Masuk"Hamba mohon ampun, Yang Mulia Kaisar, hamba gagal menemukan pemanah gelap itu," ujar Jenderal Han dengan nada suara penuh penyesalan yang dibuat-buat, membungkuk dalam di hadapan Zhao Jun dan Zi Han. Suasana di dalam kamar utama Paviliun Utama terasa hangat oleh bau dupa dan racikan herbal. Zhao Jun duduk bersandar di ranjang kayu jati dengan bahu kiri dibalut perban putih rapat. Zi Han berdiri setia di sampingnya, memandangi Jenderal Han dengan kening berkerut. "Apakah tidak ada satu pun barang bukti yang tertinggal di lokasi, Jenderal?" tanya Zi Han, suaranya dipenuhi selidik. Jenderal Han mendongak pelan, menggelengkan kepalanya dengan raut wajah prihatin. "Tidak ada, Permaisuri Agung. Hamba dan pasukan hanya menemukan beberapa jejak kaki kuda dan sepatu bot yang sudah samar tertutup debu. Tampaknya mereka adalah pembunuh bayaran profesional dari luar ibu kota... atau mungkin sisa-sisa pengikut Perdana Menteri Long Feng yang menaruh dendam." Zhao Jun mengepalkan tangan kananny
"Cepat panggil prajurit bayangan dan sisir seluruh area bukit di luar tembok selatan sekarang juga!" teriak Jenderal Han dengan raut wajah yang tampak teramat tegang dan panik, berlari mendekati tubuh Zhao Jun yang bersandar lemah di pangkuan Zi Han. Zhao Jun menggeram menahan sakit, memegangi bahu kirinya yang masih tertancap anak panah berujung hitam. Darah segar terus merembes menembus kain jubahnya, namun mata sang kaisar masih memancarkan kilat tegas seorang penguasa. "Jenderal Han..." panggil Zhao Jun dengan suara parau yang tertahan. "Pemanah gelap itu... mereka bersembunyi di balik semak-semak lebat bukit selatan. Mereka menggunakan anak panah berujung khusus... serangannya terorganisir dan sangat presisi." "Titah junjungan hamba laksanakan, Yang Mulia!" jawab Jenderal Han seraya membungkuk dalam, raut wajahnya dipenuhi kesetiaan yang tampak amat meyakinkan. "Hamba sendiri yang akan memimpin lima puluh prajurit terbaik untuk memburu para bajingan itu sampai ke akar-akarnya!
"Zhao Jun? Ada apa denganmu? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Permaisuri Zi Han dengan dahi berkerut heran, melangkah mendekati kaisar muda yang tampak pucat pasi. Zhao Jun masih terpaku kaku, matanya membelalak menatap sosok wanita di depannya. Tubuhnya bergetar pelan, napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat ilusi mengerikan itu seolah nyata di depan matanya. Zi Han yang makin bingung lantas mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi tegap Zhao Jun. "Zhao Jun... jawab aku. Kau melihat apa?" SZZZT! Begitu kulit jemari Zi Han menyentuh pipi hangat sang kaisar, detik itu juga bayangan gaib nan mengerikan, pakaian aneh dan wajah bersimbah darah seketika lenyap tanpa bekas. Sosok di hadapannya kembali menjadi Permaisuri Zi Han yang anggun, bergaun sutra biru dengan tatapan mata yang penuh kekhawatiran dan cinta. Zhao Jun menarik napas dalam-dalam secara mendadak, seolah baru saja lepas dari cengkeraman ajat mematikan. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, mengusap waja
"Aduh! Zhao Jun!" ringis Permaisuri Zi Han seraya memegangi pinggangnya, wajah cantiknya memerah padam saat mencoba berdiri dari tepi ranjang. Zhao Jun yang baru saja selesai mengikat tali jubah kebesarannya langsung menoleh kaget. Kaisar muda itu bergegas mendekat, merengkuh tubuh ramping istrinya agar tidak terjatuh. "Ada apa, Permaisuriku? Bagian mana yang terasa sakit?" tanya Zhao Jun penuh rasa cemas, menatap lekat-lekat mata Zi Han. Zi Han menepuk dada tegap Zhao Jun dengan pelan, membuang muka karena malu. "Pikir saja sendiri! Ini semua gara-gara kau yang sangat brutal dan tidak mau berhenti semalam! Bagian bawahku terasa ngilu dan sakit sekali untuk melangkah!" Mendengar keluhan manja yang teramat jujur itu, Zhao Jun sempat tertegun sejenak. Biasanya, Permaisuri Zi Han akan bersikap dingin, gengsi, atau malah menyemprotnya dengan kata-kata tajam. Namun pagi ini, wanita itu tampak bersikap pasrah, manja, dan secara terang-terangan menunjukkan kerapuhannya di hadapan sang ka
"Zhao Jun... hentikan... aku sudah tidak sanggup lagi..." bisik Zi Han lirih dengan suara serak yang amat lemah, sebelum akhirnya matanya terpejam rapat dan napasnya berembus teratur, jatuh ke dalam tidur yang amat lelap. Di dalam kamar Paviliun Utama yang temaram, Zhao Jun tersenyum puas menyaksikan wanita di bawah kungkungannya itu akhirnya menyerah pada rasa lelah yang luar biasa. Cahaya lampu minyak yang redup menerangi leher mulus, tulang selangka, hingga dada Zi Han yang kini dipenuhi jejak-jejak merah keunguan, bukti nyata dari pergulatan panas mereka sepanjang malam. Zhao Jun memiringkan tubuhnya, menyanggah kepalanya dengan satu tangan seraya memiringkan selimut untuk menutupi tubuh polos Zi Han dari terpaan hawa dingin. Dengan amat lembut, kaisar muda itu merapikan helai-helai rambut basah yang menempel di kening istrinya, lalu mendaratkan satu kecupan hangat yang dalam di sana. "Maafkan aku karena membuatmu begitu lelah malam ini, Zi Han..." bisik Zhao Jun lirih, suarany
"Zhao... Zhao Jun, pelan-pelan..." bisik Zi Han terengah-engah, kedua tangannya mencengkeram sprei sutra di bawah tubuhnya hingga meremas ketat. Di bawah remang cahaya lampu minyak yang berpendar keemasan, Zhao Jun menatap wajah cantik di bawahnya dengan picingan mata yang amat pekat oleh gairah. Suara napas kaisar muda itu memburu, menghembuskan hawa panas yang menyapu leher dan dada Zi Han. "Kenapa harus pelan, Permaisuriku?" desis Zhao Jun dengan suara serak yang amat dalam, menundukkan kepala untuk menyesap ceruk leher Zi Han dengan gigitan-gigitan kecil yang memabukkan. "Bukankah kau sendiri yang meminta lebih tadi?" "Tapi tidak... tidak sebrutal ini!" jerit Zi Han tertahan saat sentakan tajam dan bertenaga dari Zhao Jun mendadak menghantam seluruh pertahanan dirinya. Rasa asing yang teramat intens, hangat, dan menekan menyengat seluruh tubuh Zi Han. Jiwa Zi Han yang di dunia modern belum pernah tersentuh oleh lelaki mana pun, seketika diliputi rasa takut bercampur bingung ya







