LOGINHappy Reading*****Ardha baru menyadari jika sambungannya dengan Thalia sudah lama terputus ketika tak ada tanggapan atas pertanyaannya tadi. Menatap semua orang bergantian, Ardha ingin sekali menangis. "Ma, Yah," panggil maminya Zanitha. Mengerti arti tatapan putrinya, Wisnu pun membuka suara. "Nggak usah panik, Dek. Kita datangi saja lokasi yang disebutkan oleh Thalia tadi," sarannya. "Ayahmu benar, Dek," tambah Melati. "Jadi, jangan panik, ya.""Kakak ganti baju dulu," sahut Harjuna. Lelaki itu segera menuju kamar yang ditempatinya semenjak menginap di rumah tua tersebut. "Mama juga mau ganti baju. Sekalian beresin masakan di dapur," pamit Melati. "Kamu juga harus bersiap, Dek. Ayo cepetan," perintah Wisnu. "Aku nggak usah ganti baju. Gini aja, Yah. Aku khawatir banget, bener-bener takut kalau Mas Awan kenapa-napa," kata Ardha. Si kecil menarik ujung kaos oblong yang digunakan maminya. "Ada apa, Za? Jangan rewel, deh," kata si mami yang sejak tadi terus sibuk menghubungi E
Happy Reading*****Elang cuma melempar senyum atas semua pertanyaan yang diajukan Wisnu. "Saya nggak punya banyak waktu untuk menjelaskan, Om. Permisi.""Oke ... Oke. Kamu berangkat saja. Kalau ada hal mendesak dan kamu butuh bantuan, segera hubungi kami. Jangan memendam semua masalahmu sendirian. Libatkan kami juga, anggap kami keluargamu," nasihat Wisnu sebelum Elang benar-benar menghilang dari pandangan mata.Wisnu menatap kepergian Elang dengan perasaan campur aduk, tak lama kemudian, lelaki paruh baya itupun meninggalkan ruangan tersebut. Berjalan ke dapur di mana sang istri dan putrinya sedang memasak untuk makan malam mereka sekeluarga. "Yah, wajahnya kok ditekuk-tekuk gitu. Ada apa?" tanya Melati yang menoleh ke arah sang suami karena mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. "Adek Ardha mana, Ma?" Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Wisnu malah melempar pertanyaan. "Hmm, ditanya apa jawabnya apa," gumam Melati. Dia kembali menoleh ke arah kompor sambil sesekali me
Happy Reading*****Sang dokter menatap semua orang setelah mengeluarkan kalimat kontroversial. Wajah-wajah tegang dari semua keluarga Wisnu terlihat jelas. Detik berikutnya sang dokter terbahak melihat raut muka sang sahabat begitu sendu."Apa, sih. Nggak jelas banget kamu. Sudah tua dan sekarang membawahi beberapa anak buah, masih saja kelakuan random di pake. Apa maksud kata-katamu tadi?" kata Wisnu sedikit kesal dengan sahabat masa mudanya dulu. "Dok, jangan main-main, dong. Kami baru saja menemukan putri kami yang hilang. Masak dia mau hilang lagi atau jangan-jangan kamu merekayasa hasil tes DNA ini, ya?" tanya Melati."Nah, bener kata Mama. Aku juga ikut curiga kalau Om ngomong kayak gitu," tambah Harjuna. "Hei, kalian ini. Mana ada aku memalsukan hasil tes. Dikira aku ini dokter yang bisa disuap, apa gimana, sih. Kalian itu pikirannya negatif saja," sahut sang dokter membela diri. Sang dokter menyanggah semua tuduhan yang dilayangkan padanya, tetapi tawanya masih belum mau b
Happy Reading*****Wisnu menatap perempuan yang telah melahirkan Zanitha dengan tatapan aneh. Bola mata bergerak dari satu wajah ke wajah lainnya. Bibirnya bergetar seperti anak kecil sedang dimarahi sama orang tuanya. "Yah, jangan buat kami penasaran. Gimana hasil tesnya? Kenapa Ayah cuma diam saja?" kata Melati sambil menyentuh pundak sang suami.Elang yang selalu berada di sebelah Ardha, mulai tak sabar. Dia terpaksa merebut kertas hasil tes yang berada di tangan Wisnu dan mulai membacanya. Reaksi Elang pun sam seperti lelaki paruh baya yang sudah menjadi ayah angkat Ardha sejak lima tahun lalu. "Dek, ini ...," ucapnya seakan tak percaya dengan hasil kertas yang ada di tangannya kini. "Apaan sih, Lang." Harjuna merebut kertas tersebut bersamaan dengan Ardha yang ingin merebutnya juga. Namun, gerakan tangan sang kakak jauh lebih gesit dari tangan si sia adik. Membaca sebentar apa yang ada di kertas tersebut, Harjuna juga membulatkan mata. Namun, berbeda dengan kedua lelaki sebe
Happy Reading*****Suasana mendadak tegang, semua orang fokus menatap Ardha dan Wisnu. Melati yang sudah sangat mendambakan kehadiran buah hatinya yang telah lama hilang tersebut, pindah ke sisi Ardha. Tangan Melati meraih jemari kanan Ardha. Ketika putri angkatnya itu menoleh perempuan paruh baya tersebut menarik garis bibirnya ke atas. "Jangan pernah ragu untuk menemukan suatu kebenaran, Ar. Mama dan Ayah juga punya ketakutan yang sama. Takut jika hasil tes DNA ternyata nggak sesuai dengan harapan kami. Tapi, kami berusaha menepis semua itu. Jika memang hasil tes nantinya, sangat mengecewakan. Kamu dinyatakan bukan anak kandung kami. Maka, kamu akan tetap dan selalu menjadi kesayangan kami semua," ucap MElati begitu lembut. Kini, semua ucapan dan kalimat yang dikeluarkan Melati bagai air es yang melegakan dahaga Ardha. Perempuan yang telah melahirkan Zanitha itu mengangguk patuh. "Mama sama Ayah akan tetap menyayangiku, kan? Apa pun hasilnya nanti," tanya Ardha. Inderanya sayu
Happy Reading*****Wisnu yang berdiri tepat di samping sang istri, menganggukkan kepala. Membenarkan perkataan perempuan yang diduga adalah putri kandungnya yang telah hilang puluhan tahun."Untuk apa kami datang kemari jika tidak untuk membuktikan bahwa kamu adalah anggota keluarga kami yang sebenarnya," tambah Harjuna. "Kamu bersedia, kan, Dek?" "Tentu saja, Ardha sangat bersedia, Jun," kata Elang, menyerobot kalimat yang akan dikeluarkan Ardha. "Hmm, sejak kapan kamu punya juru bicara," goda Harjuna sambil mencolek dagu si adik."Apa, sih, Kak." Ardha mengerucutkan bibir. Sejak pertama kali bertemu dengan Harjuna, perempuan itu memang sudah bersikap manja. Ardha seolah menemukan sosok Elang yang dulu diakui sebagai saudaranya. Kini, sikap Ardha akan semakin manja jika Harjuna benar-benar adalah saudara kandungnya. Elang kembali mengembuskan napas kasar. Melihat Ardha bersikap manja seperti itu pada Harjuna membuat kecemburuannya makin membesar. "Jadi, cepatlah mandi supaya kit







