Share

Bencilah Aku, Marielle

Author: nababy
last update publish date: 2026-10-02 23:03:28

​“Hahaha… baiklah aku akan berhenti. Meski aku lihat kemarin kamu sangat nyaman tidur bersandar padaku,” goda Aldric lagi dengan seringai tipis yang sukses membuat darah Marielle mendidih.

​Marielle mendadak menggebrak meja dengan kilatan mata yang menyala.

​“Yang Mulia Grand Duke!” teriaknya kesal, nafasnya memburu menahan malu dan marah yang bergemuruh di dadanya.

​

​Tiba-tiba, pintu besar ruang kerja utama terbuka lebar tanpa diketuk terlebih dahulu karena keadaan darurat. Jackson, asisten p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Bencilah Aku, Marielle

    ​“Hahaha… baiklah aku akan berhenti. Meski aku lihat kemarin kamu sangat nyaman tidur bersandar padaku,” goda Aldric lagi dengan seringai tipis yang sukses membuat darah Marielle mendidih.​Marielle mendadak menggebrak meja dengan kilatan mata yang menyala.​“Yang Mulia Grand Duke!” teriaknya kesal, nafasnya memburu menahan malu dan marah yang bergemuruh di dadanya.​​Tiba-tiba, pintu besar ruang kerja utama terbuka lebar tanpa diketuk terlebih dahulu karena keadaan darurat. Jackson, asisten pribadi sang Grand Duke yang sudah lama tidak menampakkan batang hidungnya di koridor sayap timur, melangkah masuk membawa map tebal. Namun, langkah pria itu langsung membeku kaku di ambang pintu.​Jackson mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Di seberang meja, sang pimpinan strategi tampak berdiri dengan wajah merah padam memelototi atasannya, sementara sang penguasa, Grand Duke Valtore, pria paling ditakuti dan sedingin es malah duduk bersandar samb

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Nyaman Tidur Di Sandaranku

    ​”Bodoh sekali aku bisa tertidur di bahunya!” maki Marielle dalam hati, merutuki tentang dirinya saat tertidur di bahu Aldric di kereta kuda tadi sore.Gara-gara kejadian tersebut, malam di Paviliun Barat terasa jauh lebih panjang dari biasanya bagi Marielle. Wanita itu mondar-mandir di dalam kamarnya yang temaram, memeluk erat tubuhnya sendiri seolah sisa kehangatan dari jubah berbulu domba dan bahu bidang Aldric masih melekat kuat di sana.​Diana, yang sedang membereskan gaun kerja Marielle yang terkena noda lumpur di sudut ruangan, melirik sang majikan dengan seulas senyum geli yang ditahan-tahan. Pelayan setia itu menyadari betul bahwa pipi majikannya masih menyisakan rona kemerahan sejak pertama kali menginjakkan kaki di paviliun. Namun, Diana memilih untuk tidak berkomentar apa pun, membiarkan Marielle menyiksa dirinya sendiri dengan rasa salah tingkah yang luar biasa.​Sementara itu, di sayap timur Kastil Valtore, situasi di ruang kerja utama tidak jauh berbeda. ​Tumpukan dokum

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Aroma Parfum Cedar

    “Aku berjanji akan selalu melindungimu.” Aldric mengelus pipi Marielle pelan agar tak membangunkan wanita itu.Derap roda kereta kuda berdebar pelan, memecah kesepian sore yang mulai merayap di pelataran Kastil Valtore. Bias cahaya jingga kemerahan matahari tenggelam memantul lembut di kaca jendela kabin, menciptakan siluet temaram yang hangat di dalam ruang yang sempit itu.​Di dalam kereta, Marielle masih terlelap dalam posisi nyamannya. Kepala wanita itu bersandar sepenuhnya di atas bahu bidang Aldric, dengan nafas teratur yang sesekali berhembus pelan, menghangatkan kain kemeja sang penguasa wilayah utara.​Aldric sendiri sejak tadi sama sekali tidak bergeser dari posisinya. Pria itu menahan seluruh gerak tubuhnya sekaku mungkin, takut jika sedikit saja ia bergerak, lelapnya wanita di sampingnya akan terusik. Padahal, otot-otot di bahu dan lehernya sudah terasa pegal luar biasa akibat mempertahankan postur yang sama selama perjalanan. Namun, rasa pegal itu sama sekali tidak ada ap

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hati Keras Yang Melunak

    ​"Aku tidak akan mundur lagi," balas Aldric tegas, suaranya sarat akan mutlak dan keputusasaan yang melebur jadi satu. "Katakan padaku, Marielle... apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti menatapku dengan mata penuh kebencian seperti itu?"​Marielle terdiam kaku. Nafasnya tercekat di tenggorokan, tertahan oleh jarak wajah mereka yang begitu dekat dan kehangatan tubuh Aldric yang membungkusnya. Manik peraknya bergetar hebat, menatap iris hitam sang Grand Duke yang memancarkan kejujuran, sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari sosok pria dingin berdarah besi itu.​Di dalam benaknya, bagian yang rasional berteriak mengingatkan. Ingatlah posisimu. Kau berada di dalam dunia novel ini, dan pria di hadapanmu adalah tokoh utama pria yang seharusnya mengejar takdirnya sendiri, bukan mengejarmu.​Namun, melihat kilat penyesalan dan kerapuhan di mata Aldric, benteng kemarahan yang selama ini ia bangun setinggi langit mendadak runtuh separuh. Pertahanan Marielle

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Beritahu Aku Caranya

    Laju kereta kuda akhirnya berhenti tepat di pelataran Sektor Dua, wilayah lembah utara yang kini tengah disulap menjadi area rekonstruksi pemukiman warga.​Marielle langsung turun lebih dulu tanpa menunggu Aldric. Wanita itu dengan cepat memasang kembali topeng profesionalnya, menepis segala sisa ketegangan dan kata-kata tajam di dalam kereta tadi dari kepalanya.​"Selamat pagi, Lady Marielle! Grand Duke!" sambut kepala tukang seraya membungkuk hormat menyambut kedatangan mereka.​"Pagi, Master Miller. Bagaimana perkembangan pemasangan kerangka kayu di sebelah barat?" tanya Marielle langsung to the point, melangkah mantap menyusuri area tapak pembangunan.​Di belakangnya, Aldric turun dari kereta dengan langkah tegap. Pria itu tidak banyak bicara, namun sepasang mata hitamnya sama sekali tidak lepas dari setiap gerak-gerik Marielle. Bayang-bayang pengakuan emosional yang sempat terlontar di dalam kereta tadi masih berdengung di kepalanya.​Selama hampir satu jam, Marielle berkeliling

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Luka Masa Lalu

    ​”Aku hanya berusaha menjadi baik padamu,” balas Aldric dingin, namun matanya memperlihatkan secerca kesedihan yang samar.“Sudah saya bilang Anda tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu. Saya tidak membutuhkan bantuan Anda sama sekali.”Marielle naik kereta tanpa bantuan Aldric. Sedangkan pria itu masih berdiri beberapa detik, mencoba mencerna jika wanita yang berada di sampingnya sama sekali tak peduli padanya.Kereta kuda berangkat perlahan, keduanya hanya diam tanpa melihat satu sama lain. Marielle duduk di sisi kiri, udara dingin di luar seolah tertahan di balik dinding kayu yang kokoh.​Di dalam ruang kabin yang sempit hanya diterangi bias cahaya matahari tipis dari balik tirai jendela. Atmosfer mendadak berubah menjadi medan perang tak kasat mata. Aldric menatap lurus ke arah Marielle, sementara wanita itu dengan sengaja membuang pandangannya ke luar jendela, mengabaikan kehadiran sang penguasa utara sepenuhnya.​"Tindakanmu di depan para pimpinan serikat tadi pagi sangat t

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kedua Hati Yang Terpatri

    “Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hasrat Terpendam

    “Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Awal

    “Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Permulaan Takdir

    “Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status