiba datang dan mencari keberadaan Jingga, sehingga dia harus mengancam perempu

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 8. Tak Beretika

    “Merepotkan orang lain?” Jingga mengernyit mendengar ucapan Sagara. “Orang mana yang aku repotkan?” tantang Jingga dengan berani, menuntut jawaban dari sang suami. Sagara menatap Jingga dengan tatapan berapi-api. Emosi yang ditahannya seolah ingin meledak menghanguskan perempuan itu. Tidak bisa dipungkiri, Sagara selalu merasa kesal ketika berhadapan dengan sang istri. Ekspresi datarnya, kebiasaan membalikkan ucapannya, dan yang paling penting adalah keberanian Jingga menghadapi Sagara, membuat Sagara seolah diinjak-injak.Mereka masih berada di basement mal. Sagara sepertinya tidak berniat untuk menjalankan mobilnya sama sekali. Menoleh ke belakang, Jingga masih bisa melihat Luna dan Alex berdiri di tempatnya semula belum beranjak sedikit pun. Kedua orang itu menatap ke arah mobil Sagara dengan tatapan aneh.“Kenapa diam?” Bungkamnya Sagara, membuat Jingga berinisiatif untuk kembali bertanya. “Kalau kamu hanya ingin bertanya tentang sesuatu hal yang tidak berguna, aku akan keluar s

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 7. Akting

    “Bagaimana rasanya menikah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna – sahabat Jingga.Alih-alih bertemu di mal, Luna meminta Jingga agar dijemput di butik miliknya. Dia malas menyetir dan tidak mau keluar uang untuk naik kendaraan umum. Sangat budiman sekali sahabat Jingga satu ini. Kini Jingga yang menyetir dan mobil mereka sudah membelah kota Jakarta.“Not bad,” jawaban itu cukup aman untuk dikeluarkan. Dia tak mungkin membeberkan fakta sebenarnya tentang kehidupan rumah tangganya kepada Luna meskipun Luna adalah sahabat baiknya. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di sekolah menengah atas dan bertahan sampai saat ini. Mereka sama-sama melewati masa remajanya di luar negeri, namun Luna memilih kembali setelah lulus kuliah. Selama ini, mereka selalu bercerita tentang apa pun. Tapi jika itu menyangkut rumah tangga, Jingga tak akan sembarangan membeberkan kepada siapapun. Termasuk orang tuanya. Karena urusan rumah tangga adalah ranah pribadinya. “Gue kira, lo adalah perempuan yang

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 6. Aku dan Sakitku

    “Tentu kamu boleh mencobanya, Jingga. Tapi seperti yang aku bilang. Kamu harus bersiap untuk terluka dan kecewa.”Kata-kata itu memenuhi pikiran Jingga sampai pagi menjelang dan dia sudah berada di dalam kantornya. Dia menyadari kalau jalannya tidak akan mudah, tapi apakah akan sesulit itu? Benar, bahkan Sagara sendiri juga sudah memeringatkan. Seharian ini, Jingga benar-benar tidak begitu bisa berkonsentrasi bekerja. Tidak ada hal bisa dia lakukan.Pulang kerja, dia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Dia berjanji akan pergi ke sana dan masih belum ada waktu untuk menepatinya.“Aku ikut Papa pulang ya. Biarin aja mobilnya di kantor.”Masuk ke dalam ruangan sang ayah, Jingga meminta izn. Ayah Jingga yang bersiap pulang itu mendongak, kemudian tersenyum.“Boleh. Tapi kamu udah bilang sama suami kamu? Kenapa nggak sekalian ajak dia aja?”Jingga mahir sekali menutupi perasaan kacau yang dirasakan. Menunjukkan senyumnya dia mendekat ke arah sang ayah. “Sagara itu banyak kerjaan, Pa. D

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 5. Saling Memeringatkan

    “Ada apa?” Belum juga Jingga menjawab ucapan Sachi, Sagara sudah pulang. Lelaki itu dengan otomatis berdiri di samping Sachi dan menghadap pada Jingga.“Nggak ada apa-apa. Jingga bertanya kenapa aku ada di sini.” Sachi menjawab pertanyaan Sagara.Lelaki itu masih terus menatap Jingga dengan tatapan dingin. “Kenapa kalau dia ada di sini, aku sudah mengizinkannya.” Sagara mengonfirmasi secara langsung tanpa peduli perasaan Jingga sedikitpun.Merasa lelah, Jingga akhirnya mengalah. Dia tak ingin mengeluarkan suaranya untuk bertengkar dengan sang suami. Pergi begitu saja dari hadapan Sagara dan Sachi, Jingga naik ke lantai dua. Menghadapi mereka juga membutuhkan banyak tenaga dua kali lipat. Jingga butuh istirahat.Masuk ke dalam kamarnya, perempuan itu segera mendaratkan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup matanya rapat dan segera saja, alam mimpi menguasainya. Dia tertidur hanya dengan hitungan menit. Mengesampingkan terlebih dulu segala masalah yang menimpanya. Karena setelah dia membuka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status