MasukHazel merasa dunianya mendadak menyempit. Ia ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
Ketakutan itu kembali menyergap, membuat jemarinya gemetar hebat saat mencoba membuka pintu apartemennya sendiri.
Namun, sebelum Damian bisa menjangkaunya, sebuah bayangan tinggi menjulang tiba-tiba bergeser, memutus jarak pandang antara Hazel dan Damian.
Hazel tersentak. Itu Adrian. Pria itu berdiri kokoh seperti tembok baja, menatap Damian dengan pandangan yang lebih dingin daripada mesin pendingin di koridor ini
"Ambil laptopmu. Sekarang," ucap Adrian tanpa menoleh. Suaranya rendah, namun memiliki aura yang tidak bisa dibantah. Karena hal itu, Hazel tersentak seolah tersadar dari hipnotis ketakutannya.
Lalu dengan tangan yang masih gemetar hebat, akhirnya Hazel berhasil menempelkan kartu dan masuk ke dalam unitnya. Begitu pintu tertutup, Hazel juga langsung menguncinya dari dalam.
Ia bersandar di balik pintu, napasnya memburu. Dari balik daun pintu yang tebal, ia masih bisa mendengar suara Damian yang meledak-ledak di luar.
“Siapa Anda?! Berani-beraninya Anda menghalangi saya berbicara dengan Hazel?! Hazel itu pacar saya!”
Jantung Hazel berdegup kencang. Ia merasa mual. Suara Damian selalu punya cara untuk membuatnya merasa kecil dan tidak berdaya.
Namun, kemudian ia mendengar suara Adrian yang tenang, nyaris tak terdengar tapi sanggup membungkam teriakan Damian seketika.
Hazel tidak sanggup mendengar lebih lama. Dengan gerakan linglung, ia menyambar tas laptop di atas meja kerja. Ia tidak peduli lagi pada barang lain.
Pikirannya hanya satu, Hazel ingin pergi dari sini. Ia tidak ingin melihat Damian.
Saat Hazel membuka pintu kembali, koridor itu sudah sunyi. Damian telah lenyap, menyisakan Adrian yang berdiri tenang di posisi yang sama seperti saat Hazel meninggalkannya.
"Sudah?" tanya Adrian pendek.
Hazel hanya mengangguk lemas. Ia menatap sekeliling dengan resah untuk mencari sosok Damian, tapi pria itu memang sudah tidak ada.
Mengapa Damian menghilang begitu saja? Apa yang Adrian katakan pada lelaki itu? Bagaimana caranya Adrian bisa mengusir Damian?
Semua pertanyaan itu mengerumuni kepala Hazel. Ingin rasanya Hazel bertanya apa yang terjadi antara Adrian dan Damian. Tapi, untuk kesekian kalinya, ia merasa segan di depan lelaki berambut putih itu sehingga memutuskan untuk tidak bertanya.
“Hari sudah semakin sore, apa masih ada yang ketinggalan?” tanya Adrian membuyarkan lamunan Hazel.
Sontak, Hazel menggelengkan kepalanya secara cepat lalu berkata, “T-tidak ada!”
“Kalau begitu, ayo.” balas Adrian singkat seraya berjalan mengawali Hazel.
Mengetahui hal tersebut, Hazel segera mengiyakan dan akhirnya mereka pergi menuju mobil mereka.
Ketika kedua manusia itu sudah masuk ke dalam mobil, suara notifikasi dari ponsel Hazel pun berbunyi.
Ting!
Lalu, ketika Hazel memeriksa ponselnya, ia menemukan sebuah pesan dari nomor anonim.
“Hazel. Sampai kapan pun, kamu tetap milikku. Tidak ada yang bisa merebut kamu dari aku. Kamu pilih sekarang. Kamu cerai dan balik sama aku, atau kamu tetap bersama lelaki itu dan aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi. Inget. Kamu. Cuma. Milik. Damian Alexander.”
Seakan tersambar petir di siang bolong, Hazel yang awalnya tenang kini mulai diam membeku dengan tangan yang gemetar lagi untuk kesekian kalinya.
Ponsel di tangan Hazel nyaris merosot ke lantai mobil. Kata-kata dalam pesan itu seolah menjelma menjadi tangan-tangan dingin yang mencekik lehernya. Damian tidak akan melepaskannya.
Seketika, Hazel merasa paru-parunya mengecil. Ia mencoba menarik napas, namun yang masuk hanya udara hampa yang menyakitkan.
Adrian, yang sedari tadi sedang memasang sabuk pengaman, menyadari perubahan drastis pada wanita di sampingnya. Ia memperhatikan bagaimana buku-buku jari Hazel memutih karena mencengkeram ponsel terlalu kuat.
"Hazel?" suara Adrian rendah, mencoba memanggil kesadaran istrinya.
Panggilan itu adalah pemantiknya.
Setetes air mata jatuh ke layar ponsel, memburamkan pesan ancaman dari Damian. Kemudian setetes lagi. Dan tiba-tiba, pertahanan yang Hazel bangun dengan susah payah pun runtuh total. Bahunya mulai berguncang hebat.
"Dia... dia tidak akan melepaskanku..." lirih Hazel. "B-bagaimana ini? Damian akan menyakitiku terus…"
Adrian masih diam, namun tangannya yang sudah berada di gagang setir kini beralih. Ia mematikan mesin mobil yang baru saja menyala, memberikan keheningan mutlak di dalam kabin mewah itu.
Hazel menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang gemetar. Ia tidak peduli lagi jika riasannya hancur. Ia tidak peduli lagi jika ia terlihat berantakan di depan Adrian.
Rasa sakit dikhianati oleh Damian dan Sherly, tertekan karena dipaksa menikah oleh Papanya, dan sekarang diteror oleh mantannya yang posesif... semuanya tumpah jadi satu.
Lantas, ia mulai memukul dada kirinya sendiri yang terasa nyeri seiring berjalannya waktu. Seolah, ia ingin menyalurkan rasa sakit hatinya dengan rasa sakit fisik supaya bisa meredakan rasa nyeri di dalam dadanya.
Melihat hal itu, Adrian secara refleks menarik dan menggenggam tangan Hazel.
Adrian tidak mengucapkan kata apa pun, namun tangan besarnya yang hangat itu kini mengelus pelan punggung kedua tangan Hazel. Seolah mencoba memberikan kehangatan untuk tangan Hazel yang terasa dingin.
Mendapat perlakuan seperti itu di masa lemahnya, Hazel tak kuat lagi menahan dirinya. Tangisnya pun pecah.
“Mereka tega… Sherly… Damian… Kenapa mereka berkhianat di belakangku… Kenapa?” Hazel mengucapkan semua itu dengan sesegukan.
Benar-benar, ia seperti menumpahkan semua emosi sedih, marah, kecewa, dan keluhannya menjadi satu.
“Aku harus gimana?” isak Hazel pilu. Dalam benaknya, ia mengingat lima tahun yang ia korbankan dengan memberikan semua miliknya pada Damian, untuk akhirnya menikahi pria lain.
Adrian tidak menjawab apa pun yang Hazel katakan, namun salah satu tangan Adrian berpindah secara pelan-pelan ke belakang punggung Hazel.
Lalu dengan gerakan yang sedikit kaku, lelaki itu menepuk-nepuk punggung Hazel pelan. Seolah mencoba sebisa mungkin untuk tidak melukai gadis cantik yang tengah menangis di depannya ini.
"Jadi, untuk hari terakhir ini, apa kamu mau mengucapkan kata 'terserah' lagi kepada saya, Hazel?" tanya Adrian.Hazel langsung mengerjapkan matanya dengan cepat, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah karena teringat aturan ketat yang dibuat Adrian selama liburan singkat mereka ini.Selama tiga hari menghabiskan waktu bersama di villa pegunungan ini, Adrian memang tidak pernah mengizinkan Hazel mengucapkan kata legendaris tersebut setiap kali dia ditanya tentang keinginan atau kegiatannya.Adrian selalu menuntut Hazel untuk mengutarakan apa yang sebenarnya dia inginkan, mulai dari memilih sudut pemandangan yang ingin digambar, menentukan aktivitas harian, hingga bahan makanan yang ingin mereka masak bersama di dapur villa.Hasilnya, Hazel kini berhasil membawa beberapa lembar gambar pemandangan alam yang sangat indah, sekaligus ingatan manis tentang bagaimana hangatnya suasana saat mereka berdua bekerja sama membuat makan malam selama dua hari terakhir."Aku... aku ti
"Mas... pemandangannya cantik banget…" kagum Hazel saat dia baru saja melangkah turun dari mobil.Hazel berdiri mematung di tepi bukit dengan kedua mata yang berbinar cerah, menatap hamparan pemandangan hijau yang membentang luas di bawahnya.Di hadapan mereka, terlihat deretan pegunungan yang sangat megah dengan sisa-sisa kabut putih tipis yang bergerak lambat di sela-sela pepohonan pinus yang tinggi.Sebuah danau kecil berair jernih tampak tenang di dasar lembah, memantulkan warna langit pagi yang biru bersih tanpa ada awan mendung sama sekali.Udara pagi di puncak bukit itu terasa sangat bersih, segar, dan juga sangat dingin menyentuh kulit wajah Hazel yang putih bersih.Hazel memejamkan kedua matanya sejenak, menghirup udara pegunungan itu dalam-dalam, merasakan ketenangan yang luar biasa masuk ke dalam dadanya.Adrian yang berdiri di samping mobil perlahan berjalan mendekati Hazel, ia memperhatikan perubahan ekspresi wajah Hazel yang tampak sangat bahagia, membuat perasaan lega t
"Mbak, suaminya sudah menunggu di dekat mobil sejak subuh tadi," ucap pengurus penginapan tua itu ramah saat melihat Hazel baru saja membuka pintu kamar dengan wajah panik.Hazel tertegun mendengar ucapan bapak tua itu, lalu buru-buru mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih sebelum kembali masuk ke dalam kamarnya yang sunyi.Pagi itu, Hazel terbangun dengan kondisi kamar yang sudah sangat terang karena sinar matahari yang menerobos masuk di sela-sela dinding kayu penginapan tua tersebut.Ia langsung panik saat menyadari dirinya telah bangun kesiangan, dan sisi kasur di sebelahnya yang semalam ditempati oleh Adrian kini sudah kosong dan mendingin.Di atas meja kayu kecil di sudut ruangan, Hazel mendapati secarik kertas putih dengan tulisan tangan suaminya.“Mobil kita sudah selesai diperbaiki oleh mekanik yang datang subuh tadi. Saya sudah memindahkan semua koper kita kembali ke dalam bagasi mobil.”“Saya menyisakan satu tas jinjing berisi peralatan mandimu di atas meja. Bersiap-si
"Saya tidak akan menyentuhmu tanpa izin darimu, Hazel. Jadi, kamu tidak perlu merasa setegang itu," ucap Adrian dengan nada suara yang sangat tenang.Kalimat itu diucapkan Adrian saat melihat Hazel yang masih berdiri mematung di samping tempat tidur dengan wajah yang memerah sempurna di bawah cahaya lampu kamar yang redup.Hazel langsung meremas ujung kaos panjangnya dengan sangat erat, merasa sangat malu karena ucapan spontannya yang mengajak tidur bersama tadi baru saja disetujui oleh suaminya."A-aku hanya tidak ingin Mas Adrian kembali jatuh sakit karena tidur di luar ruangan yang sangat dingin ini," jawab Hazel mencoba membela diri dengan suara lirih.Adrian mengangguk pelan, menghargai kekhawatiran istrinya yang tulus meskipun hatinya sendiri sebenarnya ikut bergetar mendengar ajakan yang cukup berani tersebut dari Hazel.Ia berjalan mendekati sisi tempat tidur bagian luar, lalu menarik selimut tebal yang melipat rapi di sana untuk mereka gunakan bersama-sama malam ini."Tidurlah
"Mas Adrian sebaiknya segera mandi menggunakan air hangat agar tidak masuk angin lagi," ucap Hazel dengan suara yang sangat pelan.Hazel buru-buru memalingkan wajahnya ke arah samping, tidak berani lagi menatap tubuh bagian atas suaminya yang terlihat sangat kokoh itu.Adrian menatap Hazel dengan pandangan sedikit heran saat melihat reaksi istrinya yang tampak sangat gugup dan salah tingkah di hadapannya.Namun, Adrian tidak berpikiran macam-macam dan menganggap reaksi terkejut Hazel adalah hal yang biasa karena mereka memang jarang berada di situasi seperti ini.Adrian melangkah mengambil handuk kering yang ada di gantungan baju dekat pintu, lalu berjalan perlahan masuk ke dalam kamar mandi tanpa berkata apa-apa.Sebelum menikah dengan Hazel, saat Adrian masih tinggal bersama keluarganya di rumah utama keluarga Winata, melihat Adrian berjalan tanpa atasan setelah berolahraga atau berenang adalah hal yang sangat biasa bagi Bunda dan adiknya.Mereka berdua tidak pernah memberikan reaks
"Mas yakin kita harus masuk ke sini? Tempat ini... terlihat sedikit tidak meyakinkan." Ucap Hazel Ragu.Lantas, gadis itu menatap bangunan kayu besar di hadapan mereka berdua dengan pandangan yang penuh waspada.Bangunan itu tampak sangat tua dengan cat cokelat yang sudah banyak mengelupas di berbagai sisi dindingnya.Suasana di sekitar tempat itu juga sangat gelap, sunyi, dan hanya menyisakan suara gemuruh air hujan yang turun semakin deras.Satu-satunya sumber cahaya di teras bangunan tersebut hanyalah sebuah lampu bohlam kuning kecil yang tampak berkedip sesekali.Kabut tebal yang turun dari arah gunung juga membuat jarak pandang mereka berdua menjadi sangat terbatas di kala sore menjelang malam itu.Adrian yang berdiri di samping Hazel sambil menjinjing dua koper besar dan tas mereka sebenarnya juga merasakan keraguan yang sama.Namun, ia tahu bahwa bertahan di dalam mobil yang mogok di tengah jalanan sepi dan gelap seperti ini jauh lebih berbahaya untuk keselamatan mereka."Saya
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa jauh lebih tenang. Adrian sudah rapi dengan setelan kerjanya, menyesap kopi hitam sambil sesekali memeriksa tablet di tangannya dengan raut wajah datar seperti biasa.Hazel duduk di seberangnya, berusaha menikmati sarapannya meski kepalanya masih memikirka
Hazel masih mematung menatap layar ponselnya. Video Naura yang baru saja viral itu terus berputar di kepalanya, memberikan rasa puas sekaligus cemas yang aneh.Namun, bukan video itu yang benar-benar menyita pikirannya sekarang. Melainkan kata-kata Pak Darmawan yang terus terngiang seperti kaset ru
Naura menatap Hazel dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak tadi, ia hanya mendengarkan Hazel bercerita tentang kekacauan di ruang rapat hotel kemarin dan bagaimana Adrian membongkar pengkhianatan orang dalam."Jadi, Damian dan Sherly benar-benar niat ya sampai sejauh itu?" tanya Naura pelan.Haz
Hazel berjalan meninggalkan gerbang kediaman Adiwangsa tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya tidak terburu-buru, namun juga tidak ada niat untuk berhenti. Selain itu, Hazel bisa mendengar derap langkah Adrian yang mengejar di belakangnya, tetapi Hazel memilih untuk tidak peduli.Setiap inci dalam







