เข้าสู่ระบบJemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan.
“Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia berpura-pura tak tau, karena baginya, bersama Marielle adalah hal yang membuatnya nyaman. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu tersenyum dan memanggilnya Yang Mulia dengan nada menggemaskan, memeluk tubuhnya saat merasa ketakutan. Tapi semalam, ucapan Marielle bagaikan petir yang menghantamnya keras. “Kenapa kau ingin menyudahi semuanya?” ucap Cassian lirih. Ia menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya, takut jika ucapan semalam benar-benar akan terjadi. “Mmhhh…” Marielle bergerak pelan. Ia mundur sedikit, agar bisa melihat wajah cantik selirnya yang masih terlelap. Senyum samar terlukis di bibirnya, tangannya membelai rambut halus itu dan menyelipkannya di telinga. Mata Marielle perlahan terbuka, masih memperlihatkan wajah ngantuk yang tak tertahan. “Selamat pagi kelinci kecilku,” ucap Cassian pelan, bibirnya tersenyum. Ia mencium pelipis Marielle hingga sang wanita menutup satu matanya. Jiwa yang menempati tubuh Marielle terlonjak keras, melihat wajah Cassian yang amat dekat. Dia langsung mendorong Cassian sekuat tenaga dengan kedua tangan kecilnya. “Ap… apa Yang Mulia lakukan?!” Suara Marielle tergagap karena kaget. Bahkan kedua tangannya menutupi dada untuk membuat pertahanan pada dirinya. Cassian menggigit bibir bawah, perubahan sikap Marielle sekarang membuatnya sangat tidak nyaman. Dinding tak kasat mata seakan menjauhkan mereka berdua. “Kenapa kau menjauhiku?” Tanya Cassian datar. Tangannya menggenggam erat sebagai bentuk kekecewaan. “Maaf Yang Mulia, saya hanya sedikit terkejut.” Marielle tertunduk, tapi kedua tangannya masih bersilang menutupi area depan tubuhnya. Rahang Cassian mengeras, dia memberantaki rambut merasa frustasi. Namun dia berusaha untuk tenang, perlahan hembusan nafas panjang terdengar. Ini bukan waktunya untuk menyentuh Marielle, begitu pikirnya. “Dari kemarin malam kau bersikap aneh. Apa Ratu berbuat jahat padamu saat aku tak ada disini?” Cassian memajukan wajahnya, kedua tangannya menangkup pipi Marielle berharap tatapan mereka bertemu. Marielle menggeleng pelan, bibirnya tertutup rapat dan sedikit mencembung karena tekanan dari tangan Cassian. “Hah… aku merasa dirimu berbeda, seakan ada jarak diantara kita,” ujarnya pelan, terdengar jelas nada kekecewaan dari ucapannya. Sementara Marielle hanya terdiam. “Aku akan memberimu ruang, kekasihku.” Cassian beranjak dari tempat tidur, berjalan gusar menuju pintu meninggalkan Marielle sendirian. Wajah Cassian tegang, kepalan tangannya masih terkunci erat. Dirinya tak peduli dengan sapaan beberapa pelayan pada dirinya pagi ini, dia terus berjalan melewati lorong panjang yang di luarnya terlihat taman bunga kesukaan Ratu Elira. Mendadak langkah Cassian terhenti melihat Ratu dan Grand Duke tengah berbincang satu sama lain sambil menikmati teh bersama. Dari salah satu jendela lantai dua yang jauh, dia melihat keduanya duduk bersama, tak terdengar apa yang tengah mereka bicarakan. “Grand Duke tidak perlu datang kemari pagi-pagi untuk menemuiku,” ucap Ratu Elira tenang. Wanita kelas atas yang penuh wibawa, membuat siapapun takluk akan pesonya, termasuk Grand Duke Aldric. “Ratu, saya tidak merasa kesusahan. Saya senang jika setiap hari bisa bertemu dengan anda,” jawab Adrian sambil minum secangkir teh hangat yang baru saja diseduh oleh pelayan. “Apa yang ingin Duke Aldric bicarakan empat mata begini?” Suara Elira masih tenang. Aldric melihat sekeliling, memeriksa keadaan apakah masih ada seseorang di dekat mereka setelah sang Ratu meminta semuanya pergi untuk memberi ruang pada mereka berdua. Dia kembali menaruh cangkir itu di meja. Menatap Elira tepat pada matanya. “Mengenai kecelakaan kereta kuda itu, Ratu tidak perlu khawatir. Saya sudah menyingkirkan semua jejak maupun barang buktinya,” ujar Aldric pelan. Elira tak menjawab atau menunjukan sikap apapun. Alih-alih, dia mengambil cangkir berisi teh dan meminumnya elegan. “Aku tidak peduli dengan kecelakaan yang menimpa selir Raja. Bukankah aku sudah bilang padamu jangan membuat keributan yang tak berarti?” Tatapannya tajam dan nada Elira jelas menunjukkan ketidaksukaan. “Maaf Ratu.” Aldric tertunduk. “Saya tau saya salah. Saya bersikap ceroboh karena saya tidak suka melihat Ratu menangis karena wanita rendah itu.” Aldric mencoba melihat Elira kembali. Elira hanya diam, wanita itu masih menatap tajam pada arah Duke. Dia memang membenci Marielle, tapi tak ada niatan sama sekali dia ingin menyakiti wanita itu. Bagi Elira, melakukan cara kotor seperti menyakiti akan membuat harga dirinya jatuh. Elira menghela nafas pelan, dia tau kecelakaan itu memang salah satu upaya Duke Aldric untuk melindunginya, tapi dia tak ingin membuat namanya jatuh dalam dosa hanya untuk menyingkirkan satu orang saja. “Lain kali jika kau ingin melakukan hal gila seperti ini, minta dulu persetujuan dariku Duke Aldric,” ucapnya datar tapi tegas. “Baik Ratu. Saya minta maaf jika membuat anda marah,” ucap Aldric pelan tapi masih terdengar jelas. Tubuh Cassian masih terpaku pada sosok dua orang yang tengah duduk di Paviliun terbuka pinggir taman. Pandangannya terus tertuju pada sosok wanita yang pertama kali ia nikahi, Elira Morrigan yang kini memakai nama keluarga istana menjadi Ratu Elira Aragon. “Yang Mulia, saya menjemput anda untuk bersiap-siap.” Viscount Rowan menghadap sambil menunduk sejenak. Cassian langsung mengalihkan pandangan pada asisten pribadinya. Wajahnya masih terlihat kesal, dia langsung berjalan mendahului Rowan. “Siapkan aku air untuk mandi!” Perintah Cassian tegas. “Baik Yang Mulia.” Rowan kembali menunduk. Rahang Cassian kembali mengerat, gigi-giginya beradu membuat suara gemeretak kecil. “Marielle, Elira, kenapa kedua wanita itu terus-terusan menghindariku dan membuatku kesal?” batinnya gusar.“Bencilah aku sepuasmu, Marielle... tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku.”Bisikan rendah itu meluncur sangat pelan, bergesekan langsung dengan kulit telinga Marielle yang tengah terlelap.Seketika itu juga, bulu kuduk Marielle meremang. Naluri pertahanannya langsung bekerja. Sisa-sisa kesadaran yang tadinya tenggelam dalam lelah mendadak buyar, digantikan oleh kejutan hebat yang membuat mata peraknya terbuka lebar.Karena terlampau kaget, Marielle spontan menegakkan kepalanya dengan gerakan terlalu cepat, hampir saja membentur dagu sang Grand Duke. Wanita itu langsung mendorong dada Aldric kasar, lalu merosot mundur ke belakang sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, nafas Marielle tercekat. Di bawah temaram cahaya lampu kristal, sosok Aldric berdiri sangat dekat di samping kursinya. Bahkan terlalu dekat untuk ukuran seorang atasan dan bawahan, dengan tangan pria itu yang tadinya masih terangkat di udara seolah baru
“Hahaha… baiklah aku akan berhenti. Meski aku lihat kemarin kamu sangat nyaman tidur bersandar padaku,” goda Aldric lagi dengan seringai tipis yang sukses membuat darah Marielle mendidih.Marielle mendadak menggebrak meja dengan kilatan mata yang menyala.“Yang Mulia Grand Duke!” teriaknya kesal, nafasnya memburu menahan malu dan marah yang bergemuruh di dadanya.Tiba-tiba, pintu besar ruang kerja utama terbuka lebar tanpa diketuk terlebih dahulu karena keadaan darurat. Jackson, asisten pribadi sang Grand Duke yang sudah lama tidak menampakkan batang hidungnya di koridor sayap timur, melangkah masuk membawa map tebal. Namun, langkah pria itu langsung membeku kaku di ambang pintu.Jackson mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Di seberang meja, sang pimpinan strategi tampak berdiri dengan wajah merah padam memelototi atasannya, sementara sang penguasa, Grand Duke Valtore, pria paling ditakuti dan sedingin es malah duduk bersandar samb
”Bodoh sekali aku bisa tertidur di bahunya!” maki Marielle dalam hati, merutuki tentang dirinya saat tertidur di bahu Aldric di kereta kuda tadi sore.Gara-gara kejadian tersebut, malam di Paviliun Barat terasa jauh lebih panjang dari biasanya bagi Marielle. Wanita itu mondar-mandir di dalam kamarnya yang temaram, memeluk erat tubuhnya sendiri seolah sisa kehangatan dari jubah berbulu domba dan bahu bidang Aldric masih melekat kuat di sana.Diana, yang sedang membereskan gaun kerja Marielle yang terkena noda lumpur di sudut ruangan, melirik sang majikan dengan seulas senyum geli yang ditahan-tahan. Pelayan setia itu menyadari betul bahwa pipi majikannya masih menyisakan rona kemerahan sejak pertama kali menginjakkan kaki di paviliun. Namun, Diana memilih untuk tidak berkomentar apa pun, membiarkan Marielle menyiksa dirinya sendiri dengan rasa salah tingkah yang luar biasa.Sementara itu, di sayap timur Kastil Valtore, situasi di ruang kerja utama tidak jauh berbeda. Tumpukan dokum
“Aku berjanji akan selalu melindungimu.” Aldric mengelus pipi Marielle pelan agar tak membangunkan wanita itu.Derap roda kereta kuda berdebar pelan, memecah kesepian sore yang mulai merayap di pelataran Kastil Valtore. Bias cahaya jingga kemerahan matahari tenggelam memantul lembut di kaca jendela kabin, menciptakan siluet temaram yang hangat di dalam ruang yang sempit itu.Di dalam kereta, Marielle masih terlelap dalam posisi nyamannya. Kepala wanita itu bersandar sepenuhnya di atas bahu bidang Aldric, dengan nafas teratur yang sesekali berhembus pelan, menghangatkan kain kemeja sang penguasa wilayah utara.Aldric sendiri sejak tadi sama sekali tidak bergeser dari posisinya. Pria itu menahan seluruh gerak tubuhnya sekaku mungkin, takut jika sedikit saja ia bergerak, lelapnya wanita di sampingnya akan terusik. Padahal, otot-otot di bahu dan lehernya sudah terasa pegal luar biasa akibat mempertahankan postur yang sama selama perjalanan. Namun, rasa pegal itu sama sekali tidak ada ap
"Aku tidak akan mundur lagi," balas Aldric tegas, suaranya sarat akan mutlak dan keputusasaan yang melebur jadi satu. "Katakan padaku, Marielle... apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti menatapku dengan mata penuh kebencian seperti itu?"Marielle terdiam kaku. Nafasnya tercekat di tenggorokan, tertahan oleh jarak wajah mereka yang begitu dekat dan kehangatan tubuh Aldric yang membungkusnya. Manik peraknya bergetar hebat, menatap iris hitam sang Grand Duke yang memancarkan kejujuran, sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari sosok pria dingin berdarah besi itu.Di dalam benaknya, bagian yang rasional berteriak mengingatkan. Ingatlah posisimu. Kau berada di dalam dunia novel ini, dan pria di hadapanmu adalah tokoh utama pria yang seharusnya mengejar takdirnya sendiri, bukan mengejarmu.Namun, melihat kilat penyesalan dan kerapuhan di mata Aldric, benteng kemarahan yang selama ini ia bangun setinggi langit mendadak runtuh separuh. Pertahanan Marielle
Laju kereta kuda akhirnya berhenti tepat di pelataran Sektor Dua, wilayah lembah utara yang kini tengah disulap menjadi area rekonstruksi pemukiman warga.Marielle langsung turun lebih dulu tanpa menunggu Aldric. Wanita itu dengan cepat memasang kembali topeng profesionalnya, menepis segala sisa ketegangan dan kata-kata tajam di dalam kereta tadi dari kepalanya."Selamat pagi, Lady Marielle! Grand Duke!" sambut kepala tukang seraya membungkuk hormat menyambut kedatangan mereka."Pagi, Master Miller. Bagaimana perkembangan pemasangan kerangka kayu di sebelah barat?" tanya Marielle langsung to the point, melangkah mantap menyusuri area tapak pembangunan.Di belakangnya, Aldric turun dari kereta dengan langkah tegap. Pria itu tidak banyak bicara, namun sepasang mata hitamnya sama sekali tidak lepas dari setiap gerak-gerik Marielle. Bayang-bayang pengakuan emosional yang sempat terlontar di dalam kereta tadi masih berdengung di kepalanya.Selama hampir satu jam, Marielle berkeliling
“Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem
“Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de







