LOGIN“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat dengan raut wajah penuh harap. “Yang Mulia, saya sudah lama tidak makan bersama kakak, bisakah anda mengabulkan permintaan saya satu ini?” Suara Marielle terdengar lirih. Pipinya sedikit menggembung, bibirnya dimajukan seolah merajuk. Cassian benar-benar lemah dengan ekspresi seperti ini, dia berpikir sejenak, menghembuskan nafas berat. “Hah… baiklah, aku akan mengaturnya,” jawab Cassian penuh paksaan. Melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan, membuat dirinya tak berdaya untuk menolak. Senyumnya merekah, akhirnya ia mendapatkan kesempatan sekali lagi bertemu dengan Ratu. “Terima kasih Yang Mulia,” ucapnya sambil menggelayuti lengan Cassian manja. Cassian tersenyum, tangannya mengusap kepala Marielle pelan. “Baiklah Yang Mulia, saya pamit. Anda pasti banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” Tiba-tiba Marielle mundur saat merasakan Wajah Marielle merekah setelah setelah keluar ruangan. Diana masih menunggu, wajahnya curiga melihat kegembiraan pada Marielle. “Diana, ayo kita memilih gaun yang bagus untuk dipakai malam ini,” ucap Marielle senang, kaki-kaki kecilnya berjalan melompat-lompat kecil sepanjang lorong istana. “Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus mengambil hati Ratu Elira malam ini,” batinnya. Tangannya tergenggam erat di depan dada. *** Marielle menghembuskan nafas sejenak sebelum masuk ruang makan yang sudah ada Raja dan Ratu di dalam. Ia sengaja datang terlambat, agar Ratu merasa nyaman terlebih dulu. Pintu terbuka, Marielle melangkah sedikit gugup membayangkan ekspresi apa yang akan Ratu berikan padanya. “Selamat malam Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu. Maaf saya terlambat,” Marielle membungkuk memberi hormat. “Sangat tidak profesional, kau yang meminta makan makan malam bersama tapi kamu juga yang telat,” ucapan Elira datar, tapi sangat menusuk. Hatinya tersentak sedikit, namun mencoba tegar. “Maafkan saya Ratu.” Marielle tertunduk, tekanan yang diberikan Ratu membuatnya gugup. “Elira, jangan seperti itu. Marielle, ayo duduk dan makan bersama,” ucap Cassian menengahi. Marielle mengangguk dan duduk perlahan, pandangannya sejenak melihat Elira yang tengah sibuk memotong daging di piringnya. Suasana terasa sangat canggung, ketiganya tak ada yang bicara, hanya suara denting piring mengisi seluruh ruangan. “Aku sudah selesai,” ujar Elira, ia meletakkan garpu dan pisaunya di piring. Tangannya mengusap area sekitar bibirnya lalu berdiri bersiap untuk pergi. “Ratu, tunggu!” Marielle berdiri, mencoba menghadang Elira untuk pergi. Elira melihat Marielle kesal, beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan mulai terlihat tegang. “Bisakah Anda tidak pergi dulu? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Ratu.” Wajah Marielle memelas, membuat Elira makin tak nyaman berada di sana. Elira berbalik, menatap Marielle tajam. “Bukankah tadi pagi kamu sudah bicara denganku? Kenapa hari ini kau terus menggangguku?!” Bentak Elira keras, semua orang di ruangan itu tertunduk tak terkecuali Raja Cassian. Pria itu menghela nafas, menatap pada permaisuri. “Bisakah kau menurunkan suaramu?” Suaranya datar, tapi penuh penekanan. Pandangan Elira beralih pada Cassian, tatapan benci yang terlihat jelas membuat tak ada yang berani menyela di antara keduanya. “Kau selalu saja membela selingkuhanmu. Tapi tidak apa-apa, karena aku tidak peduli dengan semua itu,” balas Elira pelan, tapi dalam suaranya terdapat rasa sakit yang tak terucap. “Jangan memulai pertengkaran yang tidak perlu. Marielle hanya ingin makan malam denganmu, tidak bisakah kau menuruti permintaannya sekali saja?” Suara Cassian makin tinggi, membuat ketegangan makin terasa. Elira menghembuskan nafas kasar. Ia sampai tak bisa berkata-kata. Beberapa bulir air mata menggenang di sudut matanya. “Menuruti permintaan dia?” Elira menunjuk Marielle yang membisu. “Siapa dia? Dia hanyalah seorang Selir, dan aku adalah seorang Ratu! Aku lebih berkuasa dibanding dia!” Teriakan Elira mengisi ke penjuru ruangan. Semua pelayan tertunduk, tak ada yang berani mengangkat kepala. Amarah Cassian dan Elira tak lagi tertahan. Raja menghampiri Elira, langkahnya tegas. “Berhenti membuat kekacauan dalam istanaku,” ucap Cassian pelan, tapi wajahnya menunjukkan sebuah amarah yang sangat jelas. “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menuruti permintaan wanita yang menjadi selingkuhanmu,” balas Elira tak gentar. Rahangnya mengeras, sekuat tenaga ia menahan air mata yang terus menumpuk, membuat matanya berkaca-kaca. “Elira!” Bentak Cassian keras. Semua terperanjat. Ronald sebagai kepala pelayan berjalan ke sisi mereka, mencoba menengahi. “Yang Mulia, sebaiknya sebaiknya Anda sudahi, tidak baik karena banyak orang melihat,” ucap Ronald membungkuk meminta pengertian. “Wanita satu ini harus diberitahu agar tidak berbuat semena-mena pada Marielle,” teriak Cassian pada Ronald sambil menunjuk-nunjuk Elira tepat di depannya. Ronald mengangguk, sekali lagi ia memberi saran, “Sebaiknya dibicarakan di tempat lain saja,” ucap Ronald begitu tenang. Satu tetes air mata Elira lolos dari pelupuk, giginya mengerat kuat. Ia merasa malu dibentak oleh suaminya sendiri di hadapan banyak orang. Ia melihat Marielle sekilas dengan ekor mata, berbalik, bergegas pergi. “Lihat, Wanita itu memang tidak punya sopan santun! Saat suaminya sedang bicara dengannya, dia malah pergi begitu saja!” Teriak Cassian keras, sengaja agar Elira mendengarnya. Marielle masih terdiam, bukan seperti ini yang ia inginkan. Pandangannya berpaling, melihat para pelayan yang mulai berbisik satu sama lain. “Harusnya tidak seperti ini,” gumamnya lirih. Ia tertunduk, meremas gaun dengan kedua tangan. Ia samar-samar mendengar bagaimana ucapan para pelayan menggunjing dirinya. “Yang Mulia, sebenarnya saya bukanlah Marielle…” belum sempat menuntaskan kalimatnya, Marielle tiba-tiba terjatuh ke lantai. Mendadak dadanya terasa sangat sesak hingga nafasnya menjadi sulit. “Marielle!” Cassian berlari, menarik tubuh Marielle yang tergeletak di lantai dalam pelukan. Matanya perlahan meredup, rasa dingin perlahan merambat ke seluruh tubuh. Sensasi ini sama persis saat ia mati tertembak dulu. “Kenapa rasanya sangat sakit? Rasanya jantungku akan meledak,” batinnya sebelum kesadarannya menghilang.“Lady Marielle! Ada kereta datang lagi!” Suara Diana terdengar panik dari depan rumah.Marielle yang sedang menyusun bunga di meja dapur langsung menoleh cepat.“Apa?” Marielle langsung mengangkat gaunnya agar langkahnya lebih cepat.Sementara Diana buru-buru membuka pintu lebih lebar.“Keretanya besar… dan…” Kalimatnya terputus saat suara langkah kaki terdengar dari luar.Marielle segera berjalan menuju teras. Begitu sampai di depan, matanya langsung membesar. Di halaman rumah kecil itu telah berdiri dua pria yang sama-sama familiar.Aldric, sang Grand Duke Valerante dan di sampingnya, Jackson, pria yang selalu mengikuti Grand Duke kemanapun.Angin sore berhembus pelan melewati halaman. Suasana langsung berubah tegang.Dari arah samping rumah, Claude refleks memegang gagang pedangnya. Tatapannya penuh kewaspadaan.“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Claude dingin.Aldric hanya melirik sekilas. “Aku datang bukan untuk bertarung,” jawabnya malas.“Sulit dipercaya dari orang yang berk
“Hari ini Yang Mulia Raja dan Ratu akan kembali ke ibu kota!” Suara seorang laki-laki menggelegar ke seluruh jalanan yang akan dilewati iringan keluarga istana hari ini. Kabar itu langsung menyebar cepat sejak pagi di seluruh wilayah Valerante.Sedangkan di kediaman Count Virel, para pelayan sibuk mondar-mandir menyiapkan keberangkatan kerajaan. Para ksatria mulai berjajar di halaman kediaman keluarga Virel. Dan kereta kerajaan sudah berdiri megah di depan mansion utama sejak matahari baru naik.Di dalam aula besar kediaman Gerald Virel, suasana terasa jauh lebih formal dibanding hari-hari sebelumnya. Cassian berdiri dengan jubah hitam kerajaan sambil mengenakan sarung tangan kulitnya perlahan.Di sampingnya, Elira terlihat anggun dalam gaun biru gelap dengan wajah tenang seperti biasa. Gerald tersenyum tipis sambil membungkuk hormat.“Saya merasa terhormat karena Yang Mulia bersedia tinggal beberapa hari di kediaman kami.”Cassian mengangguk kecil.“Kami juga berterima kasih atas sam
“Lady Marielle datang untuk membicarakan sesuatu yang penting dengan Anda. Dia berada di aula depan sekarang.”Tanpa menunggu lebih lama, Aldric langsung melangkah cepat keluar dari ruang kerjanya.Bahkan Jackson sampai sedikit terkejut melihat tuannya bergerak secepat itu.Lorong kediaman Valtore terasa sunyi saat langkah Aldric menggema di lantai marmer.Dan sesampainya di aula depan ia langsung melihat sosok wanita berambut perak itu berdiri di dekat jendela besar. Disampingnya berdiri Claude dengan wajah waspada.Begitu melihat Aldric datang, Claude refleks menegang. Sedangkan Marielle perlahan membalikkan tubuhnya.“Ada apa sampai kau datang sendiri kemari?” tanya Aldric dingin.Marielle tidak langsung menjawab. Ia membungkuk sejenak untuk memberi hormat.“Maaf telah mengganggu hari Anda Grand Duke,” ucapnya pelan.Wanita itu kembali tegak. Tatapannya sempat melirik Jackson dan Claude bergantian sebelum akhirnya kembali pada Aldric.“Aku ingin bicara empat mata denganmu,” ujarnya
“Grand Duke, beberapa kepala keluarga yang mendukung kita terus mendesak agar kita segera melakukan kudeta,” ucap Jackson saat hari dimana Aldric terus memikirkan cara untuk menjaga koalisi mereka tetap utuh.Ini sudah hampir seminggu Raja dan Ratu tinggal di Valerante. Dan besok lusa mereka akan kembali menuju ibu kota.“Mereka terus memaksa kita untuk melakukan penyerangan saat Raja masih dalam wilayah kekuasaan Anda. Apa yang akan Anda lakukan, Grand Duke?”“Aku tahu.” Aldric menjawab pendek sambil tetap menatap tumpukan dokumen di meja kerjanya.Namun dari caranya mencengkram pena, terlihat jelas pikirannya sedang kacau. Di hadapannya, Jackson berdiri dengan wajah serius.“Tekanan mereka setiap hari semakin besar, Grand Duke. Apalagi ditambah saat kabar Raja akan segera kembali ke ibu kota.” Ucapan Jackson makin membuat kepala Aldric penuh.Dirinya saja belum bisa mengambil hati Elira. Jika dia melakukan penyerangan dalam waktu dekat pasti Marielle langsung mengetahui siapa dalang
“Grand Duke sudah kehilangan akalnya karena seorang wanita.” Kalimat itu keluar pelan dari bibir Leopold Archeon saat kereta kudanya melewati gerbang perbatasan Kerajaan Minerva menuju Kekaisaran Eldora.Angin dingin malam menerpa jubah tebal pria tua itu. Wajahnya tampak muram sejak meninggalkan kediaman Aldric beberapa jam lalu. Di dalam pikirannya hanya ada satu hal yaitu rencana pemberontakan mereka yang mulai hancur.Dan penyebabnya adalah seorang wanita bernama Marielle. Perjalanan menuju Eldora memakan waktu hingga pagi datang.Sesampainya di ibu kota kekaisaran, Leopold langsung disambut hangat oleh kepala pelayan istana.“Selamat datang di Istana kebesaran Eldora.” Kepala pelayan itu menunduk hormat.Sedangkan Leopold berdiri tegak seolah menunjukkan kedudukan dan kewibawaannya.“Pangeran Heinry sudah menunggu Anda. Mari saya antar menuju tempatnya.” Kepala pelayan itu langsung membawa Leopold menuju ruang tamu istana Eldora tanpa banyak pemeriksaan. Karena namanya sudah dike
“Apa urusannya denganku? Seharusnya kau bisa mendidik anakmu supaya selalu menuruti omonganmu!” Seorang kepala keluarga menolak mentah-mentah.Penolakan itu langsung diikuti beberapa lainnya hingga pertemuan malam hari itu sedikit rusuh dan berakhir buruk.Beberapa kepala keluarga keluar dari ruang kerja Grand Duke dengan wajah marah.“Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi! Jika Grand Duke takut berperang, kami bisa bergerak sendiri!” Ucapan itu membuat para ksatria Valtore yang berada di ruangan itu langsung menegang.Satu persatu kepala keluarga keluar hingga menyisakan Gerald dan Leonard saja. Aldric menghela nafas panjang, dia langsung berjalan menuju jendela.Aldric hanya berdiri diam di depan jendela besar cukup lama. Pandangannya tertuju pada kereta kuda yang mulai berjalan pergi.Damien mendekat perlahan. Dia adalah panglima tertinggi dari pasukan yang Aldric miliki.“Mereka mulai tidak percaya pada Anda.”“Aku tahu.”Damien menghela nafas panjang.“Saya takut koalisi yang A







