MasukArum dan Faisal memilih pulang kampung karena usahanya di kota bangkrut. Tetapi, sambutan keluarga Faisal tidak menyenangkan. Terutama ibunya Faisal yang sering bersikap seenaknya pada Arum. Seolah-olah, Arum dan Faisal adalah benalu yang mengganggu.
Lihat lebih banyakOnce upon a time, in a far-off land, there was a powerful Lycan King named Alpha Jerri Bullet. He was feared by all, for his cruelty and merciless ways knew no bounds. Jerri was known to enslave humans and werewolves alike, using them for his pleasure and as soldiers in his army. Under his reign, the land had become a place of fear and oppression. But despite his tyranny, there were those who still dared to resist him.
Those who were ready to go down, and be totally free from his torments.
~~~~~~~
Gracie's POV
I took a deep breath as I sat outside my father's compound, trying to steady my nerves. I'd been working my life out since dawn, and for years now, but nothing seemed to be changing. I tried to discard my fears and focus more on the cool breeze brushing against my face, but my heart raced with anxiety.
Suddenly, I heard my father's high pitched voice calling out to me from inside the house. I jumped to my feet, my heart pounding in my chest, as I rushed inside to meet him. But as soon as I entered the house, my father's expression turned dark and furious.
"You useless creature!" he hissed, grabbing me by the arm and dragging me into the kitchen. "You can't even keep just a simple house clean, idiot!" His eyes burned with nothing but real hate for me. "Why can't you be more like your mother?" He sneered. "She was a true woman, not like you, a weak and pathetic bunch of nonsense!"
I flinched at his words, feeling the weight of his disappointment and contempt yet again. My mother had died when I was young, and I'd always felt like a disappointment to him because of my missing werewolf abilities.
But I tried to push those thoughts aside, focusing on the small glimmer of hope that still burned inside of me.
In a blink, father threw a dish at me, and I barely managed to dodge it. I tried to stand up for myself, but he was too strong, and I was just too scared to resist. He dragged me to the sink and shoved my head under the running water, forcing me to scrub the dishes he just ate with, with my face.
I felt tears streaming down my face as I struggled to lift my head as the waters began to choke me, and quickly, I began to scrub the dishes, but I refused to let him see me cry. I knew that if he sensed weakness in me, he would only become more brutal. So, I gritted my teeth and scrubbed harder, trying to block out the pain and humiliation.
As I finished doing the dishes, father glared at me with contempt. "You're nothing but a burden to me!" he spat. "I should have sold you off to the Lycan King when I had the chance. At least, that would've profited me more than letting you stay here with me, causing me nothing but heartaches all the time, idiot!"
The mention of the Lycan King sent shivers down my spine. I'd heard stories of his cruelty, and I knew that I would never survive as his slave. But I tried to push those thoughts aside, focusing on the small glimmer of hope that still burned inside of me.
Someday, I will escape this life and find a way to fight against the tyranny of those like my father. Until then, I must endure and survive, no matter how mercilessly I was treated.
"Maybe I should just sell you off to him now," my father continued, his voice cold and menacing.
I felt a surge of panic at his words, but I tried to remain calm. "Please, Father," I pleaded. "Don't do this to me. I'll do better, I promise."
But my father just laughed in my face. "You're nothing but a worthless creature to me, Gracie!" he said, before he turned and walked away.
I sank to the ground, feeling the weight of my situation crushing down on me. But even in my despair, I know that I must never give up hope. Someday, I will find a way to escape and fight against those who seek to oppress me.
As I sat on the kitchen floor, I could feel my resolve strengthening. I couldn't keep living like this, always in fear of my father's wrath and the Lycan King's cruelty. I needed to take control of my own destiny and find a way to escape.
With that thought in mind, I started to formulate a plan. I knew that I couldn't do this alone, but I also knew that there were others like me who were also oppressed too. I needed to find them and work together to escape.
But first, I needed to escape from my father's compound. I couldn't do anything if I was stuck in here, under his watchful eye. So, I started to look for a way out, scouring the house for any weaknesses or vulnerabilities.
As I searched, I heard the sound of footsteps approaching. My heart raced with fear, but I forced myself to stay calm. It was just my father, coming to gloat about how he was going to sell me off to the Lycan King again as usual.
But when the footsteps stopped outside the kitchen door, I froze. I heard the sound of someone clearing their throat, and then a deep, unfamiliar voice spoke.
"Excuse me, miss? Are you alright in there?"
I was taken aback by the sudden interruption, but I quickly realized that this might be my chance to escape. I stood up and rushed to the door, throwing it open.
In front of me stood a man, tall and broad-shouldered with piercing green eyes. He was wearing a cloak, and his face was partially hidden by a hood, but I could sense that he was not one of my father's workmen.
Maybe I thought wrong though.
"Who are you?" I ask, trying to keep my voice steady.
The man bowed slightly. "My name is Benedict," he said. "I was passing by when I heard shouting. Is everything alright?"
I glanced over my shoulder, realizing that my father was nowhere in sight. I turn back to Benedict, feeling a spark of hope.
"No," I say. "I mean- yes." I replied, confused. "Things are alright with me."
Benedict nodded, seeming to understand. "I may be able to help," he said. "But- it's good everything is okay."
I nodded, feeling a rush of fear. This may have been my chance to escape and start a new life. But the fear of what my father was capable of doing, intoxicated me to stupur.
Benedict nodded and left.
I stood there, confused and blinking like the belly of a frog.
Kami Bukan Benalu, Bu.Bab 43Sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi menyambangi kediaman Ibu mertua. Entah dengan Mas Faisal dan adik-adiknya, serta menantu yang lain. Tak ingin memperpanjang masalah, aku memberikan uang yang sedianya untuk membayar denda, pada Mas Faisal. Tentu sesuai jumlah yang harus dibayar oleh Ibu. Aku juga tak pernah menanyakan kabar ibu pada siapapun. Dan, sepertinya, Mas Faisal dan adik-adiknya juga mengerti dan menghargai sikapku. Terbukti, saat berkumpul, mereka tak pernah membahas apapun soal Ibu. Menurut cerita Nita, dia juga sudah jarang berkomunikasi dengan ibu. Sebenarnya, bukan ini yang aku inginkan. Bagaimanapun juga, aku ingin anak-anak ibu mertuaku tetap dekat dan memperhatikan ibu mereka. Karena, mungkin saja, di masa senjanya, Ibu pasti ingin dekat dengan anak-anak dan cucu-cucu, serta menantunya. Akan tetapi, aku juga tak berhak memaksa mereka untuk mengambil sikap yang sedikit tegas pada ibu. Ya, walaupun tujuannya hanya untuk memberi pelaja
Kami Bukan Benalu, Bu.Bab 42Aku sangat terkejut mendengar kalimat panjang Nita. Dia yang selama ini selalu diam dan patuh pada Ibu, akhirnya buka suara juga. Mungkin,dia sudah jengah dengan sikap ibu mertua yang semakin hari semakin menyebalkan. Perlahan, kuangkat wajah, menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruangan ini. Mereka juga sepertinya sama denganku, terkejut dengan kalimat yang diucapkan Nita, menantu kesayangan Ibu. Sedangkan Ibu, kulihat tak kalah terkejutnya. Wajahnya tampak pucat. Mungkin, ia tak menyangka, menantu kesayangan yang selama ini dibanggakan, berani membantah omongannya."Bu-bukan begitu maksud ibu, Nit." Ibu berusaha menyanggah kata-katanya sendiri. "Lalu, apa? Jelas-jelas Ibu tadi bilang, kalo Mbak Arum itu orang lain yang hanya kebetulan menikah dengan anak Ibu, bukan?"Ibu mengangguk samar, sambil menautkan jari jemari tangannya."Nah, terus, apa bedanya Mbak Arum, sama Nita? Juga Dika? Kami juga orang lain yang kebetulan berjodoh dengan anak
Kami Bukan Benalu, Bu.Bab 41Aku terus berjalan menjauhi rumah Hanum. Hingga tak terasa hampir tiba di gerbang komplek. Kuputuskan untuk mencari tukang ojeg yang biasa mangkal di depan komplek. Akan tetapi, belum juga sampai ke pangkalan ojek, Mas Faisal sudah berhasil menyusulku dengan mengendarai mobil kami. “Arum!” teriaknya.Tak ingin menjadi pusat perhatian orang di sekitar kami, aku pun terpaksa menghentikan langkah. Mas Faisal memarkirkan kendaraan roda empat itu di depanku, lalu bergegas turun “Masuk, Rum!” titahnya sambil menuntunku masuk ke mobil. Aku pun menurut saja. Apalagi, memang dalam hal ini Ma
Kami Bukan Benalu, Bu.Bab 40Seminggu sejak Hanum melahirkan, Ibu masih tidak mau datang menjenguk anak dan cucunya itu. Setiap kali aku dan Mas Faisal mengajak ke rumah Hanum, ibu selalu menolak dengan berbagai alasan. Apalagi, masalah mobil yang hilang itu masih belum selesai. Karena kendaran roda empat tersebut tidak bisa ditemukan, maka sang pemilik menuntut ganti rugi. Apalagi, ternyata, sebelum menyewa, Mbak Tuti sudah menanda tangani surat perjanjian tentang peraturan sewa. Tentu saja, hal itu membuat kami tidak bisa berbuat banyak. “Kalian ini! Hanum terus yang diurus! Ibu yang lagi kena masalah, kalian biarkan saja! Tidak satu pun yang berniat membantu!” omel Ibu saat aku dan Mas Faisal akan berangkat ke rumah Hanum.
Kami Bukan Benalu, Bu.Bab 10 Sampai pagi, aku masih mendiamkan Mas Faisal. Dia beberapa kali mengajak bicara, tapi lagi-lagi kujawab seperlunya saja. Setelah menyiapkan sarapan, kumandikan Arkan dan memakaikan seragam sekolah. &
Kami Bukan Benalu, Bu.Bab 9 Aku baru saja selesai menyiapkan bahan untuk jualan saat Mas Faisal pulang. Tanpa banyak bicara, aku menyambutnya seperti biasa. Sedangkan Arkan, pergi mengaji bersama anak tetangga. 
Perdebatan soal siapku atas perlakuan keluarga Mas Faisal meninggalkan rasa kesal yang tak kunjung hilang. Apalagi, Mas Faisal juga tidak meminta maaf padaku. Bahkan, setelah dia malah pergi entah ke mana. Karena, aku memilih tidur cepat selepas Isya. Sengaja, biar tidak perlu lagi berdebat denga
Aku tersenyum sinis ke arah perempuan dengan rambut berwarna cokelat muda itu. “Nggak usah ikut campur, Mbak. Mendingan, Mbak Tuti, pikirin hutang Mbak ke aku. Udah dua tahun, loh. Kan, waktu itu, janjinya selesai hajatan dibayar lunas. Mana? Itu uang pribadiku, loh. Hasil jualan jajanan re
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan