แชร์

Bab 004 : Kecelakaan

ผู้เขียน: Xiao Chuhe
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-28 12:29:04

Malam hari datang saat mereka masih di tengah pegunungan. Ruyue terbangun karena merasa cemas, bisa saja kecelakaan itu muncul lebih cepat dari dugaan.

Lalu dari kejauhan, dia mendengar suara gemuruh yang samar. Angin malam yang dingin membuat bulu kuduknya meremang.

“Hei, Hao Xuan.” Ruyue mengetuk jendela.

“Aku di sini.” Hao Xuan menoleh ke samping, rambut panjangnya bergerak-gerak menabrak angin malam.

“Apa kau mendengar suara gemuruh?”

“Iya. Tapi mungkin itu binatang buas di tengah hutan. Biasanya memang begitu.”

“Begitu, ya ….”

‘Benarkah bukan suara tanah longsor?’ Lin Ruyue melongok keluar.

“Dengar, ya, Hao Xuan, kau harus membantuku kalau aku dalam kesulitan, apalagi kalau itu menyangkut keselamatan.” Ruyue berpesan lagi.

‘Aku benar-benar tidak tahu kapan aku akan mati dalam insiden ini. Tapi aku benar-benar ingin tetap hidup ….’

Hao Xuan mengamati gerak-gerik Lin Ruyue di dalam kereta kuda. Seperti bertanya-tanya kenapa gadis itu terlihat gelisah.

Tidak ada manusia yang bisa memprediksi kapan bencana akan datang, meski sudah mengetahuinya pun, Lin Ruyue tetap tidak bisa memperkirakan kapan longsor batu itu akan

menumbuhnya.

Namun, tampaknya dia memiliki intuisi yang cukup tajam dan mampu memberinya sinyal untuk berhati-hati. Lin Ruyue membuka jendela lagi. "Hao Xuan!"

"Aku di sini."

"Perintahkan para pengiring pengantin untuk berhenti sekarang!" Lin Ruyue berseru.

Hao Xuan mengernyit heran. Tidak memahami kenapa Ruyue meminta hal yang begitu aneh.

"Percayakan padaku. Kalau diteruskan, kita hanya akan menemui bahaya!" Lin Ruyue melongok keluar dan berteriak, "Tolong! Hentikan perjalanan ini segera!"

"Hah? Apa yang dikatakan wanita itu?"

Lin Ruyue mendengar pembicaraan pengawal di depannya.

"Dia ingin kita berhenti."

"Apa-apaan? Bukankah kita sudah terlalu banyak menunda perjalanan? Terlebih di tepi tebing ini untuk berhenti? Tidak mungkin!"

"Abaikan saja. Kita tidak punya kewajiban untuk selalu

mendengarkannya."

Hao Xuan terdiam.

Lin Ruyue mengepalkan tangan. Dia mengasihani tubuhnya sendiri. Kenapa dia begitu kasihan? Kenapa tidak ada seorang pun yang memandang dirinya sebagai seorang putri yang akan menjadi menantu kekaisaran?

"Hao Xuan …," Lin Ruyue bergumam pelan. "Katakan pada

mereka. Akan ada bencana di depan sana. Kalau perjalanan ini diteruskan, kita hanya akan menunggu kematian saja!"

Hao Xuan hanya mengernyit heran setelah mendengar penuturan itu, ia mendongak menatap bintang-gemintang dan bulan sabit.

"Hao Xuan …, Aku tidak sedang bercanda." Setelah melihat ekspresi keras kepala itu, Hao Xuan segera melesat ke depan untuk mengingatkan mereka.

Tapi jangankan didengarkan, dia hanya menjadi sasaran empuk untuk dirundung, dan diremehkan.

“Kenapa juga harus mendengarkan bocan ingusan yang mencurigakan itu?"

"Paling-paling dia sama bodohnya dengan wanita itu. Jadi kita biarkan saja."

"Lagi pula langit cerah, bintang-bintang dan bulan nampak, tidak akan ada badai!"

“Hao Xuan, aku ingin pergi dari sini. Bisakah kau bantu aku?”

“Kenapa kau begitu panik?”

“Bencana besar, yang bisa menewaskan semua orang akan datang dalam waktu yang sangat cepat!”

Hao Xuan terdiam sejenak, “Kalau begitu bersiaplah, kita akan pergi.”

Ruyue terdiam dengan ekspresi terkejut, “Kau percaya padaku?”

“Apakah kau bisa berbohong dengan ekspresi penuh ketakutan itu?” Hao Xuan menatap kesal. “Naik ke kudaku, cepat.”

Lin Ruyue menghela napas pelan. "Apa tidak apa-apa kalau

aku mengabaikan mereka dan hanya menyelamatkan diri sendiri saja?"

"Kau masih peduli meski mereka mengabaikanmu?" Hao Xuan kembali dengan wajah jengkel.

Lin Ruyue mengangguk.

“Mereka bisa melindungi diri sendiri.”

“Tidak bisa, sekuat apa pun mereka, tak sampai satu jam, mereka semua bisa mati di sini!” Lin Ruyue berseru panik.

Berdasarkan kalimat itu, Hao Xuan membuka pintu kereta kuda Lin Ruyue dengan paksa. “Keluarlah.”

Lin Ruyue melotot tajam. “A-apa?!”

“Tidak ada waktu untuk ragu, kan? Kita harus menyelamatkan diri sendiri dulu.”

“Tapi mereka—”

“Nyawamu jauh lebih penting.” Hao Xuan menarik tangannya, membuat Lin Ruyue secara refleks melompat ke atas kuda Hao Xuan.

Kuda cukup terkejut karena beban yang tiba-tiba saja bertambah. Tapi Hao Xuan cukup cepat kembali mengendalikannya. Mereka berbalik dan melesat meninggalkan anggota pengantar.

"Bagaimana dengan mereka, Hao Xuan?" Lin Ruyue berseru. Hao Xuan hanya diam.

Hao Xuan tidak menjawab.

Sayup-sayup mendengar seruan, "Tuan Putri melarikan diri!" Tapi dia tidak peduli. Yang dia pedulikan adalah nyawa gadis yang bersamanya ini.

“Hao Xuan! Berhenti dulu!” Lin Ruyue hanyalah gadis SMA yang tidak bisa menyepelekan nyawa orang lain.

Tapi Hao Xuan tidak begitu. Dengan kecepatan kuda yang berbalik meninggalkan rombongan, Lin Ruyue tidak punya waktu untuk memperingatkan mereka.

Mereka akan mati kalau terus dibiarkan keras kepala. Tapi Ruyue juga bukan bisa melakukan sesuatu untuk mereka. Karena pada dasarnya, takdir kematian mereka, bahkan dirinya, sudah tertulis sejak dunia ini diciptakan.

Dia mulai mengerti apa yang Hao Xuan lakukan untuknya. Dalam hal bertahan hidup, kalau merasa ragu sedikit saja, jangankan menyelamatkan orang lain, diri sendiri pun belum tentu bisa selamat.

Dan bagi dunia ini, Lin Ruyue hanyalah anomali yang menentang takdir kematiannya sendiri. Tentu dia tidak bisa melakukan apapun.

Sepersekian detik kemudian, suara gemuruh yang sebelumnya terdengar jauh, kini mulai memekakkan telinga. Hao Xuan membulatkan mata dan menoleh ke belakang.

"Benar-benar ada bencana yang datang ….”

"Terus lajukan kudamu, Hao Xuan. Jangan lengah." Lin Ruyue tetap fokus ke depan. Meski dalam hati merasa bersalah karena keegoisannya ini.

Suara itu terdengar semakin keras. Hao Xuan menoleh ke belakang lagi. "Itu adalah tanah yang bergerak.”

"Hah? Apakah longsornya memanjang?" Ruyue mulai panik. Bencana ini lebih buruk dari yang diduga. Siapa sangka justru akan memanjang hingga beberapa li. Padahal pikirnya hanya di satu titik saja.

"Kau benar. Seluruh tebing di atas kita sepertinya akan runtuh. Tidak …, atau mungkin saja seluruh gunung ini akan hancur.”

"Cepat, Hao Xuan!"

"Tidak bisa. Kudaku sudah melebihi batas kecepatannya.”

Langit mendadak dipenuhi gemuruh petir. Bintang-bintang dan bulan sabit dengan cepat tertutup awan gelap. Angin kencang mulai menerbangkan debu.

"Kalau seperti ini tanah dan batuan longsor itu akan menyusul kita!" Ruyue berseru dan berusaha membuka matanya, dia merasa kepalanya sangat berat karena perhiasan, tapi tak ada waktu untuk melepas semua itu, dia harus memastikan tangannya memeluk Hao Xuan dengan erat agar tidak terhempas.

"Tenanglah.” Hao Xuan menggeram, dia sedang berpikir bagaimana caranya menyelamatkan diri dari bencana ini.

“Ruyue, bisakah kau merogoh sesuatu di balik ikat pinggangku?” Hao Xuan menemukan sebuah cara.

“Hah? Apa?”

Hujan deras turun, suara di sekitar teredam suara hujan dan angin yang melahap pegunungan.

“Ada sesuatu semacam peluit di balik ikat pinggangku. Aku ingin kau mengambilnya dan meniupnya.” Hao Xuan berkata dengan suara lebih keras, terus fokus pada jalur di depannya.

“K-kenapa tidak kau lakukan sendiri saja?”

“Bodoh, tanganku tidak bisa meninggalkan tali kemudi.”

Lin Ruyue yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Hao Xuan, mulai meraba tubuh bagian depannya, tangannya merogoh ikat pinggangnya untuk menemukan benda yang dimaksud.

Dari sentuhan itu, Lin Ruyue bisa merasakan bahwa Hao Xuan memiliki tubuh yang kokoh dan otot yang padat. Tidak sulit untuk menemukan peluitnya karena tidak ada benda lain di sana.

“Sudah kutemukan.”

“Tiuplah yang kencang, itu adalah sinyal untuk meminta pertolongan.”

“Ba-baik.”

Lin Ruyue mulai meniupnya.

Tanah bergetar semakin terasa. Dan tebing di belakang mereka mulai runtuh satu-persatu. Hao Xuan mengeratkan pegangannya pada tali kemudi, mencari jalan keluar.

“Aku tidak yakin cara ini berhasil, Hao Xuan! Hujannya sangat deras!”

“Diam dan tiup saja!” Hao Xuan berseru.

Dia melihat selendang merah Ruyue yang melambai-lambai, lalu dia mengusap punggung kudanya. Lalu melepas pegangannya pada tali kemudi sambil berseru, "Berikan selendangmu padaku."

Sementara tangan kanannya menarik selendang itu dari tangan Ruyue. Dengan gerakan cepat, dia mengikatkan selendang itu pada tubuhnya dan Ruyue.

"Maaf, mungkin terasa tidak nyaman, tapi dengan begini, ada

kemungkinan kita bisa selamat meskipun kecil." Hao Xuan tetap fokus pada rencananya.

Ruyue menahan napas tegang. "Kecil, ya..., baiklah, aku percaya padamu."

Satu detik kemudian, reruntuhan tanah dan batu berhasil menyusul mereka. ‘Sial, seharusnya aku tak memasrahkan hidupku pada orang lain.’

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mengubah Takdir sang Figuran Tragis   Bab 087 : Ketakutan

    Sungguh demi apa pun, Lin Ruyue merasa dirinya harus menghindari Lin Mulan kali ini. Tapi ini bukan karena mereka telah lama tidak bertemu meski tinggal di Istana yang sama.Ia merasa bahwa Lin Mulan mungkin membawa sesuatu yang lain yang membuatnya gelisah tanpa sebab sejak menginjakkan kaki di taman ini …, tidak, sejak ia menyadari bahwa Lin Mulan berada di sini. "Kenapa kau diam saja?" Lin Mulan berdiri, dan memandangnya dengan tatapan polos dan lugu, seperti Kakak yang memandang adiknya yang lucu. Pertama kali, Lin Ruyue tersenyum kikuk. "A-aku …, tersesat." Dan akhirnya malah menjawab dengan sangat konyol, membuat Lin Mulan mengernyit dengan kepala dimiringkan, seolah rasa percayanya pada Lin Ruyue benar-benar sangat tipis setelah jawaban itu.Sebelum semuanya menjalar jauh, Lin Ruyue segera merubah sikapnya dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. "Kakak sendiri? Kenapa duduk di sini sendirian?" "Ah! Tadi aku sedang bicara dengan Yang Mulia Putri Yan Rui. Tapi beliau belu

  • Mengubah Takdir sang Figuran Tragis   Bab 086 : Pernikahan Putra Mahkota

    Pada hari ketika Lin Ruyue benar-benar merasa semua tugas yang menjeratnya lenyap, ia ingat bahwa itu adalah hari besar bagi negara ini.Li Yu masuk dengan wajah cerah, membawa gaun kuning pucat yang telah dipilih kemarin. "Tuan Putri! Hari ini adalah hari besar! Anda harus segera bersiap, atau kita akan terlambat ke pesta pernikahan Putra Mahkota!"Lin Ruyue menghela napas berat. Ini adalah sesuatu yang tidak terlalu disukainya. Berkumpul di antara orang-orang yang memadang berlapis-lapis topeng untuk menutupi tujuan mereka yang sebenarnya, seolah bersosialisasi dengan para pejabat atau pun tokoh-tokoh terpandang lainnya sangatlah penting untuk menjaga martabat dan kehormatan. Hanya Lin Ruyue yang merasa itu membosankan dan tidak ada gunanya. Sehingga kalau boleh memutuskannya, ia ingin diam saja di kamar dan mendengar hiruk-pikuk dari kejauhan. Suasana Istana Utama Kekaisaran Fuyue luar biasa megah. Ribuan lampion merah dan emas digantung di sepanjang jalan. Musik serunai dan gend

  • Mengubah Takdir sang Figuran Tragis   Bab 085 : Kehangatan

    Lilin di tepi meja kerja Lin Ruyue masih menyala terang, meliuk-liuk diterpa angin lembut, membuat bayangan kuas Lin Ruyue yang berdiri terlihat bergoyang-goyang mengikuti tarian api kecil itu. Sekarang kurang lebih pukul dua belas tengah malam, dan Lin Ruyue masih memaksakan tangannya terus bekerja dan matanya terus terbuka. Li Yu sudah masuk beberapa kali untuk menawarkannya istirahat, atau sekadar camilan dan teh, Lin Ruyue hanya mendengus pelan dan berkata agar jangan ada yang mengganggunya. Setelah meninggalkan Istana Yixiao selama tiga jam, Yan Haoxuan pun kembali ke sana untuk memeriksa Lin Ruyue yang ia yakini masin keras kepala seperti sebelumnya."Yang Mulia." Li Yu yang hanya bisa menunggu di luar kamar menyambut kedatangannya. "Kau nisa beristirahat sekarang," jawab Yan Haoxuan. "Baik, Yang Mulia." Li Yu meninggalkan kamar Lin Ruyue lalu Yan Haoxuan masuk. "Kau masih belum selesai?" tanyanya. Lin Ruyue mendengus. "Aku sedang fokus sekarang." "Kau mau teh? Camilan?

  • Mengubah Takdir sang Figuran Tragis   Bab 084 : Perdebatan Kecil

    Suasana mendadak hening. Yan Haoxuan hampir tersedak tehnya sendiri, dia bahkan tidak berpikir itu benar-benar inventaris yang sudah selesai dirapikan. Dayang senior di belakang Selir Agung membelalakkan mata."Selesai?" Selir Agung mengulangi, suaranya naik satu oktav. "Jangan bercanda. Itu laporan inventaris tiga tahun terakhir yang sengaja …, maksudku, yang memang berantakan.""Benar, Yang Mulia. Sangat berantakan," Lin Ruyue mengangguk penuh simpati. "Bahkan saya menemukan kejanggalan kecil. Di halaman empat puluh dua, tercatat ada pengadaan sejumlah dua belas set perhiasan, namun tidak ada pembukuan yang mencatat pengeluaran atau pemasukan yang identitik dengan dua belas set ini." "Yang Mulia …, saya tidak tahu dari mana Anda mendapatkan perhiasan ini atau membelinya dengan uang siapa …, tapi ini benar-benar membuat saya pusing karena kebuntuan ini, loh." Lin Ruyue tersenyum tak berdosa. Wajah Selir Agung berubah sedikit pucat, lalu menjadi kemerahan. "Kau …, kau pasti asal bic

  • Mengubah Takdir sang Figuran Tragis   Bab 083 : Kedatangan Selir Agung

    Matahari sudah meninggj ketika Lin Ruyue sudah kembali duduk di depan meja kerjanya yang baginya terlihat berantakan dan memusingkan. Ia menghela napas panjang, tersisa 60% lagi hingga semuanya selesai, waktu dua hari mau tidak mau harus cukup untuk menyelesaikannya. Lin Ruyue meregangkan otot-otot lengannya sebelum mulai memeriksa dan menghitung lagi. "Kau tahu, Yan Haoxuan," ujar Lin Ruyue tanpa menoleh, jemarinya bergerak lincah menggeser biji sempoa dengan bunyi 'tak-tak-tak' yang ritmis. "Sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara menghitung pembukuan dan memeriksa daftar inventaris." Yan Haoxuan, yang sedang asyik menyesap teh di pojokan ruangan seolah-olah kamar kerja Ruyue adalah kedai teh pribadinya, hanya mengangkat alis. "Apakah saat ini kau melakukannya dengan asal?" "Sembarangan, aku mempelajarinya dalam waktu singkat, tahu!" Lin Ruyue menjawab ketus. "Apa kau masih tidak mau menyadarinya kalau aku sama sekali tidak sebodoh yang kau pikirkan? Aku

  • Mengubah Takdir sang Figuran Tragis   Bab 082 : "Bagaimana Kalau Mencobanya?"

    Yan Haoxuan bertopang dagu dengan telapak tangan saat melihat Lin Ruyue sedang mengobrol ringan dengan Nyonya Xu tentang hal-hal yang hanya dimengerti wanita. Ia melihat tumpukan gaun yang sedang disiapkan dan beberapa yang disisihkan karena tidak dibeli. Yan Haoxuan kembali menatap Lin Ruyue. "Bagaimana kalau kau coba dulu pakaian-pakaian itu?" ia tiba-tiba menceletuk di antara suara obrolan kedua wanita itu. Nyonya Xu dan Lin Ruyue sontak segera menoleh ke arahnya, tapi eskpresi wajah mereka benar-benar bertolakbelakang. Nyonya Xu tersenyum dengan mata menyipit, sepertinya tertarik dengan ide mendadak Yan Haoxuan. Tapi Lin Ruyue malah melotot tajam, ia mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Yan Haoxuan. "Sialan …, kau tahu aku sedang sangat sibuk, bukan? Tapi kau malah mengatakan sesuatu yang tidak mungkin kutolak mentah-mentah di depan Nyonya Xu!" "Kau peduli dengan etika sepele semacam itu? Dia tidak akan tersinggung meski kau menolak keinginanku, kau tunanganku, kau tah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status