Share

Part 5. Saling Memeringatkan

Penulis: Loyce
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-05 13:20:12

“Ada apa?” Belum juga Jingga menjawab ucapan Sachi, Sagara sudah pulang. Lelaki itu dengan otomatis berdiri di samping Sachi dan menghadap pada Jingga.

“Nggak ada apa-apa. Jingga bertanya kenapa aku ada di sini.” Sachi menjawab pertanyaan Sagara.

Lelaki itu masih terus menatap Jingga dengan tatapan dingin. “Kenapa kalau dia ada di sini, aku sudah mengizinkannya.” Sagara mengonfirmasi secara langsung tanpa peduli perasaan Jingga sedikitpun.

Merasa lelah, Jingga akhirnya mengalah. Dia tak ingin mengeluarkan suaranya untuk bertengkar dengan sang suami. Pergi begitu saja dari hadapan Sagara dan Sachi, Jingga naik ke lantai dua. Menghadapi mereka juga membutuhkan banyak tenaga dua kali lipat. Jingga butuh istirahat.

Masuk ke dalam kamarnya, perempuan itu segera mendaratkan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup matanya rapat dan segera saja, alam mimpi menguasainya. Dia tertidur hanya dengan hitungan menit. Mengesampingkan terlebih dulu segala masalah yang menimpanya. Karena setelah dia membuka matanya esok hari, masalah akan kembali menyerangnya.

Sayangnya tidak perlu menunggu esok hari, malam ini dia harus kembali berurusan dengan Sachi lebih awal. Jingga tadinya bermaksud mengambil minum di dapur. Namun benar-benar tak menyangka ketika Sachi masih berada di rumahnya. Pakaian yang dikenakan juga pakaian tidur sutra. Lebih terbuka dari yang kemarin dipakai. Membuat Jingga benar-benar terpaku di tempatnya.

Sachi bilang, “Jingga, maaf aku mengejutkanmu karena aku menginap lagi. Sagara memintaku untuk menginap di sini.”

Sagara. Lelaki itu benar-benar sudah kelewatan. Dia ingin membuktikan ucapannya dengan memberikan neraka untuk sang istri. Dan tidak peduli dengan peringatan yang diberikan Jingga pagi tadi, Sagara tetap meminta Sachi berada di rumah mereka. Jingga masih bungkam ketika membuka kulkas dan mengambil satu botol air mineral, lalu menenggaknya sampai habis.

Hatinya dipenuhi emosi sehingga darahnya terasa mendidih. Jika dirinya membiarkan Sagara dan Sachi bersikap seenaknya, dia hanya akan kalah.

“Sachi!” Jingga akhirnya bersuara. Masih menghadap ke kulkas saat memanggil kekasih suaminya tersebut. “Mari kita bicara!” Jingga meremas botol kosong yang ada di tangan kanannya.

Melampiaskan kekesalannya pada benda tak bernyawa itu seolah dia tengah meremas wajah Sagara. Melemparkan dengan kuat botol plastic itu ke tempat sampah dengan berapi-api.  Kepalanya kian penuh dengan tumpukan masalah yang dibuat oleh Sagara.

Dalam keadaan ruangan yang sedikit temaram, Jingga bisa melihat raut wajah kaku Sachi mendengar permintaan Jingga. Tanpa menunggu jawaban Sachi, Jingga lebih dulu berjalan menuju ruang keluarga. Duduk di sofa panjang dan dikuti oleh Sachi setelahnya. Mereka duduk di sofa yang sama dengan mengambil jarak yang cukup jauh.

“Perlukah kamu melakukan ini?” Jingga segera membuka suara saat beberapa waktu terjadi keheningan di antara keduanya. Menatap jam dinding, pukul satu dini hari. Cukup malam untuk membicarakan masalah mereka. Tapi Jingga tidak ingin menundanya.

“Kamu tahu kalau Sagara sekarang sudah memiliki istri. Tidak bisakah kamu menghargaiku meskipun hanya sedikit saja?”

Jingga menyandarkan punggungnya di lengan sofa dengan pandangan mengarah lurus pada Sachi. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan siap menghakimi perempuan tak tahu malu tersebut. Seharusnya akan lebih mudah kalau Sagara ada di sana bersama mereka, tapi Jingga tak cukup sabar menunggu lelaki itu yang sekarang entah ada di mana.

Sachi tampak terkejut dengan pertanyaan Jingga namun hanya sebentar ketika dia kembali memasang ekspresi santainya. Meskipun begitu, tidak ada jawaban yang Sachi berikan kepada Jingga.

“Kenapa kalian dulu tidak menikah kalau memang kalian saling mencintai?” Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Jingga. “Aku yakin kalian akan sangat bahagia jika kalian menjadi suami istri.”

“Kamu salah paham dengan hubungan kami.” Sachi menjawab lugas. “Kami hanyalah dua orang yang saling menyukai tanpa perlu ada ikatan yang berarti. Ikatan bukan hal yang penting, hal yang terbaik bagi kami adalah kami bisa selalu bersama.”

“Sampai kapan?” tanya Jingga. “Sampai kapan kalian akan menjalin hubungan seperti ini?”

Senyum culas Sachi terlihat sebelum berganti dengan senyum malu-malu. “Sejak dulu, hubungan kami sudah sangat dekat. Di mana ada Sagara, di sanalah aku berada. Kami sama-sama menjalani hubungan ini dengan santai. Dan satu hal yang tidak akan berubah adalah, ke mana pun Sagara pergi, dia hanya akan kembali kepadaku.”

Ruang keluarga itu hening seketika saat Sachi selesai bicara. Detik jam yang bergerak, dengungan suara AC yang masih menyala, dan jantung Jingga yang terasa gemuruh di dalam tubuhnya seolah perpaduan yang luar biasa. Jika pertahanan dirinya tidak kuat, Jingga pasti akan meledak dalam amarah.

“Apa itu artinya kamu ingin menyatakan jika Sagara tetap akan bersamamu meskipun dia sudah menikah dan berkeluarga seperti sekarang?” Jingga kembali membuka mulutnya berbicara.

“Kamu bisa menilainya sendiri. Bahkan dia sudah menikah, tapi Sagara justru masih mempertahankanku di sisinya,” jawab Sachi enteng.

Jingga pernah mendengar, cinta sejati akan datang sekali dalam seumur hidup. Mungkin itulah yang terjadi pada dua orang tersebut. Terlebih lagi, Sagara dan Sachi adalah dua orang yang memiliki tujuan hidup yang sama. Hanya ingin bersenang-senang tanpa terikat. Bukankah itu artinya, Sachi akan menjadi benalu dalam rumah tangga Jingga dan Sagara jika tidak segera dihentikan.

Meskipun Sagara ingin menendang Jingga dari kehidupannya, tapi Jingga ingin mempertahankannya. Maka satu-satunya yang perlu dilakukan adalah dia harus memperjelas posisinya dihadapan Sachi.

“Kalau begitu, mari kita perjelas tentang posisi kita sekarang.” Jingga bertindak tegas. “Aku tahu kalau orang yang disukai dan dikehendaki oleh Sagara di sisinya adalah kamu. Tapi siapa yang peduli dengan itu kalau faktanya akulah yang menjadi istrinya sekarang.”

Jingga tidak segera melanjutkan dan memilih menikmati ekspresi Sachi yang tampak berubah, terganggu. “Silakan saja kamu bersenang-senang dengan Sagara selagi aku masih berbaik hati. Aku tidak akan menghalangi kisah cinta kalian yang mengharukan itu. Tapi, aku punya batas kesabaran. Aku bukan orang yang akan menahan diri dan membiarkan orang lain menginjakku.”

“Itu adalah pilihanmu ketika kamu menerima perjodohan ini.” Sachi berucap cuek. “Seharusnya kamu cukup cerdas untuk tidak mengambil resiko sebesar ini untuk tetap melanjutkan pernikahan yang tidak diinginkan.”

Jingga mengangguk mengerti. “Sekarang dia memang tidak menginginkan, siapa yang akan tahu di masa depan.”

“Kamu berpikir Sagara akan berubah pikiran dan melanjutkan rumah tangga kalian?” Sachi terkekeh kecil. Senyum culas tampak di bibirnya. “Aku harus memberitahumu, Sagara bukan lelaki yang mudah menerima orang baru dalam hidupnya. Aku takut, itu hanya akan membuatmu terluka.”

“Semua permainan juga ada garis akhirnya, Sachi.” Dengan cepat Jingga menjawab. “Pun dengan hubunganmu dengan Sagara yang bahkan tidak jelas bernama apa. Seharusnya kamu harus berhati-hati. Karena kamu tidak akan pernah tahu kapan akan kehilangan sesuatu dalam hidupmu. Mulai sekarang, kamu harus bisa menjaga Sagara dengan baik sebelum aku menginginkannya.”

Jingga memajukan tubuhnya kemudian berbisik. “Karena ketika aku menginginkan sesuatu, aku nggak akan pernah melepaskannya.”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 10. Perbandingan Tak Sebanding

    “Kamu yakin akan melakukannya sekarang?” Jingga meyakinkan sekali lagi. “Ada konsekuensi yang harus kamu ingat, Sagara. Kalau aku hamil, itu artinya kamu tidak akan mendapatkan kebebasanmu karena aku tidak akan membiarkanmu luput dari pengawasanku.” Tangan Jingga dingin luar biasa. Sedikit bergetar ketika terangkat untuk menelusupkan jari-jari di rambut Sagara.Dia merasakan surai halus lelaki itu. Jantungnya semakin bertalu keras, tetapi bukan saatnya untuk mundur. Mepertahankan kewarasannya agar tidak meledak dalam amarah. Sejujurnya dia merasa jijik dengan sentuhan Sagara, entah sudah berapa perempuan yang pernah tidur dengannya. Namun, dengan mundur sekarang, itu hanya akan membuat Sagara merasa kalau istrinya adalah perempuan yang lemah. Jingga tidak akan membiarkan Sagara berpikiran sejauh itu.Kebisuan yang ditunjukkan oleh Sagara adalah bukti jika lelaki itu sebenarnya tidak benar-benar menginginkannya. Sagara hanya ingin menakut-nakuti Jingga.“Ayo kita lakukan kalau memang i

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 9. Kamu Istriku, ‘Kan?

    Deringan ponsel Jingga menahan Sachi yang ingin bicara. Jingga menoleh ke arah Sagara karena ponselnya dibawa oleh lelaki itu. Sachi juga menoleh pada Sagara dengan kening mengernyit ketika Sagara dengan santainya menarik ponsel pintar itu dari sakunya, membaca nama yang tertera di sana, dan tanpa izin dia menerima panggilan dengan tatapan lurus pada Jingga.“Halo!” Sagara mendengar Luna bersuara di seberang sana dengan tenang. “Saya akan beritahu Jingga nanti, hem, oke. Terima kasih!”Sambungan telepon terputus. Seringaian Sagara terlihat di bibirnya. Ponsel yang ada di tangannya digoyang-goyangkan seolah dia tengah mengejek Jingga. Bahkan tanpa memdulikan Sachi yang ada di sana, dia lebih memilih berbicara dengan Jingga.“HP ini aku sita. Kamu, tidak akan bisa ke mana-mana tanpa izin dariku.” Begitu katanya dengan nada mengejek. Sepertinya ada rasa takut yang dirasakan oleh Sagara kalau-kalau ibunya tiba-tiba datang dan mencari keberadaan Jingga, sehingga dia harus mengancam perempu

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 8. Tak Beretika

    “Merepotkan orang lain?” Jingga mengernyit mendengar ucapan Sagara. “Orang mana yang aku repotkan?” tantang Jingga dengan berani, menuntut jawaban dari sang suami. Sagara menatap Jingga dengan tatapan berapi-api. Emosi yang ditahannya seolah ingin meledak menghanguskan perempuan itu. Tidak bisa dipungkiri, Sagara selalu merasa kesal ketika berhadapan dengan sang istri. Ekspresi datarnya, kebiasaan membalikkan ucapannya, dan yang paling penting adalah keberanian Jingga menghadapi Sagara, membuat Sagara seolah diinjak-injak.Mereka masih berada di basement mal. Sagara sepertinya tidak berniat untuk menjalankan mobilnya sama sekali. Menoleh ke belakang, Jingga masih bisa melihat Luna dan Alex berdiri di tempatnya semula belum beranjak sedikit pun. Kedua orang itu menatap ke arah mobil Sagara dengan tatapan aneh.“Kenapa diam?” Bungkamnya Sagara, membuat Jingga berinisiatif untuk kembali bertanya. “Kalau kamu hanya ingin bertanya tentang sesuatu hal yang tidak berguna, aku akan keluar s

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 7. Akting

    “Bagaimana rasanya menikah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna – sahabat Jingga.Alih-alih bertemu di mal, Luna meminta Jingga agar dijemput di butik miliknya. Dia malas menyetir dan tidak mau keluar uang untuk naik kendaraan umum. Sangat budiman sekali sahabat Jingga satu ini. Kini Jingga yang menyetir dan mobil mereka sudah membelah kota Jakarta.“Not bad,” jawaban itu cukup aman untuk dikeluarkan. Dia tak mungkin membeberkan fakta sebenarnya tentang kehidupan rumah tangganya kepada Luna meskipun Luna adalah sahabat baiknya. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di sekolah menengah atas dan bertahan sampai saat ini. Mereka sama-sama melewati masa remajanya di luar negeri, namun Luna memilih kembali setelah lulus kuliah. Selama ini, mereka selalu bercerita tentang apa pun. Tapi jika itu menyangkut rumah tangga, Jingga tak akan sembarangan membeberkan kepada siapapun. Termasuk orang tuanya. Karena urusan rumah tangga adalah ranah pribadinya. “Gue kira, lo adalah perempuan yang

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 6. Aku dan Sakitku

    “Tentu kamu boleh mencobanya, Jingga. Tapi seperti yang aku bilang. Kamu harus bersiap untuk terluka dan kecewa.”Kata-kata itu memenuhi pikiran Jingga sampai pagi menjelang dan dia sudah berada di dalam kantornya. Dia menyadari kalau jalannya tidak akan mudah, tapi apakah akan sesulit itu? Benar, bahkan Sagara sendiri juga sudah memeringatkan. Seharian ini, Jingga benar-benar tidak begitu bisa berkonsentrasi bekerja. Tidak ada hal bisa dia lakukan.Pulang kerja, dia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Dia berjanji akan pergi ke sana dan masih belum ada waktu untuk menepatinya.“Aku ikut Papa pulang ya. Biarin aja mobilnya di kantor.”Masuk ke dalam ruangan sang ayah, Jingga meminta izn. Ayah Jingga yang bersiap pulang itu mendongak, kemudian tersenyum.“Boleh. Tapi kamu udah bilang sama suami kamu? Kenapa nggak sekalian ajak dia aja?”Jingga mahir sekali menutupi perasaan kacau yang dirasakan. Menunjukkan senyumnya dia mendekat ke arah sang ayah. “Sagara itu banyak kerjaan, Pa. D

  • Mengejar Kembali Istri yang Kucampakkan   Part 5. Saling Memeringatkan

    “Ada apa?” Belum juga Jingga menjawab ucapan Sachi, Sagara sudah pulang. Lelaki itu dengan otomatis berdiri di samping Sachi dan menghadap pada Jingga.“Nggak ada apa-apa. Jingga bertanya kenapa aku ada di sini.” Sachi menjawab pertanyaan Sagara.Lelaki itu masih terus menatap Jingga dengan tatapan dingin. “Kenapa kalau dia ada di sini, aku sudah mengizinkannya.” Sagara mengonfirmasi secara langsung tanpa peduli perasaan Jingga sedikitpun.Merasa lelah, Jingga akhirnya mengalah. Dia tak ingin mengeluarkan suaranya untuk bertengkar dengan sang suami. Pergi begitu saja dari hadapan Sagara dan Sachi, Jingga naik ke lantai dua. Menghadapi mereka juga membutuhkan banyak tenaga dua kali lipat. Jingga butuh istirahat.Masuk ke dalam kamarnya, perempuan itu segera mendaratkan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup matanya rapat dan segera saja, alam mimpi menguasainya. Dia tertidur hanya dengan hitungan menit. Mengesampingkan terlebih dulu segala masalah yang menimpanya. Karena setelah dia membuka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status