Masuk“Enzo, apa kau gila?!” ucap Claude lirih sambil mundur satu selangkah demi selangkah.
Tanpa ada suara, ksatria itu langsung berbalik dan pergi menyusuri lorong penjara dengan langkah cepat, seolah apa yang baru dilihatnya terlalu berbahaya untuk diproses saat ini juga. Sementara di belakangnya, Enzo dan Marielle sama-sama tak sadar jika seseorang telah melihat mereka. Keduanya masih saling menguatkan. Dan Enzo, pria itu tak tega harus meninggalkan Marielle sendir”Bodoh sekali aku bisa tertidur di bahunya!” maki Marielle dalam hati, merutuki tentang dirinya saat tertidur di bahu Aldric di kereta kuda tadi sore.Gara-gara kejadian tersebut, malam di Paviliun Barat terasa jauh lebih panjang dari biasanya bagi Marielle. Wanita itu mondar-mandir di dalam kamarnya yang temaram, memeluk erat tubuhnya sendiri seolah sisa kehangatan dari jubah berbulu domba dan bahu bidang Aldric masih melekat kuat di sana.Diana, yang sedang membereskan gaun kerja Marielle yang terkena noda lumpur di sudut ruangan, melirik sang majikan dengan seulas senyum geli yang ditahan-tahan. Pelayan setia itu menyadari betul bahwa pipi majikannya masih menyisakan rona kemerahan sejak pertama kali menginjakkan kaki di paviliun. Namun, Diana memilih untuk tidak berkomentar apa pun, membiarkan Marielle menyiksa dirinya sendiri dengan rasa salah tingkah yang luar biasa.Sementara itu, di sayap timur Kastil Valtore, situasi di ruang kerja utama tidak jauh berbeda. Tumpukan dokum
“Aku berjanji akan selalu melindungimu.” Aldric mengelus pipi Marielle pelan agar tak membangunkan wanita itu.Derap roda kereta kuda berdebar pelan, memecah kesepian sore yang mulai merayap di pelataran Kastil Valtore. Bias cahaya jingga kemerahan matahari tenggelam memantul lembut di kaca jendela kabin, menciptakan siluet temaram yang hangat di dalam ruang yang sempit itu.Di dalam kereta, Marielle masih terlelap dalam posisi nyamannya. Kepala wanita itu bersandar sepenuhnya di atas bahu bidang Aldric, dengan nafas teratur yang sesekali berhembus pelan, menghangatkan kain kemeja sang penguasa wilayah utara.Aldric sendiri sejak tadi sama sekali tidak bergeser dari posisinya. Pria itu menahan seluruh gerak tubuhnya sekaku mungkin, takut jika sedikit saja ia bergerak, lelapnya wanita di sampingnya akan terusik. Padahal, otot-otot di bahu dan lehernya sudah terasa pegal luar biasa akibat mempertahankan postur yang sama selama perjalanan. Namun, rasa pegal itu sama sekali tidak ada ap
"Aku tidak akan mundur lagi," balas Aldric tegas, suaranya sarat akan mutlak dan keputusasaan yang melebur jadi satu. "Katakan padaku, Marielle... apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti menatapku dengan mata penuh kebencian seperti itu?"Marielle terdiam kaku. Nafasnya tercekat di tenggorokan, tertahan oleh jarak wajah mereka yang begitu dekat dan kehangatan tubuh Aldric yang membungkusnya. Manik peraknya bergetar hebat, menatap iris hitam sang Grand Duke yang memancarkan kejujuran, sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari sosok pria dingin berdarah besi itu.Di dalam benaknya, bagian yang rasional berteriak mengingatkan. Ingatlah posisimu. Kau berada di dalam dunia novel ini, dan pria di hadapanmu adalah tokoh utama pria yang seharusnya mengejar takdirnya sendiri, bukan mengejarmu.Namun, melihat kilat penyesalan dan kerapuhan di mata Aldric, benteng kemarahan yang selama ini ia bangun setinggi langit mendadak runtuh separuh. Pertahanan Marielle
Laju kereta kuda akhirnya berhenti tepat di pelataran Sektor Dua, wilayah lembah utara yang kini tengah disulap menjadi area rekonstruksi pemukiman warga.Marielle langsung turun lebih dulu tanpa menunggu Aldric. Wanita itu dengan cepat memasang kembali topeng profesionalnya, menepis segala sisa ketegangan dan kata-kata tajam di dalam kereta tadi dari kepalanya."Selamat pagi, Lady Marielle! Grand Duke!" sambut kepala tukang seraya membungkuk hormat menyambut kedatangan mereka."Pagi, Master Miller. Bagaimana perkembangan pemasangan kerangka kayu di sebelah barat?" tanya Marielle langsung to the point, melangkah mantap menyusuri area tapak pembangunan.Di belakangnya, Aldric turun dari kereta dengan langkah tegap. Pria itu tidak banyak bicara, namun sepasang mata hitamnya sama sekali tidak lepas dari setiap gerak-gerik Marielle. Bayang-bayang pengakuan emosional yang sempat terlontar di dalam kereta tadi masih berdengung di kepalanya.Selama hampir satu jam, Marielle berkeliling
”Aku hanya berusaha menjadi baik padamu,” balas Aldric dingin, namun matanya memperlihatkan secerca kesedihan yang samar.“Sudah saya bilang Anda tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu. Saya tidak membutuhkan bantuan Anda sama sekali.”Marielle naik kereta tanpa bantuan Aldric. Sedangkan pria itu masih berdiri beberapa detik, mencoba mencerna jika wanita yang berada di sampingnya sama sekali tak peduli padanya.Kereta kuda berangkat perlahan, keduanya hanya diam tanpa melihat satu sama lain. Marielle duduk di sisi kiri, udara dingin di luar seolah tertahan di balik dinding kayu yang kokoh.Di dalam ruang kabin yang sempit hanya diterangi bias cahaya matahari tipis dari balik tirai jendela. Atmosfer mendadak berubah menjadi medan perang tak kasat mata. Aldric menatap lurus ke arah Marielle, sementara wanita itu dengan sengaja membuang pandangannya ke luar jendela, mengabaikan kehadiran sang penguasa utara sepenuhnya."Tindakanmu di depan para pimpinan serikat tadi pagi sangat t
“Lagipula pria itu sudah mencintai wanita lain. Jadi tidak mungkin dia menyukaiku,” ucapnya lirih.Marielle mendengus pelan, menarik tangannya dari genggaman Diana. Tatapannya menatap kosong ke dasar cangkir teh yang mengepulkan asap tipis. Keheningan malam di Paviliun Barat terasa makin menekan, membawa kembali ingatan pahit yang tak pernah benar-benar pulih. Diana yang menyadari beban emosional yang menyelimuti majikannya tidak berniat memanjangkan pembicaraan lagi. Pelayan setia itu hanya membungkuk dalam-dalam lalu undur diri secara perlahan, membiarkan Marielle tenggelam dalam keheningan kamarnya sendiri.Dua hari berlalu dalam senyap. Bagi Marielle, dua hari itu adalah rentang waktu yang sangat ia syukuri. Ia sengaja meminimalisir interaksi dengan Aldric dan memanfaatkan alasan pengerjaan berkas teknis untuk menghindari setiap jengkal area yang berpotensi mempertemukannya dengan sang Grand Duke.”Dua hari ini aku berhasil menghindarinya,” batin Marielle saat melangkah menyus
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m
“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi
“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi







