LOGIN"Kau... berani melempar cawan ke dahi Penguasa Da Sheng?!" suara Kaisar Zhao Jun mendesis, bergetar di antara amarah yang tertahan dan rasa tidak percaya yang amat sangat.
Darah segar mengalir dari luka gores di pelipisnya, menetes melewati tulang pipinya yang tegas, lalu menodai jubah naga hitam yang ia kenakan. Tatapan matanya yang tajam kini memancarkan kilatan pembunuhan yang pekat. "Kenapa tidak?!" Xiao Rin membalas tatapan itu tanpa berkedip sedikit pun, napasnya memburu di balik jubah usangnya. "Jika kau punya telinga, dengarkan ini baik-baik. Angkat kakimu dari paviliun ini, pria angkuh tidak punya hati!" "Yang Mulia! Ampuni Permaisuri! Hamba mohon ampuni beliau!" Jing Er menjerit histeris, bersujud berkali-kali di lantai batu hingga dahinya memar dan berdarah. "Beliau sedang tidak sadar, Yang Mulia! Jiwanya sedang terguncang!" Para prajurit di ambang pintu sudah menghunuskan pedang mereka sepenuhnya, menunggu perintah satu kata saja dari sang kaisar untuk menebas kepala wanita yang mereka anggap sudah gila itu. Suasana di dalam Paviliun Dingin seketika menjadi sangat mencekam, seolah oksigen di dalam ruangan telah habis tersedot oleh kemurkaan sang kaisar. Zhao Jun benar-benar tidak habis pikir dengan sikap istrinya yang berubah drastis dalam semalam. Tidak ada lagi Zi Han yang penakut, yang selalu bersujud memohon belas kasihan di kakinya sembari menangis tersedu-sedu. Yang ada di hadapannya sekarang hanyalah sepasang mata sedalam sumur tua, dingin, penuh kebencian, dan memancarkan kegilaan yang liar. "Yang Mulia, hamba mohon tenangkan diri anda," Selir Yao Xian dengan cepat maju, menangan jemari kekar Kaisar Zhao Jun yang sudah mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Permaisuri Zi Han tampaknya benar-benar telah kehilangan akal sehatnya akibat penyakit kulit itu. Jika anda menghukumnya sekarang, seluruh kekaisaran akan mengira anda kejam karena menyiksa wanita gila. Mari kita pergi dari sini, Yang Mulia. Biarkan tabib yang mengurusnya." Kaisar Zhao Jun menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan badai amarah di dalam dadanya. Dia menepis pelan tangan Yao Xian, namun matanya tetap terkunci pada Xiao Rin. "Zi Han... kau beruntung karena Selir Yao Xian berhati mulia dan memohonkan ampun untukmu malam ini. Mulai detik ini, jangan pernah bermimpi untuk melangkah keluar dari Paviliun Dingin ini satu jengkal pun! Kau akan membusuk di sini bersama kegilaanmu!" "Bagus! Silakan kunci pintunya dari luar dan bawa selir kesayanganmu itu pergi!" usir Xiao Rin dengan senyum sinis yang mengembang di bibirnya yang pucat. "Ayo pergi, Yao Xian," perintah Kaisar Zhao Jun dengan nada dingin yang membekukan. Dia berbalik dengan sentakan jubah yang kasar, melangkah keluar dari ruangan tanpa sekali pun menoleh lagi, meninggalkan sang permaisuri dengan jiwa barunya itu yang luar biasa liar. BRAAAKK! Pintu kayu paviliun ditutup dengan sangat keras dari luar, disusul suara derap langkah kaki para prajurit yang perlahan menjauh, menyisakan keheningan malam yang sunyi di dalam kamar yang berbau pekat tersebut. "Permaisuri... apa yang telah anda lakukan?" Jing Er merangkak mendekat, air matanya bercucuran tanpa henti menatap Xiao Rin yang masih berdiri limbung di depan meja rias. "Bagaimana bisa anda melukai Yang Mulia Kaisar? Jika beliau murka, kediaman keluarga Zi juga akan ikut menanggung akibatnya..." "Pergilah, Jing Er," potong Xiao Rin dengan suara rendah yang letih. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut kencang, merasa kepalanya seolah ingin pecah. "Tapi, Permaisuri—" "Aku bilang pergi! Biarkan aku sendiri!" bentak Xiao Rin, suaranya meninggi karena dia sudah tidak sanggup lagi menahan beban di kepalanya. Jing Er tersentak, tubuhnya gemetar melihat kilatan dingin di mata permaisurinya. Dia perlahan bangkit berdiri sambil mengusap air matanya, lalu berjalan mundur dengan kepala menunduk dalam. Namun, sebelum tangannya menyentuh daun pintu kamar, pelayan muda itu berbalik sejenak dengan tatapan penuh rasa cemas. "Hamba... hamba akan keluar, Permaisuri. Namun, hamba mohon, jangan lupa meminum ramuan obat yang ada di atas meja kayu itu setelah anda tenang. Ramuan itu dikirim langsung oleh tabib istana untuk meredakan rasa perih di kulit anda." "Ya," sahut Xiao Rin acuh tanpa berbalik. Begitu pintu kamar ditutup dengan rapat dari luar, kekuatan yang menopang tubuh Xiao Rin seolah lenyap seketika. Dia berjalan gulai menuju ranjang kayu kuno itu, lalu menjatuhkan dirinya di atas kasur yang tipis dan keras. Dia duduk bersandar pada tiang ranjang, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk. Pikirannya benar-benar kacau, berputar-putar dalam pusaran ketidakpastian yang menakutkan. Dia masih tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi malam ini. Kenapa dia bisa berada di tempat asing ini? Kenapa takdir mempermainkannya sekejam ini, melemparkannya ke dalam tubuh seorang wanita dengan nasib yang jauh lebih buruk dari kehidupannya yang membosankan di dunia modern? Plak! Plak! Xiao Rin menepuk pipinya sendiri beberapa kali dengan telapak tangannya yang terasa kasar. Rasa perih yang menjalar di kulit wajahnya seketika membuktikan satu hal, ini jelas bukan mimpi. Ini bukan ilusi di ambang kematian setelah mobilnya tenggelam di dasar sungai. Dia menatap ke sekeliling ruangan sekali lagi, kelambu sutra yang usang, lentera minyak yang bergoyang tertiup angin malam dari celah jendela, dan aroma dupa gaharu yang menyengat. Ini memang bukan dunianya, bukan kehidupannya. Jiwanya yang lelah di usia tiga puluh tahun kini telah terlempar ke zaman kuno, terjebak di dalam tubuh seorang permaisuri buangan bernama Zi Han. "Mengapa aku harus meminta kesempatan kedua jika akhirnya seperti ini?" bisiknya dengan kekehan hambar yang sarat akan keputusasaan. "Menjadi permaisuri di tempat kuno ini ternyata tidak lebih baik daripada menjadi seonggok mayat di ruang autopsi." Xiao Rin kembali mengedarkan pandangannya, lalu matanya tertuju pada sebuah cawan perak di atas meja kayu kecil di sudut ruangan. Di dalamnya, terdapat cairan hitam kental yang mengeluarkan bau herbal yang luar biasa pekat dan menusuk hidung. Mengingat pesan pelayan setianya tadi, dia bangkit berdiri dan melangkah mendekati cawan tersebut. Sebagai seorang dokter forensik yang terbiasa memeriksa zat-zat beracun, indra penciumannya mendadak menangkap sesuatu yang ganjil dari aroma obat tersebut. Dia mendekatkan hidungnya ke bibir cawan, menghirup aromanya dalam-dalam selama beberapa detik, sebelum matanya seketika menyipit tajam. "Aroma ini... ini bukan obat penyembuh," gumam Xiao Rin, batinnya bergejolak hebat. "Ini adalah ekstrak tumbuhan beracun yang sengaja dicampur untuk merusak jaringan. Brengsek! Wanita ini tidak sedang sakit, dia sedang dibunuh secara halus!" Rasa amarah yang luar biasa kembali membakar dada Xiao Rin. Rasa muak dan tidak terima terhadap takdir baru yang menyedihkan ini membuat tangannya bergerak kasar meraih cawan perak tersebut. PRANGKK! Dengan umpatan kasar yang lolos dari bibirnya, Xiao Rin melempar cawan perak itu ke lantai batu dengan sekuat tenaga. Cairan hitam beracun itu seketika tumpah, mengalir membasahi lantai dan mengeluarkan asap tipis yang berbau busuk. "Jika aku adalah permaisuri dinasti ini, kenapa aku harus diperlakukan secara tidak pantas seperti ini?! Kenapa aku harus mati konyol di tangan orang-orang picik ini?!" Xiao Rin kembali melangkah dengan gusar, berdiri tepat di depan cermin perunggu kuno yang merekam penampakan menyedihkannya. Dia mengangkat tangannya, mengusap pelan kulit wajahnya yang dipenuhi bercak luka bersisik kasar yang tampak begitu menjijikkan seperti seorang monster di bawah temaram cahaya lilin. Sisi wajahnya yang dulu di dunia modern selalu ia rawat dengan baik, kini tampak hancur dan mengerikan karena manipulasi racun jahanam istana. Namun, di balik kulit yang rusak itu, sepasang mata Xiao Rin kini tidak lagi memancarkan keputusasaan. Kilatan mata seorang dokter forensik yang dingin, cerdas, dan tidak kenal takut perlahan kembali, berkilau tajam di dalam kegelapan Paviliun Dingin. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyum tipis yang sarat akan ancaman mematikan. Jika seisi istana ini mengira mereka bisa menindasnya hanya karena dia memiliki wajah buruk rupa dan raga yang ringkih, maka mereka telah salah besar memilih lawan. "Kalian menganggapku monster yang menjijikkan karena kulit ini, bukan?" Xiao Rin berkata pada dirinya sendiri, suaranya terdengar sangat tenang namun bergetar oleh tekad yang membekukan. Jari-jarinya mencengkeram pinggiran cermin perunggu dengan erat hingga kukunya memutih. "Jika aku tidak dihargai dengan wajah burukku sekarang... maka aku bersumpah demi jiwaku yang telah melintasi waktu, aku akan menggunakan seluruh ilmu medis modernku untuk menghancurkan setiap racun kalian. Aku bertekad akan membuat semua orang di istana ini menyesal dan bertekuk lutut memohon ampun, termasuk Kaisar angkuh itu!""Kau pikir maafmu bisa mengembalikan keadilan yang kau hancurkan di Aula Agung tadi, Zhao Jun?!" bentak Zi Han dengan suara bergetar, membalikkan badannya membelakangi sang kaisar yang berdiri mematung di ambang pintu Paviliun Utama. Zhao Jun melangkah mendekat, mencoba menggapai jemari Zi Han yang menegang rapat. "Zi Han, dengarkan aku dulu. Jika aku memaksakan eksekusi mati Long Feng tanpa bukti fisik yang sah saat seluruh selir berbohong, dewan menteri akan menganggap kekaisaran ini dipimpin oleh tirani yang buta. Aku melakukan ini untuk mengulur waktu—" "Mengulur waktu untuk memberi kesempatan pada iblis-iblis itu menyusun rencana baru?!" potong Zi Han cepat, menepis kasar tangan Zhao Jun sebelum pria itu sempat menyentuhnya. Matanya memancarkan amarah yang bercampur dengan rasa kecewa yang amat mendalam. "Aku tidak butuh penjelasan politikmu! Keluar dari sini, Zhao Jun. Pergi!" "Zi Han—" "Kubilang pergi!" jerit Zi Han seraya menunjuk lurus ke arah pintu luar. "Sana temui seli
"Jadi... kau sedang menyuruhku memanggil tabib untuk memeriksa jiwa Permaisuri Agung kekaisaran ini, Yao Xian?" suara Zhao Jun bergema rendah, penuh kepungan dingin yang menusuk tulang. Selir Yao Xian makin menundukkan kepalanya, menyatukan jemarinya di atas lantai marmer seraya terisak pelan. "Hamba tidak bermaksud merendahkan Permaisuri, Yang Mulia. Hamba hanya prihatin. Sejak sembuh dari sakit berat itu, beliau banyak berubah. Beliau menjadi sangat curiga, agresif, dan kini... menuduh hal yang tidak pernah terjadi di istana belakang." "Cukup, Yao Xian!" bentak Zi Han dengan mata membelalak penuh amarah. Tangannya mengepal rapat di sisi tubuhnya. "Sandiwara murahanmu ini sungguh menjijikkan! Kau membungkam mulut para selir dalam semalam, lalu sekarang berlagak menjadi korban yang prihatin?!" Menteri Hukum langsung mengambil langkah maju, membungkuk dalam dengan raut wajah penuh penekanan. "Yang Mulia Permaisuri Agung! Mohon jaga wibawa Anda di Aula Agung ini! Kesaksian puluhan se
"Ampuni hamba yang hina ini, Yang Mulia Kaisar..." Suara Selir Mei bergetar lembut saat ia bersujud di lantai marmer Aula Agung yang dingin. "Hamba sungguh tidak pernah melihat atau bertemu dengan Perdana Menteri Long Feng di kediaman istana belakang, apalagi keluar dari kamar hamba di tengah malam." Pernyataan itu bergaung nyaring di seluruh Aula Agung, disambut bisik-bisik riuh dari puluhan menteri yang berdiri berbaris di sepanjang lorong. Di atas takhta naga, Zhao Jun memicingkan matanya tajam. Aura dingin menyengat memancar dari tubuhnya, membuat para penjaga di sekelilingnya menahan napas. Di sampingnya, Zi Han berdiri tegap dengan jubah kebesaran phoenix. Wajahnya yang semula tenang perlahan mengeras, matanya menatap Selir Mei dari atas tangga takhta dengan picingan penuh kecurigaan. "Kau yakin dengan ucapanmu, Selir Mei?" potong Zi Han dengan suara yang dingin dan tegas, melangkah satu tapak ke depan. "Ingat di mana kau berdiri saat ini. Kau berada di bawah sumpah kekaisara
"Psst... Perdana Menteri Long!" bisik sebuah suara wanita yang bergetar pelan di balik jeruji besi yang dingin dan lembap. Suasana lorong penjara bawah tanah Istana Terlarang malam itu begitu pekat dan berbau amis racun serta karat. Di bawah remang cahaya obor yang berkedip-kedip, sosok berbalut jubah hitam dengan penutup kepala rapat tampak menempelkan badannya pada dinding sel. Selir Yao Xian telah menghabiskan dua kantong emas murni untuk menyuap tiga penjaga pintu utama agar bisa menyusup tanpa terdeteksi oleh pengawal pribadi kaisar. Dari kegelapan dalam sel, seorang lelaki tua berselimut kain kusam bergerak perlahan. Pakaian kebesarannya kini kotor bercak tanah, namun matanya masih berkilat penuh kelicikan. Begitu mengenali paras elok di balik tudung hitam itu, sebuah senyum miring nan menjijikkan terukir di bibirnya yang pucat. "Ah... rupanya Selir Agung Yao Xian yang molek," goda Long Feng dengan suara serak, melangkah mendekati jeruji besi tanpa raut ketakutan sedikit pun.
"Jaga sikapmu, Yang Mulia," bisik Zi Han tajam, lalu menyikut rusuk Zhao Jun cukup keras hingga kaisar itu sedikit meringis namun tetap tersenyum miring. Zi Han melangkah maju satu tapak, membelakangi Zhao Jun dan menatap tajam ke arah puluhan menteri yang masih gemetar di atas lantai marmer. Suaranya bergema nyaring, mengalihkan fokus seluruh isi ruangan dari godaan konyol sang kaisar. "Para menteri yang terhormat!" seru Zi Han anggun. "Daripada kalian berlutut ketakutan dan sibuk membela pengkhianat, bukankah lebih baik kalian ikut memberikan pertimbangan? Hukuman apa yang paling pantas dijatuhkan pada Perdana Menteri Long Feng atas tuduhan pengkhianatan dan percobaan penodaan terhadap Permaisuri?!" Para menteri saling pandang dengan wajah pucat. Menteri Hukum yang tadinya paling lantang membela Long Feng, kini menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab dengan suara bergetar. "J-Jika seluruh tuduhan itu terbukti benar di depan sidang, Permaisuri... maka sesuai hukum Dinas
Aura di Aula Agung malam itu serasa membeku. Suasana yang biasanya dipenuhi oleh bisik-bisik para pejabat kini berembus amat menegang. Belasan menteri agung dan pejabat tinggi istana luar berdiri berbaris rapi di sepanjang lantai marmer, wajah-wajah mereka memancarkan kegelisahan sekaligus tuntutan penjelasan atas penangkapan mendadak Perdana Menteri Long Feng. Di atas takhta naga, Zhao Jun duduk tegap dengan jubah kebesarannya yang bersulam benang emas. Wajah tampannya dingin tak beriak, namun matanya yang tajam berkilat penuh amarah yang ditahan, sisa kejengkolan karena momen intimnya dengan Zi Han diganggu begitu saja. "Yang Mulia!" seru Menteri Hukum, melangkah maju dua tapak dan membungkuk dalam. "Perdana Menteri Long Feng adalah pilar kekaisaran yang telah mengabdi selama puluhan tahun! Mengurungnya di penjara bawah tanah tanpa sidang terbuka dan persetujuan dewan menteri adalah tindakan yang akan memicu gejolak politik di seluruh negeri!" Beberapa menteri senior di belakangn







