Beranda / Romansa / Menggoda Ayah Sahabatku / Bab 2 ー Suka yang Keras-keras

Share

Bab 2 ー Suka yang Keras-keras

Penulis: Papa Buaya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-13 09:12:05

“N-nakal? Aku cuma bantuin Om ngusir cewek nyebelin itu, kok.”

Amelia tertawa kecil, canggung. Dia seolah berusaha mencairkan suasana yang mendadak tegang.

Namun Kayden hanya terdiam. Masih dengan wajah datarnya.

“Ngaku-ngaku jadi Istriku? Oke. Kalau gitu, lakukan tugas kamu sebagai Istri.”

Kayden mencondongkan tubuh. Nafasnya hangat membuat bulu kuduk Amelia meremang. Tangan besarnya menyentuh pinggang ramping Amelia. Mengusap perlahan seolah menguji batas.

Amelia terbelalak. “Om kenapa kayak gini?”

Suaranya bergetar, antara takut dan bingung. Amelia berusaha mendorong dada kekar di depannya.

Tapi tubuh Kayden malah semakin mendekat. Hingga Amelia bisa merasakan tubuh kekar yang menghimpitnya.

"Selama ini kamu suka godain aku. Sekarang dibales, kenapa takut. Hm?" tanya Kayden.

Seketika Amelia menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang. Wajah tampan dan mempesona ada di depan matanya.

Namun akal sehatnya masih mengingatkan bahwa hal ini adalah perbuatan yang tidak benar.

"Om. Aku—"

"Amel!"

Suara Karina dari belakang memecah ketegangan di antara mereka.

Amelia tersentak. Rasa panik menyelimuti dirinya. Seketika ia mendorong Kayden sekuat tenaga. Hingga akhirnya berhasil terlepas.

Tepat di saat yang sama, Karina muncul. Berjalan menghampiri sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.

“Kalian ngapain di situ?” tanyanya heran.

Amelia memaksakan senyuman.

“Tadi ada tamu. Tapi sekarang udah pergi, sih,” jawabnya cepat, berusaha terdengar santai.

Karina menyipitkan mata, lalu hanya mengangguk singkat. Terlihat tidak peduli.

“Kamu nggak mandi, Mel?”

Amelia langsung mengangguk. “O-oh iya. Aku mandi dulu ya, pinjem handuk!”

Kemudian mengambil handuk dari tangan Karina begitu saja. dia berjalan secepat mungkin, dengan kepala menunduk, menutupi wajahnya yang memanas.

“Si kupret, main rebut aja,” gerutu Karina kesal.

Sedangkan Kayden, masih diam di tempat dengan wajah datar seperti biasa. Namun tatapannya begitu lekat, mengikuti ke mana Amelia pergi.

Di kamar mandi, Amelia mulai melepas pakaiannya untuk membersihkan diri.

Wajahnya masih merah merona karena perkataan dan tindakan Kayden sebelumnya. Tetapi memilih untuk mengabaikannya.

Usai membasahi tubuh dengan air, Amelia menekan botol sabun. Tapi tidak ada yang keluar. Dan saat diperiksa, ternyata sudah habis.

Amelia celingukan. Tidak ada sabun lain.

‘Yah. Kayaknya stok sabun di laci wastafel luar deh,’ pikirnya.

Amelia menghela napas malas. Lalu membungkus tubuhnya dengan handuk.

Saat melangkah keluar diam-diam, Amelia mengira penghuni lain ada di kamarnya. Baru melangkah keluar, sosok pria berdiri di depan wastafel.

“O-om Kay!” seru Amelia tersentak.

Kayden sedang mengambil pasta gigi dari laci. Dia menoleh. Dan seketika pandangan mereka bertemu.

Untuk sepersekian detik, waktu seolah berhenti. Tatapan Kayden turun perlahan. Kedua alisnya sedikit terangkat.

Di balik hoodie kebesaran yang biasa Amelia pakai, kini terbentang pemandangan yang tak pernah Kayden bayangkan.

Kulit putih yang lembut. Lekuk tubuh muda dan berisi. Seketika jakun di leher Kayden naik turun. Bersusah payah menelan ludah.

‘Iya. Dia bukan anak kecil lagi,’ gumam Kayden dalam hati.

Amelia langsung menyilangkan kedua lengan di depan dada. Lalu berbalik hendak masuk ke kamar mandi lagi.

Tapi terhenti saat Kayden menahan bahunya yang basah.

“Kamu kenapa keluar?”

Amelia menoleh singkat. Tak berani menatap matanya.

“A-aku mau ambil sabun,” jawabnya terbata-bata.

Tatapan Kayden tidak bisa berpaling dan kembali bertanya. “Mau yang batang atau yang cair?”

“Yang batang aja,” sahut Amelia cepat.

Kayden membuka laci dan mengambil sabun itu.

Kayden tersenyum tipis. “Ternyata kamu suka yang keras-keras ya?”

Sambil menyodorkan sabun batang, diusapkan lembut ke punggung mulus Amelia yang masih membelakanginya.

Sentuhan dingin dari sabun padat itu membuat Amelia tersentak. Tubuhnya otomatis menegang.

“Om!” desisnya.

Amelia segera merebut sabun itu dan masuk ke kamar mandi lagi. Menutup pintu dengan cepat.

Amelia berjongkok sambil menutup wajahnya yang memanas.

‘Dia mau balas dendam jailin aku atau gimana sih? Bikin orang jantungan aja,’ batinnya menggerutu.

Usai membersihkan diri, Amelia keluar mengenakan pakaian yang awalnya dia pakai. Tapi kali ini celingukan. Memastikan bahwa tidak ada siapapun di luar.

Begitu situasi aman, Amelia segera pergi ke kamar Karina.

Di sana, Karina sedang berbaring di kasur sambil bermain ponsel. Di sampingnya ada sekotak camilan.

“Mel, Papa ngasih kopi tuh,” katanya tanpa menoleh.

Amelia mengernyit. “Hah?”

“Katanya kamu bikin kopi tapi ketinggalan di dapur.”

Setelah mendengar hal itu, barulah Amelia mengangguk paham.

“Oh iya, lupa.”

Amelia tertawa kecil. Berusaha bersikap seperti biasa.

Kemudian duduk di sofa. Yang mana di depannya terdapat secang kopi yang Karina sebutkan.

Saat disentuh, masih hangat dan panas. Seketika debaran di jantungnya semakin cepat. Entah kenapa, telinganya sedikit memerah.

“Karina. Papa kamu, sebenernya punya pacar nggak, sih?” tanyanya tiba-tiba.

Karina langsung menoleh. Sebelah alisnya terangkat dengan mata menyipit tajam.

“Kenapa? Mau daftar jadi Mama tiriku?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 122 — Jangan Mengecewakanku

    "Emang kenapa tanya soal wanita itu?" tanya Alvin. Matanya menyipit penuh kecurigaan.Amelia kembali menatapnya, lalu dengan terampil menyunggingkan senyuman seperti biasa. "Nggak ada apa-apa kok. Nanya random aja."Alvin mendengus pelan, keraguan masih tersisa di sorot matanya. Namun, sebelum sempat mengejar pertanyaan lebih lanjut, Satrio kini mendekati meja mereka, membawa nampan berisi pesanan."Silahkan, Kak Alvin. Semoga suka ya," ujar Satrio sambil dengan hati-hati menyajikan minuman dan kue kecil di atas meja.Alvin membalas dengan senyuman kecil yang sopan. "Makasih, ya. Vivian juga katanya suka kue pemberian kamu waktu itu."Satrio langsung berbinar. "Beneran? Syukur, deh. Nanti saya kirim lagi buat Vivian, boleh?"Alvin tak sempat menjawab karena Amelia yang lebih dulu menyahut dengan nada menggoda. "Heh, tukang ngirimnya juga harusnya dapet, dong. Lupa ya siapa yang ngasih ke Pak Alvin?" protes Ameli menggerutu.Satrio menoleh padanya dengan helaan napas. "Iya, iya. Nan

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 121 — Balikan?

    "Em, boleh saya lihat isinya, Pak?" pinta Amelia dengan sopan, menahan getar di suaranya.Tio mengangguk santai dan menyodorkan paper bag itu. "Nih."Amelia memeriksa isinya. Hanya beberapa kotak makanan dan minuman, serta secarik kertas kecil di atasnya.Amelia mengambil kertas itu dan langsung membacanya. Dari samping, Tio pun mengintip, ikut penasaran. Isinya hanya pesan singkat yang manis, tetapi pengirimnya adalah Melissa, mantan istri Kayden.Amelia langsung terdiam di tempat. Dalam hatinya banyak pikiran negatif bermunculan dan rasa penasaran. ‘Kenapa dia ngirim kayak gini?’"Apa mungkin Pak Kayden berhubungan lagi sama mantannya, ya? Sebelumnya juga dia pernah ke sini, sih," celetuk Tio menebak-nebak setelah melihat surat itu.Amelia kembali dikejutkan. Kepalanya refleks menoleh. "Masa?""Iya. Tapi diajak keluar sama Pak Kayden," jawab Tio terlihat meyakinkan. Dia kemudian menggeleng sembari bergumam, "Duh, kirain siapa pacarnya, ternyata mau balikan lagi sama mantan."Amelia

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 120 — Kiriman

    ‘Hah? Kenapa dia bisa punya nomor aku?’ Pikiran itu melintas di benak Amelia, membuat kerutan di alisnya.Meski penasaran, Amelia memilih untuk mengabaikannya saja. Tapi beberapa saat kemudian, pesan dari Melissa terus berdatangan, mengirim ancaman serta kata-kata yang cukup kasar.“Heh bocah! balas pesan saya! Saya tau kamu kerja jadi babu di rumah Kayden. Jadi saya bisa datangi kamu kapan aja!”Itu sepenggal dari banyaknya pesan yang Melissa kirim. Amelia hanya bisa mendengus sembari men-silent ponselnya, daripada terus terganggu.Namun Kayden tentu menyadari suara notifikasi itu hingga membuatnya penasaran. "Siapa?" tanya Kayden, pandangannya masih tertuju ke jalan.Amelia menoleh dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Cuma pesan grup kelas. Lagi rame, biarin aja. Kamu mau sarapan apa nanti? Atau bekel?" ucapnya dengan alami mengalihkan pembicaraan."Nggak usah. Aku bisa makan di kantor," jawab Kayden.Amelia mengangguk paham. Mereka kembali berbincang hal lain selama perjalanan

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 119 — Panik

    "K-Kay. Ada nenek, gimana dong?" bisik Amelia terdengar panik.Belum sempat Kayden menjawab, kini suara Rania semakin mendekat seolah dia sudah masuk ke dalam kamar itu."Amel. Kamu lagi mandi, ya?"Amelia menelan ludah. Dengan sangat terpaksa dia menjawab. "I-iya, nek."Kayden di depannya malah terlihat santai, karena dia tahu pintu kamar mandi sudah dia kunci. Namun, wajah panik Amelia terlihat lucu baginya. Dengan jahil, dia mulai menggerakkan pinggulnya agar kembali bergerak."Ahh—hmph!" Amelia sempat mendesah kaget, namun dengan cepat dia menutup mulutnya."Kenapa, Amelia?" tanya Rania di luar sana dengan nada khawatir.Kayden masih menggerakkan tubuh Amelia, hingga membuat Amelia kesal. Tapi dia harus menahan agar tidak membuat suara yang mencurigakan."I-iya. Nggak apa-apa, nek. Aku cuma kepeleset. Ada apa?" sahut Amelia, dengan suara tersengal berusaha sebiasa mungkin."Nenek lupa ngasih kamu baju ganti buat tidur. Nenek taruh di kasur, ya," jawab Rania.Amelia mencoba menarik

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 118 — Sudah Terlanjur

    "Janji? Janji apa?" tanya Amelia heran.Kayden merengus sebal. "Masa kamu lupa? Kamu bilang nanti aja setelah bimbingan, sekarang udah beres, kan?"Amelia mengangguk baru teringat. Namun ia tetap menolak. "Ya itu kan kalau di rumah, Kay. Kalau di sini rumah orang tua kamu.""Nggak ada bedanya. Untung di kamar ini ada kamar mandi dalamnya. Udah lama kita nggak mandi bareng, kan?" sahut Kayden dengan santai. Kedua tangannya perlahan mulai menanggalkan pakaiannya.Wajah Amelia merona. Langsung memalingkan pandangan."Untung apanya? Pakai lagi baju kamu!"Kayden tak mendengarkan, dan benar-benar sudah telanjang bulat sekarang. Dia menarik Amelia yang tak mau menatapnya."Janji tetap janji, Amel," ucapnya bersikeras, dengan cepat menariknya ke dalam bathtub yang sudah terisi air."Kyaa!" teriak Amelia kaget. Kakinya sedikit terpeleset dan akhirnya jatuh di atas tubuh Kayden.Kedua tangan Kayden memeluk Amelia dengan erat dari belakang."Kay! Handuk aku jadi ikut basah, ih!" gerutu Amelia s

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 117 — Pacarmu Cowok?

    "Pacarnya Om Kayden, ya? Em, kayaknya belum pernah lihat, nek," jawab Amelia dengan senyuman tipis terdengar meyakinkan.Rania menghela napas panjang sembari menggerutu. "Haish. Gitu, ya. Emang nyebelin si Kayden itu. Kalau gitu kalian nginep aja di sini, ya."Kayden langsung mengernyit. "Nggak. Besok aku harus kerja.""Kan bisa berangkat dari sini. Ibu udah ditinggal suami, masa anak juga? Mana nggak nurut lagi padahal cuma minta dikenalin calon mantu," balas Rania dengan sedikit dramatis.Kayden mendengus sembari memutar bola matanya ke atas."Iya, iya! Kita nginep di sini," jawabnya menurut agar Rania tak mengomel lagi."Gitu dong." Rania mengangguk puas. Hingga akhirnya sebuah pemikiran liar muncul di kepalanya. "Tapi kenapa sih kamu nggak mau ngenalin? Jangan-jangan pacar kamu itu cowok ya, Kay?"Mendengar hal itu, Kayden hampir tersedak. "Apa sih, Bu? Kok nuduh gitu?!""Ya, lagian kamu tiap dijodohin nolak mulu. Sekarang punya pacar nggak mau dikenalin. Berarti pacar kamu—"Belu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status