Beranda / Romansa / Menikahi CEO Dingin / bab 5 - Malam pengantin

Share

bab 5 - Malam pengantin

Penulis: Bunda kembar
last update Terakhir Diperbarui: 2024-03-24 08:01:14

Malam pengantin

Alvaro mencoba menepis hasratnya mencoba membuyarkan khayalannya, namun pemikiran gilanya berkata lain.

Lelaki itu membayangkan bagaimana jika saat ini, dirinya langsung datang mendekat pada Bunga dan menghampiri tubuhnya, memeluk wanita itu dari belakang dengan erat serta memberikan beberapa kecupan ringan.

Ia mengecup di area bahu dan lehernya, mungkin dengan meninggalkan beberapa kissmark sebagai bentuk tanda kepemilikan.

Lalu kecupannya menjalar ke atas kebagian cuping telinganya bermain-main di daerah itu untuk meninggalkan rasa geli membangkitkan hasrat kewanitaannya.

Alvaro membalikkan tubuh Bunga memberi kecupan di seluruh wajahnya, tangan Bunga refleks melingkar di leher Alvaro.

Alvaro begitu bersemangat kala mendapat respon dari Bunga, ia lantas mencium bibir ranum Gadis itu yang sedari tadi sudah menggodanya.

Lelaki itu melumat dalam bibir ranum Bunga membelit lidahnya semakin dalam dan panas. Tangannya tak tinggal diam , mulai menjalar melepas handuk putih yang di kenakan Bunga.

Tangannya menjalar ke perut mulus Bunga dan mengusapnya dengan lembut, lalu naik ke atas menuju dua buah gundukan kembar Bunga yang begitu kenyal, padat dan berisi.

‘Agrrr ... Shit!!! Bagaimana mungkin aku membayangkan sejauh itu dengannya? Aku harus segera keluar dari kamar ini, sebelum aku benar-benar menyerangnya, karena aku tahu kemungkinan dia belum siap untuk melayaniku dan melakukan kewajibannya, sebagai seorang istri kepadaku.’

Bunga sedang menunggu Alvaro saat ini di kamar itu. Entah sudah berapa lama ia menunggu, tapi Alvaro tak kunjung kembali juga.

Membuat Bunga merasa khawatir cemas sekaligus lega, khawatir dan cemas jika lelaki itu benar-benar marah padanya, dan lega karena ia sedikit terbebas dari kewajibannya sebagai seorang istri, walaupun ia lolos hanya untuk malam ini saja.

“Apakah mungkin dia marah gara-gara kejadian di kamar mandi tadi? Aku sungguh tak sengaja berkata keras padanya.”

Bunga yang masih menunggu akhirnya memutuskan untuk tidur terlebih dahulu, ia sungguh sudah sangat lelah seharian ini, akibat proses pernikahan mendadak yang tentunya menguras tenaga.

Hampir pukul 03.00 dini hari, Alvaro kembali ke kamarnya. Ia melihat Bunga sudah tertidur dengan lelap, ia pun tidak terlalu mengharapkan Bunga akan menunggu ia kembali kekamarnya.

Perlahan Alvaro membenarkan posisi tidur Bunga, ia menaikkan selimut untuk dikenakan oleh wanita tersebut.

Selimut itu ia tarik sampai ke dagu Bunga, membungkus seluruh tubuhnya, sebelum ia tidur di samping wanita itu.

Alvaro sengaja melakukan itu agar ia tak melakukan hal lebih pada wanita itu sebelum i benar-benar menerima pernikahan mereka.

Mengistirahatkan sejenak tubuhnya sebelum besok pagi, ia bersiap untuk membawa Bunga pulang kerumahnya, ia pun tak bisa meninggalkan rapat yang akan di lakukannya besok.

‘Aku tahu kamu belum menerima pernikahan ini, tapi semoga saja kamu segera dapat menerima kenyataan ini, aku tak ingin Kakek ku kecewa, semoga pilihannya kali ini benar, aku pun akan berusaha sebaik mungkin untuk jadi suamimu.’

Alvaro mengucapkan doa sebelum ia tertidur lelap di samping Bunga.

Pagi hari Bunga bangun dari tidurnya, ia sedikit terkejut melihat seorang laki-laki tidur di sampingnya, untung saja dia tak berteriak, dan langsung mengingat bahwa mereka telah menikah kemarin.

Bunga lantas bangun dari tempat tidur, berdiri lalu melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi, tak lupa ia mengunci pintu kamar mandi.

Gadis itu tak ingin hal kemarin terulang kembali, ia pun segera bergegas mandi dan membersihkan dirinya.

Alvaro membuka matanya saat Bunga sudah berada di kamar mandi, ia lantas tersenyum tipis melihat tingkah istrinya.

Sebenarnya dia sudah bangun saat Bunga terbangun dan mulai bergerak dari tempat tidur, ia tipe lelaki yang sensitif akan gerakan, sekecil apapun gerakan yang di lakukan gadis itu, ia akan langsung terbangun, sekalipun ia tertidur lelap.

Bunga sudah selesai dan ia keluar dari kamar mandi, Alvaro kembali berpura-pura tidur memejamkan kedua matanya.

Bunga melirik ke arah ranjang, ia melihat suaminya masih terlelap dalam tidurnya, ia bingung haruskah dia membangunkan suaminya atau dia biarkan saja.

‘aku harus apa, bagaimana aku membangunkannya, tapi jika aku tidak membangunkannya ini sudah terlalu siang pasti semua keluarga sudah menunggu di bawah untuk sarapan.’

Sedangkan Alvaro ia sengaja tak bangun, lelaki itu ingin melihat sejauh mana tindakan wanita itu, dengan ragu Bunga mendekat kearah Alvaro, melihat wajah polos lelaki itu saat terlelap.

‘tampan.’ Satu kata itu berhasil lolos dari bibir mungilnya.

Alvaro mendengar itu, ia ingin tertawa namun ditahannya, lelaki itu merasa senang karena Bunga diam-diam memperhatikannya.

“Hey ... Bangun! Ini sudah siang,” ucap Bunga namun tak sadar respon dari lelaki itu, ia kesal sudah berkali-kali membangunkannya tak juga lelaki itu bangun.

Bunga memberanikan diri untuk memegang pergelangan tangan Alvaro lalu menggoyang-goyangkan lengannya mencoba membangunkan kembali lelaki itu.

Alvaro pura-pura membuka matanya, mengucek kedua matanya dan menguap.

“Sudah jam berapa ini?” tanya lelaki itu sambil melihat ke arah Bunga.

“Jam 8 pagi,” jawab gadis itu sambil menundukkan kepalanya, ia tak ingin menatap wajah Alvaro.

Alvaro lalu bangun dan beranjak dari tempat tidur berjalan ke arah kamar mandi, ia segera membersihkan diri, sedangkan Bunga, menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.

Tak lama kemudian Alvaro keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit di bagian pinggang dengan mengusap rambut basahnya menggunakan handuk kecil.

Bunga sempat terpesona melihat pemandangan di depan matanya, tubuh sixpack, dengan perut bak roti sobek, begitu menggoda, lelaki itu berjalan mendekat ke arah Bunga.

Bunga mulai gugup saat Alvaro sudah berada di dekatnya, ia lantas menundukkan kepalanya, Alvaro gemas sekali melihat tingkah Bunga, ia pun tersenyum.

Bunga lantas berdiri mencoba menjaga jarak dari Alvaro, ia seolah tak ingin berdekatan dengan lelaki itu.

Alvaro yang tau itu, hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, ia sendiri tak tahu harus mulai dari mana, ia tak begitu mahir dalam mendekatkan diri pada perempuan.

Biasanya dia yang selalu di kejar-kejar, ia tak perlu mendekatkan diri, tapi perempuanlah yang mendekat padanya karena ketampanannya yang mampu meluluhkan hati setiap wanita, namun berbeda dengan Bunga.

Alvaro tahu betul, Bunga terpaksa, sebuah pernikahan yang mulai atas dasar perjodohan, akan lebih banyak dilakukan dengan keterpaksaan.

Cerita perjodohan ini memang sungguh sangat tidak masuk akal, Alvaro bahkan tidak menolak saat sang Kakek memintanya menikah dengan cucu sahabatnya.

Begitu juga Bunga, ia juga sadar gadis itu terpaksa menerima perjodohan ini mungkin karena ancamannya, karena Bunga tipe anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Ia akan menurut saja dan tak ingin orang tuanya kesusahan.

Mungkin egois cara yang ia lakukan, namun Alvaro tak mau mengecewakan sang kakek, tak jauh beda dengan Bunga, Alvaro begitu menyayangi sang kakek, dan berusaha memberikan yang terbaik untuk Kakeknya.

Mereka berdua melangkah keluar kamar, menuju ke restoran hotel yang ada di bawah, untuk sarapan, keluarga mereka pasti sudah menunggu dari tadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikahi CEO Dingin    bab 117 dunia tidak berakhir

    Saat sarapan pagi, Bunga masih lebih banyak diam. Dia tidak ceria seperti biasanya. Alvaro mencoba memancing Bunga untuk berbicara seperti biasanya tali Bunga tetap saja menjawab seperlunya.Bunga pun tidak makan dengan lahap, dia mengunyah dengan pelan dan tidak bersedia ketika Alvaro ingin menambahkan lauk ke dalam piringnya. “Aku sudah kenyang, Sayang,” ujar Bunga kepada Alvaro .Alvaro tentu sedih melihat sang istri. Setelah sarapan pagi, ketika mereka kembali ke kamar untuk mengambil tas dan bersiap berangkat ke dokter, Bunga juga juga tidak bersikap seperti biasanya. “Kita pergi sekarang, Sayang?” tanya Alvaro sembari memegang pundak Bunga.“Uumm, ya. Apa kau sudah mencari kemana kita harus pergi?” tanya Bunga. Alvaro mengangguk cepat, dia segera mengambil telepon genggamnya, dan memeriksa kalau Joe sudah memberikan informasi. Tetapi belum ada, Alvaro segera menghubungi Joe.Bunga mengerutkan keningnya melihat Alvaro justru memeriksa pesan dan menelpon ketika dia bertanya

  • Menikahi CEO Dingin    negatif

    Bunga merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia melepaskan pelukan Alvaro seraya mendekat ke meja wastafel. Bunga meraih ketiga alat tespack tersebut.“Sayang, hasilnya negatif,” desah Bunga. Nada kecewa menyeruak di dalam suaranya. Sama seperti Bunga, Alvaro pun mengalami kekecewaan yang sama. Namun, ketika memandang wajah sang istri yang sudah sarat akan kesedihan, Alvaro segera menyembunyikan kekecewaannya.Alvaro pun mendekat ke arah Bunga, memastikan kalau Bunga membaca tespack itu dengan benar. Di dalam hati, sebenarnya Alvaro berharap hasilnya akan berbeda. Sedikit banyaknya Alvaro tahu kalau satu garis di tespack itu berarti negatif. “Tidak apa, Sayang. Kita hanya harus mencoba lagi. Kita masih punya banyak tespack, kita akan memeriksa lagi bulan depan,” ujar Alvaro . Dia mencoba membuat suaranya terdengar bersemangat, namun sepertinya gagal.Bunga secepatnya memandang Alvaro , menatap tajam ke dalam ruang matanya. Bunga mencari kejujuran, dia ingin tahu seberapa kece

  • Menikahi CEO Dingin    tespek

    Menanti pagi membuat Bunga dan Alvaro merasa tak sabar. Setelah menghabiskan pizza sembari menonton serial drama kesukaan Bunga, mereka masih saja terjaga di atas tempat tidur.“Sayang,” panggil Alvaro sembari mencolek pinggang Bunga. Begitu Bunga melirik ke arahnya, Alvaro langsung mengedipkan matanya dengan manja.“Apa colek-colek?” tanya Bunga. Dia memegang tangan Alvaro yang tadi dengan usil menggodanya. “Tidak malam ini, Sayang. Aku lelah,” keluh Bunga.Alvaro merengut, sebenarnya dia hanya ingin bermanja pada Bunga. Alvaro tentu tidak ingin Bunga kelelahan. Apalagi ada indikasi mengenai kehadiran jabang bayi di dalam perut Bunga.“Iya deh, tapi kalau peluk-peluk saja boleh kan?” rengek Alvaro seperti anak kecil. Bunga mendekat pada sang suami yang tiduran di dekatnya kemudian memeluk lelaki itu.“Kau ini kenapa manja sekali sih?” ujar Bunga gemas. Bunga menciumi kening dan pipi Alvaro yang berbantal di pahanya.Alvaro berba

  • Menikahi CEO Dingin    Apotik

    “Ikut,” rengek Bunga dengan manja. Alvaro segera menggelengkan kepalanya. Dia ingin Bunga diam dan beristirahat di rumah. Alvaro tak mau Bunga bertambah lelah. Belum lagi kalau nanti di jalan terjebak macet.“Aku hanya sebentar saja. Kau pasti pusing kan? Aku akan meminta Bibi membuatkan teh mint untukmu sementara aku pergi sebentar,” ujar Alvaro. Bunga menyerah. Alvaro tampaknya sedang tak bisa dipatahkan. Alvaro segera mengecup kening dan bibir Bunga kemudian beranjak selagi sang istri mempersilahkan dengan senyuman. Sebelum Bunga berubah pikiran, Alvaro melesat ke arah pintu kamar.“Sayang, jangan lupa!” seru Bunga. Alvaro terhenti, dia kemudian mundur dan berbalik. “Jangan lupa apa, Sayang?” tanya Alvaro.“Belikan aku pizza,” ujar Bunga. Alvaro mengacungkan jempolnya. “Siap, Sayang!” seru Alvaro, dia kemudian langsung melesat keluar kamar. Dia terlebih dulu ke dapur untuk meminta pelayan membuatkan teh untuk Bunga kemudian langsung ke garasi mobilnya.Sebentar saja, Alvaro suda

  • Menikahi CEO Dingin    bab 113

    Hari ini adalah hari terakhir Alvaro dan Bunga berada di Amsterdam. Sore ini mereka akan berangkat menuju Jakarta kembali. Alvaro dan Bunga tak mau lagi keluar dari hotel. Mereka hanya memesan makanan dari layanan kamar di hotel itu.“Kenapa tidak mengajak keluar, Sayang? Apa trauma?” tanya Alvaro. Dia menghampiri Bunga yang sedang berdiri di depan jendela kamar itu.“Tidak, menghindari masalah saja. Siapa tahu nanti nyasar, malah bikin masalah, Sayang,” ujar Bunga. Sebenarnya ada hal lain yang dipikirkan oleh Bunga. Tapi, dia sendiri pun belum yakin untuk menyampaikannya pada Alvaro sekarang.‘Aku sudah terlambat datang bulan, apa aku ceritakan sekarang atau nanti saja ketika di Indonesia?’ pikir Bunga. Alvaro membaca wajah istrinya. Dia tahu persis kalua Bunga sedang memikirkan sesuatu.“Cepat ceritakan, apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan, Sayang?” tanya Alvaro. Bunga berbalik, menatap Alvaro yang tadinya berada di belakangnya. Bunga tak tahan kalau menyembunyikan sesuatu dari

  • Menikahi CEO Dingin    bab 112 Tidur saja di luar

    Setelah diperiksa secara intensif di rumah sakit, Bunga dan Alvaro diperbolehkan kembali ke hotel tempat mereka menginap tadi. Petugas medis dan rumah sakit itu menawarkan untuk mengantarkan mereka kembali ke hotel, tapi Bunga menolak. Dia ingin kembali dengan taksi saja bersama Alvaro saja, Bunga merasa enggan bila harus naik ambulans lagi. Alvaro sendiri juga merasa enggan diantarkan menggunakan fasilitas dari rumah sakit itu. Mereka sudah merasa kuat kembali.Keluar dari rumah sakit, Bunga dan Alvaro segera memesan taksi. Keesokan harinya mereka harus kembali ke Indonesia, dan mereka belum beristirahat sama sekali. Padahal, malam sudah cukup larut akibat kelamaan terlibat insiden di lift sebelumnya.Setelah sampai di hotel, pihak hotel itu sendiri langsung menyambut mereka. Dari pihak hotel tadi menginformasikan kalau mereka sudah mengamankan barang-barang Alvaro dan Bunga yang tertinggal di dalam lift, dan mereka akan mengantarkannya dengan troli. Seo

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status