Beranda / Romansa / Menggoda Ayah Sahabatku / Bab 1 ー Aku Udah Dewasa

Share

Menggoda Ayah Sahabatku
Menggoda Ayah Sahabatku
Penulis: Papa Buaya

Bab 1 ー Aku Udah Dewasa

Penulis: Papa Buaya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-13 09:10:57

“Om Kayden enak banget. Aku jadi ketagihan.”

Amelia menjilat ujung jarinya dengan manja. Wajahnya berseri penuh kenakalan.

Kayden hanya menatap datar. Lalu menyentil keras dahinya.

“Tangannya biasa aja, bisa nggak? Kalau mau lagi, ya ambil,” omelnya.

Sarapannya kali ini sedikit ramai, karena adanya Amelia yang menginap semalam.

Kayden Ferdinand. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan, mapan dan mempesona. Tidak sedikit wanita yang menginginkannya.

Tapi tak satupun berhasil menarik perhatiannya. Dan terkadang, Amelia pun jahil menggoda duda anak satu itu. Hanya sekedar candaan.

“Hehe. Aku muji, loh. Dessert buatan Om kan selalu enak,” ucap Amelia. Lidahnya pandai berkelit.

“Ya lagian. Tingkah sama omonganmu bikin salah paham tau! Nggak bosen-bosen ya godain Papa aku,” celetuk seseorang di sampingnya.

Dia adalah Karina, Putri semata wayang Kayden yang sebaya dengan Amelia.

Sejak kecil, Amelia sering datang bermain ke rumahnya. Makan bersama dan menginap. Walau sempat terpisah saat remaja. Hubungan mereka masih sangat baik sampai sekarang.

Amelia tersenyum nakal. Menangkup wajahnya dengan satu tangan. Sambil mengedipkan sebelah mata pada Kayden.

“Duda ganteng kayak Om Kayden, rugi banget kalau nggak digodain,” katanya dengan centil.

Kayden mendengus. Sambil memutar bola matanya. Malas menanggapi.

“Cepat beresin makan kalian. Piringnya mau dicuci,” ujarnya datar.

Kemudian bangkit. Membawa piring kotornya.

Begitu Kayden pergi, Karina menyenggol bahu Amelia.

“Hayo, Papa marah tuh,” bisiknya.

“Nggak, Karina. Papa kamu cuma malu karena terpesona sama kecantikanku,” balas Amelia sambil menyibak rambutnya penuh percaya diri.

Seketika Karina menepuk jidat.

“Astaga. Dosa apa aku punya sahabat kayak gini,” gerutunya. Sangat jengkel mendengar ocehan Amelia.

Karina akhirnya berdiri, menyodorkan piring kotor padanya.

“Beresin sana. Aku mau mandi.”

Lalu pergi lebih dulu ke kamarnya.

Amelia hanya terkekeh puas, tanpa rasa malu. Namun dia tetap tahu diri.

Amelia segera membereskan piring kotor di meja makan. Kemudian membawanya ke dapur.

Di sana, Kayden tengah sibuk mencuci piring.

“Om, aku mau bikin kopi boleh?” tanya Amelia sambil memberikan piring kotor yang dia bawa.

“Buat sendiri. Gulanya di lemari atas,” sahut Kayden singkat. Tanpa mengalihkan pandangan.

Amelia mengangguk. Mulai membuat kopi seperti di rumahnya sendiri.

Dan saat membuka lemari bagian atas, Amelia terpaksa berjinjit. Toples gula yang dia cari sangat jauh di dalam sana. Ujung jarinya sulit menjangkau.

Kayden di sampingnya menyadari hal itu. Dan langsung mematikan keran. Berjalan menghampirinya.

“Kalau nggak bisa tuh minta tolong.”

Amelia menoleh ke sumber suara. Dan saat berbalik, nyaris bertabrakan dengannya. Tak menyangka Kayden sudah ada di belakangnya.

Jarak mereka sangat dekat. Sehingga Amelia bisa mencium aroma parfum samar di pakaiannya.

Tubuh Amelia membeku. Sambil diam-diam menelan ludah.

“Om tinggi banget ya kalau dari deket. Muka aku cuma sejajar dada, nih,” katanya asal ceplos.

Tanpa sadar, tangannya menekan-nekan dada bidang Kayden.

Kayden hanya mendengus kecil. Lalu mengambil toples gula itu dan meletakkannya di atas kepala Amelia.

“Kamu yang terlalu pendek, bocah,” ejeknya.

Amelia mendelik tajam.

“Aku udah dewasa tau!” balasnya tidak terima. “Jadi udah legal dinikahin.”

Wajahnya langsung berubah menjadi senyuman usil.

Kayden mengernyit, urat lehernya menegang. Hendak berbicara, suara bel di depan pintu menyela obrolan.

Akhirnya Kayden mundur. Berbalik dan melangkah pergi.

Amelia hanya cekikikan. Mencoba menggoda Kayden yang berwajah datar itu menjadi hiburan tersendiri untuknya.

Namun, Amelia merasa penasaran pada tamu yang datang sepagi ini. Diam-diam, dia mengikuti Kayden.

Di pintu depan, terlihat seorang wanita dewasa dengan pakaian cukup seksi.

Sebelumnya, Amelia pernah melihatnya beberapa kali datang. Tapi sepertinya Kayden tidak menyambut kedatangannya.

“Udah berapa kali aku bilang. Jangan kesini lagi, Anya. Apa kamu nggak paham maksudnya?!” desis Kayden terlihat kesal.

Wanita bernama Anya itu malah menyodorkan paperbag yang dia bawa.

“Jangan marah. Aku cuma mau kasih kamu oleh-oleh. Lagian kamu juga masih single, kan? Kita bisa saling kenal dulu,” bujuknya.

Amelia mengintip dari balik tembok.

‘Wah. Bebal banget ya tuh Tante-tante,’ pikirnya.

Tidak sadar dirinya pun begitu.

Seketika otak jahil Amelia berjalan. Sebuah ide untuk menolong Kayden muncul di kepalanya.

Dengan langkah percaya diri, Amelia mendekat lalu tiba-tiba merangkul lengan Kayden.

“Ada siapa, Mas? Kok nggak diajak masuk?”

Sontak Kayden menoleh dengan sebelah alis terangkat. Terlihat keheranan.

Sementara Anya, langsung mendelik tajam padanya.

“Kamu siapa? Kenapa ada di rumah Mas Kayden?”

Amelia tersenyum lebar, berlagak seperti Nyonya rumah.

“Saya Istrinya. Memang kamu siapa?” ucapnya dengan angkuh.

Anya langsung melotot kaget. Menutup mulutnya tak percaya. Lalu menoleh pada Kayden.

“K-kayden. Dia bener Istri kamu?” tanyanya memastikan.

Kayden hendak menjawab. Namun Amelia tak memberinya kesempatan.

“Ya bener, dong. Kamu mau godain Suamiku ya? Pergi sana! Dasar pelakor!” usirnya dengan garang.

Merasa kesal dan malu, Anya akhirnya pergi dengan perasaan kecewa.

Amelia dan Kayden pun kembali masuk ke rumah.

Begitu pintu tertutup, Amelia tidak bisa menahan tawanya.

“Lucu banget. Mulai sekarang dia nggak bakal gangguin Om lagi. Nggak usah berterima kasih—“

Namun tawa itu mendadak terhenti ketika Kayden tiba-tiba menarik tangan Amelia. Kemudian menyudutkannya ke balik pintu. Mengungkung di antara kedua tangan.

Tatapan Kayden begitu dalam. Matanya menyipit tajam.

“Kamu ini bener-bener nakal ya, Amelia,” desisnya.

Nafasnya sedikit tersendat. Seolah menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 200 — Akhir

    ‘Padahal aku udah bertekad merelain kamu. Tapi lihat kamu sama pria lain, ternyata masih terasa sakit,’ batin Alvin.Alvin tetap datang sebagai hubungan baiknya dengan Nathan, dan juga Amelia adalah mahasiswanya yang membanggakan.Tapi perasaan yang pernah Alvin rasakan pada Amelia membuatnya merasa berat berada di ruangan itu. Namun dia tetap menahannya, dan bersikap sebiasa mungkin.Usai upacara pernikahan dilaksanakan, semua para tamu undangan dan pengantin beralih ke aula resepsi yang ada di ruang sebelah.Tak banyak teman-teman Amelia yang diundang, hanya mereka yang paling dekat dengannya saja. Salah satunya adalah Satrio."Amel, sayangku! Selamat, ya!"Pria yang dulunya gemulai itu kini menangis terharu saat menemui Amelia di pelaminan.Satrio hendak memeluk Amelia, tapi dengan cepat Kayden menahannya. "Udah, di situ aja. Jangan peluk-peluk."Sudah sejak lama Kayden waspada dengan kedekatan Amelia dan Satrio. Apalagi Satrio selalu memanggil Amelia dengan sebutan sayang.Satrio

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 199 — Pernikahan

    "Mempelai wanita memasuki ruangan!" suara seorang MC terdengar lantang dari dalam ruangan.Pintu di hadapan Amelia terbuka. Refleks dia menutup mulut, lalu fokus menatap ke depan.Di dalam ruangan, tampak beberapa tamu undangan turut hadir. Amelia sontak kembali terkejut. Dalam hati dia bergumam.‘Kirain cuma keluarga aja. Mereka juga undang tamu?’Tapi yang datang saat ini adalah teman-teman Amelia. Lalu beberapa rekan kerja Kayden, serta kolega dari kedua orang tua mempelai.Tak sempat mempertanyakan rasa penasaran Amelia, Nathan sudah berbisik padanya. "Ayo, Amelia."Amelia tersentak, tersadar dari rasa terkejutnya. Dia perlahan mulai melangkah bersama ayahnya.Dan di altar pernikahan, mempelai pria sudah siap dengan tuxedonya. Bunga di dada kiri Kayden dan tatapan rambut yang membuatnya terlihat lebih tampan.Tamu undangan di sekitar pun menatap kaget ke arah Amelia. Mereka tampak tak menyangka bahwa orang yang dinikahi Kayden adalah Amelia."Wah, gila. Kirain siapa pacarnya Pak K

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 198 — Tugas Pertama Dan Terakhir

    "Kenapa jadi aku?"Amelia terlihat semakin kebingungan. Dan ekspresi wajahnya itu membuat mereka yang ada di sana menahan tawa. Lucu juga melihatnya kebingungan.Nathan di samping Amelia akhirnya bersuara. "Ini udah kami siapin dari bulan-bulan kemarin. Mungkin beberapa hari setelah jemput kamu."Alis Amelia bertaut. Dia mengerjap, masih tak percaya dengan apa yang ia dengar."Udah, sekarang mending kamu siap-siap," ujar Rania memutuskan.Karina pun ikut menambahkan. Dia menarik tangan Amelia untuk duduk di kursi meja rias."Nanti keburu siang. Kamu harus dandan cantik, dong." Pandangan Karina beralih pada orang tua dan sepupu Amelia. "Kalian juga ganti baju dulu. Udah disiapin di ruang sebelah."Aurel membalas dengan senyuman tipis. "Terima kasih ya, Karina."Keluarga Amelia berjalan keluar dari ruangan.Noel yang akhirnya paham apa yang terjadi bergumam pelan dalam hati. ‘Pantes aja aku nggak dikasih tau. Pasti langsung ngasih tau Kak Amelia sih kalau tau.’Seorang perias kemudian m

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 197 — Permintaan Maaf

    "Hah? Apa tuh maksudnya?" tanya Karina keheranan, terdengar tak terima. "Ya harus jadilah!""Ini misalkan aja," ucap Kayden sedikit merapalkan perkataannya.Karina langsung membalas penuh penekanan. "Nggak bisa, tetap harus jadi! Nggak ada lagi perempuan yang bisa aku restuin buat nikah sama Papa kecuali Amelia. Titik!"Kayden mengerjap pelan, namun akhirnya tertawa kecil. Dia sedikit terhibur mendengar dukungan putrinya."Ya udah. Makasih, ya," katanya sembari mengusap pelan rambut Karina. "Kamu tidur aja sana. Papa mau istirahat."Karina akhirnya mengangguk. Dia berdiri dan berjalan keluar dari kamar ayahnya.Keesokan paginya, Kayden menjalani hari-hari seperti biasa. Dia tengah memasak sarapan untuk dirinya dan putrinya. Tapi setiap berkumpul di meja makan, seperti ada yang kurang.Setelah kepergian Amelia, di rumah mereka kembali terasa sepi. Tapi Kayden tetap berusaha untuk terbiasa.Di saat Kayden sibuk memasak, terdengar teriakan Karina yang memanggil."Papa!"Kayden menoleh da

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 196 — Kelayakan

    'Jadi karena mereka, aku nggak bisa ketemu sama Kay?' gumam Amelia pada dirinya sendiri.Dalam hati terasa berdenyut sakit mendengar hal ini. Amelia tak menyangka orang tuanya sendiri yang menjauhkan Kayden darinya.Tak ingin menyimpan kekesalannya sendiri, Amelia langsung menghampiri kedua orang tuanya."Maksudnya Mama tadi apa, ya?" tanyanya tanpa basa-basi.Kedua orang tua itu tersentak kaget. Aurel terbata-bata. "A-Amel. Kamu nggak ke kantor kamu?""Aku tanya, maksud omongan Mama tadi apa?" Amelia mengulangi kalimatnya, tak peduli dengan pertanyaan Aurel. "Kalian yang bikin aku nggak bisa ketemu sama Kayden?"Wajah Amelia sedikit memerah, matanya melotot marah. Aurel menelan ludah, dan langsung menatap suaminya, seolah meminta bantuan.Karena sudah terlanjur ketahuan, Nathan akhirnya berdiri. Dia menghampiri Amelia dan mengulurkan tangannya."Nak, dengerin dulu—"Tapi Amelia menepis tangan ayahnya. Wajahnya tampak tak akan mempan dengan bujukan."Aku cuma mau penjelasan!"Nathan m

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 195 — Menjauh

    "Nggak, kok. Dia nggak bisa dateng karena kerjaan," sahut Amelia dengan nada keheranan. "Dia nggak bilang apa pun ke kamu?"Karina segera menggeleng sebagai jawaban. Amelia kembali terdiam. Alisnya mengerut, berpikir keras.Rian, melihat situasi yang canggung dan membingungkan ini segera menyela. "Ekhem, ini ada bingkisan, Mel. Saya kut seneng kamu bisa ketemu orang tua kamu."Rian mencoba mengalihkan perhatian. Amelia pun kembali fokus pada tamunya. Bibirnya mengulas senyuman tipis."Oh, iya. Makasih, Kak." Amelia kemudian menoleh pada sepupunya. "Noel, ajak Karina sama Kak Rian ke halaman belakang, ya. Aku mau bawa minuman dulu."Noel mengangguk dan membawa mereka menuju halaman belakang, walau terlihat ekspresi Rian waspada pada pemuda itu. Dengan posesif dia merangkul Karina di sampingnya.Di halaman belakang, orang tua Amelia menyambut Karina dan Rian dengan ramah.Sedangkan Amelia, dia pergi ke dapur bukan untuk mengambil minuman dulu, melainkan mengeluarkan ponselnya. Perasaann

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status