로그인" J-Jason?”
Celina mengerjap perlahan, seperti kabut tipis yang merayap. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya kering, dan tubuhnya terasa berat meski masih bisa digerakkan. Obat yang diberikan Jason dalam wine rupanya tidak berjalan seperti yang diharapkan. “Ooh Jason, lebih cepat lagi sayang …,” suara familiar terdengar lirih tapi cukup jelas di telinga. Celina menajamkan pendengaran, hatinya menjerit mendengar suara-suara di balik dinding. Helaan nafas, bisikan, erangan rendah yang menegakkan bulu halus, cukup memberinya isyarat tentang pengkhianatan. Celina membuka mata lebar-lebar, memperhatikan cahaya lilin menari di langit-langit. Ia menoleh ke arah kamar mandi, lalu membeku. Suara pancuran air terdengar mengiringi aktivitas intim di dalam sana. ‘Tidak … ini pasti salah. Jason tidak mungkin melakukannya.’ ucapnya dalam hati menenangkan diri. Celina turun dari ranjang, dengan gemetar menyambar cepat kemeja milik Jason untuk menutupi tubuhnya. Sungguh, saat ini, ia berharap seluruh indera-nya salah. Dada Celina naik turun cepat. Bukan hanya karena sakit kepala, tapi karena kenyataan yang menghantam lebih keras dari obat apa pun. Dengan sisa tenaga, Celina berjalan terhuyung. Dunia rasanya berputar, suara-suara laknat itu semakin membuat perutnya melilit. Ia menelan ludah, lalu kembali melangkah pelan dan berhati-hati. Celina menghentikan langkah. Nalurinya berkata untuk menoleh ke arah kamar mandi. Mengintip pada pintu yang setengah terbuka. Ia terbelalak, pantulan dari cermin yang berembun, membuat darahnya mendidih. Tertangkap jelas sepasang kekasih yang tengah saling memuja. "J-Jason ... Natasya," Jason mencengkeram pinggang Natasya, sementara perempuan itu mendongak, bibirnya menempel pada rahang Jason. Mencumbunya liar. Nafas Celina tercekat. Suara lenguhan panjang kembali terdengar tanda kepuasaan tercapai. Tangan Celina mengepal kuat di sisi tubuhnya. Nafas kacau keduanya bahkan terdengar sampai ke tempat dimana Celina berdiri. Dunia Celina seakan runtuh dalam satu detik. Mereka adalah orang-orang terdekatnya. Orang-orang yang sangat dipercaya. Celina mundur setengah langkah, nyaris tanpa suara. Menahan bulir bening yang nyaris tumpah. “Aku tak mau menunggu lebih lama,” suara Natasya terdengar pelan. “Selama Celina masih hidup, Heatrix Corp tak akan pernah benar-benar jadi milik kita.” Jason tersenyum samar di cermin. Senyum licik yang tak pernah ia tunjukkan pada Celina. “Aku tahu,” jawabnya tenang. “Aku sudah mengatur semuanya dan besok berita besar akan dicetak pada headline surat kabar. ‘Pewaris Tunggal Heatrix Tewas Mengenaskan saat Mobil yang Ditumpanginya Masuk Jurang’ bukankah itu berita yang sangat indah?” Jason mendaratkan kecupan singkat tapi penuh hasrat, keduanya tertawa. “Dewan direksi hanya perlu satu alasan untuk mencabut namanya sebagai pemegang saham terbesar Heatrix.” Natasya menambahkan. Darah Celina rasanya membeku. ‘Mereka ingin … membunuhku?’ Ia tak menyangka, bukan hanya pengkhianatan cinta yang ia saksikan langsung tapi juga rencana untuk merebut segalanya yang Celina bangun dengan darah dan air mata. Heatrix Corp adalah hidupnya, peninggalan kedua orang tuanya. Celina menutup mulutnya dengan tangan gemetar, menahan isak yang nyaris lolos. Di cermin itu, Natasya dan Jason kembali berpelukan, seolah melenyapkan nyawanya hanyalah topik ringan di antara kecupan dan bisikan. Rasa sesak menekan dada Celina, seolah paru-parunya lupa bagaimana cara bekerja dengan benar. Efek obat itu belum sepenuhnya. Penglihatannya berkunang, dan setiap langkah terasa seperti menginjak lantai yang bergelombang. Ia bergerak menjauh dengan langkah tertatih. “Aku harus pergi … aku harus selamat.” gumamnya lirih sambil menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Pengkhianatan yang dilakukan Jason dan Natasya memukul telak mental Celina. Jantungnya berdebar kencang, pikirannya kacau dan tiba-tiba kaki Celina kehilangan kekuatan. Celina terjatuh. Suara tubuhnya membentur lantai terdengar terlalu keras hingga memancing perhatian Jason. Ia berusaha kembali berdiri dan meraih gagang pintu tapi terlambat, Jason mengetahuinya. “Celina! kau ...," Celina menyeret tubuhnya tapi kalah dengan kecepatan langkah kaki Jason. Tangan kekar Jason menarik tubuh Celina dengan mudah. Mencengkeram tangan Celina dengan keras hingga wanita itu meringis kesakitan. “Kau tidak bisa pergi kemana-mana, Celina sayang.” “Lepaskan aku! Kau, lelaki brengsek, pecundang, bajingan terburuk yang ada di dunia ini!” Celina meronta, menendang, mengayunkan siku, apa pun yang bisa ia lakukan untuk terbebas dari Jason. “Kau pikir akan ada yang menyelamatkanmu?” bisiknya dekat telinga Celina. “Kau tidak bisa pergi Celina sayang. Tidak tanpa seizinku." Ia mendorong Celina ke dinding. Punggung Celina menghantam permukaan keras itu, nafasnya tercekik. Jason mencoba menahan kedua tangannya di atas kepala, tapi Celina bukan perempuan yang menyerah begitu saja. Ia menggigit lengan Jason sekuat tenaga. “Brengsek!” Jason mengumpat, refleks melepas satu tangan. Jason semakin emosi, ia menyeret tubuh Celina, mendorongnya keras ke sisi ranjang. Celina menjerit saat pergelangan tangannya dipelintir. “Kau tidak akan pernah lolos dariku, Celina!” Jason melepas kasar cengkramannya hingga Celina terjerembab. Lalu suara tepuk tangan pelan terdengar. “Wah wah wah, lihat dia siapa yang menjadi jalang disini.” Itu Natasya dan Celina menatap jijik pada sahabatnya itu. “Kau … beraninya melakukan ini padaku.” Natasya tersenyum sinis. “Kau tahu, Celina … terkadang, kita hanya perlu sedikit gila untuk bisa keluar dari bayangan seseorang.” Wanita keturunan Belarusia itu mencengkram dagu Celina, membuatnya mendongak menatapnya. “Heatrix Corp seharusnya jatuh ke tangan orang yang lebih pantas.” lanjutnya lagi setengah mengejek. Jason menekan tubuh Celina lebih keras. “Kematianmu akan menjadi kado pertunangan kita yang terindah.” “Jangan bermimpi di siang bolong!” Celina meronta, menendang, mencakar. Natasya tak tinggal diam, ia menjambak rambut Celina dari belakang. "Diam,” bisiknya kejam. “Tidak ada yang akan menolongmu.” Tapi Natasya membuat kesalahan, ia berdiri terlalu dekat dan memberi Celina kesempatan. Celina menghantam perutnya sekuat tenaga. Natasya terpekik, terhuyung mundur. “Bodoh!” Jason mengumpat. Celina tak membuang kesempatan, ia meraba meja kecil. Tangannya meraih cepat asbak kristal di nakas dan mengayunkannya tanpa ragu. “Aaargh!!” Asbak itu menghantam kepala Jason. Darah mengalir dari pelipisnya. Jason terhuyung, terkejut karena Celina begitu berani. Tak hanya itu, Celina menendang lutut Jason, mendorong tubuhnya menjauh, lalu segera berlari. “Kejar dia!” jerit Natasya, sambil menahan perutnya.Mendengar suara yang memanggil namanya, anak kecil itu langsung menoleh cerah. Ia menyambar mobil-mobilan dari tangan David dan bergegas pergi. “Thanks, Uncle.”Jantung David seolah berhenti seketika. Senyum itu mengingatkannya pada Daniel. “Anak itu …,”David segera mengikuti langkah kecil anak itu, tak peduli dengan teriakan Steve dan stafnya untuk kembali. Ia terus mengikuti hingga akhirnya, langkah David berhenti.David membeku di tempat saat melihat mereka berjalan pergi menuju area taman belakang hotel. Degup jantungnya semakin keras.“Dominic … apa yang dia lakukan disini?”Naluri yang selama tiga tahun tak pernah mati kini seperti menjerit di dalam kepalanya. Hatinya terasa sangat tidak tenang.Lalu David melihatnya.Seorang wanita berdiri membelakanginya di dekat air mancur kecil. Rambut coklat yang lembut dan postur tubuh wanita itu, mengingatkannya pada Celina.“Mommy!” Anak kecil tadi menghampirinya dengan riang. Wanita itu berbalik perlahan lalu tersenyum lebar menyamb
Dua anak kembar Celina sudah tertidur setelah kelelahan bermain seharian. Dominic membanjiri mereka dengan hadiah, bermain dengan anjing peliharaan, dan tentu saja berlomba adu cepat remote control di arena yang sengaja dibuat khusus Dom.Rumah besar itu akhirnya sunyi, hanya suara kayu perapian yang terbakar pelan memenuhi ruangan.Celina berdiri di dekat jendela sambil memandangi salju yang jatuh. Sementara Dominic duduk tenang di sofa belakangnya, membaca data pada tablet tipis di tangannya.“David semakin buruk.”Kalimat itu membuat Celina menarik nafas dalam. Ada kerinduan bercampur ketakutan di dalamnya.“Selama tiga tahun terakhir dia nyaris menghancurkan dirinya sendiri.” lanjut Dominic masih dengan nada datar.Celina menunduk. Sebenarnya, ia tidak terlalu terkejut dan sudah menduganya.“Dia masih mencarimu.” Dominic mengangkat tatapan.Napas Celina terasa sesak.“Ia tetap menjalankan Heatrix dan Knight seperti biasa, tapi hidupnya berantakan.” Dominic berhenti sejenak. “Alkoh
Langit malam masih dipenuhi bau asap dan besi terbakar ketika David akhirnya siuman. Kepalanya terbalut perban tipis. Ia berjalan mendekat didampingi Steve. Api belum sepenuhnya padam. Lampu kendaraan darurat memenuhi area dengan kilatan merah dan biru yang menyakitkan mata. Potongan beton hangus berserakan di mana-mana, sementara sisa ledakan kedua membuat sebagian bangunan benar-benar runtuh ke bawah dermaga. David berjalan menembus garis pembatas tanpa memperdulikan teriakan petugas. “Tuan! Area ini berbahaya—” seorang petugas kepolisian menghalanginya. David mendorong lelaki itu begitu saja. Matanya liar mencari ke segala arah. “CELINA!” teriaknya lantang. Tentu saja tidak ada jawaban. Hanya suara api kecil yang masih menyala di antara puing. Nafas David mulai memburu. Tangannya gemetar saat memindahkan bongkahan beton dengan tangan kosong meski telapak tangannya terluka dan berdarah. “Daniel!” serunya lagi dengan suara gemetar. Tetap tidak ada jawaban. Steve
EPILOG Hujan turun dengan deras, celina menyelinap keluar kamar dengan berhati-hati. Tiba di bagian belakang rumah, pria bermantel gelap mendekatinya.“Kau yakin akan melakukannya? Jika kau melakukannya … maka tidak ada jalan kembali lagi bagimu.” Dominic berkata sekali lagi memastikan keputusan Celina.Celina terdiam sesaat lalu tersenyum. “Ya, demi kebaikan semuanya.”Dom mengusap kasar wajahnya dari air hujan. “Aku tidak suka ini, Celina. Kau membahayakan nyawamu sendiri.”“Aku tahu.”“Kau tidak ingin anak itu?” Tanya Dominic bingung.“Justru karena aku menginginkannya. Dan aku ingin dia hidup tenang bersamaku.”Dominic menghembuskan nafas frustasi. “Ini ide gila, Celina. Sangat gila.”“Hanya kau yang bisa membantuku, Dom.”Keduanya saling menatap sesaat sebelum akhirnya Dominic setuju. “Baiklah.”Ia mengeluarkan kotak kecil berisi suntikan serum berwarna biru metalik. “Tapi dengan syarat, kau harus mengikuti rencanaku.”Dominic menarik tangan Celina.“Apa yang kau lakukan, Dom?”
“Mereka membawa Celina ke sana!”Tatapan David dan Daniel langsung berubah tajam bersamaan. Tanpa ingin membuang waktu, mereka berlari maju bersama menembus hujan dan peluru. Sesekali, Dominic melindungi keduanya dengan kemampuan menembak jitu dan sabetan katana yang presisi.Pintu gudang tua itu dibanting terbuka. David dan Daniel langsung masuk dengan nafas memburu, dengan pistol terangkat tinggi. Tapi langkah mereka mendadak terhenti.“Selamat datang Tuan-tuan Knight.” Irene menyapa dengan tawa kecil. Tatapan keduanya jatuh pada Celina yang terduduk lemah di lantai dingin. Kedua tangannya terikat di belakang kursi besi. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat pasi, dan nafasnya pun kacau. Tapi yang paling membuat jantung kedua bersaudara itu berdebar kencang adalah … cairan kemerahan yang merembes diantara dua kaki Celina.“Celina …,” David memanggilnya dengan suara bergetar. Celina menatap lemah ke arahnya.“Aku baik-baik saja.” Sahutnya pelan setengah sadar.Dominic mengepalkan ta
“Turunkan senjatamu, David.” Dominic mendekat perlahan, tangannya menekan turun tangan David.Irene mundur perlahan sambil menyeret tubuh Celina yang lemah. Tangannya mencengkeram bahu Celina erat, sementara pistol itu masih menempel di pelipisnya.Rafael Ortega melindunginya hingga mereka berhasil melarikan diri.“Kau tidak akan lolos dari kejaran mereka.” Kata Celina.Irene berdecak sinis, mendorong kasar tubuh Celina agar berjalan cepat. “Kalau begitu, kejar aku sampai neraka.”Rafael berusaha menahan diri. Situasi mereka belum aman dan ketika memasuki salah satu gudang tua, ia mencengkeram lengan Irene kasar. “Hentikan kegilaanmu!” desisnya tajam.Celina nyaris terseret jatuh. Tapi Irene bahkan tidak peduli. Ia terus berjalan,menatap lurus ke depan.“IRENE?!” Rafael menghentikan langkah wanita itu, menariknya kasar.“Kenapa … kau menyesal?” Tatapannya tajam.“Hentikan apa yang ada dalam pikiranmu. Kita harus pergi sekarang.” Rafael menatapnya tajam.Irene diam sejenak lalu menjaw







