Beranda / Romansa / Menggoda Ayah Sahabatku / Bab 3 ー Diseret ke Ranjang

Share

Bab 3 ー Diseret ke Ranjang

Penulis: Papa Buaya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-13 09:13:29

“Biasa aja kali matanya. Aku cuma nanya,” ujar Amelia sambil menyeruput kopinya.

Karina mendengus pelan.

“Lagian, hampir tiap hari kamu centilin Papa.”

Ameila hanya menaikkan kedua bahu.

“Semua cowok ganteng aku centilin,” sahutnya santai.

Karina memutar bola matanya sebal. Namun tetap menjawab.

“Papa nggak punya pacar. Dia tuh nggak terlalu tertarik buat nikah lagi kayaknya. Dipaksa sama Nenek juga selalu nolak.”

Amelia mengangguk paham “Oh .... ”

Tapi dalam hati, pikirannya melayang.

‘Kalau gitu kenapa dia anggap serius candaan aku tadi?’

Amelia sendiri masih tidak menyangka. Pria dingin seperti Kayden selalu acuh tak acuh pada godaanya selama ini. Kini malah balik membalasnya.

“Eh, btw. Sekarang kamu beneran mau pulang kampung? Ikut aku aja ke pesta si Ratina, ya?” celetuk Karina.

Amelia mempertimbangkannya sejenak.

“Gimana ya. Tapi aku juga tanya Ayah sih. Bentar aku tanyain dulu.”

Amelia segera mengambil ponselnya dan menelepon Ayahnya, Alan.

Panggilan bersambung. Tak lama, Alan akhirnya menjawab.

“Kenapa?! Mau uang lagi?”

Suara Alan terdengar seperti bentakan.

Amelia merapatkan bibir. Berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Mengabaikan nada ketus itu, seolah sudah terbiasa.

“Aku libur semester di kampus. Jadi mau pulang kampung. Ayah lagi di rumah kan?”

“Ck. Mau apa sih? Udah di situ aja. Bikin repot di sini juga. Ayah sibuk kirim barang!” balas Alan kasar.

Amelia terdiam sejenak. Tapi dia menyadari tatapan di sampingnya. Karina tengah memperhatikan dengan raut wajah penasaran.

Akhirnya, sudut bibir Amelia terangkat. Mempertahankan senyuman.

“Oh, lagi kirim barang ke luar kota ya? Ya udah nggak apa-apa. Lain kali aja aku pulang,” katanya santai.

Dan panggilan pun berakhir.

Karina mendekat. Matanya berbinar penuh harap.

“Jadi? Ikut aku ke pesta, kan?” tanyanya.

Amelia menoleh, lalu mengangguk setuju.

Karina tersenyum lebar.

“Yeay! Gitu, dong! Nanti kita berangkat dari sini saja,” soraknya.

“Eh, tapi aku nggak punya gaun. Sekarang pada kecil kayaknya. Udah lama nggak pergi ke pesta-pesta,” lanjut Amelia. Baru teringat.

“Nggak apa-apa. Pake punyaku,” ujar Karina percaya diri.

Namun, Amelia menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya berhenti di bagian dada Karina yang, cukup berbeda dari miliknya.

“Bagian dadanya bakal sesak, nggak?” tanyanya asal ceplos.

Karina langsung mendelik tajam. “Ngeledek lagi! Udah bagus aku pinjemin!”

Langsung melempar bantal ke wajah Amelia. Melampiaskan kekesalannya.

Amelia tertawa puas sambil menangkisnya. Suaranya terdengar ringan dan ceria. Menutupi getir yang sempat menyelimuti dadanya beberapa menit lalu.

Inilah alasan Amelia lebih suka menghabiskan waktu di rumah Karina. Di rumahnya sendiri tidak ada yang memberinya kehangatan.

Alan membenci Amelia, atas apa yang terjadi di masa lalu.

Di kala perdebatan mereka, Amelia teringat akan sesuatu.

“Pesta si Ratina malem, kan? Memang Papa kamu bakal izinin?”

Karina tersenyum penuh percaya diri.

“Nanti siang Papa mau ke rumah Nenek. Aku dipaksa ikut. Tapi alesan aja masuk kerja.”

Amelia hanya menggelengkan kepalanya. Sambil terkekeh pelan.

Langit mulai kelam, lampu-lampu rumah dinyalakan satu per satu.

Amelia dan Karina telah siap dengan gaun mereka. Tampil cantik dengan polesan make up tipis.

Karena tidak adanya Kayden sejak siang, mereka leluasa pergi ke pesta. Jika tahu, mungkin dia tak akan mengizinkan sama sekali.

Mereka juga butuh sesuatu untuk mengalihkan kejenuhan sehari-hari.

Amelia, sebagai mahasiswa yang baru masuk tahun terakhir, akan ada banyak tugas yang menumpuk. Dia juga harus mempersiapkan diri sebelum PKL nanti.

Berbeda dengan Karina. Yang sudah lulus tahun lalu dan menjadi Dokter magang di salah satu rumah sakit.

Suasana pesta semakin cukup ramai saat menjelang larut malam. Musik DJ bertambah kencang. Ditemani minuman beralkohol. Menikmati masa muda.

Termasuk Amelia. Namun kesenangannya terganggu ketika ponsel dalam tas kecilnya berdering.

Amelia terpaksa menjauh dari kebisingan.

“Halo?!”

Kemudian terdengar suara berat seorang pria.

“Karina nggak angkat telepon. Kamu tau nggak dia dimana? Ini udah larut malem.”

Amelia menatap layar ponselnya sejenak. Untuk memastikan. Wajahnya sudah sedikit memerah karena alkohol.

“Oh, Om Kay. Kita lagi di pesta.”

"Pesta?!" desis Kayden kesal. "Pulang sekarang atau aku seret kalian dari situ.”

Namun Amelia malah cekikikan mendengar ancaman itu.

“Ih takut .... Mau dong diseret ke ranjang,” jawabnya. Dia benar-benar sudah mabuk.

“Amelia!”

Kayden sedikit membentak. Membuat Amelia terdiam.

“Iya, iya. Ini pulang kok. Ish, dasar duda nyebelin,” gerutunya.

Saat mabuk, Amelia jadi sangat berani.

“Kamu bilang apa?!” desis Kayden.

Tanpa pikir panjang. Amelia langsung menutup panggilan. Takut mendengar omelan lagi.

Meski perkataan Amelia sedikit melantur. Dia berusaha tetap sadar untuk memesan taksi online di ponselnya.

Kemudian mengajak Karina pergi sebelum Kayden menyeretnya. Mereka pulang dalam kondisi mabuk.

Amelia berjalan lesu menggandeng Karina. Karena terus bersandar padanya sambil terkantuk-kantuk.

“Kalian baru pulang jam segini?” tanya Kayden. Menunggu di ruang tamu dengan wajah garang.

Amelia menoleh. Matanya yang masih berkabut alkohol berusaha fokus. Senyum lebar merekah di bibirnya.

“Eh. Om Kay ganteng. Aku udah bawa Karina pulang nih," ujarnya sedikit usil.

Namun Kayden malah terdiam sejenak. Tatapannya tertuju pada penampilan Amelia. Terlihat sedikit familier.

‘Itu. Gaun Melisa?’ pikirnya teringat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 122 — Jangan Mengecewakanku

    "Emang kenapa tanya soal wanita itu?" tanya Alvin. Matanya menyipit penuh kecurigaan.Amelia kembali menatapnya, lalu dengan terampil menyunggingkan senyuman seperti biasa. "Nggak ada apa-apa kok. Nanya random aja."Alvin mendengus pelan, keraguan masih tersisa di sorot matanya. Namun, sebelum sempat mengejar pertanyaan lebih lanjut, Satrio kini mendekati meja mereka, membawa nampan berisi pesanan."Silahkan, Kak Alvin. Semoga suka ya," ujar Satrio sambil dengan hati-hati menyajikan minuman dan kue kecil di atas meja.Alvin membalas dengan senyuman kecil yang sopan. "Makasih, ya. Vivian juga katanya suka kue pemberian kamu waktu itu."Satrio langsung berbinar. "Beneran? Syukur, deh. Nanti saya kirim lagi buat Vivian, boleh?"Alvin tak sempat menjawab karena Amelia yang lebih dulu menyahut dengan nada menggoda. "Heh, tukang ngirimnya juga harusnya dapet, dong. Lupa ya siapa yang ngasih ke Pak Alvin?" protes Ameli menggerutu.Satrio menoleh padanya dengan helaan napas. "Iya, iya. Nan

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 121 — Balikan?

    "Em, boleh saya lihat isinya, Pak?" pinta Amelia dengan sopan, menahan getar di suaranya.Tio mengangguk santai dan menyodorkan paper bag itu. "Nih."Amelia memeriksa isinya. Hanya beberapa kotak makanan dan minuman, serta secarik kertas kecil di atasnya.Amelia mengambil kertas itu dan langsung membacanya. Dari samping, Tio pun mengintip, ikut penasaran. Isinya hanya pesan singkat yang manis, tetapi pengirimnya adalah Melissa, mantan istri Kayden.Amelia langsung terdiam di tempat. Dalam hatinya banyak pikiran negatif bermunculan dan rasa penasaran. ‘Kenapa dia ngirim kayak gini?’"Apa mungkin Pak Kayden berhubungan lagi sama mantannya, ya? Sebelumnya juga dia pernah ke sini, sih," celetuk Tio menebak-nebak setelah melihat surat itu.Amelia kembali dikejutkan. Kepalanya refleks menoleh. "Masa?""Iya. Tapi diajak keluar sama Pak Kayden," jawab Tio terlihat meyakinkan. Dia kemudian menggeleng sembari bergumam, "Duh, kirain siapa pacarnya, ternyata mau balikan lagi sama mantan."Amelia

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 120 — Kiriman

    ‘Hah? Kenapa dia bisa punya nomor aku?’ Pikiran itu melintas di benak Amelia, membuat kerutan di alisnya.Meski penasaran, Amelia memilih untuk mengabaikannya saja. Tapi beberapa saat kemudian, pesan dari Melissa terus berdatangan, mengirim ancaman serta kata-kata yang cukup kasar.“Heh bocah! balas pesan saya! Saya tau kamu kerja jadi babu di rumah Kayden. Jadi saya bisa datangi kamu kapan aja!”Itu sepenggal dari banyaknya pesan yang Melissa kirim. Amelia hanya bisa mendengus sembari men-silent ponselnya, daripada terus terganggu.Namun Kayden tentu menyadari suara notifikasi itu hingga membuatnya penasaran. "Siapa?" tanya Kayden, pandangannya masih tertuju ke jalan.Amelia menoleh dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Cuma pesan grup kelas. Lagi rame, biarin aja. Kamu mau sarapan apa nanti? Atau bekel?" ucapnya dengan alami mengalihkan pembicaraan."Nggak usah. Aku bisa makan di kantor," jawab Kayden.Amelia mengangguk paham. Mereka kembali berbincang hal lain selama perjalanan

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 119 — Panik

    "K-Kay. Ada nenek, gimana dong?" bisik Amelia terdengar panik.Belum sempat Kayden menjawab, kini suara Rania semakin mendekat seolah dia sudah masuk ke dalam kamar itu."Amel. Kamu lagi mandi, ya?"Amelia menelan ludah. Dengan sangat terpaksa dia menjawab. "I-iya, nek."Kayden di depannya malah terlihat santai, karena dia tahu pintu kamar mandi sudah dia kunci. Namun, wajah panik Amelia terlihat lucu baginya. Dengan jahil, dia mulai menggerakkan pinggulnya agar kembali bergerak."Ahh—hmph!" Amelia sempat mendesah kaget, namun dengan cepat dia menutup mulutnya."Kenapa, Amelia?" tanya Rania di luar sana dengan nada khawatir.Kayden masih menggerakkan tubuh Amelia, hingga membuat Amelia kesal. Tapi dia harus menahan agar tidak membuat suara yang mencurigakan."I-iya. Nggak apa-apa, nek. Aku cuma kepeleset. Ada apa?" sahut Amelia, dengan suara tersengal berusaha sebiasa mungkin."Nenek lupa ngasih kamu baju ganti buat tidur. Nenek taruh di kasur, ya," jawab Rania.Amelia mencoba menarik

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 118 — Sudah Terlanjur

    "Janji? Janji apa?" tanya Amelia heran.Kayden merengus sebal. "Masa kamu lupa? Kamu bilang nanti aja setelah bimbingan, sekarang udah beres, kan?"Amelia mengangguk baru teringat. Namun ia tetap menolak. "Ya itu kan kalau di rumah, Kay. Kalau di sini rumah orang tua kamu.""Nggak ada bedanya. Untung di kamar ini ada kamar mandi dalamnya. Udah lama kita nggak mandi bareng, kan?" sahut Kayden dengan santai. Kedua tangannya perlahan mulai menanggalkan pakaiannya.Wajah Amelia merona. Langsung memalingkan pandangan."Untung apanya? Pakai lagi baju kamu!"Kayden tak mendengarkan, dan benar-benar sudah telanjang bulat sekarang. Dia menarik Amelia yang tak mau menatapnya."Janji tetap janji, Amel," ucapnya bersikeras, dengan cepat menariknya ke dalam bathtub yang sudah terisi air."Kyaa!" teriak Amelia kaget. Kakinya sedikit terpeleset dan akhirnya jatuh di atas tubuh Kayden.Kedua tangan Kayden memeluk Amelia dengan erat dari belakang."Kay! Handuk aku jadi ikut basah, ih!" gerutu Amelia s

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 117 — Pacarmu Cowok?

    "Pacarnya Om Kayden, ya? Em, kayaknya belum pernah lihat, nek," jawab Amelia dengan senyuman tipis terdengar meyakinkan.Rania menghela napas panjang sembari menggerutu. "Haish. Gitu, ya. Emang nyebelin si Kayden itu. Kalau gitu kalian nginep aja di sini, ya."Kayden langsung mengernyit. "Nggak. Besok aku harus kerja.""Kan bisa berangkat dari sini. Ibu udah ditinggal suami, masa anak juga? Mana nggak nurut lagi padahal cuma minta dikenalin calon mantu," balas Rania dengan sedikit dramatis.Kayden mendengus sembari memutar bola matanya ke atas."Iya, iya! Kita nginep di sini," jawabnya menurut agar Rania tak mengomel lagi."Gitu dong." Rania mengangguk puas. Hingga akhirnya sebuah pemikiran liar muncul di kepalanya. "Tapi kenapa sih kamu nggak mau ngenalin? Jangan-jangan pacar kamu itu cowok ya, Kay?"Mendengar hal itu, Kayden hampir tersedak. "Apa sih, Bu? Kok nuduh gitu?!""Ya, lagian kamu tiap dijodohin nolak mulu. Sekarang punya pacar nggak mau dikenalin. Berarti pacar kamu—"Belu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status