Share

CHAPTER 07

last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-25 12:20:30

Hazel memandang keluar jendela mobil dalam perjalanan. Jarinya melingkar longgar di atas lutut, mencoba terlihat tenang meski pikirannya masih melalang buana akan kejadian yang membuatnya tambah merasa sungkan kepada Adrian.

Bagaimanapun juga, lelaki itu sudah menyaksikan Hazel di titik paling berantakannya — menangis di hari pernikahan mereka sendiri, di dalam mobil, dengan riasan yang hancur dan hati yang tidak kalah hancurnya.

Hazel menunduk pelan. Ia memilih diam hingga tanpa sadar akhirnya mereka berdua sampai di tempat tujuan.

Ini kali pertama Hazel melihat tempat tinggal barunya, sebuah rumah besar namun tidak berlebihan. Meskipun tidak bertingkat, tapi terlihat bersih, tertata, dan minimalis.

Bahkan ketika mereka berdua masuk ke dalam bangunan itu, Hazel bisa melihat tatanan ruang yang seperti memang dirancang untuk ditinggali, bukan untuk memamerkan kemewahan dan semacamnya.

Sekilas, Hazel hanya berdiri di depan pintu dengan tas jinjing berukuran sedang di tangannya, tidak tahu harus mulai dari mana.

"Kamar mandi ada di ujung kiri lorong." Adrian berhenti di sisi ruang tamu, sedikit menoleh ke arah Hazel. "Bersih-bersih dulu. Handuknya juga sudah ada di dalam."

Suara bariton itu memecah lamunan Hazel, seraya melirik Adrian ia berkata, “O-oh iya… terima kasih.”

Ia menurut. Bukan karena terpaksa, tetapi tubuh Hazel memang sudah terlalu lelah untuk berpikir terlalu jauh. Pun instruksi Adrian juga masuk akal saat ini, apalagi tampilan Hazel sedang berantakan.

Ketika Hazel sudah selesai mandi lalu keluar dengan rambut basah dan pakaian ganti yang ia ambil dari tasnya, aroma sesuatu yang hangat langsung menyambut indra penciuman Hazel.

Ia menelusuri asal bau tersebut dan mengintip diam-diam ke arah dapur. Di sana, ia mendapati Adrian berdiri di depan kompor dengan lengan baju yang sudah dilipat ke atas siku.

Dan saat Hazel berjalan mendekati meja makan, ia juga mendapati ada semangkuk sup jamur sederhana di atas meja makan yang mengepul hangat dengan sepotong roti di sisinya. Jujur saja, itu menggugah selera Hazel.

"Kamu sudah makan?" tanya Adrian tanpa menoleh, tangannya masih mengaduk sesuatu di atas kompor.

Hazel sedikit terkejut namun ia juga menjawab dengan pelan, “Belum.”

Beberapa detik kemudian, Adrian datang dengan membawa nampan berisikan makanan serupa dan menaruhnya di sisi lain yang berhadapan dari makanan yang sudah ada di atas meja. Lalu Adrian menarik salah satu kursi yang ada di sana, “Duduk dan makanlah.”

Sekali lagi, Hazel hanya menganggukkan kepalanya patuh dan melakukan instruksi Adrian tanpa bertanya lagi. Kebetulan, perutnya juga sedang lapar saat ini.

Mereka makan dengan khidmat, tidak ada obrolan, hanya ada dentingan sendok yang mengisi keheningan di sana.

Ketika mangkuk Hazel kosong, keheningan kembali hinggap di antara mereka. Hazel menatap meja, meremas ujung lengan bajunya sebelum mengungkapkan kerasahannya.

"Maaf ya Mas…” suaranya keluar lebih kecil dari yang ia inginkan. “A-aku tidak seharusnya nangis seperti itu di depan kamu."

Adrian tidak langsung menjawab. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Hazel dengan pandangan yang sulit diartikan, tapi tidak terasa menghakimi.

"Tidak apa-apa." Hanya itu yang Adrian katakan sebelum ia berdiri dan membereskan meja.

“Eh!! Biar aku aja Mas—”

“Tidak perlu, kamu masuk duluan saja.” potong Adrian seraya mengangguk ke arah lorong. “Kamar kita di ujung kanan, saya akan menyusul setelah ini.”

Entah memang karena lelaki itu punya sihirnya sendiri atau Hazel yang terlalu sungkan, tapi sekarang Hazel sudah berada di dalam kamar utama yang dimaksud oleh Adrian.

Di sana, Hazel terduduk kaku di pinggir ranjang dan baru menyadari bahwa ini adalah malam pertama pernikahannya. 

Setahu Hazel, banyak pasangan yang melakukan hubungan suami istri di saat-saat seperti ini, apakah Hazel akan merasakannya juga?

Pikirannya mulai kalut. Bagaimana jika Adrian menuntut haknya sekarang? Hazel belum siap jika harus melayani lelaki itu dalam keperluan biologis. 

Dua puluh menit pun berlalu, Hazel masih asik dengan pikirannya dalam keheningan yang menyiksa hingga pintu kamar terbuka. 

Begitu Adrian masuk dengan aroma sabun citrus yang segar, jantung Hazel berdegup kencang. Ia tahu suaminya baru saja selesai membersihkan diri, dan itu membuatnya semakin tidak tenang.

Ketika lelaki itu mulai mendekat dan duduk di samping Hazel tanpa aba-aba, kasur yang Hazel duduki sekarang menjadi sedikit amblas dengan posisi mereka yang menjadi sangat dekat.

Hazel menegang, jemarinya meremas sprei saat merasakan tangan besar Adrian bergerak ke arah wajahnya. Namun, Adrian hanya menyelipkan helai rambut basah Hazel ke belakang telinga dengan perlahan.

"Hazel," panggil Adrian, suaranya rendah dan serak.

Hazel memberanikan diri menoleh. Wajah Adrian hanya berjarak beberapa senti saja. Mata tajam itu mengunci Hazel, seolah sedang menilai setiap inci ketakutan di wajah istrinya.

"Malam ini..." Adrian menggantung kalimatnya, mematikan sisa jarak hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "...kamu tahu kan apa yang harus kita lakukan sebagai pasangan yang baru menikah?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 47

    "Lupakan saja kejadian di atas kasur malam itu, Hazel. Anggap saja saya tidak pernah melakukan hal memalukan seperti itu padamu."Kalimat yang keluar dari mulut Adrian saat Hazel baru saja menginjakkan kaki di dapur pagi itu langsung membuat langkahnya terhenti seketika.Hazel menatap punggung suaminya yang sedang berdiri membelakanginya sambil memegang cangkir kopi. Suasana dapur yang tenang mendadak berubah menjadi sangat canggung.Beberapa hari setelah demamnya sembuh, ini adalah kali pertama Adrian berbicara dengan kalimat yang cukup panjang, meski isinya berupa permintaan maaf yang terdengar sangat kaku.Pria itu berbalik perlahan, menghindari kontak mata langsung dengan Hazel. Ujung telinganya terlihat sangat merah, menunjukkan betapa ia merasa tidak enak hati karena sempat bersikap manja."Maksud saya, saya minta maaf karena sudah lancang memelukmu dengan sangat erat waktu saya tidak sadar karena demam," lanjut Adrian dengan suara baritonnya yang datar.Hazel sempat terdiam beb

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 46

    "Mas Adrian... tolong lepaskan sebentar. Aku tidak bisa bernapas dengan benar kalau dipeluk sekencang ini," bisik Hazel dengan suara yang bergetar karena panik.Di atas tempat tidur mereka, Adrian justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Hazel. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hazel, seolah sedang mencari kenyamanan ekstra.Hazel benar-benar dibuat bingung dengan tingkah laku suaminya malam ini. Wajah Adrian terasa sangat panas menyentuh kulitnya, menandakan bahwa demam pria itu belum juga turun sejak siang tadi.Hazel bisa merasakan hembusan napas hangat Adrian yang menerpa lehernya. Sentuhan fisik yang begitu dekat ini biasanya akan memicu alarm kewaspadaan di kepala Hazel akibat trauma masa lalu.Namun anehnya, malam ini Hazel tidak merasakan ketakutan yang sama. Ada rasa asing yang perlahan merayap di dadanya, sebuah perasaan ingin melindungi pria yang biasanya selalu melindunginya."Dingin, Hazel... jangan pergi," gumam Adrian dengan suara rendah yang ter

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 45

    Hazel menatap layar ponselnya dengan napas yang tertahan. Kalimat bernada ancaman dari nomor tidak dikenal itu benar-benar membuat seluruh tubuhnya seketika menjadi dingin karena ketakutan.Dadanya kembali terasa sangat sesak, dan telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin. Pikirannya langsung kacau, dipenuhi rasa bingung dan takut yang mendalam."Siapa lagi orang ini? Bukankah Damian sudah ditahan di kantor polisi?" batin Hazel dengan sangat cemas, merasa heran mengapa teror dalam hidupnya belum juga berakhir.Dia mencengkeram ponselnya dengan erat, merasa bingung harus berbuat apa. Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba terdengar suara kunci pintu depan yang diputar dari luar.Hazel tersentak dari lamunannya, lalu segera menoleh ke arah pintu masuk rumah minimalis mereka. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok suaminya.Adrian melangkah masuk dengan gerakan yang terlihat sangat lambat dan tidak sekuat biasanya. Jas kerjanya masih melekat di tubuh, namun dasinya sudah tampak

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 44

    "Jika suatu hari aku membuangmu, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang mau menampung wanita rusak sepertimu, Hazel."Bisikan beracun dari masa lalu itu tiba-tiba terngiang kembali dengan sangat jelas, membuat Hazel tersentak dari duduknya dengan napas yang memburu.Hazel buru-buru menyentuh dadanya yang berdetak kencang, mencoba menyadarkan diri bahwa itu hanyalah bayangan buruk masa lalu yang sudah selesai.Pagi itu, suasana di dalam rumah minimalisnya bersama Adrian sebenarnya terasa sangat tenang dan damai tanpa ada gangguan apa pun.Hazel kembali duduk di sofa ruang tengah, mencoba mengalihkan pikirannya dengan menatap layar ponsel yang menampilkan berita terbaru.Berita tentang penangkapan Damian dan kehancuran karir Sherly sudah menyebar ke mana-mana dan menjadi perbincangan hangat di internet.Banyak orang yang sekarang berbalik mendukung Hazel dan menuliskan komentar yang sangat baik serta menenangkan untuk dirinya.Hazel mengembuskan napas panjang, merasakan rasa le

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 43

    Sherly berjalan mondar-mandir di dalam apartemennya yang berantakan dengan perasaan yang sangat panik. Ponsel di genggamannya sudah terasa panas karena sejak tadi dia terus-menerus mencoba menelepon nomor Damian.Namun, nomor tersebut tetap tidak aktif. Suara operator telepon yang memberi tahu bahwa nomor itu tidak dapat dihubungi membuat ketakutan Sherly semakin menjadi-jadi.Dia menggigit kuku jarinya sampai terasa sakit karena merasa sangat bingung dan takut.Ketika dia tidak sengaja melihat ke arah cermin di kamarnya, dia langsung teringat kembali pada semua perbuatannya di masa lalu kepada Hazel. Ingatan itu sekarang terasa sangat menakutkan bagi dirinya.Dulu, Sherly adalah orang terdekat Hazel. Dia adalah sahabat dekat yang seharusnya mendukung dan melindungi Hazel saat menghadapi masalah.Namun, di balik sikap ramahnya selama bertahun-tahun, Sherly sebenarnya menyimpan rasa iri dan cemburu yang sangat besar kepada Hazel.Sherly selalu merasa cemburu karena Hazel memiliki sifat

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 42

    Aroma manis mentega dan kayu manis yang terpanggang hangat memenuhi seisi dapur rumah minimalis modern itu. Hazel berdiri di depan oven, sesekali merapikan anak rambutnya yang lolos dari jepitan demi melihat hasil panggangan harinya.Di atas meja dapur yang bersih tanpa dekorasi rumit, beberapa buah cinnamon roll berhias cream cheese meleleh tampak tersaji cantik.Untuk pertama kalinya, Hazel belajar memasak resep baru di rumah yang ia tinggali bersama Adrian. Selama ini, trauma masa lalunya bersama Damian membuat Hazel selalu merasa tidak percaya diri, termasuk dalam hal menyenangkan pasangan.Namun hari ini, dorongan di hatinya begitu kuat untuk memberikan perhatian lebih kepada Adrian yang selalu peduli dan melindungi Hazel sejak awal pernikahan mereka.“Apakah Mas Adrian akan suka? Bagaimana kalau rasanya terlalu manis? Kata Bunda, dia kan tidak begitu menyukai rasa manis,” batin Hazel cemas.Jemarinya saling bertautan erat, menatap hasil eksperimen pertamanya sore ini dengan pera

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status