Share

Di Luar Rencana

Author: nababy
last update publish date: 2026-01-07 23:06:03

“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.

Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat dengan raut wajah penuh harap.

“Yang Mulia, saya sudah lama tidak makan bersama kakak, bisakah anda mengabulkan permintaan saya satu ini?” Suara Marielle terdengar lirih. Pipinya sedikit menggembung, bibirnya dimajukan seolah merajuk.

Cassian benar-benar lemah dengan ekspresi seperti ini, dia berpikir sejenak, menghembuskan nafas berat.

“Hah… baiklah, aku akan mengaturnya,” jawab Cassian penuh paksaan. Melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan, membuat dirinya tak berdaya untuk menolak.

Senyumnya merekah, akhirnya ia mendapatkan kesempatan sekali lagi bertemu dengan Ratu.

“Terima kasih Yang Mulia,” ucapnya sambil menggelayuti lengan Cassian manja.

Cassian tersenyum, tangannya mengusap kepala Marielle pelan.

“Baiklah Yang Mulia, saya pamit. Anda pasti banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” Tiba-tiba Marielle mundur saat merasakan

Wajah Marielle merekah setelah setelah keluar ruangan. Diana masih menunggu, wajahnya curiga melihat kegembiraan pada Marielle.

“Diana, ayo kita memilih gaun yang bagus untuk dipakai malam ini,” ucap Marielle senang, kaki-kaki kecilnya berjalan melompat-lompat kecil sepanjang lorong istana.

“Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus mengambil hati Ratu Elira malam ini,” batinnya. Tangannya tergenggam erat di depan dada.

***

Marielle menghembuskan nafas sejenak sebelum masuk ruang makan yang sudah ada Raja dan Ratu di dalam. Ia sengaja datang terlambat, agar Ratu merasa nyaman terlebih dulu. Pintu terbuka, Marielle melangkah sedikit gugup membayangkan ekspresi apa yang akan Ratu berikan padanya.

“Selamat malam Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu. Maaf saya terlambat,” Marielle membungkuk memberi hormat.

“Sangat tidak profesional, kau yang meminta makan makan malam bersama tapi kamu juga yang telat,” ucapan Elira datar, tapi sangat menusuk.

Hatinya tersentak sedikit, namun mencoba tegar.

“Maafkan saya Ratu.” Marielle tertunduk, tekanan yang diberikan Ratu membuatnya gugup.

“Elira, jangan seperti itu. Marielle, ayo duduk dan makan bersama,” ucap Cassian menengahi.

Marielle mengangguk dan duduk perlahan, pandangannya sejenak melihat Elira yang tengah sibuk memotong daging di piringnya.

Suasana terasa sangat canggung, ketiganya tak ada yang bicara, hanya suara denting piring mengisi seluruh ruangan.

“Aku sudah selesai,” ujar Elira, ia meletakkan garpu dan pisaunya di piring. Tangannya mengusap area sekitar bibirnya lalu berdiri bersiap untuk pergi.

“Ratu, tunggu!” Marielle berdiri, mencoba menghadang Elira untuk pergi.

Elira melihat Marielle kesal, beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan mulai terlihat tegang.

“Bisakah Anda tidak pergi dulu? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Ratu.” Wajah Marielle memelas, membuat Elira makin tak nyaman berada di sana.

Elira berbalik, menatap Marielle tajam. “Bukankah tadi pagi kamu sudah bicara denganku? Kenapa hari ini kau terus menggangguku?!” Bentak Elira keras, semua orang di ruangan itu tertunduk tak terkecuali Raja Cassian.

Pria itu menghela nafas, menatap pada permaisuri. “Bisakah kau menurunkan suaramu?” Suaranya datar, tapi penuh penekanan.

Pandangan Elira beralih pada Cassian, tatapan benci yang terlihat jelas membuat tak ada yang berani menyela di antara keduanya.

“Kau selalu saja membela selingkuhanmu. Tapi tidak apa-apa, karena aku tidak peduli dengan semua itu,” balas Elira pelan, tapi dalam suaranya terdapat rasa sakit yang tak terucap.

“Jangan memulai pertengkaran yang tidak perlu. Marielle hanya ingin makan malam denganmu, tidak bisakah kau menuruti permintaannya sekali saja?” Suara Cassian makin tinggi, membuat ketegangan makin terasa.

Elira menghembuskan nafas kasar. Ia sampai tak bisa berkata-kata. Beberapa bulir air mata menggenang di sudut matanya.

“Menuruti permintaan dia?” Elira menunjuk Marielle yang membisu. “Siapa dia? Dia hanyalah seorang Selir, dan aku adalah seorang Ratu! Aku lebih berkuasa dibanding dia!” Teriakan Elira mengisi ke penjuru ruangan. Semua pelayan tertunduk, tak ada yang berani mengangkat kepala.

Amarah Cassian dan Elira tak lagi tertahan. Raja menghampiri Elira, langkahnya tegas.

“Berhenti membuat kekacauan dalam istanaku,” ucap Cassian pelan, tapi wajahnya menunjukkan sebuah amarah yang sangat jelas.

“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menuruti permintaan wanita yang menjadi selingkuhanmu,” balas Elira tak gentar. Rahangnya mengeras, sekuat tenaga ia menahan air mata yang terus menumpuk, membuat matanya berkaca-kaca.

“Elira!” Bentak Cassian keras. Semua terperanjat. Ronald sebagai kepala pelayan berjalan ke sisi mereka, mencoba menengahi.

“Yang Mulia, sebaiknya sebaiknya Anda sudahi, tidak baik karena banyak orang melihat,” ucap Ronald membungkuk meminta pengertian.

“Wanita satu ini harus diberitahu agar tidak berbuat semena-mena pada Marielle,” teriak Cassian pada Ronald sambil menunjuk-nunjuk Elira tepat di depannya.

Ronald mengangguk, sekali lagi ia memberi saran, “Sebaiknya dibicarakan di tempat lain saja,” ucap Ronald begitu tenang.

Satu tetes air mata Elira lolos dari pelupuk, giginya mengerat kuat. Ia merasa malu dibentak oleh suaminya sendiri di hadapan banyak orang. Ia melihat Marielle sekilas dengan ekor mata, berbalik, bergegas pergi.

“Lihat, Wanita itu memang tidak punya sopan santun! Saat suaminya sedang bicara dengannya, dia malah pergi begitu saja!” Teriak Cassian keras, sengaja agar Elira mendengarnya.

Marielle masih terdiam, bukan seperti ini yang ia inginkan. Pandangannya berpaling, melihat para pelayan yang mulai berbisik satu sama lain.

“Harusnya tidak seperti ini,” gumamnya lirih. Ia tertunduk, meremas gaun dengan kedua tangan. Ia samar-samar mendengar bagaimana ucapan para pelayan menggunjing dirinya.

“Yang Mulia, sebenarnya saya bukanlah Marielle…” belum sempat menuntaskan kalimatnya, Marielle tiba-tiba terjatuh ke lantai. Mendadak dadanya terasa sangat sesak hingga nafasnya menjadi sulit.

“Marielle!” Cassian berlari, menarik tubuh Marielle yang tergeletak di lantai dalam pelukan.

Matanya perlahan meredup, rasa dingin perlahan merambat ke seluruh tubuh. Sensasi ini sama persis saat ia mati tertembak dulu.

“Kenapa rasanya sangat sakit? Rasanya jantungku akan meledak,” batinnya sebelum kesadarannya menghilang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Awal Mula Hubungan Baru

    “Hah! Jika saya bilang tidak pasti Anda akan tetap mengusik saya bukan?” Marielle menghela nafas cukup panjang.“Aku bukan mengusikmu. Aku hanya ingin meminta maaf padamu dan memperbaiki hubungan kita yang sudah rusak parah ini.” Aldric menyilangkan tangan di dada. Wajah angkuhnya perlahan kembali saat Marielle mulai menunjukkan kebaikan hati.Keheningan sore di bawah naungan pohon pinus itu terasa begitu panjang. Angin dingin berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut perak Marielle saat ia menatap pria tegap di hadapannya.​Tatapan keputusasaan masih ada di mata Aldric. Celemek bunga-bunga yang membebat pinggangnya, serta kalimat permohonan yang keluar dari mulut seorang Grand Duke berdarah dingin, semuanya bertubrukan hebat di dalam benak Marielle.​Ia memejamkan matanya sejenak, lagi-lagi menghela nafas panjang untuk menetralkan gemuruh di dadanya.​”Lagipula... aku bukan Marielle yang asli. Dan pria ini memang sudah brengsek dari awal cerita.” batinnya pelan.​Marielle m

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Isi Hati Sang Grand Duke

    “Bicara? Baiklah. Aku sudah menunggumu agar mau bicara denganku.” Aldric meletakkan pisau pemotong sayur yang dipegangnya dengan gerakan terburu-buru.Tanpa melepaskan celemek bunga-bunga yang masih melekat di pinggangnya, pria tinggi tegap itu segera melangkah menyusul Marielle keluar melalui pintu dapur belakang.​Di belakang rumah kayu sederhana itu, terdapat halaman berumput yang dikelilingi oleh pepohonan pinus yang menjulang tinggi. Udara sore yang dingin bertiup lembut, menggoyangkan ujung mantel tipis yang dikenakan Marielle.​Marielle membalikkan badannya dengan cepat begitu mendengar hembusan nafas Aldric di belakangnya. Mata peraknya menatap pria itu lurus-lurus dengan pancaran kekesalan yang sudah mencapai titik didih.​"Sampai kapan Anda ingin berakting konyol seperti ini, Grand Duke?!" semprot Marielle tanpa basa-basi. Tangannya terkepal erat di samping tubuh. "Anda mengabaikan tugas kekaisaran, memaki bawahan Anda sendiri, dan bersikap seolah-olah Anda adalah pelayan d

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Muka Tembok Sang Grand Duke

    “Maaf jika saya lancang, tapi Lady Marielle sangat tidak menginginkan Anda berada disini.” Diana berucap sambil mengangguk.Namun Aldric hanya melipat tangan di dada dengan senyum percaya dirinya. “Lihat saja, beberapa hari lagi aku pasti akan membuat Marielle mau bicara denganku lagi,” ucapnya dengan nada congkak.Keyakinan Aldric itu perlahan sirna, karena sudah hampir tujuh hari penuh, rumah kayu sederhana yang dulu tenang telah berubah menjadi arena pertempuran dingin yang menguras habis sisa-sisa kesabarannya.​Berbagai macam cara sudah ia kerahkan untuk mendapatkan perhatian Marielle kembali, namun selama itu juga Marielle tetap menganggapnya tidak ada.​Tiga hari lalu, Marielle bahkan diam-diam menyuruh Diana menyampaikan pesan mendesak pada Jackson, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Aldric di kediaman Valtore. Marielle berpikir, kehadiran seorang asisten kepercayaan yang membawa kereta resmi dan barisan pengawal kastil akan sanggup menyeret sang Grand Duke pulang secara p

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Aku Belum Menyerah

    ​“Aku hanya ingin minta maaf padamu. Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku, Marielle.” Suara rendah Aldric bergetar pelan, menyisakan keheningan yang teramat pekat di dapur kayu tersebut. Bahkan Diana di sudut ruangan sampai menahan nafasnya rapat-rapat, tak berani membuat pergerakan sekecil apapun.​Marielle yang membelakangi Aldric di atas tangga membeku. Jemari tangannya mencengkram erat pegangan tangga kayu. Kalimat permohonan maaf dari mulut sang Grand Duke Valerante terasa begitu asing, berat, dan tanpa kepalsuan.​Marielle menghembuskan nafas panjang. Perlahan, ia memutar tubuhnya kembali, menatap pria tegap bercelemek bunga-bunga yang masih menundukkan kepalanya di bawah sana.​"Permintaan maaf?" suara Marielle terdengar tipis, namun memotong keheningan dengan tajam. "Apakah menurut Anda sebuah permintaan maaf dan secangkir teh dan roti gosong bisa membayar nyawa Enzo? Apakah permintaan maaf Anda bisa menghapus tahun-tahun penderitaan dan rasa sakit yang saya tanggung

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Maafkan Aku

    ​"I-Iya, Grand Duke?" suara Diana mencicit nyaris tak terdengar. Tubuhnya gemetar hebat saat mata hitam Aldric menghujam tepat ke arahnya.​Aldric menghela nafas panjang, merapikan kerah kemejanya seraya memajukan posisi duduknya. Aura menakutkan yang tadi terpancar perlahan memudar, berganti dengan raut wajah seorang pria panik yang sedang kehabisan akal.​"Duduklah," perintah Aldric, menunjuk kursi di depan meja makan dengan dagunya.​"Saya... saya berdiri saja, Yang Mulia," tolak Diana cepat sambil meremas celemeknya kencang-kencang.​"Aku bilang duduk," ulang Aldric dengan nada yang lebih tegas, meski ada sedikit rasa segan dalam suaranya.​Mau tidak mau, Diana melangkah pelan dengan lutut lemas lalu mendaratkan bokongnya di ujung kursi. Ia menunduk dalam-dalam, tak berani menatap wajah penguasa Valerante tersebut.​"Katakan padaku," Aldric merendahkan suaranya, melirik ke arah tangga lantai dua untuk memastikan Marielle tidak mendengarkan pembicaraan mereka. "Apa yang sebenarnya

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Mencari Tahu

    “Marielle,” panggil Aldric pelan.Namun wanita itu diam. Dia langsung mengambil makanan yang sudah tersedia di meja. Sedangkan Diana hanya menatap keduanya secara bergantian. Ia merasa makan malam ini akan sangat panjang dan menegangkan.Malam makin larut, tetapi ketegangan di meja makan kayu itu justru makin membeku. Hanya denting halus sendok yang beradu dengan mangkuk keramik dan kepul asap sup hangat yang menjadi saksi keheningan mencekam tersebut.​Diana duduk kaku di ujung meja, mengunyah rotinya tanpa bersuara. Matanya bergerak gelisah melirik Marielle dan Aldric secara bergantian. Suasana di antara keduanya tak ubahnya seperti arena perang dingin yang siap meledak kapan saja.​Aldric berdehem pelan, berusaha mencairkan suasana. Pria tegap itu meletakkan sendoknya, lalu menatap Marielle yang masih asyik menyendok sup tanpa berniat mendongak sedikit pun.​"Supnya... lumayan enak," buka Aldric datar, mencoba memulainya dari hal paling sederhana.​Marielle tak berkutik. Jemari ca

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Yang Terbongkar

    “Lady Marielle!” Suara Enzo menggema di antara pepohonan.Ia berlutut di samping wanita itu, satu tangan menopang bahu Marielle, sedangkan tangan yang lain otomatis mencabut pedang dari sarung di pinggang untuk membentuk pertahanan. Tatapannya bergerak liar ke segala arah, mencari bayang

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Insiden Perburuan

    “Dengan ini, festival berburu kerajaan tahun ini resmi dimulai!” Suara Cassian menggema di lapangan utama istana saat pidato pembukaan festival berburu yang akan diadakan tahun ini.Sorak para bangsawan dan tepuk tangan memenuhi udara pagi yang cerah itu. Panji-panji kerajaan berkibar, k

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kedua Hati Yang Terpatri

    “Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hasrat Terpendam

    “Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status