Share

3. Kerja sama

Author: pramudining
last update Last Updated: 2025-08-07 16:21:30

Happy Reading

*****

Ardha diam sejenak. Dia memang membutuhkan banyak uang saat ini. Tujuannya menjadi pembantu di rumah Harsa dan Jenni memang untuk memikat sang majikan lelaki. Ia punya alasan untuk itu.

Namun, ketika Harsa mengatakan demikian, dia malah bingung.

"Berapa yang akan saya dapatkan jika saya membantu Bapak?"

"Pastinya, apa yang akan aku berikan jauh lebih besar dari yang akan Jenni tawarkan padamu. Gimana? Apa kamu tertarik?" Harsa mengulurkan tangan, meminta persetujuan kerjasama dengan Ardha.

Cuma butuh waktu sekitar dua detik, Ardha sudah menganggukan kepala sebagai tanda persetujuan.

"Oke. Temui Jenni dan laporkan apa yang dia katakan."

Ardha mengangguk dan sebelum perempuan itu keluar, sang majikan malah mendaratkan kecupan di pipinya.

"Ingat baik-baik. Jika Jenni memintamu untuk menggodaku supaya kita berselingkuh, katakan kamu akan melakukannya."

Mengembuskan napas panjang, sepertinya Ardha akan sangat kesulitan menggapai impiannya untuk merebut Harsa. Lelaki itu bahkan sudah tahu niatnya untuk menggoda.

Sesampainya di depan pintu ruang kerja sang majikan, Ardha mengetuk pintu. Samar, dia mendengar suara tawa Jenni, entah dengan siapa perempuan itu berbincang, sang pembantu belum mengetahuinya.

"Permisi, Bu. Boleh saya masuk?" ucap Ardha dari balik pintu.

"Masuk saja, saya sudah cukup lama menunggu," sahut Jenni.

Ardha memutar kenop pintu, lalu melongokkan kepala sebelum benar-benar memasuki ruang kerja milik sang majikan.

"Kenapa tidak masuk saja, malah mengintip." Jenni mematikan sambungan ponselnya. Beralih menatap pada sang pembantu baru. "Duduk," perintahnya.

Ragu dan sedikit takut-takut, Ardha berjalan mendekati sang majikan. Menyeret kursi yang ada di seberang meja kerja karena melihat kode yang ditujukan padanya. Ardha masih diam menunggu instruksi selanjutnya dari sang majikan.

Jenni terus menatap pembantu barunya dari ujung kaki hingga kepala.

"Bu, apa saya melakukan kesalahan?" tanya Ardha. Mulai meremas-remas jemari tangannya. Bayangan kekerasan akibat ulahnya menggoda sang majikan lelaki mulai membayang.

"Aku tahu kamu sedang berusaha keras menggoda suamiku ...."

"Bu, jangan salah paham. Saya nggak punya niat ingin merebut Pak Harsa," kata Ardha memotong perkataan sang majikan.

Jenni tertawa, tetapi tatapannya tidak pernah lepas dari sang pembantu.

"Bu, saya minta maaf jika memang kejadian tadi membuat Ibu marah." Suara Ardha mulai bergetar.

Jenni menghentikan tawanya. Sekarang, wajahnya berubah serius. "Kamu tenang saja. Saya tidak akan marah jika kamu memang berniat menggodanya."

"Hah?!" ucap Ardha, cengo. Bibirnya bahkan menganga lebar.

"Kenapa terkejut?" selidik Jenni yang tidak menyangka jika reaksi pembantunya seperti sekarang. "Saya memanggilmu ke sini untuk berbisnis."

"Bisnis?" tanya Ardha tak percaya. Bagaimana mungkin, semua keinginannya begitu mudah akan diraih dengan cepat?

"Iya, bisnis," jawab Jenni, mantap. "Saya tahu kamu cukup tertarik dengan suami saya dan dia juga meresponmu. Maka, saya akan memfasilitasi kedekatan kalian."

"Ibu nggak salah ngomong?" Ardha benar-benar terkejut dengan perkataan majikan perempuannya.

Walau sebelumnya Harsa sudah membocorkan apa yang akan dibicarakan Jenni, tetapi mendengar langsung dari bibir sang nyonya rumah, jelas membuatnya sangat terkejut.

Keputusan Jenni untuk mendukung Ardha mendekati suaminya sangat di luar nalar kewarasan seorang istri. Perempuan mana yang dengan senang hati memberi umpan serta kebebasan berselingkuh pada suaminya?

"Apa yang saya katakan adalah kebenaran dan saya menginginkan kita bisa bekerja sama untuk memikat hati Harsa. Jika kamu berhasil membuat Harsa jatuh cinta dan tidur denganmu, maka kamu berhak mendapatkan rumah dan juga uang seratus juta."

Kelopak mata Ardha membulat sempurna. Membayangkan uang dan harta yang akan didapatkan sungguh sangat membahagiakan.

Dia juga teringat perkataan Harsa yang akan memberi hadiah yang lebih besar dari tawaran Jenni asal mau berpihak pada lelaki tersebut.

"Gimana, Ar? Kamu mau menerima tawaran bisnis ini, kan?" Jenni bertanya dan menatap sang pembantu dengan serius, sangat berharap jika Ardha akan menerima tawarannya.

"Baiklah, saya setuju dengan tawaran Ibu. Tapi, saya mau Ibu melakukan kesepakatan hitam di atas putih. Saya menginginkan kontrak kerja sama resmi yang bisa dipertanggungjawabkan di depan hukum, baru saya bersedia menjalankan tugas ini. Gimana?"

"Oke, saya setuju. Besok, surat perjanjian kerja sama kita akan segera aku berikan. Tapi, ingat. Kerja sama kita berdua jangan sampai bocor. Jangan biarkan orang lain tahu," peringat sang nyonya rumah yang cuma diangguki oleh Ardha.

"Sekarang, kamu bisa kembali ke kamar."

"Baik." Ardha berdiri, berbalik dan berniat meninggalkan ruang kerja sang majikan. Namun, langkahnya terpaksa berhenti karena panggilan Jenni. "Ada apa, Bu?"

"Bawa ini ke kamarmu." Jenni menyerahkan bunga kaktus.

Mengambil bunga pemberian sang majikan, kening Ardha berkerut. "Saya permisi, Bu," ucapnya setelah berhasil mengambil bunga tersebut.

"Pergilah," perintah Jenni sambil mengibaskan tangannya.

Ardha berjalan menuju kamar dengan membawa kaktus pemberian Jenni, tetapi pikirannya terus berputar dan curiga. Ada apa di balik kaktus yang Jenni berikan ini?

Belum juga sang pembantu sampai di kamar, Harsa sudah menarik tangannya. Membawa Ardha ke kamar tamu yang berada di lantai satu.

"Pak, jangan begini. Nanti, Ibu bisa curiga," ucap Ardha ketika mereka sudah berada di ruang tamu dengan pintu terkunci.

"Dia tidak akan tahu. Jika sudah berada di ruang kerja, istriku itu tidak ingat waktu dan suaminya," jawab Harsa. "Ceritakan. Apa yang dikatakan Jenni?"

Ardha mengangguk patuh, lalu menceritakan apa yang dikatakan sang majikan perempuan. Namun, pembantu itu tidak menceritakan hadiah yang sudah dijanjikan kepadanya.

"Sudah kuduga. Jadi, maukah kamu berada di pihakku?" tanya Harsa. Tangannya mulai nakal, bergerak menarik pinggang ramping sang pembantu.

Diperlakukan seperti itu, Ardha bereaksi dengan cepat. Menyusuri pipi sang majikan dengan kedua tangannya, bahkan dia tidak segan menempelkan dua bukit kembarnya ke dada bidang Harsa.

"Saya pasti berdiri di pihak Bapak asal imbalannya jauh lebih besar dari yang dijanjikan Bu Jenni."

"Oke, saya setuju. Mulai saat ini, kamu berada di pihakku. Jangan coba-coba untuk berkhianat."

Ardha cuma bisa menganggukkan kepala. Menolehkan pandangannya ke arah lain, dia tersenyum miring.

‘Selangkah lagi,’ ucap Ardha dalam hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menggoda Suami Majikanku   178. Kenangan Indah

    Happy Reading*****"Hei, kok kamu ngaku-ngaku gitu, sih?" ucap Elang yang juga membulatkan mata saat mendengar kalimat Yandra.Sang pengacara menggaruk kepala yang tak gatal. "Kan kita sudah sepakat, Lang. Zanitha juga anakku. Jadi, kamu nggak boleh nyakitin dia."Yandra dengan cepat mengambil alih gadis kecil yang berada di genggaman Elang bahkan sang pengacara menggendongnya, melindungi diri dari amukan lelaki yang sampai saat ini belum bisa menemukan istri baruna.Suasana kembali mencair, semua orang bahkan tamu yang tadi sempat berwajah tegang kembali semringah karena ucapan klarifikasi Yandra. "Sayang, kok, kamu nggak mihak Papi?" ucap Elang masih dengan wajah memelas supaya si kecil tergerak hatinya untuk memberitahukan keberadaan Ardha. "Aku nggak mau mihak Papi, nanti malah kena marah Mami," sahut Zanitha cepat.""Sekarang, katakan di mana mamimu?" tanya Elang dengan suara yang jauh lebih rendah. Zanitha dengan cepat mengangkat kedua bahunya. Tak lama berselang, sebuah sua

  • Menggoda Suami Majikanku   177. Hilang

    Happy Reading ***** "Sayang, kamu di mana?" panggil Elang yang tak melihat siapa pun di ruangan tersebut, padahal dia sudah sangat ingin berjumpa dengan perempuan yang baru beberapa menit lalu sah menjadi istrinya. Sunyi, tak ada seorang pun di ruangan tersebut padahal jelas-jelas Elang menyiapkan kamar tersebut khusus untuk Ardha. Elang pun berbalik arah, hendak kembali ke tempat dia mengucapkan akad nikah. Namun, baru saja akan melangkahkan kakinya, suara seseorang terdengar memanggil. "Papi," panggil si kecil dari arah samping kanan tempat Elang berisi sekarang. Elang menoleh, mengerutkan kening karena melihat Zanitha yang berisi sendirian tanpa didampingi oleh siapa pun. "Za sendirian? Mami mana, Sayang?" tanya sedikit panik serta khawatir. "Coba Papi tebak. Kira-kira, Mami ada di mana?" Elang terdiam, tetapi pikirannya mengembara, begitupun dengan bola matanya, bergerak-gerak berusaha mencari keberadaan sang istri. Namun, sampai beberapa menit kemudian, Ardha tak ju

  • Menggoda Suami Majikanku   176. Sah

    Happy Reading*****"Apa, Dek?" sahut Harjuna lembut supaya emosi si adik tidak meningkat. Menatap tajam pada saudara kandung satu-satu yang dia punya. "Kakak ini. kenapa Adek selalu merasa Kak Juna nggak suka sama Mas Awan. Perkataannya selalu memojokkan."Elang cuma bisa tersenyum ketika Ardha membelanya seperti sekarang. Hal itu jelas membuktikan bahwa cinta yang dimiliki sang pujaan sama besar dengan cintanya. "Dengar itu, Jun. Kamu ini," ucap Elang, menegaskan perkataan Ardha."Hmm." Wajah Harjuna seketika berubah sedih. Kepalanya mulai menunduk, tak mau menatap lawan bicaranya lagi."Mas Awan juga salah. Ngapain coba pengen tidur di kamarku. Nunggu beberapa puluh tahun saja sanggup, masak nunggu di hari saja nggak sanggup," lanjut Ardha memarahi sang kekasih. Elang kembali menggaruk kepalanya. "Syukurin," ucap Harjuna tanpa suara, hanya gerakan bibir saja."Ya, kan cuma pengen, Dek. Biar tambah tenang aja di pikiran kalau tidur di kamarmu," alibi Elang supaya mendapat simp

  • Menggoda Suami Majikanku   175. Tidur bareng

    Happy Reading *****Siapa pun yang mendengar perkataan Ardha tadi, pasti akan tertawa. Demikian juga dengan seluruh anggota keluarga dan juga Danu. Semua orang menertawakan si bungsu."Hmm. Kalian ini, nggak ada yang percaya sama aku. Lihat saja beberapa berita yang viral sekarang. Sudah nggak jaman, perempuan ngejar laki-laki. Sekarang, kebanyakan laki-laki yang ngejar cewek tajir. Mas Awan nggak takut?" tanya Ardha. Wajahnya begitu serius."Mas yakin, Dek. Kamu nggak akan pernah melakukan hal itu apalagi sampai mengkhianati, Mas. Jadi, nggak ada alasan atau keraguan lagi," ucap Elang, kembali meyakinkan kekasihnya. "Hmm. Terserah Mas sajalah."Tak lama kemudian, Danu pamit karena memang sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bahas. Sudah lewat tengah malam, tetapi Ardha belum juga bisa memejamkan mata. Pikirannya terus dibayangi dengan Elang. Tentang segala pemikiran lelaki itu yang membuatnya semakin jatuh cinta sekaligus takut jika dia tidak bisa membalas semua cinta yang dibe

  • Menggoda Suami Majikanku   174. Godaan Harta

    Happy Reading *****Elang terpaksa menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum salah tingkah. "Mas, ditanya kok malah senyum-senyum sendiri gitu, sih?" kata Ardha yang juga penasaran dengan jawaban lelaki yang dicintainya itu. Mana mungkin seorang lelaki seperti Elang merasa terancam, ketakutan dan tidak bisa mengatasi permasalahannya. Namun, ucapannya tadi seolah dia benar-benar merasakan rasa tidak menyenangkan itu. "Ehmm, gimana ngejelasinnya, ya," kata Elang masih dengan gerakan menggaruk kepala yang sama sekali tak gatal. "Mas takut kamu cemburu, Dek. "Ya, udah ngomong aja, sih, Mas. Aku nggak bakalan cemburu, kok. Apa yang disarankan Ayah dan keluargaku ada benarnya juga. Kegagalan pernikahanku dengan Harsa nggak boleh terjadi lagi.""Duh, amit-amit. Mas nggak akan pernah melakukan itu, Dek. Kamu harus yakin," sambar Elang, menghentikan ucapan buruk yang mungkin muncul di kepala sang kekasih."Kalau gitu, cepat katakan kenapa," sahut Harjuna, keras.Elang diam seben

  • Menggoda Suami Majikanku   173. Perjanjian

    Happy Reading****Harjuna dan Wisnu saling pandang. Melati bahkan menatap aneh pasangan yang akan segera meresmikan hubungan mereka. "Kalian berdua ini ngomong apa, sih?" tanya Harjuna, sepertinya juga mewakili isi hati Wisnu dan Melati."Ayah nyuruh aku pulang cepet pasti karena Za, kan?" tanya Ardha masih dengan wajah panik dan penuh tanda tanya.Terdengar gelak tawa Wisnu dan Melati secara bersamaan. Entah apa yang lucu dari perkataan putrinya. "Kok, Ayah tertawa?" Raut Ardha seketika berubah, dari panik menjadi curiga. "Benar yang dikatakan Ardha, Om. Kalau Za baik-baik saja, nggak mungkin kami disuruh pulang cepat, kan?" tambah Elang membenarkan ucapan sang kekasih. "Kalian berdua ini, terlalu parno," sahut Melati."Benar kata mamamu, Dek," tambah Wisnu, "Ayah nyuruh kamu pulang cepat bukan karena Za, dia sudah tidur pulas setelah minum obat.""Terus kenapa Om minta kami pulang cepat?" Elang mulai tak sabar. Tanpa diperintah, lelaki itu sudah duduk di sebelah Harjuna, sedan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status