MasukRaya tiba di kantor pagi itu dengan senyum penuh percaya diri. Kemarin ia berhasil membuat Ares kehilangan kontrol. Ciuman itu yang panas dan intens adalah bukti nyata bahwa rencananya berhasil. Kini, ia hanya perlu mendorong sedikit lagi.
Hari ini, sengaja ia memakai gaun hitam selutut dengan potongan V di bagian dada, cukup menggoda tapi tetap terlihat profesional. Rambutnya ia gerai dengan sedikit gelombang, memancarkan aura feminin yang lebih kuat. Parfum vanilla-nya sengaja ia semprotkan sedikit lebih banyak. Di cermin toilet kantor, ia tersenyum puas melihat penampilannya. "Hari ini pasti lebih berhasil," bisiknya pada bayangannya sendiri. Seperti kemarin, ia datang lebih awal dan membuatkan kopi untuk Ares. Saat pria itu tiba, Raya menyambutnya dengan senyum manis, sedikit memiringkan kepalanya, pose yang ia pelajari dari video semalam, "bagaimana terlihat menggoda secara natural". "Selamat pagi, Pak. Kopi Anda sudah siap," ucapnya dengan nada suara yang sengaja dibuat lebih lembut, dan senyuman semanis madu. Ares melirik sekilas, lalu mengambil cangkir itu tanpa banyak bicara. "Terima kasih." Tidak ada tatapan lebih lama. Tidak ada jeda canggung. Bahkan tidak ada jejak dari pria yang kemarin menciumnya dengan begitu rakus di ruang meeting. Raya mengerutkan dahi. Mungkin Ares sedang menjaga jarak di depan orang lain. Ingat ini kantor, harus profesional pikirnya mencari pembenaran. Sampai siang hari, sikap Ares tetap sama. Datar. Dingin. Profesional. Seolah insiden di ruang meeting kemarin tidak pernah terjadi. Raya mulai gelisah. Ia mencoba berbagai cara. Saat menyerahkan dokumen laporan keuangan, ia sengaja berdiri sangat dekat, hingga lengan mereka hampir bersentuhan. Ia bisa mencium aroma cologne Ares yang maskulin. "Pak, ini laporan yang Bapak minta," katanya pelan, menatap Ares dengan tatapan yang ia harapkan terlihat menggoda. Ares bahkan tidak mengangkat kepala. "Taruh saja di meja." Raya menggigit bibir, frustasi mulai merayap. Ia meletakkan dokumen itu, tapi tangannya sengaja menyentuh tangan Ares yang sedang memegang pena. Ares menarik tangannya dengan cepat. Bukan karena tergoda, melainkan seperti refleks menghindari sesuatu yang mengganggu. "Ada yang lain?" tanya Ares datar, masih fokus pada layar komputernya. "Ti-tidak, Pak," jawab Raya, suaranya sedikit bergetar karena kecewa. Namun Raya tidak menyerah. Saat meeting dengan tim marketing, Raya sengaja duduk di seberang Ares. Setiap kali pria itu mengangkat kepala, tatapannya pasti bertemu dengannya. Raya tersenyum lembut, bermain dengan ujung rambutnya, menyilangkan kaki dengan gerakan yang diperhitungkan. Tapi Ares? Ia bahkan tidak menatap ke arahnya lebih dari dua detik. Fokusnya penuh pada presentasi yang ditampilkan di layar projektor. Raya mencoba lagi. Saat meeting selesai dan semua orang keluar, ia sengaja tinggal, pura-pura membereskan dokumen. "Pak Ares," panggilnya dengan nada manis. "Mau saya buatkan kopi lagi?" "Tidak perlu," jawab Ares singkat, mengumpulkan laptopnya. "Saya ada meeting video conference." Dan pria itu pergi, meninggalkan Raya sendirian di ruang meeting yang kosong. Raya menatap punggung Ares yang menjauh dengan tatapan tidak percaya. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. "Kenapa? Kenapa dia jadi sedingin ini?!" bisiknya frustasi. Sorenya Raya sudah mulai putus asa, tapi ia tidak mau kalah. Sekarang ia mencoba taktik yang lebih berani. Saat Ares sedang sibuk menandatangani dokumen di ruangannya, Raya masuk dengan nampan berisi kopi dan beberapa kue kering. "Pak, saya bawakan camilan. Bapak belum makan siang dari tadi." Ares mengangkat kepala. "Kamu tidak perlu repot-repot, Raya." "Ini bukan repot, Pak," jawab Raya, melangkah mendekati meja kerja Ares. Ia sengaja membungkuk lebih dalam dari biasanya saat meletakkan nampan, memastikan Ares bisa melihat belahan dadanya. Ia menangkap sekilas, mata Ares yang turun ke arah dadanya. Jantung Raya berdetak kencang. Ini dia! Ares tergoda! Tapi setengah detik kemudian, Ares sudah memalingkan wajahnya, kembali fokus pada dokumen di hadapannya. "Terima kasih. Kamu bisa keluar sekarang." Kalimat itu terdengar seperti perintah. Dingin. Tanpa emosi. Raya mematung sesaat. Ia merasakan sesuatu yang panas merayap di wajahnya, entah karena malu atau marah. "Baik, Pak," ucapnya pelan, lalu berbalik keluar dengan langkah gontai, dan tangan mengepal. Begitu pintu tertutup, Raya bersandar di dinding, napasnya memburu. Tangannya gemetar. "Apa yang salah denganku?!" bisiknya frustasi. "Kemarin dia menciumku! Kenapa sekarang dia bisa sedingin ini?! Apa ada yang bikin dia tersinggung?" Raya menarik nafas panjang, mencoba menenangkan perasaannya. Matanya terasa panas. Tidak. Ia tidak boleh menangis. Tidak untuk pria seperti Ares. Ternyata Ares dan Kenzie memang sama. Pria brengsek. Malam hari saat akan pulang, Raya sudah lelah, tapi harga dirinya tidak membiarkannya menyerah. Sebelum pulang, ia datang dengan touch up riasan lebih tebal, eyeliner tajam, lipstik merah menyala, blush on yang membuat pipinya terlihat merona. Saat Ares keluar dari ruangannya untuk mengambil dokumen di bagian arsip, Raya "tidak sengaja" berpapasan dengannya di lorong. "Oh, Pak Ares!" serunya dengan nada kaget yang dibuat-buat. "Kebetulan sekali. Saya mau tanya soal laporan—" "Tanya ke Pak Budi saja. Dia yang handle," potong Ares tanpa berhenti melangkah. Raya terpaku. Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. "Pa—Pak tunggu!" Raya setengah berlari mengejar dengan heels tingginya. Ia hampir tersandung, tapi berhasil menahan diri. Ares berhenti, menoleh. Keningnya berkerut dengan tatapan datar. "Ada apa?" "Saya... saya hanya ingin memastikan semuanya sesuai dengan keinginan Bapak," ucap Raya, berusaha terlihat profesional meski napasnya tersengal. "Kalau begitu pastikan lewat email. Jangan menggangguku di tengah jam kerja untuk hal-hal sepele." Nada suara Ares lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, wajah Ares pun terlihat sangat terganggu Kata-kata itu menohok. Keras. Dingin. Raya merasakan sesuatu retak di dalam dadanya. Ia menunduk, menggigit bibir untuk menahan tangis yang sudah di ujung kelopak matanya. "Ma-maaf, Pak," bisiknya. Ares menatapnya sesaat, tatapan yang sulit dibaca, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Raya berdiri sendirian di lorong, menatap punggung Ares yang semakin menjauh. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menancap keras di telapak tangannya hingga terasa perih. "Aku benci kamu, Ares. Kamu dan Kenzie sama saja," bisiknya getir. "Tapi kenapa... kenapa aku tidak bisa berhenti mencoba?" Air matanya tumpah, tapi ia menahannya keras-keras. Entah kenapa hatinya begitu kecewa. Perasaan yang kemarin sempat berkembang, kini di patahkan oleh sikap Ares.Pemandangan di depan matanya adalah visualisasi dari neraka yang paling nyata bagi Ares Mahardika. Di atas ranjang besar dengan seprai kusut, Prama menaungi Raya dengan tubuh telanjang dada. Tangannya tengah meraba paha istrinya ketika dentuman pintu menghentikan gerakannya. Ruangan itu membeku. Tapi aura di sekitar Ares mendidih melampaui titik ledak. "Binatang..." Suara Ares seperti guntur, rendah, parau, bergetar oleh amarah yang melampaui batas kemanusiaan. Prama tersentak. Ia menoleh, lalu dengan sengaja menggeser tubuhnya ke samping, mempertontonkan hasil kerjanya. Raya tergeletak lemas. Kemeja sudah terbuka, hanya bra yang masih melindungi dadanya. Wajahnya merah membara, peluh membasahi pelipis dan leher. Matanya sayu menatap langit-langit dengan kekosongan yang mengerikan. Napasnya pendek-pendek, tersengal, seakan oksigen di ruangan itu telah habis. Prama menoleh dnegan senyum miring di wajahnya. "Ares lihatlah—" Belum sempat kalimat itu selesai, Ares sudah menerjan
Jalanan gelap Bogor terasa mencekik. Ares duduk tegang di kursi belakang, rahangnya mengeras setiap kali mobil melambat karena tikungan. Jemarinya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. David di kemudi terus memantau GPS sambil sesekali melirik spion, mengamati raut bosnya yang seperti singa terluka siap menerkam. "Kita sudah dekat dengan villa pertama, Tuan. Sekitar lima belas menit lagi," lapor David. Ares tidak menjawab. Matanya kosong menatap kegelapan di luar jendela, tapi pikirannya penuh dengan skenario terburuk tentang apa yang mungkin terjadi pada Raya. Dalam kepalanya, potongan-potongan kemungkinan terus berputar. Raya sendirian, ketakutan, sambil berharap menunggunya datang. Dada Ares naik turun pelan. Ia menekan napasnya sendiri, memaksa pikirannya tetap dingin. Panik tak akan menyelamatkan siapa pun. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Dua kali dering. Nama Prama terpampang di layar. Teddy yang duduk di samping Ares langsung menahan napas, tubuh
Jari Raya bergetar menekan ikon panggilan. Detak jantungnya seperti drum perang, keras, cepat, menuntut. Nada sambung pertama terasa seperti seabad. Kedua. Ketiga. Angkat, Ares. Kumohon. Matanya tak henti melirik ke arah dapur. Bayangan Prama bergerak di balik dinding. Raya menggigit bibir, menekan ponsel lebih erat ke telinga. Nada kedua. Panggilan langsung diputus Raya, karena ia terlalu takut Prama kembali lagi. "Tuhan," desis Raya frustasi. Ia segera sadar, menelepon lagi akan terlalu berisiko. Prama bisa kembali kapan saja. Dengan gerakan kilat, jemarinya menari di layar ponsel, membuka riwayat panggilan, menghapus jejak nomor Ares. Lalu ia beralih ke aplikasi peta. Tangan gemetar menekan tombol bagikan lokasi, memilih nama Ares dari kontak, dan menekan kirim. Sedetik kemudian, pesan itu terhapus. Bersih. Seolah tak pernah ada. Napasnya memburu. Ia butuh alibi. Cepat. Jemarinya kembali mengetik, kali ini nomor Dio. Panggilan tersambung setelah nada kedua. "Kakak?" suara
Mobil yang dikendarai David meluncur bagai anak panah membelah kegelapan jalanan menuju Bogor. Di kursi belakang, suasana begitu mencekam. Ares terus menatap layar ponselnya, memantau titik merah yang bergerak di peta—lokasi villa yang diberikan Teddy. "Lebih cepat, David!" geram Ares. Suaranya rendah, namun penuh dengan ancaman yang nyata. "Baik, Tuan," sahut David tenang meski tangannya mencengkeram kemudi dengan erat. Ia tahu betul, setiap detik sangat berharga. Teddy di samping Ares tampak hancur. "Res, kalau benar Prama di sana... tolong, jangan biarkan emosimu mengendalikan segalanya. Kita selesaikan ini tanpa kekerasan." Ares menoleh, tatapannya begitu tajam hingga Teddy terdiam. "Dia mengambil istriku dengan tipu daya yang menjijikkan, Teddy. Dia menyamar jadi aku, mempermalukanku, dan sekarang menyekapnya. Jika ada satu helai rambut Raya yang rusak, aku tidak menjamin Prama akan keluar dari sana dengan kaki yang masih bisa berjalan." Teddy meremas tangannya sendiri y
Ares duduk di kursi kerjanya dengan wajah kusut, mata sembab karena kurang tidur. Sudah tiga hari ia mencari Raya tanpa hasil. Setiap petunjuk berujung jalan buntu. Ponselnya tiba-tiba berdering. David. Ares langsung mengangkat. "Ya?" "Tuan, saya sudah dapat hasilnya," ucap David dengan nada serius. "Tim forensik digital sudah selesai menganalisis video yang ditunjukkan Imelda pada Nyonya." Ares menegakkan tubuhnya, jantungnya berdegup kencang. "Dan?" "Pria di video itu bukan Tuan," jawab David tegas. "Itu Pak Prama." Ares membeku. "Apa?" "Tim menggunakan teknologi facial recognition dan body movement analysis. Pria itu menggunakan deepfake technology dan prosthetic makeup untuk menyamar sebagai Tuan. Tapi setelah dianalisis frame per frame... itu Pak Prama. Tinggi badan, postur tubuh, bahkan cara berjalannya, semuanya cocok dengan Pak Prama." Ares menutup matanya, menarik napas dalam. Amarah mulai merayapi setiap sel tubuhnya. "Ada lagi, Tuan," lanjut David. "Saya sudah meng
Raya menatap Prama tajam, lalu mengambil tasnya dengan gerakan cepat. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah tegas. "Raya, tunggu!" panggil Prama sambil melangkah menghalangi jalan. Raya berhenti, menatapnya waspada. "Minggir, Pram." "Aku akan mengantarmu pulang," ucap Prama berubah lebih tenang dan lembut. "Kamu gak tahu jalan dari sini. Taksi online pasti sulit dapat sinyal di area ini." Raya terdiam sejenak, mempertimbangkan. Prama benar. Villa ini memang di pinggiran, jauh dari jalan utama. Kalau ia jalan kaki sendirian, bisa berbahaya. "Baik," jawab Raya akhirnya dengan nada hati-hati. "Tapi langsung antar aku pulang." Prama tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata. "Tentu. Tunggu sebentar. Aku ambil kunci mobil di kamar dulu." Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Raya berdiri di ruang tamu dengan tubuh tegang. Ada sesuatu yang tak beres. Insting di dalam dirinya berteriak bahaya. Tapi ia tak punya pilihan lain. Sambil menunggu, ia melirik







