LOGIN“Kita dimana?” tanyanya lemah.“Tempat yang aman.”“Ethan … apa yang terjadi padanya?” Pertanyaan yang sontak membuat nyeri dada Daniel.“Ethan, siapa dia? Kau menyebut namanya semalam?”“Seniorku di London School. Dia bersamaku di mobil itu tapi dia … terluka.” Jawab Celina cemas.Daniel menarik nafas pelan. “Maafkan aku Celina, hanya kau yang bisa aku selamatkan. Mobil itu … meledak tak lama setelah kau keluar.”Celina tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Nyeri di tangan dan lehernya membuat Celina tak bisa banyak bergerak. Air matanya tak bisa dibendung. Celina mengerti situasinya.Saat mobil terbalik, ia tahu Ethan tak bergerak ataupun merespon dirinya. Meski begitu, Celina menyesal tak bisa berbuat banyak untuk menolong Ethan. Ia tergugu dalam tangis. Daniel memeluknya erat, mengusap lembut punggung Celina.“Maaf … aku terlambat datang.”“Ini bukan kesalahanmu, aku hanya …” kalimat itu terputus, Celina tak sanggup lagi melanjutkan.Ethan memang menjebaknya, tapi sampai detik terak
Angin laut berhembus pelan melewati celah jendela rumah tua itu. Bau kayu lembab bercampur obat-obatan memenuhi ruangan sempit yang hanya diterangi lampu kuning redup di sudut meja.Celina masih terlelap, nafasnya pelan dan teratur. Demamnya mulai turun meski wajahnya masih terlihat pucat.Semalaman Daniel berjaga sambil memeluk tubuh Celina. Wajahnya terlihat lelah dan tangannya gemetar. Ia tak sedetikpun melepas pelukannya seolah khawatir Celina akan pergi dan menghilang.“Ethan … jangan pergi,” Celina kembali mengigau sama seperti semalam, selalu menyebut nama Ethan. Daniel dibuat penasaran siapa lelaki yang terus menerus disebut Celina.“Apa di hatimu ada lelaki lain, Celina? Kau bahkan tidak menyebut nama David. Siapa Ethan sebenarnya?” Ada rasa cemburu yang menguasai Daniel tapi rasa cintanya jauh lebih besar.Perlahan, ia menyeka keringat yang membasahi pelipis Celina. Luka benturan di kening kini menimbulkan jejak merah kehitaman. Ia duduk di tepi ranjang tak melepaskan tanga
“Dia alasanku masih bertahan hidup.”Cornell terdiam mendengar itu.Kalimat yang sederhana, tapi cara Daniel mengucapkannya terasa jauh lebih berat dibanding luka-luka di tubuhnya sendiri. “Kau … benarkah ini Daniel yang ku kenal?” Ucapnya pelan tak percaya.Hujan di luar makin deras. Angin laut menghantam kaca jendela kecil klinik hingga menimbulkan bunyi berderit pelan.Cornell akhirnya bergerak cepat mengambil jaket tebal dari gantungan.“Kita harus pindah sekarang sebelum fajar,” katanya serius. “Pelabuhan mulai ramai jam lima pagi. Kalau ada orang asing melihat kalian, kabar bisa menyebar ke seluruh kota.”Daniel mengangguk singkat. Ia berdiri perlahan, tapi baru beberapa langkah tubuhnya sedikit goyah. Cornell sigap menahan lengannya.“Kau juga butuh perawatan.”“Aku baik-baik saja.” elak Daniel menepis pelan tangan Cornell.“Kau keras kepala sekali. Apa harus menunggu mati untuk sadar, huh?”Daniel mengabaikannya. Tatapannya kembali pada Celina yang masih terbaring pucat di ra
Cornell terdiam saat kata ‘Monster’ diucapkan Daniel. Kata yang cukup lama tidak di dengar Cornell. Dulu ia menyebut kata itu untuk mendefinisikan orang-orang kejam yang nyaris membunuh keluarganya sebelum akhirnya ditolong Daniel.Cornell sudah mengenal Daniel cukup lama, tapi pria itu seperti teka-teki yang rumit ditebak. Daniel hampir tidak pernah meminta bantuan siapa pun termasuk dirinya.Karena itu melihat Daniel muncul tengah malam dalam keadaan terluka sambil menggendong seorang wanita tak sadarkan diri rasanya begitu mengejutkan.“Lukamu cukup dalam,” ucap Cornell pelan sambil melepas sarung tangan medisnya. “Jika dibiarkan akan terinfeksi.”“Tenang saja, aku masih hidup.”“Ya untuk sementara. Tapi jika kau tidak menurutiku maka …hidupmu selesai dalam tiga puluh enam jam.”“Ciiih, berlebihan sekali. Aku memiliki cadangan nyawa yang jauh lebih banyak darimu.”Cornell mendekat, lalu tanpa menunggu izin Daniel, ia menarik kemeja Daniel kasar. Pria itu mendesis pelan saat pakaian
Sementara itu, di salah satu gedung pencakar langit, di tengah kota London. Beberapa jam sebelum David meninggalkan pusat kota.Cahaya kota London di malam hari menembus dinding kaca besar dan memantul pada lantai marmer hitam mengkilap. Beberapa layar monitor menyala menampilkan berita yang terus berganti.“Knight Corp mengalami penurunan saham terbesar tahun ini.”“Heatrix kehilangan beberapa investor utama.”“Seluruh media mulai menyoroti krisis internal keluarga Knight.”Andreas duduk santai di kursinya. Jas hitamnya rapi sempurna, kontras dengan senyum tipis yang perlahan terukir di wajahnya. Jemarinya mengetuk pelan sandaran gelas kristal berisi wine merah.“Ini indah sekali …,” ia tergelak dan benar-benar menikmati kekacauan itu.“David Knight … kau memang bodoh. Hanya seorang wanita dan kau … melupakan segalanya.”Ia memiringkan kepala menatap salah satu layar yang memperlihatkan ulang rekaman mobil David melaju meninggalkan pusat kota London.“Kelemahanmu adalah Celina. Kau d
“Apa rencana Tuan?”David tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada mobil berlumur darah itu. Pintu belakang terbuka, bekas peluru memenuhi bodi samping, dan darah di jok belakang masih belum mengering.Terlalu banyak darah, tapi mayat yang ditemukan hanya satu. Terlalu bersih untuk baku tembak sekelas salah satu kelompok mafia terbesar di Sisilia.“Entahlah Steve, ini terlalu janggal,” gumamnya pelan.Steve mengernyit. “Tuan?”David perlahan berjongkok, memperhatikan kembali bercak darah di aspal dan dalam mobil.“Kalau Irene menangkap Celina, dia tidak akan meninggalkan kekacauan seperti ini.” Mata David menyipit tajam. “Dia akan membawa Celina hidup-hidup. Karena dia jaminan untuk menaklukkan Daniel.”“Tapi bisa saja Nyonya dibunuh dan Daniel mau tidak mau menuruti Irena karena kalah jumlah.”David menggeleng, “itu bukan cara Daniel. Aku yakin Celina masih hidup dan dia bersama Daniel. Mobil ini hanya pengalihan untuk membantu pelarian mereka.”David berdiri kembali.
Langit London terlihat kelabu. Kabut tipis menggantung rendah di atas kompleks pemakaman keluarga Valemont. Nisan marmer putih dengan lambang keluarga terukir rapi—patung singa berdiri dengan mahkota kecil di atasnya.Celina berdiri tegak di depan tiga makam. Matanya sayu menatap tulisan. Kedua ora
David dan Celina menghabiskan malam panjang dalam situasi canggung. Gengsi Celina masih terlalu tinggi untuk mengakui perasaannya pada David. Selain itu, Celina juga takut jika David akan melakukan hal yang sama seperti halnya Jason. “Apa yang kau pikirkan?” Tanya David lembut setelah meletakkan m
Udara sore di manor milik Andreas terasa tenang seolah mendukung pertemuan penting yang sedang berlangsung. Langit di luar jendela kaca tinggi berwarna kelabu pucat, cahaya redupnya jatuh ke ruang duduk utama yang didominasi sofa kulit gelap dan meja marmer panjang. Sebastian Whitmore duduk tega
“Kau memilih mengorbankan putrimu?” David bertanya setelah Victor menyatakan keberatannya melakukan permintaan David.Kening Victor bertaut, jarinya saling meremas gundah. “Bukan begitu, maksudku … kau tidak akan mengerti.”“Kalau begitu, buat aku mengerti.”David tersenyum tipis, umpannya berhasil







