Mag-log in
“Ooh, Jason … pelan-pelan.” Suara serak diantara desahan dan erangan terdengar lirih.
“Celina, aku mencintaimu. Kau tahu kan … aku sangat menunggu momen ini.” Ucap Jason lirih dengan nafas kacau. Jason buru-buru mengunci pintu, ia tak ingin menunggu. telapak tangannya menahan pinggang Celina, mencengkeram kuat, tak memberi celah sedikitpun. Ia mencium sudut bibir Celina, merasakan aroma buah menggoda yang memacu hasrat lelakinya. “Celina, aku mencintaimu ..,” bisik Jason di sela nafas yang memburu. “Panggil namaku, sayang.” Celina menelan ludah. Kata-kata itu membuat dadanya mengencang. “Jason ..,” Jason menatapnya dalam, sorot matanya tertutup kabut gairah yang menggebu. Ia kembali menyesap lembutnya bibir ranum Celina. Kali ini lebih berani, lebih memaksa dan menuntut seakan ingin membuktikan bahwa ia sangat menginginkannya. Jason tak tahan lagi, ia menurunkan tali bahu gaun Celina perlahan, tangannya mengusap punggung polos wanita yang baru saja menjadi tunangannya itu. Menurunkan resleting gaun hingga jatuh lembut di lantai. Tangannya begitu aktif memijat lembut area sensitif di dada Celina, meloloskan erangan rendah yang membakar. “Kau cantik,” ucap Jason rendah. “Sangat cantik ..,” Celina terdiam sejenak untuk mengambil nafas. Jantungnya berdebar tak karuan. “Malam ini … aku milikmu, Jason.” Bibir keduanya kembali bertaut, saling menggigit dan melumat, memainkan tulang lunak yang saling membelit dengan sensasi panas yang perlahan membakar keduanya dalam hasrat primitif. Jason melepas jasnya terburu, melemparkannya ke sembarang arah. Sementara tangan Celina membuka satu persatu kancing kemeja Jason. “Celina …,” Jason menyusuri wajah cantik Celina dengan telunjuk. Bergerak turun dari pipi, mengusap bibir lembut merah mudanya. “Kau yakin akan melakukannya?” Tanyanya sekali lagi memastikan kebulatan tekad Celina. “Aku tidak pernah seyakin ini,” jawab Celina dengan suara gemetar lalu kembali menyambar bibir Jason. “Kalau begitu, jangan berpaling dariku malam ini.” Celina mengangguk. Ia melepaskan sisa kancing kemeja Jason dengan jari yang tak lagi stabil, merasakan panas tubuhnya, dan detak jantung yang terlalu cepat. Jason menuntunnya ke arah ranjang, tangannya tetap di pinggang Celina, seolah memastikan ia tak akan berubah pikiran. Jason berbisik di dekat telinganya, “Pejamkan mata jika malu dan berteriaklah jika sakit. Aku menyukai suara indah mu itu.” Celina duduk di tepi ranjang, nafasnya pendek, pandangannya sedikit kabur karena alkohol yang sempat menjelajah tenggorokannya. Tapi itu tak menyurutkan niat Celina untuk menyerahkan mahkota yang dijaganya dengan baik hanya untuk Jason. BRAAK!! Baik Jason dan Celina berhenti lalu saling menatap. “Apa itu?” Celina ketakutan dan Jason meraihnya dalam pelukan, menutupi tubuh setengah polosnya. Jason menghentikan cumbuan, ia menoleh ke arah kamar mandi dan berjalan perlahan dengan hati-hati. “Tidak ada apa-apa disini, mungkin suara itu dari kamar lain.” Ucapnya begitu selesai memeriksa dan membiarkan pintu kamar mandi terbuka sedikit. Diraihnya sebotol wine dalam ember kaleng berisi es batu, ia menoleh sejenak ke arah Celina. Wajahnya yang merona kemerahan dan tubuh polosnya sungguh menggoda. “Mari kita rayakan malam pertunangan kita ini sayang ..,” Jason memberi Celina segelas, keduanya bersulang sebelum rasa panas yang aneh mulai menjalar di tubuh Celina. Kepalanya terasa berat dan nafasnya kepayahan. “Jason … kepalaku … p-pusing se-kali,” “Celina … apa maksudmu? Kau sakit atau … sengaja menghindar?” Jason tak mengindahkan keluhan Celina, ia terus mencumbu, menggigit, dan menghisap indahnya leher jenjang dan bagian cembung sekal milik Celina. “A-aku, Jason … a-aku,” Celina terkulai lemas, matanya terasa berat. Ia tak bisa mengontrol kesadarannya lagi lalu jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Jason. Seringai aneh muncul di wajah Jason, “dasar bodoh, kau pikir aku begitu mencintaimu?” Jason menatap jijik pada Celina, menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. “Kau hanya salah satu dari mainanku. Setelah ini, aku akan menguasai hartamu.” Jason mengambil sebatang rokok, berdiri dengan angkuh sambil mengetik pesan singkat pada seseorang. “Kau … jahat sekali, Jason.” Suara wanita terdengar dari arah belakang. Tangannya yang lentik mengusap dada bidang berotot Jason. Wanita itu meletakkan dagunya di bahu kanan Jason, membantu menyalakan rokok untuknya. “Dan kau cukup nekat dengan masuk ke kamar ini.” Balas Jason. Ia melirik sejenak pada wanita cantik berpakaian cukup seksi di sebelahnya. “Cukup menikmati tontonan nya, sayang?” “Hm … tidak. Aku jauh lebih baik dari jalang itu.” Bisik sang wanita, nadanya cukup nakal untuk membuat Jason kembali terbakar. “Kau memang selalu tahu apa yang aku inginkan, Natasya.” Bak kesetanan, Jason merengkuh Natasya. Mencumbunya dengan rakus meloloskan gaun tanpa tali wanita itu dengan mudah. Erangan rendah penuh kenikmatan menggema, tak peduli pada Celine yang terbaring di hadapannya. “Uugh, Jason … aku tak tahan lagi,” Natasya menggelinjang, tak kuasa menahan gelombang kenikmatan yang diberikan Jason tanpa ampun. Keduanya tak menyadari jika Celina, perlahan kembali meraup kesadaran. Suara-suara laknat itu menerobos gendang telinga Celina, memaksanya membuka mata untuk melihat yang terjadi. “A-apa yang …,” samar, tapi siluet tubuh dalam remang cahaya lilin cukup untuk membuat Celina terhenyak. “J-Jason?”Hanya butuh tiga puluh enam jam bagi David untuk menemukan tempat Celina disembunyikan.Di hadapan mereka berdiri fasilitas Nero Vento—bangunan besar dengan dinding beton tebal dan pagar baja tinggi yang menjulang seperti benteng. Lampu sorot menyapu halaman luas di sekelilingnya, sementara beberapa penjaga bersenjata berpatroli di titik-titik tertentu.Tempat itu jelas bukan sekadar markas biasa.“Ini benteng kecil,” gumam Daniel sambil mengamati bangunan itu dari balik bayangan pepohonan.David tidak menjawab. Tatapannya terkunci pada lantai atas bangunan itu. Sinyal di layar mini tabletnya menunjukkan Celina ada disana.“Dia disana.” Ucapnya pelan.Daniel mengikuti arah pandangnya lalu mengangguk. “Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu.”David menarik napas pendek, menoleh ke belakang dan memberi kode pada anak buahnya untuk bergerak maju.“Masuk.”Beberapa pria memotong aliran listrik pagar, sementara yang lain menyelinap melewati sisi bangunan yang paling gelap. Salah satu p
Rafael berdiri di depan meja besar yang dipenuhi lembaran-lembaran data. Sementara di depannya, lima layar besar monitor menunjukkan diagram teknis yang rumit menyangkut struktur mekanisme pengaman, peta energi, dan skema sebuah perangkat besar yang berada jauh dibawah fasilitas.Dengungan mesin komputer super canggih beradu dengan suara halus pendingin ruangan. Jason melangkah masuk, menatap takjub punggung lelaki berkedok dokter radiologi itu.“Ini … bagian dari rencanamu?” Tanya Jason spontan memperhatikan banyaknya data yang terus bergerak di layar.Rafael tak menjawab, ia hanya menoleh sedikit dan kembali memperhatikan kinerja anak buahnya.“Celina, sudah aman?” Tanyanya pelan beberapa detik kemudian.“Hm, dia dalam pengawasan anak buah mu. Tapi, apa perlu memperlakukan dirinya seperti subjek percobaan ilmiah?”Pertanyaan Jason membuat Rafael memutar tubuhnya. Dibalik kacamata minusnya, ia menatap tak suka Jason.“Subyek ilmiah?” Ia berdecak kesal. “Nilai Celina lebih dari itu, T
Mobil yang membawa Celina bergerak stabil di jalan pegunungan yang gelap. Lampu depan memotong kabut tipis yang menggantung rendah di atas aspal. Entah berapa lama mereka telah meninggalkan kota London. Celina mulai didera kelelahan. Ia duduk di kursi tengah dengan kedua tangan terikat di depan. Dua orang pengawal bersenjata duduk di sisi kiri dan kanannya.Sementara Jason duduk dengan santai di depannya. Matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Celina. Sesekali ia menatap mantan tunangannya itu dengan wajah datar seolah mengkhawatirkan kondisi Celina.Meski kelelahan tapi Celina tetap bersikap tenang. Ia membuang jauh pandangannya keluar, memperhatikan petunjuk jalan yang mungkin bisa menjadi penanda bagi David. Malam sebelum pesta itu dimulai, David dan Andreas telah menjelaskan situasi terburuk yang bakal Celina hadapi.David telah memberitahu Celina tentang keterlibatan Jason dalam Nero Vento. Ia juga meminta persetujuan Celina untuk menjadi umpan saat pertunjukan dimulai. Me
Angin malam berhembus pelan di atap gedung. Daniel berdiri diam, menatap langit yang bertabur bintang. Bayangan wajah Celina kembali melintas, mengganggu ketenangan hatinya. “Celina …,” Ucapnya pelan diikuti dengan senyum tipis. “Kenapa … seandainya kita bertemu lebih cepat.” Ia menarik nafas dalam, ada yang menusuk hati saat melihat kakak iparnya itu meronta dalam sekapan Jason. Rahangnya mengeras, menyesali ketidak sigapan nya menolong Celina. “Bajingan bodoh itu bahkan tidak tahu apa yang bakal dihadapinya.” Tinjunya mengepal dan menghantam tempat duduk beton hingga buku jarinya berdarah. “Tuan?!” Asisten pribadinya terkejut, ia segera menghampiri Daniel. “Ada apa, Tuan? Sesuatu mengganggu Anda?” Lelaki tinggi besar dengan tato naga di tangannya itu bertanya. Daniel menghela nafas berat. Ia menunduk, menatap buku jarinya yang terluka. “Billy, kau ingat wanita yang membantuku saat terjebak baku tembak dengan si brengsek Big Dada?” Daniel mengingatkan sang asisten–Bill
Laut Baltik, Oktober 1999 Langit malam terlihat lebih gelap dan sunyi. Sebuah jet pribadi super canggih meluncur tenang membelah awan. Badan pesawat hitam tanpa logo perusahaan penerbangan. Di dalam kabin utama, empat pria duduk mengelilingi meja kayu panjang yang tertanam di lantai pesawat. Mereka bukan orang sembarangan. Dua di antaranya adalah kepala keluarga Valemont. Dan dua lainnya berasal dari keluarga Knight. Di tengah meja terletak sebuah koper logam hitam. Pada bagian tengahnya terukir lambang Cerberus—anjing berkepala tiga. Theodore Valemont, membuka sarung tangannya perlahan. “Setelah puluhan tahun penelitian,” katanya pelan, “akhirnya kita sampai pada tahap ini.” Di sampingnya, ada Edmund Valemont—ayah Celina sekaligus ilmuwan utama proyek tersebut. Ia membuka koper itu dengan tiga kode keamanan berlapis. Suara ‘klik’ terdengar nyaring. Tutup koper terangkat perlahan. Di dalamnya terdapat perangkat silinder logam dengan lapisan kaca pelindung dan inti ener
“Daniel?!” Jason sedikit terkejut. “Ini kejutan yang luar biasa, Paman.” Ucapnya lirih tapi cukup jelas terdengar di tengah suasana mencekam.Daniel Knight adalah adik David yang menetap di Los Angeles. Ia tak pernah diketahui publik dan memilih bekerja dalam gelap. Kemunculannya di depan publik kali ini bisa dianggap luar biasa. Apalagi Daniel sendiri yang memimpin pergerakan.“Apa kabar, Jason? Senang kau masih bisa mengenaliku.” Lelaki bernama Daniel itu menanggapi dengan senyum sinis dibalik bidikan laras apinya.“Sebaiknya, kau dan temanmu itu berpikir ulang untuk meneruskan kekacauan ini. Aku mungkin bisa memaafkanmu dan melepasmu pergi.” Daniel memberi peringatan.Jason tertawa mengejek, “ayolah Paman, kau pikir aku akan goyah hanya dengan beberapa letusan kecil? Ini tentang masa depan dunia, masa depanku dan juga …,” Jason menarik tubuh Celina agar merapat padanya.“Ini tentang kekasihku, Celina Valemont.”“Lancang kau bicara, Jason! Dia ibumu, bukan kekasihmu lagi!” David be







