Share

Tolong Dengarkan Aku

Author: nababy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-06 11:40:49

“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.

Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtore, Grand Duke Aldric.

“Aku harus bertemu dengan ratu secepat mungkin, aku harus mendekatinya,” ucap Marielle dalam hati. Dia berdiri tegak melihat dari jendela terbuka.

“Aku harus melakukannya.” Marielle melenggang pergi tanpa memperhatikan Diana yang sudah kalang kabut berusaha menghentikannya.

“Lady, tunggu!” teriaknya kencang. Mau tidak mau, dia harus mengikuti Marielle.

Marielle berjalan mantap melewati lorong, menuruni tangga menuju taman depan yang biasa Ratu kunjungi. Sorot matanya memperlihatkan tekad untuk mengakhiri penderitaan Marielle asli dalam novel yang tengah ia jalani sekarang.

Dua orang yang tengah berbincang di paviliun terbuka tengah taman melihatnya datang, seketika hatinya tampak ragu saat melihat pandangan Ratu yang begitu tajam.

Marielle menghela nafas sejenak, mengumpulkan keberanian untuk menyapa pada kedua tokoh utama, yaitu Ratu dan Grand Duke.

“Selamat pagi Ratu Elira, selamat pagi Duke Aldric,” sapa Marielle penuh kesopanan. Ia memberi salam seperti tata krama yang telah ia pelajari.

Wajah Elira mendadak berubah. Dahinya berkerut dan alisnya menurun tajam, ditambah tatapan dingin langsung terlihat saat selir kesayangan Raja datang menyapanya.

“Bukankah kita sudah membuat kesepakatan untuk tidak saling bertemu?” Nada bicara Elira datar dan dingin, tapi menusuk persis seperti tatapannya.

Hatinya tersentak, dia mundur selangkah karena kegugupan mulai menjalar perlahan di tubuhnya. Namun wanita itu berusaha bersikap biasa. Berjalan lebih dekat agar membuat suasana lebih mencair.

“Ratu, saya hanya ingin menyapa anda karena sudah lama sekali kita tidak saling menyapa,” ucapnya pelan, hati-hati agar emosi Elira tak makin tinggi.

Tidak sesuai harapan, alih-alih mendapat kebaikan, Ratu Elira makin menunjukkan ketidaksukaannya pada Marielle.

“Apa kau akan pamer karena semalam sudah menghabiskan waktu dengan Raja dihadapanku?!” Suaranya makin tinggi. Elira menggenggam cangkir teh makin kuat hingga sedikit bergetar.

Marielle meneguk ludah, takut. Bukan seperti ini yang diharapkannya.

“Ratu, bukan seperti itu. Sungguh saya datang kesini hanya ingin menyapa Ratu. Saya tidak bermaksud lain,” ujar Marielle panik.

“Lagipula semalam tidak terjadi apa-apa antara saya dengan Raja, saya berani bersumpah.” Marielle langsung membuat tanda peace dengan kedua jarinya.

Elira menggertakkan gigi, dia langsung berdiri menghampiri Marielle.

“Berhenti menggangguku. Dan aku tidak peduli kau berbuat apa dengan Raja semalam.” Ucapan itu lirih, tapi penuh penekanan dan rasa kebencian.

Dia terdiam, menyadari kebencian Ratu pada sosok Marielle begitu besar. Tubuhnya terlalu gugup, membuat suara tercekat di kerongkongan.

Elira memanggil para dayangnya untuk pergi dari sana, menyisakan Marielle dan Duke Aldric saja.

Marielle terduduk lemas, tekanan yang diberikan sang Ratu padanya begitu kuat hingga ia tak bisa berbuat apa-apa.

“Harusnya aku bukan begini….” gumamnya lemah tertunduk.

“Ratu sangat benci jika seseorang mengganggu paginya. Tapi Lady malah berani menampakan diri saat baru selesai menikmati malam dengan Raja.” Suara Aldric terdengar mengejek.

Marielle mendongak, sorot matanya tajam pada pria itu. Duke yang menyadarinya berjalan pelan, lalu berlutut di depan Marielle yang terduduk.

“Sudah kubilang, fokus saja pada Raja, dengan begitu anda bisa aman di istana,” bisiknya pelan, tapi penuh kengerian.

Dirinya tertegun, ucapan Aldric terdengar benar—jika untuk sekarang hanya Raja yang mampu melindungi Marielle. Aldric kembali berdiri, lalu berjalan pergi.

“Aku harus meminta bantuan Raja untuk bicara dengan Ratu,” gumamnya pelan.

Dia tenang, dan mencoba mengikuti alur. Karena yang ia hadapi sekarang adalah manusia-manusia berkuasa.

“Lady tidak apa-apa?” Diana berlari menuju Marielle dan membantunya berdiri.

“Aku tidak apa-apa. Bisa kau bawa aku ke Raja?” tanyanya tegas.

Diana kaget mendengar permintaan aneh itu. Karena baru pertama kali ini Marielle meminta padanya untuk bertemu dengan Raja. Karena selama ini Diana tau, jika majikannya hanya bisa menunggu Raja dari dalam kamar saja.

“Tapi Lady, apa anda serius? Anda baru saja bertemu dengan Yang Mulia Ratu, lalu anda ingin bertemu dengan Raja?” Diana masih merasa bingung dengan sikap Marielle hari ini.

“Sudah diam. Jika kau ingin selamat, ikuti ucapanku!” Kata Sarah telak.

Dengan berat hati, Diana mengangguk lalu mengantarkan Marielle menuju ruang kerja Raja Cassian. Selama perjalanan, wajah Diana begitu penuh tekanan.

Mereka sampai di depan ruang kerja Raja, Marielle meminta pada penjaga untuk membukakan pintu. Dengan patuh penjaga itu membuka pintu sambil berucap, “Lady Marielle datang berkunjung.”

Sebelum masuk, dirinya menghembuskan nafas sekali, berusaha membuang sisa-sisa beban dan keraguan dalam hatinya. Langkah tegas ia ambil saat memasuki ruangan Raja. Ruangan penuh dengan berkas dan buku dimana-mana. Viscount Rowan yang berdiri disamping Cassian langsung menunduk memberi hormat.

“Marielle, ada apa kau datang kemari?” Cassian berdiri dari kursinya dan menghampiri selir tercinta.

“Yang Mulia, maaf saya mengganggu pekerjaan anda,” balasnya membungkuk memberi hormat.

“Tidak apa-apa,” ucap Cassian pelan, membawanya untuk duduk di sofa panjang, tengah ruangan.

Cassian menggenggam tangan Marielle erat, namun lembut. Wajahnya terlihat senang saat melihat wanitanya datang berkunjung.

“Apa yang membawamu kemari kelinci kecilku?” tanyanya penuh senyum.

Marielle yang mendengar kata “kelinci kecil” langsung merasa mual. Mengingat panggilan itu terdengar sangat kuno dan norak. Tapi dia berusaha bersikap layaknya istri yang normal.

Ia membalas genggaman Cassian. Wajahnya mendongak, suaranya lembut meminta.

“Yang Mulia, bisakah kita makan malam bersama Ratu Elira?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Makan Malam

    “Makan malam bersama Anda?” Marielle menatap Aldric dengan alis terpaut tipis. Di bawah temaram cahaya senja, raut wajah sang Grand Duke tampak begitu serius meski semburat merah tipis di ujung telinganya masih enggan menghilang sepenuhnya.​Marielle mendengus pelan, mengeratkan pegangannya pada tumpukan berkas di pelukannya agar tidak merosot. "Membahas logistik saat makan malam? Anda sungguh tidak mengenal kata istirahat, Yang Mulia."​"Ini demi efisiensi waktu, Marielle," sahut Aldric cepat, berusaha memoles nada suaranya agar kembali terdengar dingin, berwibawa, dan profesional. "Count Vance akan mulai menyusun angka pastinya nanti malam. Semakin cepat kita mematangkan alur distribusi logistik, semakin cepat proyek ini bisa berjalan tanpa hambatan birokrasi."​Marielle memperhatikan gestur tubuh Aldric dengan saksama. Pria tegap itu berdiri agak kaku di depannya, menatapnya lurus-lurus seolah-olah jawaban 'tidak' dari Marielle akan merusak seluruh skema besar rekonstruksi wilay

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rasa Canggung Dan Khawatir

    ​"Siapa juga yang minta ditolong oleh Anda, Grand Duke?" balas Marielle dengan nada tak kalah sengit, walau jarinya masih sedikit gemetar saat melempar bola kain itu pelan ke arah anak-anak pengungsi.​Anak-anak itu dengan cepat memungut bolanya dan berlari menjauh seraya membungkuk takut. Marielle lalu membalikkan badan, berjalan mendahului Aldric tanpa memandangnya sedikit pun. Ia segera menyusul Count Vance dan perwira militer yang berpura-pura sibuk memeriksa peta tanah demi mencairkan atmosfer yang sempat membeku.​"Mari kita lanjutkan surveinya," cetus Marielle, berusaha tampil seprofesional mungkin.​Selama dua jam berikutnya, mereka bertiga membedah seluruh area pengungsian secara menyeluruh. Hasil survei langsung di lapangan membuka banyak fakta penting yang tak tercatat di dalam lembaran audit lama milik Vane. Marielle mencatat dengan cermat bahwa dari total lima puluh tenda darurat di Sektor Tiga, masih ada tiga puluh dua kepala keluarga yang menanti kepastian hunian perma

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Debaran Di Dada

    “Saya tahu kok kalau jalannya tidak rata,” balas Marielle dingin.Marielle langsung kembali fokus mengobrol dengan Count Vance, itu membuat Aldric makin kesal.Kereta kuda mewah yang membawa rombongan sang Grand Duke akhirnya melambat dan berhenti di area terbuka. Begitu pintu kereta dibuka, hawa dingin bercampur aroma tanah basah dan asap kayu bakar langsung menyapa indra penciuman mereka. Tempat pengungsian Sektor Tiga itu membentang cukup luas, diisi oleh deretan tenda-tenda kain tebal berwarna abu-abu yang tampak amat sederhana.​Seorang perwira militer berbadan tegap dengan jubah bertambal simbol wilayah Valerante bergegas melangkah mendekat. Di belakangnya, beberapa prajurit mengikuti dengan langkah kaku namun penuh kedisiplinan.​"Selamat datang di Kamp Sektor Tiga, Yang Mulia Grand Duke, Count Vance, dan Lady Marielle!" sapa perwira itu seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam, memberikan penghormatan tertinggi militer.​Aldric mengangguk tipis, gestur tegas seorang pemimpin

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Tanpa Sadar Cemburu

    “Selamat pagi juga, untuk pahlawan Minerva, Lady Marielle,” sapa Count Vance ramah.Pria paruh baya itu mengukir senyum tipis yang ditujukan pada Marielle. Sedangkan​Marielle mengerjapkan matanya sekilas, berusaha menguasai raut wajahnya yang sempat terkejut. Pahlawan Minerva? Julukan itu terasa agak berlebihan, namun mendengar kata-kata tersebut keluar langsung dari mulut seorang diplomat ulung sekelas Count Vance membuat situasi di ruangan itu makin terasa bobot politiknya.​Marielle membungkukkan tubuhnya sedikit, memberi penghormatan formal yang sangat anggun. "Selamat pagi, Count Vance. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda di sini."​Count Vance kembali menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan. Matanya yang tajam meneliti sosok Marielle dari kepala hingga ujung kaki, seperti seorang veteran politik yang sedang menilai kawan bertarungnya.​"Kehormatan ini milik saya, Lady Marielle," balas Count Vance seraya melangkah semakin mendekat ke meja kerja. "Saat Yang M

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kembalinya Count Vance

    ​”Pagi Lady Marielle… apakah tidur Anda nyenyak?” Suara Diana membuyarkan lamunannya saat baru saja bangun tidur.“Ya. Aku sangat tidur dengan nyenyak. Aku sudah lama tidak tidur di ranjang yang sangat empuk ini.” Marielle mengelus ranjang tersebut karena sangat empuk dan halus. Diana hanya bisa tersenyum sambil menyiapkan baju yang akan dikenakan Marielle hari ini.“Mari saya bantu untuk Lady,” tawar gadis itu.Akhirnya Marielle turun dari ranjang menuju kamar mandi. Pagi hari ini, sinar matahari hangat menembus tirai tipis Paviliun Barat, membiaskan cahaya di atas meja makan yang dipenuhi hidangan sarapan segar. Setelah Marielle selesai bersiap, ia duduk menimang cangkir tehnya, menikmati keheningan pagi sebelum kesibukan rekonstruksi dimulai.​Di sudut ruangan, Tristan, ksatria muda berambut cokelat yang ditunjuk Aldric sebagai pengawal pribadinya berdiri tegak. Matanya yang polos dan jujur sesekali melirik ke arah Marielle dengan binar kagum yang amat sulit ia sembunyikan.​"Lad

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Terbongkarnya Kebusukan

    ​"Tuan Vane," panggil Aldric dengan suara yang dalam, namun sanggup menggetarkan lantai batu di bawah kaki mereka. "Apakah yang dikatakan Lady Marielle itu benar?"​Keheningan di ruang rapat utama Kastil Valtore mendadak berubah menjadi atmosfer mencekam yang membekukan darah. Suasana memanas setelah Marielle membongkar habis catatan audit keuangan internal.​Aldric, yang sejak tadi berdiri menahan diri di samping meja, melangkah maju dua titik. Tatapan matanya yang semula dipenuhi rasa takjub pada Marielle seketika berganti menjadi kilatan amarah yang amat dingin dan mematikan. Rahangnya mengeras kaku, dan aura menekan khas seorang penguasa perang menguar hebat dari tubuhnya.​Pria itu menatap tajam ke arah Pejabat Keuangan yang kini gemetar hebat di sudut meja.​Vane mendadak kehilangan kemampuannya untuk bernapas secara normal. Wajahnya yang pucat pasi kini dibasahi keringat dingin. "Yang Mulia Grand Duke... ini... ini hanya kesalahpahaman dalam pencatatan laporan logistik…" jawab

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Insiden Perburuan

    “Dengan ini, festival berburu kerajaan tahun ini resmi dimulai!” Suara Cassian menggema di lapangan utama istana saat pidato pembukaan festival berburu yang akan diadakan tahun ini.Sorak para bangsawan dan tepuk tangan memenuhi udara pagi yang cerah itu. Panji-panji kerajaan berkibar, k

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kedua Hati Yang Terpatri

    “Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hasrat Terpendam

    “Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Ingatan Masa Lalu

    “Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status