Share

Retaknya Kepercayaan

Author: nababy
last update publish date: 2026-05-21 22:45:56

“Apa urusannya denganku? Seharusnya kau bisa mendidik anakmu supaya selalu menuruti omonganmu!” Seorang kepala keluarga menolak mentah-mentah.

Penolakan itu langsung diikuti beberapa lainnya hingga pertemuan malam hari itu sedikit rusuh dan berakhir buruk.

Beberapa kepala keluarga keluar dari ruang kerja Grand Duke dengan wajah marah.

“Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi! Jika Grand Duke takut berperang, kami bisa bergerak sendiri!” Ucapan itu membuat para ksatria Valtore yang berada di rua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Bertemu Keluarga Enzo

    “Tunggu aku disini. Aku akan segera keluar,” perintah Aldric pada bawahannya yang baru saja sampai di depan rumah Marielle.​Beberapa jam sebelum tiba kembali di rumah sederhana ini, Aldric sebenarnya sempat memacu kudanya pulang ke Kediaman Valerante. Tanpa memperdulikan tatapan heran dari Jackson dan para prajuritnya, pria itu langsung mengumpulkan para pengawal untuk menyiapkan sebuah kereta kuda paling nyaman yang dimiliki kastil, lengkap dengan tirai tebal dan empat ekor kuda terbaik.Begitu kereta siap dan diperintahkan menyusul ke pinggir desa, Aldric memacu kudanya lebih dulu demi menuntaskan niatnya.​Setibanya di rumah kayu, Aldric langsung mencari keberadaan wanita itu. “Dimana Marielle? Aku ada urusan dengannya.” Aldric berjalan menuju belakang dimana ada Diana yang tengah membersihkan ruangan.Namun Diana yang berada di dapur hanya bisa berbisik cemas, "Lady Marielle ada di dalam kamarnya, Grand Duke. Beliau berpesan tidak ingin diganggu oleh siapapun..."​Tentu saja Aldr

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rasa Bersalah Yang Menusuk

    ​”Grand Duke?!”Aldric tersentak pelan. Pria itu menyegarkan raut wajahnya, mengikis kedukaan di matanya, lalu berbalik perlahan. Suara beratnya kembali dingin dan tegas, khas seorang penguasa Valerante.​"Siapa kau?" tanya Aldric, menatap tajam gadis muda yang berdiri beberapa langkah di depannya. Gadis itu mengenakan gaun dari kain kasar berhias tambalan di beberapa bagian, dengan mantel tipis yang tak mampu menghalau dinginnya angin pegunungan.​Gadis itu berdiri tegap, tidak membungkuk sama sekali. Pandangan matanya yang tajam menatap Aldric tanpa rasa takut, meski tangannya memeluk erat sebuah keranjang kayu berisi bunga-bunga liar.​"Nama saya Talia Lucien," jawab gadis itu dengan suara tinggi yang sarat akan kepahitan. "Adik kandung dari Enzo Lucien, ksatria yang mati konyol demi wanita pembawa sial itu."​Dada Aldric berdesir kencang. Adik Enzo.​Mata hitam Aldric meredup. Ia memperhatikan penampilan Talia yang tampak lusuh dan letih. Garis wajah gadis muda itu menyimpan pend

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Makam Enzo

    “Diana, aku akan pergi ke makam Enzo dulu. Jika Grand Duke bangun, biarkan dia makan daging dan suruh dia pulang ke rumahnya,” ucap Marielle pada Diana pagi itu sebelum dirinya pergi menuju makam Enzo.“Tapi Lady, saya tidak mungkin mengusir Grand Duke dari sini.” Diana langsung memasang wajah bingung.Marielle hanya menghela nafas panjang. Ia tahu, seharusnya dia tidak mengatakan hal itu. Bagaimanapun dia tahu, jika pria yang sedang menginap di rumahnya sekarang adalah penguasa Valerante.“Kalau begitu biarkan dia menikmati sarapannya dengan tenang. Aku tidak bisa melihat wajahnya untuk sekarang.” Marielle perlahan berlalu, menuju depan dan keluar dari rumah.Hatinya sejak semalam memang tidak enak. Mengingat bagaimana Grand Duke sudah membuatnya terluka dan sengsara sejauh ini. Pagi ini ia sengaja pergi, menciptakan jarak agar keduanya tak saling bertatap muka ataupun bertegur sapa.Embusan angin pagi pegunungan yang menusuk hingga ke tulang tak sedikit pun dihiraukan oleh Marielle.

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hati Tersakiti

    Deg!Dada Aldric terasa dipukul sangat keras. Pria itu kini tak bisa lagi berkata-kata. Ia hanya bisa diam sambil melihat bagaimana wajah wanita di depannya menatapnya penuh luka.“Sebaiknya Anda istirahat sekarang. Saya akan pergi ke sekarang.” Marielle berbalik, menuju pintu kamar.“Marielle…” Suara Aldric tidak dapat meraih keberadaan Marielle.Hingga pintu kamar itu tertutup, Aldric masih terdiam. Mengingat bagaimana sosok rapuh itu pergi meninggalkannya sendiri.“Sial! Bukan ini yang aku inginkan.” Aldric memberantaki rambutnya sendiri.Malam itu wajah sang Grand Duke terlihat sedikit berbeda. Yang biasanya selalu melihat Marielle penuh kebencian, kini kedua bola mata itu sedikit melunak.Aldric kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang keras. Ia mencoba menghela nafas dan memejamkan mata. Setidaknya esok hari ia akan bicara lebih jujur sekaligus berani pada Marielle.Aldric memegangi kepalanya yang terasa pening. Pria itu merebahkan tubuhnya di ranjang kayu milik Claude,

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Aku Minta Maaf

    ​"Cepat ambilkan air hangat, Diana!" seru Marielle panik seraya beranjak dari kursinya.​Diana yang tak kalah syok buru-buru berlari ke dapur, sementara Marielle mengikis jarak dan berdiri di samping Aldric. Tanpa berpikir panjang, jemari halus Marielle menepuk-nepuk punggung lebar dan besar sang Grand Duke seraya mengurut tengkuknya pelan untuk meredakan sumbatan di tenggorokannya.​"Minum ini dulu, Grand Duke!" Diana kembali dengan memegang cangkir tanah liat berisi air hangat.​Marielle langsung menyambar cangkir itu dan menyodorkannya ke bibir Aldric. Pria itu dengan cepat meraih cangkir tersebut dengan tangan gemetar, meneguk air hangat di dalamnya dalam beberapa tegukan besar hingga nafasnya perlahan-lahan kembali teratur.​Wajah tampan Aldric yang memerah padam kini tertunduk dalam. Pria itu menyandarkan kedua sikunya di atas meja kayu, menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan seraya dengan nafas yang terengah-engah.​Gengsinya yang setinggi langit rasanya runtuh tak ber

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Makan Malam Bersama

    ​"Aku hanya kebetulan lewat," sahut Aldric cepat tanpa berpikir panjang.​Begitu kalimat itu lolos dari bibirnya, mata hitam Aldric membelalak tipis. Pria itu merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. “Jawaban konyol macam apa itu?” batinnya frustasi. Jalur ini adalah jalan buntu yang hanya mengarah ke rumah Marielle dan area hutan. Tidak ada alasan logis bagi seorang Grand Duke untuk kebetulan lewat menjelang malam di jalan pinggir desa begini.​Marielle hanya menatap pria di hadapannya selama beberapa detik tanpa ekspresi.​"Oh... begitu," respon Marielle datar.​Tanpa membuang waktu atau bertanya lebih jauh, Marielle memegang tepi pintu dan langsung mendorongnya untuk ditutup.​​"Tunggu!"​Dengan refleks secepat kilat, Aldric menahan daun pintu kayu itu menggunakan telapak tangannya yang besar. Tenaganya yang kuat membuat gerakan pintu seketika terhenti kaku.​Marielle menghentikan dorongannya. Alis peraknya bertaut tajam saat menatap jari-jari tegap Aldric yang mencengkeram tep

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Insiden Perburuan

    “Dengan ini, festival berburu kerajaan tahun ini resmi dimulai!” Suara Cassian menggema di lapangan utama istana saat pidato pembukaan festival berburu yang akan diadakan tahun ini.Sorak para bangsawan dan tepuk tangan memenuhi udara pagi yang cerah itu. Panji-panji kerajaan berkibar, k

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kedua Hati Yang Terpatri

    “Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hasrat Terpendam

    “Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Ingatan Masa Lalu

    “Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status