LOGIN“Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.
Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap. “Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar Cassian, pandangannya tak pernah pergi dari wajah cantik itu. “Baik Yang Mulia, saya akan membawakan makanan kesukaan Lady saat beliau sudah bangun nanti.” Diana kembali membungkuk penuh hormat dan mundur pergi. Ronald, yang masuk bersama dengan Diana sebelumnya masih berdiri di sana, melihat sang Raja seperti menunggu sesuatu. Pandangan mereka bertemu, “Aku akan keluar nanti,” jawab Cassian pelan tapi tegas. Ronald mengangguk paham, ia menunduk sejenak sebelum kembali mengangkat kepalanya. “Baik Yang Mulia. Sebelum saya pergi, saya ingin mengingatkan jika malam intim Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu adalah nanti malam. Setidaknya…” Kalimat Ronald terhenti saat mendengar hembusan nafas gusar dari sang Raja. “Kau masih memikirkan malam konyol itu setelah semalam dia berani membentakku di hadapan semua orang? Lupakan soal malam intim dengan Ratu, aku malam ini akan menemani Marielle dan tidur dengannya,” jelas Cassian tak mau ambil pusing. Ia kembali bersandar pada sandaran, memberantaki rambutnya kasar. “Tapi Yang Mulia,” sanggah Ronald pelan. “Keluar!” titah Cassian membuat sang kepala pelayan tidak berkutik. Ronald membungkuk, memberi hormat sebelum akhirnya pergi. Hening kembali. Wajah cantik Marielle begitu mempesona. Apalagi rambut perak bersih dan wangi yang tengah ia pegang. Cassian menunduk, menghirup dalam aroma Lavender milik Marielle yang memikat rasa. “Wangi ini…” Cassian semakin mendekatkan bibirnya pada leher jenjang Marielle. Bibirnya menempel, lalu mengecup lembut membuat sesuatu dalam dirinya berkobar. Cassian makin larut dalam godaan. Perlahan bibirnya mulai mengecup leher putih bersih itu pelan, namun menjadi sebuah ciuman yang membuatnya makin bergairah. Ciuman di leher Marielle makin lama makin intens. Cassian menggigit dan menghisapnya semangat. “Ahhh!” Marielle terlonjak kaget dari tidurnya, merasakan sakit sekaligus hal aneh pada tubuhnya. Dengan cepat ia mendorong Cassian menjauh, ia terduduk sambil menutupi leher yang baru saja diserang dengan tangan. “Yang Mulia? Apa yang anda lakukan?!” Mata Marielle membelalak ngeri, ia tetap menjaga jarak agar Cassian tak mendekat. “Apa maksudmu? Kita adalah suami istri, tentu saja barusan aku menciummu,” jawab Cassian biasa saja. Alis Marielle turun tajam, ia menggeleng pelan karena semua ini tidak benar. Dia tahu dirinya sudah menjadi milik Raja, tapi dengan jiwa yang berbeda, dia menolak untuk disentuh oleh pria di depannya. “Yang Mulia, lain kali jangan lakukan hal seperti ini lagi,” ujarnya pelan, lalu mencoba turun dari ranjang. Dengan gerakan cepat, tangan Cassian meraih pergelangan tangan Marielle dan menariknya kembali dalam pelukannya. Nafasnya memburu, bibirnya menggesek telinga sang Selir meski penuh dengan penolakan. “Jangan pergi,” ucapnya pelan. Wajah Cassian kembali tenggelam dalam leher Marielle, menghirup aroma Lavender yang sangat ia suka. “Sayangku, aku sudah tidak bisa menahannya lagi.” Cassian langsung mendorong ke kasur, mengurung tubuh mungil Marielle dengan tubuh kekarnya. Marielle melawan, dia mendorong Cassian agar menjauh. Namun tenaganya tak cukup kuat. Tangan Cassian menarik kedua tangan miliknya, mengarahkan ke atas kepala dan menguncinya. “Berhenti melawan Marielle!” bentak Cassian frustasi. Jemarinya meremas pergelangan tangan Marielle lebih kencang, membuat pemiliknya merintih kesakitan. “Yang Mulia, tolong lepaskan saya,” pintanya menahan tangis. Ketakutan terus menjalar, apalagi ingatan tentang Marielle asli yang sering digagahi Grand Duke Aldric masih membuatnya mual. “Kenapa? Bukankah kau selalu suka saat aku melakukan hal seperti ini padamu? Berhentilah merengek dan layani aku sama seperti sebelumnya,” ucap Cassian sebelum menangkup bibir Marielle dengan miliknya. Marielle membelalak lebar, seketika tubuhnya tak bisa bergerak saat kedua bibir mereka bertemu. Cassian makin menekan bibirnya lebih dalam, lidahnya menyapu bibir tipis sang Selir untuk mencari jalan masuk ke dalam. “Buka mulutmu,” pinta Cassian pelan, namun terdengar penuh penekanan dan ancaman. Dia menggeleng pelan, dan lebih merapatkan bibirnya lagi dari sebelumnya. Cassian gusar, satu tangan terpaksa melepas genggaman, lalu menekan kedua sudut bibir Marielle agar terbuka untuknya. Marielle terus menahan, tapi lagi-lagi dirinya kalah. Sesaat setelah bibir Marielle terpisah, Cassian dengan cepat menghujamkan bibirnya dan memasukan lidahnya ke mulut Marielle. Lidah Cassian terus bergerak liar menyapu setiap sisi dalam mulut Marielle. “Ahhh!” Cassian mundur untuk mencari udara, nafasnya terengah setelah menikmati kenikmatan yang ia rindukan. “Kenapa kau menangis?” Suaranya lembut, jempolnya menyapu air mata yang baru saja menetes. Marielle hanya diam terisak. Satu tangan yang terlepas terus menggenggam erat kerah bajunya. “Saya mohon hentikan semua ini Yang Mulia,” Marielle masih terisak. Tubuhnya bergetar hebat ketakutan. “Tidak,” jawab Cassian cepat. Tatapannya Kembali tajam, nafasnya memburu. Tangannya menarik cepat lengan Marielle yang masih bebas. “Kau adalah istriku, kau harus menuruti semua perintahku,” ucap Cassian dingin. Cassian langsung menarik tali simpul di baju Marielle kasar hingga menunjukan pakaian dalam Marielle dan tulang selangka miliknya. Nafas Cassian makin memburu, ia kembali mencumbu tubuh mungil dan memikat itu. Lagi-lagi aroma Lavender membuatnya mabuk kepayang. Memberikan keinginan lebih untuk menikmati setiap sisi dari tubuh manis milik Selir. “Manis dan harum. Tubuh ini, akan aku nikmati sampai aku puas.”“Membangun Valerante bersama Anda?” Kening Marielle mengernyit.Bagaimanapun, bagi Marielle ini sangat aneh. Dia bukan siapa-siapa. Tapi Grand Duke malah menawarinya kerjasama untuk membangun wilayah yang baru saja terjadi perang ini.Diseberang meja, wajah Aldric masih terlihat tenang namun harap-harap cemas jika wanita itu menolaknya. Apalagi dia baru bisa berbicara setelah melewati tujuh hari yang diliputi dingin dan sunyi.“Aku tahu ini terdengar konyol, tapi aku melihat potensi dalam dirimu untuk bisa membantuku. Valerante sudah lama terbelakang. Apalagi ditambah penyerangan Pangeran Henry waktu itu. Aku tidak ada niatan apapun. Aku hanya ingin kau membantuku itu saja,” jelas Aldric cepat-cepat sebelum Marielle salah paham kembali.Marielle tidak langsung menganggukkan kepala. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Aldric dengan pandangan menelisik yang dipenuhi skeptis."Tidak," tolak Marielle dingin. "Saya baru saja keluar dari pusaran konflik istana dan
“Hah! Jika saya bilang tidak pasti Anda akan tetap mengusik saya bukan?” Marielle menghela nafas cukup panjang.“Aku bukan mengusikmu. Aku hanya ingin meminta maaf padamu dan memperbaiki hubungan kita yang sudah rusak parah ini.” Aldric menyilangkan tangan di dada. Wajah angkuhnya perlahan kembali saat Marielle mulai menunjukkan kebaikan hati.Keheningan sore di bawah naungan pohon pinus itu terasa begitu panjang. Angin dingin berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut perak Marielle saat ia menatap pria tegap di hadapannya.Tatapan keputusasaan masih ada di mata Aldric. Celemek bunga-bunga yang membebat pinggangnya, serta kalimat permohonan yang keluar dari mulut seorang Grand Duke berdarah dingin, semuanya bertubrukan hebat di dalam benak Marielle.Ia memejamkan matanya sejenak, lagi-lagi menghela nafas panjang untuk menetralkan gemuruh di dadanya.”Lagipula... aku bukan Marielle yang asli. Dan pria ini memang sudah brengsek dari awal cerita.” batinnya pelan.Marielle m
“Bicara? Baiklah. Aku sudah menunggumu agar mau bicara denganku.” Aldric meletakkan pisau pemotong sayur yang dipegangnya dengan gerakan terburu-buru.Tanpa melepaskan celemek bunga-bunga yang masih melekat di pinggangnya, pria tinggi tegap itu segera melangkah menyusul Marielle keluar melalui pintu dapur belakang.Di belakang rumah kayu sederhana itu, terdapat halaman berumput yang dikelilingi oleh pepohonan pinus yang menjulang tinggi. Udara sore yang dingin bertiup lembut, menggoyangkan ujung mantel tipis yang dikenakan Marielle.Marielle membalikkan badannya dengan cepat begitu mendengar hembusan nafas Aldric di belakangnya. Mata peraknya menatap pria itu lurus-lurus dengan pancaran kekesalan yang sudah mencapai titik didih."Sampai kapan Anda ingin berakting konyol seperti ini, Grand Duke?!" semprot Marielle tanpa basa-basi. Tangannya terkepal erat di samping tubuh. "Anda mengabaikan tugas kekaisaran, memaki bawahan Anda sendiri, dan bersikap seolah-olah Anda adalah pelayan d
“Maaf jika saya lancang, tapi Lady Marielle sangat tidak menginginkan Anda berada disini.” Diana berucap sambil mengangguk.Namun Aldric hanya melipat tangan di dada dengan senyum percaya dirinya. “Lihat saja, beberapa hari lagi aku pasti akan membuat Marielle mau bicara denganku lagi,” ucapnya dengan nada congkak.Keyakinan Aldric itu perlahan sirna, karena sudah hampir tujuh hari penuh, rumah kayu sederhana yang dulu tenang telah berubah menjadi arena pertempuran dingin yang menguras habis sisa-sisa kesabarannya.Berbagai macam cara sudah ia kerahkan untuk mendapatkan perhatian Marielle kembali, namun selama itu juga Marielle tetap menganggapnya tidak ada.Tiga hari lalu, Marielle bahkan diam-diam menyuruh Diana menyampaikan pesan mendesak pada Jackson, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Aldric di kediaman Valtore. Marielle berpikir, kehadiran seorang asisten kepercayaan yang membawa kereta resmi dan barisan pengawal kastil akan sanggup menyeret sang Grand Duke pulang secara p
“Aku hanya ingin minta maaf padamu. Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku, Marielle.” Suara rendah Aldric bergetar pelan, menyisakan keheningan yang teramat pekat di dapur kayu tersebut. Bahkan Diana di sudut ruangan sampai menahan nafasnya rapat-rapat, tak berani membuat pergerakan sekecil apapun.Marielle yang membelakangi Aldric di atas tangga membeku. Jemari tangannya mencengkram erat pegangan tangga kayu. Kalimat permohonan maaf dari mulut sang Grand Duke Valerante terasa begitu asing, berat, dan tanpa kepalsuan.Marielle menghembuskan nafas panjang. Perlahan, ia memutar tubuhnya kembali, menatap pria tegap bercelemek bunga-bunga yang masih menundukkan kepalanya di bawah sana."Permintaan maaf?" suara Marielle terdengar tipis, namun memotong keheningan dengan tajam. "Apakah menurut Anda sebuah permintaan maaf dan secangkir teh dan roti gosong bisa membayar nyawa Enzo? Apakah permintaan maaf Anda bisa menghapus tahun-tahun penderitaan dan rasa sakit yang saya tanggung
"I-Iya, Grand Duke?" suara Diana mencicit nyaris tak terdengar. Tubuhnya gemetar hebat saat mata hitam Aldric menghujam tepat ke arahnya.Aldric menghela nafas panjang, merapikan kerah kemejanya seraya memajukan posisi duduknya. Aura menakutkan yang tadi terpancar perlahan memudar, berganti dengan raut wajah seorang pria panik yang sedang kehabisan akal."Duduklah," perintah Aldric, menunjuk kursi di depan meja makan dengan dagunya."Saya... saya berdiri saja, Yang Mulia," tolak Diana cepat sambil meremas celemeknya kencang-kencang."Aku bilang duduk," ulang Aldric dengan nada yang lebih tegas, meski ada sedikit rasa segan dalam suaranya.Mau tidak mau, Diana melangkah pelan dengan lutut lemas lalu mendaratkan bokongnya di ujung kursi. Ia menunduk dalam-dalam, tak berani menatap wajah penguasa Valerante tersebut."Katakan padaku," Aldric merendahkan suaranya, melirik ke arah tangga lantai dua untuk memastikan Marielle tidak mendengarkan pembicaraan mereka. "Apa yang sebenarnya
“Lady Marielle!” Suara Enzo menggema di antara pepohonan.Ia berlutut di samping wanita itu, satu tangan menopang bahu Marielle, sedangkan tangan yang lain otomatis mencabut pedang dari sarung di pinggang untuk membentuk pertahanan. Tatapannya bergerak liar ke segala arah, mencari bayang
“Dengan ini, festival berburu kerajaan tahun ini resmi dimulai!” Suara Cassian menggema di lapangan utama istana saat pidato pembukaan festival berburu yang akan diadakan tahun ini.Sorak para bangsawan dan tepuk tangan memenuhi udara pagi yang cerah itu. Panji-panji kerajaan berkibar, k
“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi
“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi







