"Permaisuri, hamba mohon tenanglah! Jangan berteriak seperti ini, hamba mohon!" Jing Er memeluk kedua kaki Xiao Rin yang masih terduduk di atas ranjang, tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan. "Bagaimana aku bisa tenang?!" Xiao Rin berteriak, suaranya melengking frustrasi, memecah keheningan malam di Paviliun Dingin. "Lepaskan aku, Jing Er! Singkirkan tanganmu!" Dengan sisa tenaga yang terasa seperti menguras seluruh daya hidupnya, Xiao Rin menyentak tubuhnya, memaksa kakinya yang lemas untuk turun dari ranjang. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari telapak kaki hingga ke tulang belakang, berdenyut menyiksa beriringan dengan dada yang kian menyempit sesak. Dia terhuyung, hampir tersungkur di atas lantai batu yang dingin, jika jemarinya yang dipenuhi bercak luka bersisik tidak segera mencengkeram pinggiran meja rias kayu di dekatnya. "Permaisuri, jangan berdiri! Tubuh anda masih sangat lemah!" Jing Er merangkak panik, mencoba menahan jubah usang yang dikenakan Xiao Rin. "D
Dernière mise à jour : 2026-07-14 Read More