Share

Perubahan Yang Yerlihat

Penulis: nababy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 16:54:17

Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan.

“Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam.

Dia berpura-pura tak tau, karena baginya, bersama Marielle adalah hal yang membuatnya nyaman. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu tersenyum dan memanggilnya Yang Mulia dengan nada menggemaskan, memeluk tubuhnya saat merasa ketakutan. Tapi semalam, ucapan Marielle bagaikan petir yang menghantamnya keras.

“Kenapa kau ingin menyudahi semuanya?” ucap Cassian lirih. Ia menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya, takut jika ucapan semalam benar-benar akan terjadi.

“Mmhhh…” Marielle bergerak pelan.

Ia mundur sedikit, agar bisa melihat wajah cantik selirnya yang masih terlelap. Senyum samar terlukis di bibirnya, tangannya membelai rambut halus itu dan menyelipkannya di telinga.

Mata Marielle perlahan terbuka, masih memperlihatkan wajah ngantuk yang tak tertahan.

“Selamat pagi kelinci kecilku,” ucap Cassian pelan, bibirnya tersenyum. Ia mencium pelipis Marielle hingga sang wanita menutup satu matanya.

Jiwa yang menempati tubuh Marielle terlonjak keras, melihat wajah Cassian yang amat dekat. Dia langsung mendorong Cassian sekuat tenaga dengan kedua tangan kecilnya.

“Ap… apa Yang Mulia lakukan?!” Suara Marielle tergagap karena kaget. Bahkan kedua tangannya menutupi dada untuk membuat pertahanan pada dirinya.

Cassian menggigit bibir bawah, perubahan sikap Marielle sekarang membuatnya sangat tidak nyaman. Dinding tak kasat mata seakan menjauhkan mereka berdua.

“Kenapa kau menjauhiku?” Tanya Cassian datar. Tangannya menggenggam erat sebagai bentuk kekecewaan.

“Maaf Yang Mulia, saya hanya sedikit terkejut.” Marielle tertunduk, tapi kedua tangannya masih bersilang menutupi area depan tubuhnya.

Rahang Cassian mengeras, dia memberantaki rambut merasa frustasi. Namun dia berusaha untuk tenang, perlahan hembusan nafas panjang terdengar. Ini bukan waktunya untuk menyentuh Marielle, begitu pikirnya.

“Dari kemarin malam kau bersikap aneh. Apa Ratu berbuat jahat padamu saat aku tak ada disini?” Cassian memajukan wajahnya, kedua tangannya menangkup pipi Marielle berharap tatapan mereka bertemu.

Marielle menggeleng pelan, bibirnya tertutup rapat dan sedikit mencembung karena tekanan dari tangan Cassian.

“Hah… aku merasa dirimu berbeda, seakan ada jarak diantara kita,” ujarnya pelan, terdengar jelas nada kekecewaan dari ucapannya. Sementara Marielle hanya terdiam.

“Aku akan memberimu ruang, kekasihku.” Cassian beranjak dari tempat tidur, berjalan gusar menuju pintu meninggalkan Marielle sendirian.

Wajah Cassian tegang, kepalan tangannya masih terkunci erat. Dirinya tak peduli dengan sapaan beberapa pelayan pada dirinya pagi ini, dia terus berjalan melewati lorong panjang yang di luarnya terlihat taman bunga kesukaan Ratu Elira.

Mendadak langkah Cassian terhenti melihat Ratu dan Grand Duke tengah berbincang satu sama lain sambil menikmati teh bersama.

“Grand Duke tidak perlu datang kemari pagi-pagi untuk menemuiku,” ucap Ratu Elira tenang. Wanita kelas atas yang penuh wibawa, membuat siapapun takluk akan pesonya, termasuk Grand Duke Aldric.

“Ratu, saya tidak merasa kesusahan. Saya senang jika setiap hari bisa bertemu dengan anda,” jawab Adrian sambil minum secangkir teh hangat yang baru saja diseduh oleh pelayan.

“Apa yang ingin Duke Aldric bicarakan empat mata begini?” Suara Elira masih tenang.

Aldric melihat sekeliling, memeriksa keadaan apakah masih ada seseorang di dekat mereka setelah sang Ratu meminta semuanya pergi untuk memberi ruang pada mereka berdua. Dia kembali menaruh cangkir itu di meja. Menatap Elira tepat pada matanya.

“Mengenai kecelakaan kereta kuda itu, Ratu tidak perlu khawatir. Saya sudah menyingkirkan semua jejak maupun barang buktinya,” ujar Aldric pelan.

Elira tak menjawab atau menunjukan sikap apapun. Alih-alih, dia mengambil cangkir berisi teh dan meminumnya elegan.

“Aku tidak peduli dengan kecelakaan yang menimpa selir Raja. Bukankah aku sudah bilang padamu jangan membuat keributan yang tak berarti?” Tatapannya tajam dan nada Elira jelas menunjukkan ketidaksukaan.

“Maaf Ratu.” Aldric tertunduk. “Saya tau saya salah. Saya bersikap ceroboh karena saya tidak suka melihat Ratu menangis karena wanita rendah itu.” Aldric mencoba melihat Elira kembali.

Elira hanya diam, wanita itu masih menatap tajam pada arah Duke. Dia memang membenci Marielle, tapi tak ada niatan sama sekali dia ingin menyakiti wanita itu. Bagi Elira, melakukan cara kotor seperti menyakiti akan membuat harga dirinya jatuh. Elira menghela nafas pelan, dia tau kecelakaan itu memang salah satu upaya Duke Aldric untuk melindunginya, tapi dia tak ingin membuat namanya jatuh dalam dosa hanya untuk menyingkirkan satu orang saja.

“Lain kali jika kau ingin melakukan hal gila seperti ini, minta dulu persetujuan dariku Duke Aldric,” ucapnya datar tapi tegas.

“Baik Ratu. Saya minta maaf jika membuat anda marah,” ucap Aldric pelan tapi masih terdengar jelas.

Tubuh Cassian masih terpaku pada sosok dua orang yang tengah duduk di Paviliun terbuka pinggir taman. Pandangannya terus tertuju pada sosok wanita yang pertama kali ia nikahi, Elira Morrigan yang kini memakai nama keluarga istana menjadi Ratu Elira Aragon.

“Yang Mulia, saya menjemput anda untuk bersiap-siap.” Viscount Rowan menghadap sambil menunduk sejenak.

Cassian langsung mengalihkan pandangan pada asisten pribadinya. Wajahnya masih terlihat kesal, dia langsung berjalan mendahului Rowan.

“Siapkan aku air untuk mandi!” Perintah Cassian tegas.

“Baik Yang Mulia.” Rowan kembali menunduk.

Rahang Cassian kembali mengerat, gigi-giginya beradu membuat suara gemeretak kecil.

“Marielle, Elira, kenapa kedua wanita itu terus-terusan menghindariku dan membuatku kesal?” batinnya gusar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Ingatan Masa Lalu

    “Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar.Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan.“Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk lebih berani.Samar-samar, ia mendengar beberapa suara percakapan orang-orang. Ia kenal dengan suara itu. Dia berbalik dan melihat bola cahaya mengambang menampilkan beberapa kejadian yang dialami Marielle asli.“Ayah… aku mohon jangan pergi…” Sosok Marielle kecil terjatuh di tanah saat melihat ayah yang selalu ia sayangi pergi setelah menjualnya sebagai budak.Dia tertegun sesaat, matanya tertuju pada bola cahaya besar itu. Rekaman demi rekaman terus berganti. Kenangan penting Marielle terus terlihat seperti kaset yang tengah diputar.“Apa ini ingatan Marielle?” Dia mencoba memegang bola cahaya itu. Namun secara tiba-tiba terlihat glitch beberapa saat dan membuat bola cahayanya menampakan sesu

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Di Luar Rencana

    “Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat dengan raut wajah penuh harap. “Yang Mulia, saya sudah lama tidak makan bersama kakak, bisakah anda mengabulkan permintaan saya satu ini?” Suara Marielle terdengar lirih. Pipinya sedikit menggembung, bibirnya dimajukan seolah merajuk. Cassian benar-benar lemah dengan ekspresi seperti ini, dia berpikir sejenak, menghembuskan nafas berat. “Hah… baiklah, aku akan mengaturnya,” jawab Cassian penuh paksaan. Melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan, membuat dirinya tak berdaya untuk menolak. Senyumnya merekah, akhirnya ia mendapatkan kesempatan sekali lagi bertemu dengan Ratu. “Terima kasih Yang Mulia,” ucapnya sambil menggelayuti lengan Cassian manja. Cassian tersenyum, tangannya

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Tolong Dengarkan Aku

    “Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtore, Grand Duke Aldric. “Aku harus bertemu dengan ratu secepat mungkin, aku harus mendekatinya,” ucap Marielle dalam hati. Dia berdiri tegak melihat dari jendela terbuka.“Aku harus melakukannya.” Marielle melenggang pergi tanpa memperhatikan Diana yang sudah kalang kabut berusaha menghentikannya.“Lady, tunggu!” teriaknya kencang. Mau tidak mau, dia harus mengikuti Marielle.Marielle berjalan mantap melewati lorong, menuruni tangga menuju taman depan yang biasa Ratu kunjungi. Sorot matanya memperlihatkan tekad untuk mengakhiri penderitaan Marielle asli dalam novel yang tengah ia jalani sekarang.Dua orang yang tengah berbincang di paviliun terbuka tengah taman melihatnya datang, seketika hat

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Perubahan Yang Yerlihat

    Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan.“Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia berpura-pura tak tau, karena baginya, bersama Marielle adalah hal yang membuatnya nyaman. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu tersenyum dan memanggilnya Yang Mulia dengan nada menggemaskan, memeluk tubuhnya saat merasa ketakutan. Tapi semalam, ucapan Marielle bagaikan petir yang menghantamnya keras. “Kenapa kau ingin menyudahi semuanya?” ucap Cassian lirih. Ia menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya, takut jika ucapan semalam benar-benar akan terjadi. “Mmhhh…” Marielle bergerak pelan. Ia mundur sedikit, agar bisa melihat wajah cantik selirnya yang masih terlelap. Senyum samar terlukis di bibirnya, tangannya membelai rambut halus itu dan menyelipkannya di telinga. Mata

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Sebuah Tekad

    “Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambutnya kasar.Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama.Ia memilah-milah rencana mana yang menurutnya paling baik untuk dikerjakan, hingga pilihannya jatuh pada Ratu.“Baik, aku akan memanfaatkan Diana untuk bisa dekat dengan Ratu,” ucapnya semangat. Senyuman penuh percaya diri tergambar jelas di wajahnya.Tok! Tok! Tok!“Siapa?” tanyanya kencang, tangan sibuk menyembunyikan kertas-kertas itu ke dalam laci.“Saya kepala pelayan Ronald Lady,” jawab Ronald dari balik pintu.“Masuklah!” perintahnya, dia langsung pura-pura duduk duduk anggun seperti layaknya seorang Lady.Ronald masuk dan membungkuk memberi hormat.“Maaf mengganggu waktu anda, saya kesini ingin memberitahu Lady jika Yang Mulia Raja meminta untuk makan malam bersama Lady malam ini,” jelas Ronald.

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Awal

    “Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Marielle menelan ludah susah payah, bibir mengering dan ia mencengkeram roknya erat. Sekelebat ingatan tentang akhir hidup Marielle di cerita asli membuatnya pucat pasi. Grand Duke Aldric adalah sosok malaikat mau bagi Marielle. “Kau datang kesini juga?” Raja Cassian terlihat tak senang dengan kehadiran pria itu, terlihat dari tangannya yang mengerat di pundak Marielle. “Benar Yang Mulia. Saya langsung datang kesini sesaat mendengar kabar Lady sudah siuman,” jawab Duke Aldric tenang. Cassian masih mendekap Marielle dengan satu tangan. Wajahnya terlihat was-was setiap kali pria itu berdekatan dengan kekasihnya, Marielle. “Yang Mulia, para menteri sudah berkumpul di ruang rapat kerajaan, anda harus segera kesana.” Seorang ksatria sekaligus pengawal pribadi raja datang. Dengan berat hati, Cassian harus meninggalkan Marielle. Ia melihat kembali pa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status