LOGIN“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.
Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtore, Grand Duke Aldric. “Aku harus bertemu dengan ratu secepat mungkin, aku harus mendekatinya,” ucap Marielle dalam hati. Dia berdiri tegak melihat dari jendela terbuka. “Aku harus melakukannya.” Marielle melenggang pergi tanpa memperhatikan Diana yang sudah kalang kabut berusaha menghentikannya. “Lady, tunggu!” teriaknya kencang. Mau tidak mau, dia harus mengikuti Marielle. Marielle berjalan mantap melewati lorong, menuruni tangga menuju taman depan yang biasa Ratu kunjungi. Sorot matanya memperlihatkan tekad untuk mengakhiri penderitaan Marielle asli dalam novel yang tengah ia jalani sekarang. Dua orang yang tengah berbincang di paviliun terbuka tengah taman melihatnya datang, seketika hatinya tampak ragu saat melihat pandangan Ratu yang begitu tajam. Marielle menghela nafas sejenak, mengumpulkan keberanian untuk menyapa pada kedua tokoh utama, yaitu Ratu dan Grand Duke. “Selamat pagi Ratu Elira, selamat pagi Duke Aldric,” sapa Marielle penuh kesopanan. Ia memberi salam seperti tata krama yang telah ia pelajari. Wajah Elira mendadak berubah. Dahinya berkerut dan alisnya menurun tajam, ditambah tatapan dingin langsung terlihat saat selir kesayangan Raja datang menyapanya. “Bukankah kita sudah membuat kesepakatan untuk tidak saling bertemu?” Nada bicara Elira datar dan dingin, tapi menusuk persis seperti tatapannya. Hatinya tersentak, dia mundur selangkah karena kegugupan mulai menjalar perlahan di tubuhnya. Namun wanita itu berusaha bersikap biasa. Berjalan lebih dekat agar membuat suasana lebih mencair. “Ratu, saya hanya ingin menyapa anda karena sudah lama sekali kita tidak saling menyapa,” ucapnya pelan, hati-hati agar emosi Elira tak makin tinggi. Tidak sesuai harapan, alih-alih mendapat kebaikan, Ratu Elira makin menunjukkan ketidaksukaannya pada Marielle. “Apa kau akan pamer karena semalam sudah menghabiskan waktu dengan Raja dihadapanku?!” Suaranya makin tinggi. Elira menggenggam cangkir teh makin kuat hingga sedikit bergetar. Marielle meneguk ludah, takut. Bukan seperti ini yang diharapkannya. “Ratu, bukan seperti itu. Sungguh saya datang kesini hanya ingin menyapa Ratu. Saya tidak bermaksud lain,” ujar Marielle panik. “Lagipula semalam tidak terjadi apa-apa antara saya dengan Raja, saya berani bersumpah.” Marielle langsung membuat tanda peace dengan kedua jarinya. Elira menggertakkan gigi, dia langsung berdiri menghampiri Marielle. “Berhenti menggangguku. Dan aku tidak peduli kau berbuat apa dengan Raja semalam.” Ucapan itu lirih, tapi penuh penekanan dan rasa kebencian. Dia terdiam, menyadari kebencian Ratu pada sosok Marielle begitu besar. Tubuhnya terlalu gugup, membuat suara tercekat di kerongkongan. Elira memanggil para dayangnya untuk pergi dari sana, menyisakan Marielle dan Duke Aldric saja. Marielle terduduk lemas, tekanan yang diberikan sang Ratu padanya begitu kuat hingga ia tak bisa berbuat apa-apa. “Harusnya aku bukan begini….” gumamnya lemah tertunduk. “Ratu sangat benci jika seseorang mengganggu paginya. Tapi Lady malah berani menampakan diri saat baru selesai menikmati malam dengan Raja.” Suara Aldric terdengar mengejek. Marielle mendongak, sorot matanya tajam pada pria itu. Duke yang menyadarinya berjalan pelan, lalu berlutut di depan Marielle yang terduduk. “Sudah kubilang, fokus saja pada Raja, dengan begitu anda bisa aman di istana,” bisiknya pelan, tapi penuh kengerian. Dirinya tertegun, ucapan Aldric terdengar benar—jika untuk sekarang hanya Raja yang mampu melindungi Marielle. Aldric kembali berdiri, lalu berjalan pergi. “Aku harus meminta bantuan Raja untuk bicara dengan Ratu,” gumamnya pelan. Dia tenang, dan mencoba mengikuti alur. Karena yang ia hadapi sekarang adalah manusia-manusia berkuasa. “Lady tidak apa-apa?” Diana berlari menuju Marielle dan membantunya berdiri. “Aku tidak apa-apa. Bisa kau bawa aku ke Raja?” tanyanya tegas. Diana kaget mendengar permintaan aneh itu. Karena baru pertama kali ini Marielle meminta padanya untuk bertemu dengan Raja. Karena selama ini Diana tau, jika majikannya hanya bisa menunggu Raja dari dalam kamar saja. “Tapi Lady, apa anda serius? Anda baru saja bertemu dengan Yang Mulia Ratu, lalu anda ingin bertemu dengan Raja?” Diana masih merasa bingung dengan sikap Marielle hari ini. “Sudah diam. Jika kau ingin selamat, ikuti ucapanku!” Kata Sarah telak. Dengan berat hati, Diana mengangguk lalu mengantarkan Marielle menuju ruang kerja Raja Cassian. Selama perjalanan, wajah Diana begitu penuh tekanan. Mereka sampai di depan ruang kerja Raja, Marielle meminta pada penjaga untuk membukakan pintu. Dengan patuh penjaga itu membuka pintu sambil berucap, “Lady Marielle datang berkunjung.” Sebelum masuk, dirinya menghembuskan nafas sekali, berusaha membuang sisa-sisa beban dan keraguan dalam hatinya. Langkah tegas ia ambil saat memasuki ruangan Raja. Ruangan penuh dengan berkas dan buku dimana-mana. Viscount Rowan yang berdiri disamping Cassian langsung menunduk memberi hormat. “Marielle, ada apa kau datang kemari?” Cassian berdiri dari kursinya dan menghampiri selir tercinta. “Yang Mulia, maaf saya mengganggu pekerjaan anda,” balasnya membungkuk memberi hormat. “Tidak apa-apa,” ucap Cassian pelan, membawanya untuk duduk di sofa panjang, tengah ruangan. Cassian menggenggam tangan Marielle erat, namun lembut. Wajahnya terlihat senang saat melihat wanitanya datang berkunjung. “Apa yang membawamu kemari kelinci kecilku?” tanyanya penuh senyum. Marielle yang mendengar kata “kelinci kecil” langsung merasa mual. Mengingat panggilan itu terdengar sangat kuno dan norak. Tapi dia berusaha bersikap layaknya istri yang normal. Ia membalas genggaman Cassian. Wajahnya mendongak, suaranya lembut meminta. “Yang Mulia, bisakah kita makan malam bersama Ratu Elira?"“Marielle,” panggil Aldric pelan.Namun wanita itu diam. Dia langsung mengambil makanan yang sudah tersedia di meja. Sedangkan Diana hanya menatap keduanya secara bergantian. Ia merasa makan malam ini akan sangat panjang dan menegangkan.Malam makin larut, tetapi ketegangan di meja makan kayu itu justru makin membeku. Hanya denting halus sendok yang beradu dengan mangkuk keramik dan kepul asap sup hangat yang menjadi saksi keheningan mencekam tersebut.Diana duduk kaku di ujung meja, mengunyah rotinya tanpa bersuara. Matanya bergerak gelisah melirik Marielle dan Aldric secara bergantian. Suasana di antara keduanya tak ubahnya seperti arena perang dingin yang siap meledak kapan saja.Aldric berdehem pelan, berusaha mencairkan suasana. Pria tegap itu meletakkan sendoknya, lalu menatap Marielle yang masih asyik menyendok sup tanpa berniat mendongak sedikit pun."Supnya... lumayan enak," buka Aldric datar, mencoba memulainya dari hal paling sederhana.Marielle tak berkutik. Jemari ca
“Semenjak kedatangan Grand Duke, suasana rumah ini menjadi suram,” keluh Diana yang masih menatap pintu kamar yang baru saja dimasuki Aldric.Belum sempat Diana beranjak dari tempatnya berdiri, seseorang tiba-tiba masuk. Seorang pria yang tak asing tiba-tiba datang memasuki rumah kayu itu.“Halo… maaf, saya sedang mencari Grand Duke,” ujarnya sambil membungkuk pada Diana.Diana sontak juga langsung membungkuk. Diana kenal dengan pria itu. Siapa lagi jika bukan Tristan, ksatria yang diperintah oleh Aldric untuk mengawasi makanan Marielle saat di istana sebelum kembali kesini.“Grand Duke ya? Dia ada di kamar itu.” Diana menunjuk penuh hati-hati.Tristan langsung berbalik dan segera mengetuk pintu.“Grand Duke, saya Tristan,” ucapnya jelas.Tak ada jawaban. Tristan kembali mengetuk.“Grand Duke… saya Trist…” Kalimatnya mendadak berhenti.Pintu seketika terbuka dan terlihat wajah Grand Duke yang penuh guratan amarah jelas disana.Tristan tiba-tiba mundur dan langsung meneguk ludah. Karen
Keduanya langsung tersentak. Aldric yang mencoba menjelaskan sekali lagi tidak bisa menghentikan Talia yang sudah diambang batas kesabaran.“Tolong mengertilah, ini memang salahku tapi semua ini terjadi karena ulang pangeran Heinry,” jelas Aldric sekali lagi.“Sudah saya bilang keluar kalian berdua dari rumahku!” bentak Talia keras.Marielle yang semula hanya diam, ia bangkit pelan, lalu menunduk pada Lami dan Talia bergantian.“Maafkan kedatangan saya yang membuat hatimu semakin terluka. Kami akan pergi sekarang,” ucap Marielle lembut.Tangannya langsung menarik lengan Aldric dan menariknya keluar. Aldric hanya bisa terdiam sambil mengikuti langkah Marielle dari belakang. Sedangkan Talia langsung menutup pintu keras kala keduanya baru keluar dari rumah kayu sederhana itu.“Marielle, apa yang kamu lakukan?! Aku berusaha membersihkan namamu!” Aldric terlihat kesal karena ditarik kasar oleh wanita itu.“Bisakah kita pergi dari sini terlebih dulu? Ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.
“Saya sangat tidak menyangka jika seorang Grand Duke mau berkunjung ke gubuk kami,” ucap ayah Enzo yang bernama Lami.Sedangkan Marielle masih terdiam di tempatnya. Hawa dingin tiba-tiba menusuk kulit saat dirinya mulai melangkah lebih dekat ke arah gubuk kayu itu. Pandangannya masih terkunci pada Talia. Gadis muda itu menatapnya dengan tatapan berapi-api penuh kebencian dan rasa kehilangan yang mendalam. Marielle hanya bisa diam, menerima tiap anak panah dendam yang dilayangkan lewat mata itu tanpa berusaha membela diri.Aldric melangkah maju satu garis di depan Marielle, memecah ketegangan visual yang nyaris meledak. Ia menundukkan sedikit kepalanya kepada pria tua yang masih membungkuk gemetar di atas tanah."Berdirilah, Pak Tua. Kau tidak perlu berlutut di hadapanku," ujar Aldric, suaranya terdengar lembut namun tetap menyisakan wibawa.Lelaki tua itu perlahan menegakkan tubuhnya yang rapuh, menyapu pandang bingung antara sang Grand Duke dan Marielle. Dengan nafas tersendat, i
“Mengapa Anda membawa saya kesini?” Mata perak Marielle bergetar hebat. Pandangannya berganti-ganti antara sosok Talia di luar jendela dan raut wajah Aldric yang duduk kaku di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang, diselimuti campuran rasa tidak percaya dan kecemasan yang membuncah.Aldric tidak langsung menjawab. Pria itu menghembuskan nafas panjang, mencoba membuang sisa gengsi yang masih tersisa di dadanya sebelum menatap Marielle lurus-lurus."Aku menemuinya pagi tadi di pemakaman," ujar Aldric dengan suaranya yang berat dan tenang. "Talia... dan ayahnya. Kehidupan mereka hancur setelah Enzo dieksekusi. Mereka kehilangan tulang punggung keluarga, dikucilkan warga, dan terpaksa tinggal di gubuk reot karena tuduhan pengkhianat yang ditempelkan pada nama Enzo."Marielle membeku. Jemari tangannya yang berada di atas pangkuan seketika mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah yang mendalam menghantam dadanya. Ia langsung melihat Aldric lekat-lekat."Dan h
“Tunggu aku disini. Aku akan segera keluar,” perintah Aldric pada bawahannya yang baru saja sampai di depan rumah Marielle.Beberapa jam sebelum tiba kembali di rumah sederhana ini, Aldric sebenarnya sempat memacu kudanya pulang ke Kediaman Valerante. Tanpa memperdulikan tatapan heran dari Jackson dan para prajuritnya, pria itu langsung mengumpulkan para pengawal untuk menyiapkan sebuah kereta kuda paling nyaman yang dimiliki kastil, lengkap dengan tirai tebal dan empat ekor kuda terbaik.Begitu kereta siap dan diperintahkan menyusul ke pinggir desa, Aldric memacu kudanya lebih dulu demi menuntaskan niatnya.Setibanya di rumah kayu, Aldric langsung mencari keberadaan wanita itu. “Dimana Marielle? Aku ada urusan dengannya.” Aldric berjalan menuju belakang dimana ada Diana yang tengah membersihkan ruangan.Namun Diana yang berada di dapur hanya bisa berbisik cemas, "Lady Marielle ada di dalam kamarnya, Grand Duke. Beliau berpesan tidak ingin diganggu oleh siapapun..."Tentu saja Aldr
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m







