Masuk
Salah satu pintu dari sebuah ruangan terbuka dengan kasar. Elbert Collins masuk ke ruang kerja putranya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Zack Collins yang terkejut, sontak mendorong wanita yang sedang memuaskan gairahnya, hingga wanita itu terjatuh terjengkang ke lantai.
“Pergi! Aku tidak membutuhkanmu lagi!” usir Zack pada wanita yang baru saja memuaskannya. Wanita itu kemudian mengumpulkan pakaiannya dan berlari meninggalkan ruangan Zack. Zack merapikan pakaiannya dengan santai di depan papanya. “Ada apa Papa kemari dan mengganggu kesenanganku?” tanya Zack. “Begini caramu berkabung atas kematian kakakmu?” bentak Elbert tangannya terkepal melihat tingkah laku putra keduanya tersebut. Belum juga sebulan, kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa Owen Collins—kakak Zack, diumumkan. Zack sudah mulai bertingkah. “Lalu apa yang harus aku lakukan? Menangisi Owen di makamnya?” sindir Zack. “Mulai saat ini, jadilah orang yang berguna untuk keluarga Collins. Cari wanita yang bernama Watson dan bawa pulang anaknya! Wanita itu sudah membawa pergi anak Owen!” perintah Elbert pada Zack. “What? Untuk apa aku mencari wanita yang Owen hamili? Apakah Papa juga akan menyuruhku untuk bertanggung jawab atas kesalahan putra kesayanganmu?” “Pengacara Owen mengatakan jika semua kekayaan Owen diwariskan pada wanita yang bernama Watson dan putranya. Papa tidak sudi jika kekayaan keluarga Collins jatuh ke tangan wanita jalang bernama Watson itu. Hanya cucu Collins yang akan menjadi ahli waris tunggal kekayaan Owen,” jelas Elbert “Dari mana aku harus mencari wanita itu?” tanya Zack yang tidak bisa membantah. “Ini adalah alamat terakhir wanita itu bekerja. Dia menjadi pelayan bar di Star Bar dan bertemu Owen di sana. Aku yakin wanita itu menjebak Owen sehingga mengandung cucuku,” tuduh Elbert, penuh kenyakinan. “Baiklah, aku akan mencarinya,” jawab Zack menyetujui, berharap pria itu cepat pergi dari ruangannya. Setelah papanya pergi, Zack mengambil alamat tersebut, lalu beranjak dari tempat duduknya. “Dasar wanita jalang, berani-beraninya mengganggu ketenangan keluargaku. Aku akan memberimu pelajaran!” geram Zack yang kemudian pergi dari ruang kerjanya. Zack mengendarai mobil dengan kecepatan nyaris penuh dan menyalakan musik dengan keras, menuju ke Star Bar. Sampai di tempat tersebut, ternyata bar masih tutup. Ia mendobrak pintu tanpa permisi. “Maaf, kami masih tutup. Kamu bisa datang lagi nanti,” teriak seorang karyawan yang sedang sibuk menyiapkan beberapa botol minuman. “Aku tidak sedang mencari minum. Aku mencari seseorang,” kata Zack. “Mencari siapa?” tanya karyawan itu. “Apakah ada wanita bernama Watson yang bekerja di sini?” “Apakah yang kamu maksud adalah Kelly Watson?” “Aku rasa begitu, aku tidak tahu nama depannya,” jawab Zack. “Sayang sekali, Kelly Watson sudah tidak bekerja lagi di sini. Dia baru saja mengundurkan diri.” “Apakah kamu tahu alamat tempat tinggalnya atau kira-kira dia pergi ke mana?” tanya Zack berharap mendapatkan informasi. “Aku dengar dia kembali ke desa kelahirannya. Sebentar, sepertinya Kelly pernah menuliskan alamatnya. Semoga aku masih menyimpannya,” kata karyawan tersebut yang kemudian membuka laci meja kasir dan mencari secarik kertas yang pernah Kelly berikan. “Ah! Ketemu!” ucap karyawan tersebut, kemudian memberikan kertas tersebut pada Zack. Zack menerimanya, lalu melemparkan beberapa lembar uang pada karyawan tersebut, lalu pergi tanpa mengucapkan terima kasih. “Dasar sombong,” ucap karyawan bar itu sambil tetap mengantongi uang yang Zack berikan. Kelly berjongkok di depan makam kakaknya sambil membawa seikat bunga mawar kesukaan Sara. Ingatannya kembali ke beberapa bulan yang lalu, ketika kakaknya menitipkan anak yang ada di gendongannya sekarang. “Berjanjilah padaku, Kelly! Rawat dan lindungilah Ethan, anggap dia sebagai putramu sendiri dan berilah kasih sayang yang tidak akan pernah bisa aku berikan padanya. Jika Ethan dewasa nanti, katakan jika aku sangat menyayanginya,” pinta Sara yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. “Jauhkan Ethan dari keluarga Collins. Jangan biarkan Ethan tumbuh bersama mereka!” ucap Sara dengan napas tersengal, tangan dinginnya menggenggam kuat tangan Kelly. “Bertahanlah, Kak! Demi Ethan, demi aku. Kami tidak mau kehilanganmu, Ethan masih membutuhkanmu,” tangis Kelly sambil memeluk kakaknya. “Tidak ada harapan lagi untukku. Please, berjanjilah padaku, Kelly!” tegas Sara. Terpaksa, Kelly melakukan apa yang Sara minta. “Aku berjanji akan merawat dan melindungi Ethan,” ujar Kelly. “Ma-af-kan Ka-kak ....” ucap Sara untuk terakhir kalinya. Bunyi mesin monitor yang tersambung di tubuh Sara berbunyi panjang. Jantung Sara berhenti berdetak. Ingatan itu selalu terngiang di kepala Kelly. Rasanya baru kemarin Sara pergi meninggalkannya. “Maafkan aku, Kak. Aku dan Ethan ingin pamit. Biaya kehidupan di New York sangat tinggi, aku tidak kuat membiayai kebutuhan Ethan di sini, apalagi harus menyewa seorang pengasuh untuk menjaga Ethan. Izinkan aku membawa Ethan pulang ke desa kita, di mana rumah peninggalan Papa dan Mama masih ada di sana,” tangis Kelly. “Sayang, ucapkan selamat tinggal pada Mama Sara,” kata Kelly sambil menggerakkan tangan Ethan. “Halo, Mama. Ini Ethan. Ethan sayang Mama, izinkan Ethan ikut dengan Mama Kelly pulang ke rumah Grandpa dan Grandma,” ucap Kelly seolah-olah menyuarakan suara anak berumur enam bulan yang belum bisa berbicara tersebut. “Selamat tinggal, Kak. Tenanglah di sana karena Ethan aman bersamaku!” kata Kelly yang kemudian berdiri dan membawa Ethan ke dalam gendongannya. Dia melangkah lunglai meninggalkan makam Sara. Beberapa hari setelah Kelly berada di desa, dia bekerja di peternakan Baros. Salah satu orang terkaya di desanya. Sayangnya, beberapa wanita menggosipkannya dengan menyebar berita yang tidak benar. “Apakah benar itu Kelly Watson? Aku dengar dia pulang dengan membawa seorang anak tanpa seorang suami.” Elle mulai bergosip bersama teman-temannya ketika melihat Kelly. “Ya, benar sekali, dia Kelly Watson. Lebih baik jauh-jauh dari wanita jalang itu, jika kita tidak mau tertular dengan kehidupannya yang rusak,” balas Rose menimpali gosip yang Elle sebarkan. “Sayang sekali, wajahnya yang cantik tidak diimbangi dengan perilakunya yang baik. New York memang terkenal dengan dunia malam, aku tidak bisa membayangkan berapa banyak pria yang dia tiduri di sana, hingga lahir seorang anak,” ganti Deasy semakin memanaskan gosip mereka. Kelly yang mendengar perkataan para wanita itu berpura-pura tuli dan bisu. Dia tidak ingin membuat keonaran yang beresiko membuat dirinya dipecat. Saat ini dia membutuhkan uang untuk membiayai kehidupannya bersama Ethan. Ketika waktu istirahat tiba, Kelly segera meninggalkan pekerjaannya, mencuci tangan, kemudian ikut mengantri untuk mengambil jatah makan siangnya. “Sepertinya ada wanita New York yang ikut antri bersama kita,” sindir Elle dengan suara keras ketika melihat Kelly. “Kenapa dia tidak meminta uang dari para pria yang ditidurinya? Malah memilih menjadi pembersih kotoran sapi di sini?” sambung Deasy membuat semua orang menatap Kelly dengan tatapan jijik. “Mungkin para prianya sudah bosan, miliknya sudah tidak bisa memuaskan mereka.” Perkataan Rose membuat Kelly mengepalkan tangannya kuat, menahan rasa marah yang menghentakkan dadanya. Setelah mendapatkan makanan, Kelly berjalan menuju meja kosong untuk dirinya makan. Ketika melewati tempat duduk Elle, Deasy dan Rose, kaki Elle sengaja keluar dari meja dan menghalangi jalan yang dilalui Kelly. Kelly yang tidak memperhatikan, tersandung kaki Elle dan terjatuh. Makanan yang dia bawa tumpah berantakan di lantai. Rasanya ingin menangis ketika mendapatkan perlakuan wanita itu, tetapi dia tidak mungkin menangis dan terlihat lemah di depan para wanita penyebar gosip tersebut. “Maaf, aku tidak sengaja, aku tidak tahu jika kamu lewat di sampingku,” ucap Elle berpura-pura meminta maaf, lalu terkikik bersama teman-temannya. Kelly memilih diam dan mengacuhkan permintaan maaf Elle yang tidak sungguh-sungguh. Sambil menahan emosi yang menghentakkan dada, Kelly bangun dari tempatnya terjatuh dan membereskan makanannya, lalu membuangnya ke tempat sampah. Mengetahui jika dirinya tidak bisa mengambil makanan untuk ke dua kali, terpaksa siang itu Kelly tidak makan. Dia hanya minum air mineral lalu berkutat kembali dengan pekerjaannya. Baru saja hendak memindahkan beberapa ikat rumput untuk sapi di depannya, seseorang berlari meneriakkan nama Kelly. “Kelly! Kelly!” teriak seorang bocah berumur dua belas tahun memanggil namanya. Dia adalah tetangga di sebelah rumah di mana Ethan dititipkan. “Rumahmu kedatangan tamu dengan membawa mobil yang sangat bagus. Dia mencarimu dan Ethan!” seru bocah tersebut. “Mencariku dan Ethan? Apakah dia memperkenalkan namanya?” tanya Kelly heran. “Dia bilang namanya Zack Collins,” jawab bocah itu, terengah. “Collins!” teriak Kelly tanpa sadar. Dengan cepat Kelly membuang besi pengaduk rumput yang sedang dipegang, lalu berlari cepat, keluar dari kandang. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena larinya, tetapi karena rasa takut yang menghinggapinya. Ingatan Kelly akan pesan kakaknya kembali teringat. Collins adalah nama dari pria yang menghamili kakaknya. Sara sudah berpesan agar dirinya menjauhkan Ethan dari semua yang berhubungan dengan keluarga Collins. Jangan sampai pria itu membawa Ethan. Beberapa kali Kelly terjatuh di tanah peternakan karena tidak memperhatikan jalan. Kakinya terkilir, tetapi dia tidak peduli. Dengan kaki terpincang, dia tetap berlari menuju rumahnya. Fokus pikirannya kini hanya tertuju pada Ethan, dia tidak akan membiarkan pria Collins itu mengambil Ethan. Tubuh Kelly membeku ketika sampai di depan rumah dan melihat Ethan sedang menangis keras di gendongan seorang pria tampan dengan ekspresi dingin. Mata pria itu berwarna biru, sama persis seperti warna mata Ethan. Kelly mengira jika pria itu adalah Papa Ethan karena kemiripan mereka. Zack yang kesal dengan tangisan anak yang dibawanya, menutup telinga dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain menahan Ethan tetap aman di dekapannya. “Kamu akan membawa putraku ke mana?” seru Kelly terpincang mendekati Zack. “Berikan Ethan padaku! Dia takut padamu. Ethan tidak mudah beradaptasi dengan orang yang baru dikenalnya!” pinta Kelly. Zack menoleh mendengar suara Kelly, matanya menyipit penuh selidik. “Apakah kamu bernama Watson?” tanya Zack dingin dan sinis dengan tetap menjauhkan Ethan dari jangkauan Kelly. “Ya, namaku Kelly Watson. Serahkan Ethan padaku, dia akan terus menangis seperti itu jika aku tidak menggendongnya.” Kelly kembali membujuk Zack agar menyerahkan Ethan.Dia mengabaikan perhatian yang David berikan dan berharap pria itu bisa pergi dengan cepat dari rumahnya. Dia mengingkari dirinya sendiri jika sebenarnya dia suka dengan semua perhatian yang pria itu berikan. Sayangnya, dia takut berharap dan harapannya itu akan mematahkan semangat hidupnya.David hanya mengeraskan rahang merespon semua sikap Ariana. Harga dirinya seakan direndahkan ketika Ariana terus mengabaikan perhatiannya.Keesokan harinya, Ariana tidak menemukan David di sofa tempat tidur pria itu. Tiba-tiba hatinya mencelos teringat jika dirinya memang menginginkan kepergian pria itu. “Benarkah David pergi? Apakah hanya segitu usahanya untuk meluluhkan hatiku?”Untuk memastikan kepergian David, dia berjalan cepat mendekati jendela untuk memeriksa mobil pria itu dan benar saja jika mobil David sudah tidak ada. Kekecewaan terasa menekan dada Ariana.Seandainya dia berkata jujur tentang perasaannya, David pasti tidak akan meninggalkannya. Saya
Ingin sekali David mengatakan jika dia sudah mengesahkan pernikahan mereka, tapi dia tidak ingin Ariana marah dan malah meminta bercerai darinya. Hati wanita itu masih penuh kemarahan sehingga tidak bisa berpikir jernih, seperti dirinya dulu yang akhirnya mengambil keputusan yang salah.David bertekad untuk meluluhkan hati Ariana lebih dulu, lalu memberitahukan tentang status pernikahan mereka.“Apa yang kamu lakukan setiap harinya? Aku akan membantumu,” ujar David mengalihakan pembicaraan mereka.Sadar jika dia tidak bisa mengusir pria keras kepala tersebut, Ariana memutuskan untuk mendiamkan pria itu. Namun lucunya, dia tetap menyiapkan sarapan untuk David, memberikannya pakaian bersih lalu baru meninggalkan David untuk mengurus hasil pertanian yang akan dia jual.Perhatian Ariana selalu ada untuk David bahkan tidak berkurang membuat David yakin jika mereka masih memiliki harapan untuk bisa kembali bersama.David dengan tanggap membantu
Tidak ingin bertengkar dengan Ariana karena tubuhnya tidak memungkinkan untuk menanggapi pertengkaran dan kepalanya berdenyut sakit, apa lagi harus terusir dari rumah wanita itu dengan kondisinya sekarang, David memilih mengalah dan mengikuti perkataan Ariana.Dia berusaha untuk duduk, dibantu Ariana, lalu membuka mulutnya ketika wanita itu menyuapkan bubur yang telah dia masak. Saat sendok pertama masuk ke mulutnya, David ingin memuntahkan bubur tersebut, tapi setelah makan beberapa sendok, perutnya mulai terasa nyaman dan dia berhasil menghabiskan separuh mangkok.“Cukup Ariana, aku tidak sanggup memakannya lagi,” tolak David sambil mendorong bubur yang terarah di depan mulutnya.Merasa perut David sudah terisi, Ariana tidak memaksa pria itu untuk menghabiskan buburnya. Dia meletakkan mangkok bubur tersebut di atas meja lalu menyuruh David memakan obat demam dan pereda rasa nyeri yang sudah dia siapkan.David dengan patuh meminum obatnya dan ber
Dia telah berjalan lima belas menit dan tiba-tiba hujan deras turun tanpa peringatan sama sekali. Lengkap sudah penderitaannya sekarang. Tubuhnya basah kuyup dan tak mungkin kembali ke mobilnya jika tidak mau mengalami hipotermia.Dia meneruskan perjalanan mencari rumah penduduk terdekat untuk menumpang semalam dan mengeringkan bajunya. Di tengah keputus asaannya, dia melihat harapan saat melihat satu rumah dengan lampu temaram. Dengan cepat dia berlari menuju rumah tersebut.Beberapa kali dia mengetuk pintu rumah tersebut, tapi lama pemilik rumahnya membukakan pintu. Hingga akhirnya pintu terbuka dan seorang wanita dengan perut buncit berdiri di depan David.Tubuh keduanya membeku dan sama-sama memucat. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara sampai akhirnya David bergumam dengan suara gemetar.“Ariana ...”Malam ini udara terasa sangat dingin, lebih dingin dari malam-malam biasanya. Ariana baru saja menarik selimut, tiba-tiba hujan
Jackie menggeram kesal mengetahui hal tersebut. “Aku tidak akan menyerah begitu saja dan satu hal lagi, aku akan tetap menuntut kakak iparmu itu dengan tuduhan penipuan. Dia akan menjadi buronan polisi mulai detik ini.”Setelah mengatakan hal tersebut, Jackie pergi dari hadapan David, keluar dari ruang kerjanya dengan membanting pintunya keras. Semenjak saat itu ketegangan David dan Jackie semakin memanas.Di tempat lain di sebuah desa tidak jauh dari kota, seorang wanita dengan perut membesar sibuk mengelola sebuah toko buah. Dia adalah Ariana.Panjang ceritanya hingga akhirnya dia bisa berada di tempat tersebut. Singkatnya seorang wanita menolongnya saat dirinya hendak mengakhiri hidupnya. Sebuah mobil berhenti di pinggir jembatan dan pengemudinya mendekati Ariana.Awalnya dia hanya menanyakan apa yang terjadi pada Ariana, akhirnya mereka menjadi dekat dan Ariana ditampung di rumahnya. Satu hal yang Ariana ingat dari perkataan wanita itu.
“Bagaimana keadaan David? Aku baru saja mendengar berita kecelakaannya setelah mama menelpon dan memberitahu.”Dorian kemudian menjelaskan pada Jackie keadaan David seperti apa yang dokter jelaskan padanya. “Kata dokter tidak ada luka dalam yang perlu dikhawatirkan. Namun David harus menerima beberapa jahitan.”“Semua salahku,” gumam Jackie yang membuat Athena dan Dorian tercengang.“Apa yang terjadi?” tanya Dorian yang tidak ingin langsung mengambil kesimpulan. Dia ingin tahu apa yang menyebabkan kecelakaan David tanpa harus menyalahkan siapapun.“Aku dan David sempat berkelahi di klub,” ujar Jackie lalu menceritakan secara detail apa yang terjadi. Athena yang mendengarnya, memegangi kepala karena berdenyut sakit menerima kenyataan yang sungguh mencengangkan untuknya.“Apakah menurutmu apa yang David katakan bisa dipertanggungjawabkan? Benarkah dia dan Ariana sudah menikah dan wanita itu sedang mengandung anak David?” Athena ke
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Zack tampak serius dengan kemudinya. Tatapan matanya terus lurus ke depan, berkonsentrasi dengan jalan yang mobil yang dilalui. Sedangkan Kelly menatap keluar jendela, asyik dengan pikirannya sendiri.Bayangan tentang d
“Bagaimana dengan Nona Kelly? Karena tampaknya Anda masih sangat muda,” usul Maria. “Itu jauh lebih baik dibanding Nyonya,” kata Kelly. “Nona, bolehkah aku menggendong Tuan Muda Ethan? Agar Anda bisa makan dengan nyaman,” seorang pelayan yang du
“Bukan bagitu caranya. Aku menginginkan bagianmu sekaligus bagian Ethan. Kamu sebagai wali dari Ethan harus memastikan jika harta Ethan menjadi milikku setelah itu aku akan melepaskanmu dan kamu bisa pergi jauh dari kehidupanku. Bahkan aku tidak ingin melihatmu dengan Ethan lagi,” papar Zack.Kelly
Apa yang dilakukan Zack membuat kaki Kelly semakin berdenyut menyakitkan, tapi Kelly menahan rasa sakit tersebut. Kelly tidak ingin Zack meninggalkannya jika dia menghambat langkah pria itu. Ini satu-satunya kesempatan dia bertemu dengan Ethan kembali.Zack membuka pintu mobil dan mendorong tubuh K







