LOGIN“Semenjak kedatangan Grand Duke, suasana rumah ini menjadi suram,” keluh Diana yang masih menatap pintu kamar yang baru saja dimasuki Aldric.Belum sempat Diana beranjak dari tempatnya berdiri, seseorang tiba-tiba masuk. Seorang pria yang tak asing tiba-tiba datang memasuki rumah kayu itu.“Halo… maaf, saya sedang mencari Grand Duke,” ujarnya sambil membungkuk pada Diana.Diana sontak juga langsung membungkuk. Diana kenal dengan pria itu. Siapa lagi jika bukan Tristan, ksatria yang diperintah oleh Aldric untuk mengawasi makanan Marielle saat di istana sebelum kembali kesini.“Grand Duke ya? Dia ada di kamar itu.” Diana menunjuk penuh hati-hati.Tristan langsung berbalik dan segera mengetuk pintu.“Grand Duke, saya Tristan,” ucapnya jelas.Tak ada jawaban. Tristan kembali mengetuk.“Grand Duke… saya Trist…” Kalimatnya mendadak berhenti.Pintu seketika terbuka dan terlihat wajah Grand Duke yang penuh guratan amarah jelas disana.Tristan tiba-tiba mundur dan langsung meneguk ludah. Karen
Keduanya langsung tersentak. Aldric yang mencoba menjelaskan sekali lagi tidak bisa menghentikan Talia yang sudah diambang batas kesabaran.“Tolong mengertilah, ini memang salahku tapi semua ini terjadi karena ulang pangeran Heinry,” jelas Aldric sekali lagi.“Sudah saya bilang keluar kalian berdua dari rumahku!” bentak Talia keras.Marielle yang semula hanya diam, ia bangkit pelan, lalu menunduk pada Lami dan Talia bergantian.“Maafkan kedatangan saya yang membuat hatimu semakin terluka. Kami akan pergi sekarang,” ucap Marielle lembut.Tangannya langsung menarik lengan Aldric dan menariknya keluar. Aldric hanya bisa terdiam sambil mengikuti langkah Marielle dari belakang. Sedangkan Talia langsung menutup pintu keras kala keduanya baru keluar dari rumah kayu sederhana itu.“Marielle, apa yang kamu lakukan?! Aku berusaha membersihkan namamu!” Aldric terlihat kesal karena ditarik kasar oleh wanita itu.“Bisakah kita pergi dari sini terlebih dulu? Ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.
“Saya sangat tidak menyangka jika seorang Grand Duke mau berkunjung ke gubuk kami,” ucap ayah Enzo yang bernama Lami.Sedangkan Marielle masih terdiam di tempatnya. Hawa dingin tiba-tiba menusuk kulit saat dirinya mulai melangkah lebih dekat ke arah gubuk kayu itu. Pandangannya masih terkunci pada Talia. Gadis muda itu menatapnya dengan tatapan berapi-api penuh kebencian dan rasa kehilangan yang mendalam. Marielle hanya bisa diam, menerima tiap anak panah dendam yang dilayangkan lewat mata itu tanpa berusaha membela diri.Aldric melangkah maju satu garis di depan Marielle, memecah ketegangan visual yang nyaris meledak. Ia menundukkan sedikit kepalanya kepada pria tua yang masih membungkuk gemetar di atas tanah."Berdirilah, Pak Tua. Kau tidak perlu berlutut di hadapanku," ujar Aldric, suaranya terdengar lembut namun tetap menyisakan wibawa.Lelaki tua itu perlahan menegakkan tubuhnya yang rapuh, menyapu pandang bingung antara sang Grand Duke dan Marielle. Dengan nafas tersendat, i
“Mengapa Anda membawa saya kesini?” Mata perak Marielle bergetar hebat. Pandangannya berganti-ganti antara sosok Talia di luar jendela dan raut wajah Aldric yang duduk kaku di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang, diselimuti campuran rasa tidak percaya dan kecemasan yang membuncah.Aldric tidak langsung menjawab. Pria itu menghembuskan nafas panjang, mencoba membuang sisa gengsi yang masih tersisa di dadanya sebelum menatap Marielle lurus-lurus."Aku menemuinya pagi tadi di pemakaman," ujar Aldric dengan suaranya yang berat dan tenang. "Talia... dan ayahnya. Kehidupan mereka hancur setelah Enzo dieksekusi. Mereka kehilangan tulang punggung keluarga, dikucilkan warga, dan terpaksa tinggal di gubuk reot karena tuduhan pengkhianat yang ditempelkan pada nama Enzo."Marielle membeku. Jemari tangannya yang berada di atas pangkuan seketika mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah yang mendalam menghantam dadanya. Ia langsung melihat Aldric lekat-lekat."Dan h
“Tunggu aku disini. Aku akan segera keluar,” perintah Aldric pada bawahannya yang baru saja sampai di depan rumah Marielle.Beberapa jam sebelum tiba kembali di rumah sederhana ini, Aldric sebenarnya sempat memacu kudanya pulang ke Kediaman Valerante. Tanpa memperdulikan tatapan heran dari Jackson dan para prajuritnya, pria itu langsung mengumpulkan para pengawal untuk menyiapkan sebuah kereta kuda paling nyaman yang dimiliki kastil, lengkap dengan tirai tebal dan empat ekor kuda terbaik.Begitu kereta siap dan diperintahkan menyusul ke pinggir desa, Aldric memacu kudanya lebih dulu demi menuntaskan niatnya.Setibanya di rumah kayu, Aldric langsung mencari keberadaan wanita itu. “Dimana Marielle? Aku ada urusan dengannya.” Aldric berjalan menuju belakang dimana ada Diana yang tengah membersihkan ruangan.Namun Diana yang berada di dapur hanya bisa berbisik cemas, "Lady Marielle ada di dalam kamarnya, Grand Duke. Beliau berpesan tidak ingin diganggu oleh siapapun..."Tentu saja Aldr
”Grand Duke?!”Aldric tersentak pelan. Pria itu menyegarkan raut wajahnya, mengikis kedukaan di matanya, lalu berbalik perlahan. Suara beratnya kembali dingin dan tegas, khas seorang penguasa Valerante."Siapa kau?" tanya Aldric, menatap tajam gadis muda yang berdiri beberapa langkah di depannya. Gadis itu mengenakan gaun dari kain kasar berhias tambalan di beberapa bagian, dengan mantel tipis yang tak mampu menghalau dinginnya angin pegunungan.Gadis itu berdiri tegap, tidak membungkuk sama sekali. Pandangan matanya yang tajam menatap Aldric tanpa rasa takut, meski tangannya memeluk erat sebuah keranjang kayu berisi bunga-bunga liar."Nama saya Talia Lucien," jawab gadis itu dengan suara tinggi yang sarat akan kepahitan. "Adik kandung dari Enzo Lucien, ksatria yang mati konyol demi wanita pembawa sial itu."Dada Aldric berdesir kencang. Adik Enzo.Mata hitam Aldric meredup. Ia memperhatikan penampilan Talia yang tampak lusuh dan letih. Garis wajah gadis muda itu menyimpan pend
“Lady Marielle!” Suara Enzo menggema di antara pepohonan.Ia berlutut di samping wanita itu, satu tangan menopang bahu Marielle, sedangkan tangan yang lain otomatis mencabut pedang dari sarung di pinggang untuk membentuk pertahanan. Tatapannya bergerak liar ke segala arah, mencari bayang
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m
“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi
“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi







