MasukSorenya, Raya sedang merapikan dokumen untuk meeting Ares ketika suara yang paling tidak ingin didengarnya menyelinap dari pintu masuk. "Wah, wah... lihat siapa ini."
Raya menoleh. Kenzie berdiri di sana dengan senyum sinis, tangan terlipat di dada. Matanya mengamati Raya dari ujung rambut sampai ujung sepatu, muatan ejekan jelas terpancar dari tatapannya. "Mengubah penampilan?" Kenzie berjalan mengelilingi meja Raya, menatapnya dari berbagai sudut dengan pandangan mengejek. "Rambut model baru. Baju baru. Makeup tebal." Ia berhenti tepat di depan Raya, mencondongkan badan agar wajah mereka sejajar. "Jadi ini caramu menarik perhatian ayahku? Supaya dapat nilai di atas standar?" Kenzie tertawa kecil, nada suaranya dingin dan meremehkan, "Atau… kamu sengaja tampil begini supaya aku tergoda lagi?" Raya menatapnya tanpa gentar, meminjam ketenangan dan tatapan tajam yang sering ia pelajari dari Ares. Senyum tipis terangkat di sudut bibirnya. "Anda terlalu percaya diri, Pak Kenzie. Mungkin sebaiknya Anda bercermin dulu, supaya sadar, dunia ini tidak berputar hanya di sekitar Anda." Kenzie tertawa pelan, tapi tawa itu justru membuat darah Raya mendidih. Matanya melirik ke kancing atas kemeja Raya yang sedikit terbuka, lalu berucap berucap dengan nada mengejek, "Benarkah? Asal kamu tahu, penampilanmu ini terlalu jelas untuk menggoda pria. Sebegitu putus asanya kamu putus dariku?" Kata terakhir itu seperti tamparan, namun Raya tidak akan mundur. "Silahkan anda berpikir sesuka hati Anda, Pak Kenzie," jawabnya sambil kembali menatap layar komputer. "Saya tidak perlu menjelaskan pilihan penampilan pada Anda. Karena anda sudah bukan siapa-siapa bagi saya." Kenzie menatap tajam Raya, senyumnya sirna, nadanya berubah jadi mengancam. "Sepertinya aku harus mengingatkanmu. Aku mantan pacarmu. Pacar pertamamu. Pemilik ciuman pertamamu juga. Dan aku yang paling mengenalmu." "Justru karena itu," Raya menatap balik dengan pandangan yang membuat Kenzie sedikit terkejut, "Anda tentu tahu saya mudah lupa dengan hal yang tak penting. Dan Anda tidak sepenting itu dalam hidup saya." Kenzie hendak membuka mulut, tapi pada saat itu pintu ruang Ares terbuka. "Kenzie," suara Ares terdengar datar. "Sedang apa kamu disini? Kamu tidak bekerja? Ingat perusahaan tidak membayarmu untuk mengobrol." Kenzie meluruskan tubuhnya, ekspresinya berubah menjadi profesional. "Ya, Dad. Aku mau meeting dengan Pak Hendra." Matanya masih tak lepas dari Raya yang fokus menatap ayahnya dengan tatapan yang berbeda Merasa masih belum puas, Sebelum pergi, Kenzie menunduk hampir membungkuk ke arah Raya, berbisik pelan agar Ares tak mendengarnya, “Ternyata kamu benar-benar mau menggoda ayahku?” Ejeknya tapi terdengar nada cemburu di dalamnya. “Sebaiknya kamu menyerah saja. Kamu tidak akan pernah bisa menarik perhatian ayahku. Dia sudah terbiasa dengan wanita-wanita yang jauh lebih cantik dan berpengalaman darimu. Jadi, jangan banyak bermimpi." Kenzie mengangguk sebentar pada Ares, lalu melangkah meninggalkan jejak aroma cologne mahal. Di atas meja, tangan Raya mengepal, kuku menancap di telapak. Kata-kata itu meresap seperti racun, membuat hatinya semakin bertekad untuk membuktikan dia bisa mendapatkan Ares. "Kamu salah, Kenzie. Aku akan mendapatkan ayahmu," ucapnya dalam hati. Raya menarik napas dalam dan kembali fokus pada pekerjaannya. Permainan sudah dimulai. Dan ia tidak akan berhenti sampai ia menang. Apapun konsekuensinya. "Apa Kenzie mengganggumu?" tanya Ares membuyarkan lamunannya. Raya menoleh, agak terkejut menemukan Ares masih berdiri di ambang pintu ruangannya, bersandar pada kusen dengan pose yang entah kenapa terlihat sangat maskulin. Lengan kemeja hitamnya digulung hingga siku, memperlihatkan tangan berototnya yang tampak kuat. "Tidak, Pak," jawab Raya cepat, berusaha menutupi kegugupan. "Hanya percakapan biasa. Tidak ada apa-apa." Ares menatapnya tajam, seolah menembus kebohongan kecil itu. Ia melangkah pelan ke meja, penuh wibawa. "Percakapan biasa seperti apa yang membuatmu mengepalkan tangan hingga buku jarimu memutih?" tanyanya menyelidik. Raya segera melonggarkan kepalan, mendadak malu karena Ares memperhatikan detail sekecil itu. "Bukan apa-apa, Pak," ulangnya, kali ini dengan lebih meyakinkan. "Pak Kenzie tadi hanya mampir sebentar. Urusan pekerjaan." Ares berhenti tepat di samping mejanya. Dari posisi Raya yang duduk, Raya harus mendongak untuk menatap wajah atasannya itu. Dan entah kenapa, sudut pandang ini membuat jantungnya berdegup lebih kencang. "Dengar baik-baik, Naraya," kata Ares dengan suara rendah yang terdengar berbahaya. "Jika Kenzie mengganggumu dalam bentuk apapun, kamu bisa melaporkannya padaku. Dia mungkin anakku, tapi di kantor ini, dia tetap karyawan. Saya tidak mentolerir pelecehan dalam bentuk apapun di perusahaanku." Raya menatap Ares dengan mata membulat. Ucapan Ares terdengar sedikit berbeda, ada aura protektif yang lebih dari sekadar hubungan atasan dan bawahan biasa. "Terima kasih, Pak," jawab Raya pelan. "Saya masih bisa menghandlenya sendiri. Saya bukan gadis lemah yang perlu dilindungi." Sudut bibir Ares terangkat, bukan senyum penuh, tapi cukup membuat wajahnya melunak. "Saya tahu kamu bukan gadis lemah," katanya. "Tapi kamu harus ingat, seorang wanita kuat pun berhak mendapat dukungan ketika menghadapi pria yang tidak tahu diri." Raya merasakan kehangatan menjalar di dadanya. Ini berbahaya. Sangat berbahaya. "Baik, Pak," jawab Raya sambil menundukkan kepala, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Saya akan mengingat itu." "Bagus." Ares mengetuk meja Raya sekali dengan buku jarinya. "Meeting akan dimulai dalam sepuluh menit. Dokumennya sudah siap?" "Sudah, Pak. Semuanya ada di folder hijau ini." "Sempurna. Kamu memang tak pernah mengecewakan saya, Naraya." Ares mengambil folder itu, jari-jarinya sempat menyentuh tangan Raya sekilas. Sentuhan singkat itu seperti percikan listrik. Kedua tubuh itu terhenti dalam kontak yang amat singkat, namun cukup untuk membuat keduanya kaku beberapa detik. Mereka saling menatap, hingga Raya buru-buru memutuskan kontak mata sebelum gelenyar aneh di perutnya menyebar keseluruh tubuhnya. "Saya akan membawakan kopi Anda ke ruang meeting, Pak," kata Raya cepat, memutus kontak mata. "Terima kasih, Raya." Suara Ares terdengar sedikit serak, atau itu hanya imajinasi Raya? Rahangnya tampak menegang saat ia berbalik dan berjalan masuk ke ruangannya, meninggalkan Raya dengan dada yang berdegup tak teratur. Raya meletakkan telapak tangan di dada, menahan denyut yang tak karuan. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri kalau ini hanya permainan. Ini semua hanya untuk mempermalukan Kenzie. Ayahnya hanyalah alat. Tetapi setiap kali Ares menatap, sentuhan kecil, sesuatu di dalam dirinya bergetar. Getaran itu bukan hal asing, itu adalah sesuatu yang lebih dari rencana balas dendam sederhana. Berbahaya, karena mulai merayap menjadi perasaan yang tak ia izinkan tumbuh. Raya menggeleng, mengusir pikiran itu. Fokus, Raya. Fokus pada tujuanmu. Kenzie harus membayar semua rasa sakit hati yang sudah diberikan. Dan Ares... Ayah Kenzie itu hanya alat untuk mencapai tujuan itu. Tidak lebih.Pemandangan di depan matanya adalah visualisasi dari neraka yang paling nyata bagi Ares Mahardika. Di atas ranjang besar dengan seprai kusut, Prama menaungi Raya dengan tubuh telanjang dada. Tangannya tengah meraba paha istrinya ketika dentuman pintu menghentikan gerakannya. Ruangan itu membeku. Tapi aura di sekitar Ares mendidih melampaui titik ledak. "Binatang..." Suara Ares seperti guntur, rendah, parau, bergetar oleh amarah yang melampaui batas kemanusiaan. Prama tersentak. Ia menoleh, lalu dengan sengaja menggeser tubuhnya ke samping, mempertontonkan hasil kerjanya. Raya tergeletak lemas. Kemeja sudah terbuka, hanya bra yang masih melindungi dadanya. Wajahnya merah membara, peluh membasahi pelipis dan leher. Matanya sayu menatap langit-langit dengan kekosongan yang mengerikan. Napasnya pendek-pendek, tersengal, seakan oksigen di ruangan itu telah habis. Prama menoleh dnegan senyum miring di wajahnya. "Ares lihatlah—" Belum sempat kalimat itu selesai, Ares sudah menerjan
Jalanan gelap Bogor terasa mencekik. Ares duduk tegang di kursi belakang, rahangnya mengeras setiap kali mobil melambat karena tikungan. Jemarinya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. David di kemudi terus memantau GPS sambil sesekali melirik spion, mengamati raut bosnya yang seperti singa terluka siap menerkam. "Kita sudah dekat dengan villa pertama, Tuan. Sekitar lima belas menit lagi," lapor David. Ares tidak menjawab. Matanya kosong menatap kegelapan di luar jendela, tapi pikirannya penuh dengan skenario terburuk tentang apa yang mungkin terjadi pada Raya. Dalam kepalanya, potongan-potongan kemungkinan terus berputar. Raya sendirian, ketakutan, sambil berharap menunggunya datang. Dada Ares naik turun pelan. Ia menekan napasnya sendiri, memaksa pikirannya tetap dingin. Panik tak akan menyelamatkan siapa pun. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Dua kali dering. Nama Prama terpampang di layar. Teddy yang duduk di samping Ares langsung menahan napas, tubuh
Jari Raya bergetar menekan ikon panggilan. Detak jantungnya seperti drum perang, keras, cepat, menuntut. Nada sambung pertama terasa seperti seabad. Kedua. Ketiga. Angkat, Ares. Kumohon. Matanya tak henti melirik ke arah dapur. Bayangan Prama bergerak di balik dinding. Raya menggigit bibir, menekan ponsel lebih erat ke telinga. Nada kedua. Panggilan langsung diputus Raya, karena ia terlalu takut Prama kembali lagi. "Tuhan," desis Raya frustasi. Ia segera sadar, menelepon lagi akan terlalu berisiko. Prama bisa kembali kapan saja. Dengan gerakan kilat, jemarinya menari di layar ponsel, membuka riwayat panggilan, menghapus jejak nomor Ares. Lalu ia beralih ke aplikasi peta. Tangan gemetar menekan tombol bagikan lokasi, memilih nama Ares dari kontak, dan menekan kirim. Sedetik kemudian, pesan itu terhapus. Bersih. Seolah tak pernah ada. Napasnya memburu. Ia butuh alibi. Cepat. Jemarinya kembali mengetik, kali ini nomor Dio. Panggilan tersambung setelah nada kedua. "Kakak?" suara
Mobil yang dikendarai David meluncur bagai anak panah membelah kegelapan jalanan menuju Bogor. Di kursi belakang, suasana begitu mencekam. Ares terus menatap layar ponselnya, memantau titik merah yang bergerak di peta—lokasi villa yang diberikan Teddy. "Lebih cepat, David!" geram Ares. Suaranya rendah, namun penuh dengan ancaman yang nyata. "Baik, Tuan," sahut David tenang meski tangannya mencengkeram kemudi dengan erat. Ia tahu betul, setiap detik sangat berharga. Teddy di samping Ares tampak hancur. "Res, kalau benar Prama di sana... tolong, jangan biarkan emosimu mengendalikan segalanya. Kita selesaikan ini tanpa kekerasan." Ares menoleh, tatapannya begitu tajam hingga Teddy terdiam. "Dia mengambil istriku dengan tipu daya yang menjijikkan, Teddy. Dia menyamar jadi aku, mempermalukanku, dan sekarang menyekapnya. Jika ada satu helai rambut Raya yang rusak, aku tidak menjamin Prama akan keluar dari sana dengan kaki yang masih bisa berjalan." Teddy meremas tangannya sendiri y
Ares duduk di kursi kerjanya dengan wajah kusut, mata sembab karena kurang tidur. Sudah tiga hari ia mencari Raya tanpa hasil. Setiap petunjuk berujung jalan buntu. Ponselnya tiba-tiba berdering. David. Ares langsung mengangkat. "Ya?" "Tuan, saya sudah dapat hasilnya," ucap David dengan nada serius. "Tim forensik digital sudah selesai menganalisis video yang ditunjukkan Imelda pada Nyonya." Ares menegakkan tubuhnya, jantungnya berdegup kencang. "Dan?" "Pria di video itu bukan Tuan," jawab David tegas. "Itu Pak Prama." Ares membeku. "Apa?" "Tim menggunakan teknologi facial recognition dan body movement analysis. Pria itu menggunakan deepfake technology dan prosthetic makeup untuk menyamar sebagai Tuan. Tapi setelah dianalisis frame per frame... itu Pak Prama. Tinggi badan, postur tubuh, bahkan cara berjalannya, semuanya cocok dengan Pak Prama." Ares menutup matanya, menarik napas dalam. Amarah mulai merayapi setiap sel tubuhnya. "Ada lagi, Tuan," lanjut David. "Saya sudah meng
Raya menatap Prama tajam, lalu mengambil tasnya dengan gerakan cepat. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah tegas. "Raya, tunggu!" panggil Prama sambil melangkah menghalangi jalan. Raya berhenti, menatapnya waspada. "Minggir, Pram." "Aku akan mengantarmu pulang," ucap Prama berubah lebih tenang dan lembut. "Kamu gak tahu jalan dari sini. Taksi online pasti sulit dapat sinyal di area ini." Raya terdiam sejenak, mempertimbangkan. Prama benar. Villa ini memang di pinggiran, jauh dari jalan utama. Kalau ia jalan kaki sendirian, bisa berbahaya. "Baik," jawab Raya akhirnya dengan nada hati-hati. "Tapi langsung antar aku pulang." Prama tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata. "Tentu. Tunggu sebentar. Aku ambil kunci mobil di kamar dulu." Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Raya berdiri di ruang tamu dengan tubuh tegang. Ada sesuatu yang tak beres. Insting di dalam dirinya berteriak bahaya. Tapi ia tak punya pilihan lain. Sambil menunggu, ia melirik







