Mag-log in“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar.
Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk lebih berani. Samar-samar, ia mendengar beberapa suara percakapan orang-orang. Ia kenal dengan suara itu. Dia berbalik dan melihat bola cahaya mengambang menampilkan beberapa kejadian yang dialami Marielle asli. “Ayah… aku mohon jangan pergi…” Sosok Marielle kecil terjatuh di tanah saat melihat ayah yang selalu ia sayangi pergi setelah menjualnya sebagai budak. Dia tertegun sesaat, matanya tertuju pada bola cahaya besar itu. Rekaman demi rekaman terus berganti. Kenangan penting Marielle terus terlihat seperti kaset yang tengah diputar. “Apa ini ingatan Marielle?” bisiknya. Tangan gemetarnya terulur menyentuh bola cahaya itu. Saat ujung jarinya hampir menyentuhnya, bola cahaya tersebut bergetar seperti riak air yang tersentuh batu. Marielle mundur. Namun bola cahaya itu bergetar hebat, seolah kenangan yang muncul tidak stabil. Marielle termangu ketika melihat sebuah kenangan yang tak seharusnya dilihat. “Tuan Duke, tolong lepaskan saya! Saya hanya mencintai Yang Mulia Raja!” Marielle memberontak kuat meski tenaganya tak sebanding dengan milik Aldric. Aldric menghimpit tubuh Marielle, dia menolak memberi ruang gerak untuk wanita bersurai perak itu. Satu tangannya mencengkram kedua lengan Mariella tepat di atas kepalanya. "Apa yang kau mau sebenarnya?" desis Marielle berusaha lepas dari kungkungan. Aldric menarik sudut bibir samar. Tatapannya tertuju pada bibir merah cherry Marielle. Pria itu menekan dagu Marielle kasar, memaksanya diam. Jarinya mengusap bibir Marielle pelan mencoba menerobos masuk. “Diam. Kau harus segera segera hamil untuk menjadi seorang Ratu, Marielle,” ucap Aldric mendesah penuh hasrat. Jakun Aldric naik turun, aroma lavender sang selir menggoda hasrat kelelakiannya, hingga membuat dirinya kehilangan kendali atas akal sendiri. Bola cahaya itu terus memunculkan adegan yang membuatnya bergidik ngeri. Jiwa yang menempati tubuh Marielle bergidik ngeri melihat adegan panas yang dipaksakan oleh Grand Duke. Marielle menangis dan meronta, meminta dilepaskan, namun Aldric tak peduli. Ia terus melancarkan aksi bejatnya hanya sekedar untuk membuat Marielle cepat hamil. “Bajingan..." bisiknya gemetar. Dadanya terasa sesak melihat bagaimana Marielle dipaksa seperti itu. "Dia meniduri Marielle dengan paksa,” ujarnya lirih. Matanya membelalak lebar sambil menutup mulut karena masih tak kuasa melihat adegan yang terputar di depannya. Suara tangis Marielle menggema di ruang gelap itu. Membuatnya tak kuasa menahan lebih lama lagi. Dia ikut menangis, seakan merasa apa yang Marielle rasakan. “Kejam. Ini sangat kejam!” Ia terduduk lemas. Nafasnya tersengal bersama air mata mengalir di pipi. Deg! Jantungnya kembali sakit. Tangannya bergegas mencengkram dada bagian kiri miliknya, dan satu tangan lagi mencengkram gaun erat. “Sakit…” ucapnya lirih. Marielle membuka mata, napasnya memburu. Kenangan-kenangan asing mulai berkelebat di kepala. Tawa yang bukan miliknya, tangis yang tak pernah ia ingat, dan rasa sakit yang terlalu nyata untuk sekadar mimpi. Kejadian-kejadian dari bola cahaya yang ia lihat menghantam lebih keras daripada tamparan. “Marielle!” Cassian langsung memeluk sang wanita erat. Nafasnya memburu, takut. Dirinya yang baru tersadar masih terlihat linglung. Semua ingatan milik Marielle yang asli mendadak muncul di kepala membuatnya tak berkutik sama sekali. “Kelinci kecilku? Kau tidak apa-apa?” Tatapan Cassian begitu pilu. Kedua tangannya menangkup kedua pipi Marielle dan mengelusnya lembut. Melihat Raja begitu takut dan khawatir, satu tetes air mata lolos dari pelupuk mata dan diikuti yang lainnya. “Hiks!” Tangisnya terdengar jelas. Bola mata Cassian membulat lebar, ia langsung menarik tubuh wanita itu kembali dalam pelukan. Kali ini lebih erat, lebih hangat, dan lebih lembut. “Yang Mulia… Saya takut… hikss!” Suara tangis Marielle mengisi seluruh ruangan. Dadanya dipenuhi oleh rasa takut, luka, dan keputusasaan. “Tidak apa-apa, aku ada disini. Tidak akan ada yang menyakitimu.”Suara Cassian begitu lembut hingga mampu membuatnya merasa sedikit tenang. Beberapa lama Marielle terus menangis, genggamannya sangat erat membuat hati Cassian makin sakit. Lambat laun, tangisan itu mereda dan hatinya menjadi tenang. “Sayang? Kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit? Mau aku panggilkan dokter?” tanya Cassian khawatir. Tangannya terus mengelus punggung Marielle pelan. “Tidak. Saya baik-baik saja Yang Mulia,” jawabnya pelan. Raut wajah Cassian tak serta merta percaya begitu saja. Melihat sang pujaan hati menangis tersedu-sedu seperti tadi membangkitkan rasa untuk melindungi. Sekali lagi, ia memeluk Marielle lebih hangat, kuat, dan penuh tekad. “Aku akan tidur denganmu malam ini,”ucapnya lirih dengan alis melengkung turun. Tangannya berkali-kali membelai pipi bersih sang Selir. Marielle mangangguk. Ia bergeser sedikit ke samping, memberi tempat Cassian untuk berbaring. Jantungnya masih berdebar kencang. Semua ingatan Marielle terus membuatnya gelisah. Terutama ingatan soal bagaimana Aldric menidurinya berkali-kali hanya untuk membuat wanita itu mengandung yang akan dianggap anak Raja. “Kau sungguh tidak apa-apa? Mau aku panggilkan dokter?” tanya Cassian lembut. Suaranya begitu merdu seperti nyanyian pengantar tidur. Ia menggeleng pelan. Dia memeluk tubuh besar Cassian erat, membuat pemiliknya terlonjak kaget. “Ternyata Marielle sangat mencintai Yang Mulia Raja,” ucapnya lirih. Matanya perlahan menutup menempel pada sisi lengan kekar Raja. Cassian menghela nafas dalam, perlahan ia menyelipkan lengan ke bawah kepala Marielle untuk menjadi bantal. Sedangkan tangan satunya menarik tubuh mungil itu lebih dekat dan memeluknya erat. “Aku tidak akan membiarkanmu tersakiti. Kau hanya milikku seorang, kelinci kecilku.” Tatapan Cassian begitu tajam.”Pagi Lady Marielle… apakah tidur Anda nyenyak?” Suara Diana membuyarkan lamunannya saat baru saja bangun tidur.“Ya. Aku sangat tidur dengan nyenyak. Aku sudah lama tidak tidur di ranjang yang sangat empuk ini.” Marielle mengelus ranjang tersebut karena sangat empuk dan halus. Diana hanya bisa tersenyum sambil menyiapkan baju yang akan dikenakan Marielle hari ini.“Mari saya bantu untuk Lady,” tawar gadis itu.Akhirnya Marielle turun dari ranjang menuju kamar mandi. Pagi hari ini, sinar matahari hangat menembus tirai tipis Paviliun Barat, membiaskan cahaya di atas meja makan yang dipenuhi hidangan sarapan segar. Setelah Marielle selesai bersiap, ia duduk menimang cangkir tehnya, menikmati keheningan pagi sebelum kesibukan rekonstruksi dimulai.Di sudut ruangan, Tristan, ksatria muda berambut cokelat yang ditunjuk Aldric sebagai pengawal pribadinya berdiri tegak. Matanya yang polos dan jujur sesekali melirik ke arah Marielle dengan binar kagum yang amat sulit ia sembunyikan."Lad
"Tuan Vane," panggil Aldric dengan suara yang dalam, namun sanggup menggetarkan lantai batu di bawah kaki mereka. "Apakah yang dikatakan Lady Marielle itu benar?"Keheningan di ruang rapat utama Kastil Valtore mendadak berubah menjadi atmosfer mencekam yang membekukan darah. Suasana memanas setelah Marielle membongkar habis catatan audit keuangan internal.Aldric, yang sejak tadi berdiri menahan diri di samping meja, melangkah maju dua titik. Tatapan matanya yang semula dipenuhi rasa takjub pada Marielle seketika berganti menjadi kilatan amarah yang amat dingin dan mematikan. Rahangnya mengeras kaku, dan aura menekan khas seorang penguasa perang menguar hebat dari tubuhnya.Pria itu menatap tajam ke arah Pejabat Keuangan yang kini gemetar hebat di sudut meja.Vane mendadak kehilangan kemampuannya untuk bernapas secara normal. Wajahnya yang pucat pasi kini dibasahi keringat dingin. "Yang Mulia Grand Duke... ini... ini hanya kesalahpahaman dalam pencatatan laporan logistik…" jawab
”Sial. Sepertinya banyak yang meragukan aku disini,” batin Marielle saat melihat bagaimana reaksi orang-orang di sekitar.Mereka melangkah beriringan membelah koridor utama Kastil Valtore. Langkah kaki Marielle yang mantap dan anggun bergema di sepanjang lorong batu, diikuti oleh Jackson, Diana, serta rombongan pejabat daerah yang berjalan di belakang mereka dengan raut muka tegang dan dipenuhi desakan bisik-bisik protes.Begitu pintu ruang rapat utama dibuka lebar, Marielle langsung melangkah masuk tanpa ragu. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Ada sebuah meja kayu besar di tengah, peta wilayah Valerante yang membentang di dinding, serta tumpukan dokumen keuangan di sudut meja. Marielle berjalan lurus menuju kursi utama di samping peta wilayah, lalu menariknya dan duduk dengan sangat tenang.Tindakan itu seketika membuat para pejabat yang baru saja melangkah masuk menahan nafas. Posisinya yang langsung mengambil alih kursi kepemimpinan rapat memancing emosi salah seor
”Lady Marielle! Ada kereta kuda di depan rumah!” teriak Diana keesokan paginya saat mereka baru saja bersiap-siap untuk pergi menuju kastil Grand Duke.Marielle yang ada di ruang tengah bergegas berlari menuju depan, dimana Diana sudah berdiri disana. Ia melihat kereta kuda sudah terparkir rapi dengan kusirnya. Dari dalam, keluar seorang ksatria. Ksatria itu berjalan dan langsung membungkuk memberi hormat kala tepat berada didepan Marielle. “Selamat pagi Lady Marielle. Saya datang kesini untuk menjemput Anda atas perintah Grand Duke,” jelasnya.Marielle menghela nafas cukup panjang. Padahal kemarin dia sudah bilang agar tidak menjemputnya, tapi tetap saja tidak didengar. Dengan wajah malas, ia menunjuk barang-barang yang sudah Diana susun sebelumnya. “Itu barang-barangku. Tolong bawakan ya.” Tanpa basa-basi Marielle langsung menyuruhnya.“Baik Lady.” Pria itu membungkuk kembali dan langsung mengangkat beberapa tas dengan bantuan Diana.Marielle berjalan lebih dulu menuju kereta ku
"Lady Marielle?!" Suara Jackson melengking, hampir memekakkan telinga. Pria itu menatap Aldric dengan mata melotot sempurna, seolah baru saja mendengar sang Grand Duke mengumumkan akan menyerahkan seluruh wilayah Valerante kepada musuh."Yang Mulia, Anda pasti sedang bercanda, bukan?" bisik Jackson panik, melangkah mendekat seraya menoleh kanan kiri untuk memastikan tidak ada pengawal yang mendengar. "Lady Marielle De Aubrey? Wanita yang sangat Anda benci itu?""Aku tidak sedang bercanda, Jackson," potong Aldric tenang namun dingin. Ia melangkah menuju meja kerjanya yang ditimbun puluhan dokumen, lalu mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. "Marielle memiliki kemampuan dan pemikiran tajam yang kita butuhkan untuk membangun kembali Valerante. Mulai lusa, ia yang akan memegang kendali penuh atas tim rekonstruksi."Jackson menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering. "Tapi, Yang Mulia... bagaimana dengan para menteri dan pejabat kastil? Anda tahu
“Apa Marielle belum bangun?” tanya Aldric pada Diana yang menemaninya berkemas.“Belum Grand Duke,” jawabnya pelan.Aldric mengangguk. Ia melangkah sambil menenteng tas yang berisi perlengkapannya selama tinggal di rumah kayu Marielle. Pria itu membuka pintu, yang memperlihatkan suasana masih pagi buta.“Yang Mulia Grand Duke, apakah Anda tidak berpamitan dengan Lady Marielle dulu sebelum pergi? Saya rasa pergi diam-diam seperti ini terlihat kurang sopan,” ujar Diana lirih, takut sang Grand Duke menjadi tersinggung atas ucapannya.Diluar perkiraan, Aldric malah tersenyum tipis. Ia menaruh barang-barangnya di punggung kuda lebih dulu sebelum menaiki kudanya.“Aku tidak ingin membuatnya marah hari ini,” jawabnya santai.“Apa Anda tidak apa-apa? Seharusnya kereta kuda yang menjemput Anda akan datang pagi nanti.”“Aku tidak apa-apa Diana. Baiklah, aku pergi sekarang. Tolong jaga Marielle untukku ya.”Dengan begitu, Aldric menarik tali kekang hingga membuat kuda yang ditungganginya berlari
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m
“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi







