LOGINDengung getaran mesin bor termal di dasar aula tambang purba itu kian menggetarkan dinding-dinding batu kapur, menebarkan hawa panas belerang yang mencekik tenggorokan.Di atas kap panser hitam, seringai buas Julian Daniswara makin lebar saat menyaksikan jarum jam digital di detonatornya menyusut ke angka satu menit tiga puluh detik."Waktu kalian hampir habis, Sepupu!" seru Julian dengan tawa parau yang memekakkan telinga."Turun sekarang, atau kita semua terkubur bersama di dasar neraka!" bentak Julian penuh ancaman.Rayyan menatap Clara, sorot matanya yang tajam memberi isyarat taktis tanpa kata yang seketika dipahami istrinya."Kita turun bersama," bisik Rayyan seraya menggenggam erat jemari Clara."Ingat relief cakar naga di sisi kanan pilar," lanjut Rayyan memberi instruksi rahasia.Clara mengangguk mantap. Dengan dagu terangkat tinggi dan langkah yang anggun tanpa cela, Clara berjalan menuruni tangga batu melingkar di samping suaminya, melangkah mantap menembus todongan
Angka merah pada proyeksi hologram di atas meja batu itu terus bergulir turun tanpa ampun: tujuh menit tiga puluh detik.Udara pegunungan yang menusuk tulang terasa makin dingin, namun peluh tipis mulai membasahi pelipis Clara. Di depannya, bidak-bidak catur kayu berukir rumit berdiri angkuh di atas papan antik bertahtakan gading gajah."Pilihan ada di tangan kalian," suara Wijaya Pratama mengalun dingin dari balik gulungan kabut."Dua cincin itu adalah anak kunci mekanisnya," lanjut Wijaya dengan tatapan rakus yang tak lagi ia sembunyikan. "Letakkan di soket bidak utama, atau bersiaplah menjadi abu bersama rahasia orang tua kalian."Rayyan menatap Clara, lalu perlahan melepas cincin bermata zamrud dari jari manis kirinya."Kita selesaikan ini bersama, Clara," bisik Rayyan dengan tatapan mata yang menenangkan seluruh badai di dalam dada wanita itu.Clara mengangguk mantap. Ia melepaskan cincin zamrud miliknya, lalu melangkah maju ke sisi meja batu.Di atas papan catur, terdapat
Kabut putih pekat mulai turun menyelimuti jalanan berkelok di lereng Puncak saat senja perlahan meredup di ufuk barat.Di dalam kabin SUV lapis baja yang melaju membelah rintik hujan pegunungan, keheningan sempat menyergap Rayyan dan Clara. Hanya terdengar deru mesin diesel bertenaga besar dan suara bilah pembersih kaca yang bergerak ritmis.Clara menatap nanar foto berusia dua puluh tahun yang terpampang di layar ponselnya. Di sampingnya, jemari kokoh Rayyan yang menggenggam kemudi tampak mencengkeram lingkar kulit setir dengan sangat kuat."Jadi sejak awal... pernikahan kita bukan sekadar transaksi bisnis yang kau rancang sendiri?" tanya Clara lirih, menoleh menatap profil samping wajah suaminya yang tegas.Rayyan menghela napas panjang, sorot matanya yang biasanya sedingin baja kini membiaskan kepedihan masa lalu yang teramat dalam."Malam ketika vila itu terbakar dua puluh tahun lalu, ibuku menyembunyikan aku di dalam ceruk saluran air bawah tanah," bisik Rayyan dengan suara
Kata-kata Wijaya Pratama menggantung di udara ruang rapat agung itu bagai racun yang membekukan darah.Clara merasakan seluruh tenaganya mendadak lenyap. Kedua tangannya bergetar hebat saat membayangkan sang ibu kembali jatuh ke dalam cengkeraman keji sindikat internasional tersebut."Rayyan... ibu kita..." bisik Clara dengan suara parau tercekat, matanya menatap nanar ke arah ponsel satelit di genggaman suaminya.Namun di sampingnya, Rayyan sama sekali tidak menunjukkan kepanikan atau kegentaran sedikit pun. Rahangnya yang kokoh justru terkatup rapat, menampilkan raut wajah sedingin puncak gletser abadi."Kau terlalu percaya diri dengan analisismu yang usang, Wijaya," sahut Rayyan dengan nada tenang yang menusuk gendang telinga.Tawa dingin Wijaya kembali terdengar menggelegar dari pelantang suara ponsel satelit."Menolak kenyataan tidak akan menyelamatkan nyawa ibu mertuamu, Anak Muda," dengus Wijaya kejam."Dalam dua menit, jasadnya akan dilempar dari jendela kamar lantai e
Udara di ruang rapat agung itu tersedot habis dalam sepersekian detik. Dua moncong hitam pistol Glock berperedam suara mengunci kening Clara tanpa getaran sedikit pun.Namun sebelum pelatuk ditarik, bayangan hitam melesat menembus pandangan Clara dengan kecepatan kilat.Rayyan menarik tubuh Clara ke dalam dekapannya, lalu memutar badan dan menendang meja marmer presenter berbobot puluhan kilogram hingga terjungkal ke depan membentuk perisai darurat.Pfft! Pfft!Dua proyektil timah panas berkecepatan tinggi menghantam lempengan marmer tebal itu, meninggalkan lubang retakan putih dan percikan api kecil yang mendesis.Jeritan histeris seketika meledak memekakkan telinga. Puluhan wartawan, pemegang saham, dan anggota dewan komisaris berebut tiarap di bawah meja panjang, menyelamatkan nyawa masing-masing dalam kepanikan luar biasa.Hendra Daniswara merangkak di lantai seraya memegangi kepalanya yang gemetar hebat, kehilangan seluruh arogansi dan kesombongan yang ia pamerkan beberapa
Deru baling-baling helikopter AgustaWestland menggetarkan kaca-kaca jendela Daniswara Tower saat burung besi itu melayang rendah di atas landasan beton lantai lima puluh.Di bawah mereka, belasan pria berbadan tegap berpakaian serba hitam tampak mengacungkan tongkat taktis dan menyalakan perangkat pengacak sinyal portabel."Tuan Rayyan, mereka menolak memberikan izin mendarat dan memblokir zona pendaratan utama!" lapor sang pilot dari balik kokpit kemudi."Jangan mendaratkan roda helikopter," sahut Rayyan dingin seraya menyambar seutas tali luncur taktis dari dinding kabin. "Gantung helikopter dua meter di atas dek ventilasi sebelah timur."Rayyan menoleh ke arah Clara, matanya berkilat penuh ketegasan yang menenangkan."Pegang pinggangku erat-erat, Clara," bisik Rayyan lembut di telinga istrinya. "Kita turun sekarang juga."Clara tidak membuang waktu sedetik pun untuk ragu. Tangannya merengkuh erat tubuh tegap suaminya saat Rayyan melompat turun dari pintu geser helikopter, meluncur







